
Siang ini William berada di kantornya, dia sedang sibuk dengan laptop yang ada di hadapannya. Diliriknya arloji di tangannya.
" Hmmm sudah pukul 11, sebentar lagi Dhea pulang dari kampusnya. Aku harus segera menjemputnya sebelum dia mengendarai bus lagi ", gumam William.
Kemudian dia mematikan laptopnya, dan segera beranjak dari tempat duduknya. Sesaat kemudian dia menelfon salah satu pegawainya.
" Chloe tolong kau tunda dulu rapat siang ini dan ganti besok pagi, aku sedang ada keperluan di luar."
" Baik tuan akan aku beritahukan kepada seluruh pegawai."
" Terimakasih Chloe."
" Sama-sama tuan."
Kemudian William segera menutup telfonnya dan berjalan menuju keluar.
William terus menambah kecepatan laju mobilnya yang mulai berjibaku dengan kendaraan lain di tengah hiruk pikuk kota, dan juga panasnya cuaca siang itu.
" Hmmm semoga Dhea mau ikut denganku, kasihan dia jika harus berpanas-panasan dulu menuju halte itu ", gumam William.
Entah kenapa William jadi semakin perduli dengan Dhea. Perduli dengan kesehatannya, dengan keselamatannya, bahkan perduli dengan kondisinya yang memungkinkan kulitnya terbakar panas matahari seperti siang ini.
William terus saja menginjak pedal gasnya, agar segera tiba di depan kampus Dhea. Tepat pukul 11.30 William tiba di tempat tujuan. Dan itu berarti Dhea baru saja keluar dari kelasnya. William menunggu di tempat biasa, dimana Dhea selalu melewati lokasi itu untuk tiba di halte tempatnya biasa menunggu bus.
Sementara itu Dhea baru saja keluar dari kelasnya. Dan dia yakin, pasti saat ini William sudah menantinya di depan sana. Dhea tidak beranjak dari depan kelas untuk menunggu Andrew menghampirinya. Tak berapa lama orang yang dinantinya sudah datang.
" Hai Dhe sudah dari tadi kau menungguku?"
" Tidak An, baru saja aku keluar dari kelasku."
" Dhe kau jadi pulang dengan Andrew? Tanya Bram yang keluar belakangan.
" Iya Bram."
" Ok hati-hati di jalan ya Dhe. Dan kamu An, tolong jaga temanku ini jangan pernah berbuat macam-macam padanya. Dia ini seperti boneka porselin, jika tersentuh sedikit saja bisa pecah ok ", kata Bram sambil mengerling penuh arti pada Andrew.
" Ah kau jangan dengar kata-kata dia An, Bram memang suka bercanda ", kata Dhea membela diri.
" Hahaha ya Dhe aku tau, jangan terlalu dipikirkan."
" Ya sudah ayo kita pulang ", ajak Dhea.
" Ayo ", jawab Andrew.
Dhea berjalan beriringan bersama Andrew. Mereka menuju tempat parkir kendaraan yang berada di belakang bangunan kampus. Dan itu berarti William tidak akan bisa bertemu dengan Dhea, karena akses jalan mereka berdua berbeda.
" Ayo Dhe naik, ", kata Andrew sambil membuka pintu di samping tempat duduknya.
" Iya An terimakasih."
Andrew dan Dhea segera meninggalkan kampus mereka. Ada perasaan sedikit lega di hati Dhea, karena untuk kali ini dia bisa menghindari William.
" An terimakasih sekali ya kamu mau membantuku."
" Sudahlah Dhe jangan sungkan begitu, hanya ini yang bisa kulakukan untuk bisa membuatmu terlihat bahagia ", Kata Andrew sambil melirik Dhea.
Dan Dhea tau ada makna yang dalam dibalik kata-kata Andrew itu. Yah Dhea harus mengambil resiko itu, mendekati orang yang dulu ditolaknya hanya demi untuk menghindari William. Laki-laki itu memang sudah benar-benar membuatnya kelabakan.
" Dhe..."
" Iya An?"
