Something different

Something different
Di ruang keluarga



" Dhe setelah ini kita berkumpul seperti biasanya di ruang keluarga ya!! Ayah mau berbicara pada kalian berdua." Kata ayah Dhea saat baru saja pulang dari sholat magrib di masjid


" Iya yah." Jawab Dhea.


" Will, setelah ini ayah ingin mengajak kita berbicara, kau sudah siap kan dengan apa yang akan dikatakan oleh ayahku?" Kata Dhea pada William yang sedang duduk di sebelahnya.


" Iya Dhe, tenang saja."


" Memang kau sudah tau apa yang akan ditanyakan ayahku nanti?"


" Jika aku tidak salah menebak pasti tentang agamaku bukan?"


" Hemmm pasti itu yang paling utama Will."


" Jika kau tidak sanggup mending kau mundur dari sekarang Will."


" Hehhh...lihat saja nanti Dhe." Gumam William.


Setelah selesai makan mereka berempat berkumpul di ruang keluarga.


" Sebelumnya saya ingin tanya benarkah kamu mencintai Dhea?" Tanya ayah William.


" Ya, saya mencintainya tuan." Jawab William setelah diartikan terlebih dahulu oleh Dhea.


" Kau pasti tau ada sebuah perbedaan yang sangat besar antara kalian berdua, dan saya tidak mengijinkan anak saya untuk tetap berhubungan dengan anda, jika anda masih memiliki keyakinan yang berbeda dengan kami." Kata ayah Dhea lagi.


" Saya tidak pernah melarang Dhea berhubungan dengan laki-laki manapun entah dia kaya ataupun tidak, tapi buat kami faktor utama yang paling penting dalam penilaian kami adalah agamanya. Meskipun dia kaya raya jika tidak seiman, kami sebagai orang tuanya tetap tidak setuju.


William hanya mengangguk-anggukan kepalanya, saat Dhea menjelaskan maksud perkataan ayahnya.


" Dhea tanyakan padanya, apakah dia sudah memiliki keputusan untuk ke depannya buat hubungan kalian berdua? Jika memang dia tidak mau mengorbankan agamanya, lebih baik kalian putus. Ayah tidak pernah meminta apa-apa padamu, selama ini ayah selalu mendukungmu. Tapi untuk hal ini tidak ada toleransi sedikitpun, ayah tidak mau nanti kau bisa menyeret kami ke dalam neraka. Kami mungkin lebih ikhlas jika tidak mengakui kau sebagai anak kami lagi, dibandingkan dengan mengijinkan kau tetap berhubungan dengannya. Kau katakan seperti itu padanya."


" Baik yah." Kata Dhea.


Hatinya sebenarnya sangat perih mendengar kata-kata ayahnya itu, dan dia yakin setelah mendengar ini Williampun akan merasakan seperti yang saat ini Dhea rasakan. Lalu Dhea menyampaikan semua pada William apa yang dikatakan pada ayahnya itu.


" Seperti itu kata ayahmu Dhe?"


" Iya Will, memang seperti itu. Sebelumnya sudah pernah kukatakan padamu bahwa tidak ada toleransi sedikitpun menyangkut perbedaan keyakinan kita Will."


" Lalu kau sendiri bagaimana Dhe?"


" Maaf Will, aku harus mengikuti kata ayahku." Jawab Dhea pelan.


" Kau yakin akan meninggalkanku?"


" Harus Will!! Walaupun itu sakit. Tapi untuk apa mempertahankan hubungan tanpa restu orang tua? Lebih baik diakhiri sekarang, karena buat apa dipertahankan lagi, jika memang sudah jelas ujungnya?"


" Hehhhh...aku juga masih bingung Dhe, aku belum bisa memutuskan sekarang. Karena aku ingin mengikuti sebuah ajaran sesuai dengan panggilan jiwaku dan bukan karena hal lain. Kau pernah bilang seperti itu bukan?"


" Ya itu memang benar Will."


" Dan sampai sekarang aku belum memiliki ketertarikan itu."


" Jadi aku harus menjawab apa pada ayahku?" Yanya Dhea lagi.


William lalu menarik nafas panjang.


" Kau yakin Will?"


" Ya Dhe, aku sangat mencintaimu, tapi untuk apa aku memilikimu tapi nantinya kau tersiksa. Terlebih lagi kau bisa tidak diakui oleh orangtuamu. Aku ingin kebahagian yang sebenarnya Dhe."


