
" Selamat ya nak setelah dua tahun kau berjuang sendiri di negara asing ini, akhirnya kau akan mendapatkan ijazahmu." Kata ibu Dhea sembari menatap anaknya di depan cermin sambil membantu Dhea merapihkan riasannya.
" Iya bu, setelah berbagai macam kendala yang aku hadapi, Alhamdulillah aku lulus juga."
" Kau cantik sekali nak memakai baju ini." Kata ibunya memuji.
" Yang membuat aku cantik baju wisuda ini, atau wajahku bu?" Tanya Dhea sambil tersenyum.
" Wajahmu itu memang sudah cantik dari dulu nak, siapa dulu dong ibunya!!" Jawab ibu Dhea.
" Iya ibu memang cantik!" Kata Dhea sambil mencium tangan ibunya yang melingkar di lehernya.
" Apakah kita akan diantar oleh supir William kembali nak?"
" Ya bu, Arthur sudah menunggu di bawah sedari tadi. Ayah mana bu?"
" Ayahmu sedang memasang dasinya, sambil melihat caranya dari youtube." Jawab ibu Dhea.
" Kenapa harus dari youtube bu?"
" Iya ayahmu lupa, padahal kemarin sebelum kemari sudah minta diajari temannya." Kata ibu Dhea sambil tertawa.
" Hahaha...ya ampun bu, Dhea kan bisa memasangkannya, kenapa tidak minta tolong pada Dhea?"
" Biar saja nak, siapa tau besok ayahmu diangkat jadi direktur jadi biar bisa memasang sendiri hihihi!"
" Ibu ini ada -ada saja." Kata Dhea sambil tersenyum.
Tak lama kemudian ayah Dheapun keluar dari kamar, dan sudah rapi dengan setelan jas lengkap dengan dasinya.
" Bagaimana nak, ayah tampan bukan?" Tanya ayahnya sambil bercanda.
" Top yah." Jawab Dhea sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.
" Tapi yang benting besok lagi ayah jangan lupa caranya memasang dasi itu ya?"
" Hahaha...yang penting ayah tidak lupa mengisi kuota jadi masih bisa melihatnya dari youtube."
" Ahhh ayah ini bisa saja." Jawab Dhea.
" Ayo kita berangkat!" Kata Dhea pada kedua orang tuanya.
Kemudian mereka bertiga segera turun ke bawah. Arthur sudah siap dengan kendaraannya di depan halaman.
" Ayo Arthur jalan." Suruh Dhea.
" Baik nona." Jawab Arthur.
Kemudian Arthur segera memacu kendaraannya menuju lokasi wisuda Dhea.
Kebahagiaan terpancar di wajah Dhea dan kedua orang tuanya. Terlebih Dhea lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Mereka bangga dengan anak semata wayangnya itu.
Sementara itu William sedang berada di dalam kamarnya. William berjalan ke rak buku di sudut kamarnya. Diambilnya sebuah alkitab di antara buku-buku lainnya. William membukanya satu persatu, dibacanya dan ditelaahnya setiap kalimat yang ada di dalam alkitab itu sedikit demi sedikit. Dia menarik nafas panjang, dan kemudian ditutupnya alkitab tersebut dan meletakkanya kembali di tempatnya semula. Dia melirik jam dindingnya, kemudian mengambil handphone yang ada di atas kasurnya.
" Hallo, siapa ini?" Tanya suara orang yang ada di seberang sana.
" Aku William, Bram."
" William? Kau ganti nomor rupanya? Kenapa? Kau serius mau menghilangkan jejak ya?"
" Ahhh aku tidak perlu bercerita banyak padamu, Dhea pasti sudah mengatakannya semua kan?"
" Ya benar. Lalu ada apa kau menelfonku?"
" Aku hanya ingin tau, acara wisudamu selesai jam berapa?"
" Mungkin jam 12an Will, kenapa kau ingin menghadirinya?"
" Tidak Bram, aku hanya ingin melihat Dhea dari jauh saja merayakan hari spesialnya itu setelah selama dua tahun berada di sini."
" Tapi apa tidak lebih baik kau menemuinya sebentar? Bukankah kedua orang tua Dhea juga datang kemari?"
" Iya, tapi apakah nanti kedatanganku tidak merusak kebahagian mereka?"
" Merusak bagaimana? Kau itu harus menunjukkan rasa hormatmu pada kedua orang tua Dhea? Bukankah selama kau berada di Indonesia orang tua Dhea menyambutmu dengan baik bukan?"
" Ya Bram."
" Nah seharusnya sekarangpun kau harus menyambut mereka dengan baik pula."
" Benarkah Bram?"
" Percayalah padaku Will, kau lebih mengenal mereka kan daripada aku?"
" Ya sudah Bram, aku akan ke sana nanti."
" Terimakasih Bram atas usulmu."