" Sebenarnya ada apa dengan laki-laki itu? Kenapa dia begitu gencar mengejarmu?"
" Aku juga tidak tau An, menurut Bram dia menyukaiku."
" Dan kau menolaknya walaupun dia kaya raya?"
" Hahaha aku itu bukan perempuan yang silau akan harta teman."
" Maaf bukan itu maksudku."
" Lalu?"
" An..."
" Hmmmm ", jawab Andrew singkat.
" Sebenarnya aku takut jika tau aku bersamamu, dia akan menyakitimu."
" Benarkah? Sejauh itu dia untuk mendapatkanmu?"
" Bisa jadi, karena setauku dia pria yang nekat dan keras kepala."
" Hhhhh...aku semakin penasaran dengannya."
" Suatu hari aku yakin jika tidak pernah berhasil menemuiku, dia pasti akan segera mengetahui keberadaanku di mobil ini bersamamu, dan itu tidak akan butuh waktu lama."
" Sehebat apa laki-laki itu Dhe?"
" Yang jelas dia merupakan bangsawan di kota ini, dan namanya cukup disegani di dunia perbisnisan."
" Ya ya ya....dan cukup mudah baginya untuk melakuan segala sesuatu sesuai dengan keinginannya, benar kan tebakanku?"
" Ya An, benar sekali."
" Aku bisa sedikit mengetahui karakter lelaki itu, pasti dia sosok orang yang sombong dan arogan ", gumam Andrew.
" Ya persis sekali tebakanmu, dan satu lagi dia pria maniak ", kata Dhea setengah berbisik.
" Maniak bagaimana maksudmu?" Tanya Andrew.
" Hhhh itu perilaku **** bebas tapi tidak puas dengan hanya satu wanita."
" Ohhh itu, bagiku itu hal biasa Dhe, apalagi kamu bilang dia kaya pasti dengan mudah menaklukan wanita. Dia tampan tidak?"
" Tampan An, bahkan sangat tampan ", jawab Dhea antusias.
Andrew melihat Dhea sekilas sambil tersenyum.
" Kauuu......???"
" Upps maaf aku hanya ingin menggambarkan wajah dia saja."
" Tapi tidak perlu seantusias itu juga kan???" kata Andrew kemudian sambil menggoda Dhea.
" Ahh kau ini sudah jangan dilanjutkan lagi ", jawab Dhea sambil cemberut.
" Dhea Dhea sejak pertama aku mengenalmu, kau tidak pernah berubah ya? Masih saja menyenangkan seperti dulu ", kata Andrew sambil melirik gadis yang duduk di sampingnya itu.
" Kau jangan merayuku ya?"
" Aku tidak merayumu, bukankah dari dulu aku itu selalu mengagumimu, dan hingga detik inipun perasaanku belum berubah."
" Hhhhh benar ternyata tebakan Bram tadi, baru saja pertamakali Andrew mengantarku, jiwa kelelakiannya mulai berontak, dan berusaha menarik perhatianku lagi ", kata Dhea dalam hati.
" An...kau masih ingat letak tempat tinggalku kan?"
" Dhea Dhea mana bisa aku lupa, di dekat tempat tinggalmu dulu kau menolakku bukan?"
" Hhhhh kau masih ingat saja An."
" Jelas masih ingat, kecuali kau pindahkan bangunan itu ke tempat lain ", jawab Andrew sambil tersenyum.
Tak lama kemudian Andrew dan Dhea telah tiba di tempat tujuan.
" An aku masuk dulu ya, terimakasih banyak. Maaf aku tidak menyuruhmu ke dalam, karena aku tidak ingin menerima tamu seorang laki-laki dalam kamarku."
" Iya Dhe, aku paham Dhe. Masuklah saja, besok aku tunggu jam 8 pagi di sini ya?"
" Iya An hati-hati di jalan."
Andrew hanya mengangguk sambil tersenyum. Kemudian dia segera pergi dari hadapan Dhea.
Dhea segera masuk ke kamarnya dan mengganti seluruh pakaiannya kemudian berbaring di atas kasur empuknya.