Mendengar apa yang dikatakan William, hati Dhea ternyata lebih sakit lagi. Dhea menyangka selama ini William mau berkorban untuknya, tetapi kenyataannya sekarang justru berbeda. Harapan Dhea sepertinya sudah pupus untuk bisa bersama dengan laki laki yang dicintainya itu. Kecuali memang Tuhan memberikan suatu keajaiban, dan membalikkan hati William.


" Will benar aku harus mengatakan seperti itu pada ayahku?" Tanya Dhea menegaskan.


" Ya Dhe, katakan saja. Kau bilang sebagai laki-laki aku harus memiliki prinsip. Ayahmu boleh pegang janjiku, jika dalam tempo waktu yang ditentukan aku tidak bisa menepati janjiku, kau boleh pergi dari hidupku Dhe."


" Kau butuh waktu berapa lama Will?"


" Beri aku waktu 3 bulan Dhe."


" Kau..kau yakin sudah mengikhlaskan aku?" Tanya Dhea gugub, hatinya begitu sakit.


" Hehhhhh.....apa boleh buat Dhe." Jawab William pasrah.


Lalu Dhea menyampaikan kata-kata itu pada ayahnya, walaupun dengan terbata bata menahan dadanya yang begitu sesak menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya.


" Apakah dia yakin dengan kata-katanya nak?" Tanya ayah Dhea.


" Iya ayah, aku tadi sudah menanyakannya berkali kali, dan aku sangat mengenal wataknya, dia adalah orang yang konsekuen."


" Hemmm ayah suka type pria yang tegas seperti dia. Katakan padanya, ayah bisa memberikan waktu padanya hanya 2 bulan dari sekarang. Karena ayah yakin jika Alloh berkehendak jangankan 2 bulan, 2 hari saja dia bisa mendapatkan hidayah itu. Ayah hanya ingin beri waktu kalian untuk berpikir kembali dengan jernih sebelum melangkah terlalu jauh. Dan kamu Dhea, jangan sia-siakan kepercayaan ayah, selesaikan kuliahmu, jika 2 bulan dari sekarang William tidak bisa menentukan keputusan, tinggalkan dia!! Kau dengar kan kata ayah?"


" Ya ayah Dhea dengar."


" Ayah mengijinkan William kemari bukan berarti ayah menyetujui hubungan kalian, tapi ayah ingin dia tau apa yang ayah inginkan dari anak gadis ayah kriteria dalam mencari seorang suami, jadi kau jangan salah paham ya."


" Ya ayah Dhea paham itu, Dhea sudah memberi tau William dari dulu, tapi dia tetap ingin menjalani hubungan ini dulu."


" Tidak bisa begitu Dhe!!! Mau sampai kapan? Sedangkan kalian tau sudah jelas tidak bisa bersatu, kenapa harus dilanjutkan? Buatlah keputusan, dan lebih cepat lebih baik, sebelum kalian semakin sulit untuk berpisah!!" Kata ayahnya tegas.


" Iya Dhe, benar kata ayahmu. Kami tidak menuntut apa-apa dari kamu. Pertahankan akidahmu, masih banyak laki-laki seiman yang lebih baik dan bisa mendampingimu nanti."


" Iya bu, nanti Dhea akan membicarakannya lagi dengan William, semoga dia mau mengerti."


" Dan yang harus diingat, kalau dia mau mengikuti agamamu bukan hanya raganya saja, tapi juga jiwanya, dan itu pasti sangat berat Dhe."


" Iya bu, Dhea tau itu."


" Ya sudah, ayah mau ke masjid dulu, itu adzan isya' sudah berkumandang." Lalu ayah Dhea segera beranjak dari tempat duduknya.


" Iya ayah." Jawab Dhea pelan.


" Will ayah akan pergi ke masjid, aku dan ibu akan sholat dulu di dalam. Jadi kamu kami tinggal dulu ya?" Pamit Dhea pada William.


" Iya Dhe silahkan." Kata William.


Kemudian Dhea dan ibunya langsung menuju ruang sholat yang ada di rumahnya, sedangkan William menuju teras depan dan duduk di sana. Adzan terdengar sahut menyahut dari masjid yang ada di sekitaran rumah Dhea. Sebelumnya William belum pernah mendengar seruan sholat itu seramai ini di negaranya. Dia duduk sambil memperhatikan beberapa orang yang lewat di depan rumah dengan memakai baju koko lengkap dengan kopiahnya.


" Will, saya pergi sholat dulu ya." Kata ayah Dhea sambil menggunakan sedikit bahasa isyarat pada William agar bisa dipahami.


William segera berdiri dari duduknya dan mengangguk tanda mengerti apa yang dikatakan oleh orang tua Dhea.