" Sama-sama Will." Jawab Bram. Lalu segera menutup telfonnya.
##############
Saat yang ditunggupun tiba. Dhea duduk di antara calon wisudawan lainnya yang juga hendak menerima ijazah kelulusan. Kedua orang tua Dhea begitu bangga menyaksikan putrinya itu ada diantara orang asing yang mengenakan baju hitam-hitam sama seperti Dhea.
Dua tahun waktu yang sangat lama, mengingat dulu Dhea pernah bekerja hingga larut malam agar tidak terlalu merepotkan kedua orang tuanya, bahkan waktu istirahatnya sangat terbatas. Dan kemudian datanglah William yang kemudian memanjakan dirinya dengan segala fasilitas yang diberikan pada Dhea hingga sekarang.
" Selamat ya nak", kata ibu dan ayah Dhea sembari menyalaminya dan mencium kedua pipinya, saat acara wisuda itu selesai dan mereka sudah berada di luar gedung.
" Terimakasih ayah, ibu
Berkat doa kalian akhirnya Dhea lulus juga."
" Ya nak semoga ilmumu bisa bermanfaat untuk orang lain ya?" Jawab ayahnya sambil tersenyum kemudian diaminkan oleh Dhea dan ibunya.
Namun tiba-tiba mata Dhea menatap sesosok pria menggunakan kemeja warna hitam, celana coklat, dan berkacamata hitam. Dia terlihat sedang menuju tempatnya berdiri bersama kedua orang tuanya. Beberapa mata menatapnya kagum, terutama kaum hawa. Dada Dhea tiba-tiba berdesir.
" William??" Gumamnya pelan.
" Kau bicara apa nak?" Tanya ibu Dhea.
" Ada William bu." Bisik Dhea.
" William? Mana?" Tanya ibunya sambil matanya mencari cari.
" Itu, dia sedang menuju kemari." Kata Dhea sambil menunjukkan dengan isyarat matanya.
Dan ibunya mengikuti petunjuk Dhea. Benar saja dilihatnya William sudah dekat jaraknya dengan mereka bertiga.
" Selamat siang." Sapa William sambil menyalami kedua orang tua Dhea dan mencium tangan mereka.
" Apakah ayah dan ibu baik-baik saja?" Tanya William.
Kedua orang tua Dhea kebingungan tidak faham dengan pertanyaan William.
" William bertanya, apakah ayah dan ibu sehat?" Kata Dhea menerjemahkan.
" Ohhh.....sehat-sehat." Jawab kedua orang Dhea sambil disertai bahasa isyarat dengan menunjukkan kedua ibu jarinya.
William hanya tersenyu menanggapi jawaban kedua orang tua Dhea.
" Dhe selamat ya, akhirnya kamu sudah menyelesaikan studimu dengan baik."
" Terimakasih." Jawab Dhea singkat.
" Apakah setelah ini kalian akan langsung pulang?"
" Ya, sepertinya begitu." Jawab Dhea sok cuek.
" Ok aku sudah meminta orang-orangku untuk menyiapkan menu spesial untuk menyambut orang tuamu."
" Tidak usah Will, kau tidak perlu repot-repot, aku bisa membelikan sendiri untuk mereka."
" Maaf Dhe, ini untuk mereka dan bukan untuk kamu, jadi kamu tidak bisa menolaknya. Ini sebagai bentuk penghormatanku, karena dulu saat aku berada di rumahmu, merekapun memperlakukan aku dengan baik, dan sekarang waktunya aku membalas kebaikan mereka."
" Kau jang...."
" Kau langsung ke apartemenmu saja, dan setelah kau tiba di sana, mereka akan langsung mengantarkan makanan itu ke kamarmu." Potong William, padahal Dhea belum selesai mengucapkan kalimatnya.
" Aku pulang dulu." Kata William. Setelah memberi salam pada kedua orang tua Dhea, diapun pergi.
" Hehhhh...menyebalkan!!" Gerutu Dhea.
" Dia mengatakan apa nak?" Tanya ibu Dhea.
" Dia tadi memberi ucapan selamat padaku, dan mengatakan sudah menyiapkan masakan untuk ayah dan ibu di rumah."
" Kenapa dia harus repot-repot seperti itu?"
" Dia bilang karena dulu saat di Indonesia ayah dan ibu sudah memperlakukan dia dengan baik, dan sekarang adalah saat yang tepat untuk dia membalas kebaikan ibu dan ayah."
" Hehhhh...seandainya saja...!!" Gumam ayah Dhea.
" Seandainya apa yah?" Tanya Dhea penasaran
Kemudian ibu Dhea mencubit tangan suaminya seolah sedang mengisyaratkan agar suaminya itu tidak melanjutkan kalimatnya.
" Oh tidak nak, tidak apa-apa." Jawab ayah Dhea seolah ada yang dirahasiakan oleh mereka berdua terhadap Dhea.