
Kendaraan William telah memasuki halaman besar rumah papanya. Rumah yang amat mewah dimana dia pernah dibesarkan bersama adiknya oleh orang tua yang begitu demokratis dan menyenangkan. Ibunya yang begitu penyayang dan sangat perhatian, serta begitu lembut pada anak-anaknya, membuat William dan Mike tumbuh menjadi remaja yang juga memiliki jiwa seperti ibunya, dan mungkin sebuah kesalahanlah yang kemudian membuat William jadi sedikit berubah, namun terselamatkan karena Tuhan telah mengembalikan sifat asalnya yang dulu sempat hilang. Sedang papa William, merupakan sosok orang tua yang selalu mengajarkan kedisiplinan, rasa tanggung jawab, dan menanamkan jiwa kepemimpinan pada kedua anak lelakinya. Sosok ayah yang begitu dekat dan akrab juga bisa menjadi teman buat William dan Mike.
" Pelan-pelan sayang." Kata William membantu Dhea turun sambil membawa satu kotak besar berisi kue untuk papa mertuanya.
" Sini, biar aku yang bawa kotak itu." Kata William menawarkan diri.
" Terimakasih sayang." Kata Dhea sambil tersenyum lalu memberikannya pada suaminya itu.
" Ahhhhh.....rumah ini masih sama saat pertamakali kau mengajakku kemari." Kata Dhea sambil memandangi bangunan di depannya.
" Kalau aku memiliki rumah sebesar ini, jika kancing bajuku lepas, pasti aku akan kebingungan mencari jarum jahit, karena harus keluar masuk dari ruangan satu ke ruangan yang lain." Gumam Dhea lagi.
" Hahaha...jika kau punya rumah sebesar ini, kau justru tidak akan kesulitan, karena sudah ada yang mengurus keperluanmu hingga yang paling kecil sekalipun sayang." Jawab William di sela tawanya.
" Hemmmm....apakah kau ingin aku buatkan rumah sebesar ini di sana???" tanya William lagi sambil memandang istrinya.
" Eeehhh...tidak..tidak!!! bisa-bisa kakiku bengkak jika ingin masuk ke setiap ruangan di rumahku karena begitu besarnya." Kata Dhea.
" Hahaha aku pikir kau ingin kubuatkan seperti ini. Padahal kau tau kan rumahku yang di sini tak kalah besar dari milik papaku ini, dan setelah dari rumah papa, kita akan tinggal di sana nanti." Kata William lagi.
" Iya aku tau, tapi kau harus ingat! jika kau ingin memintaku membuatkan minuman untukmu jangan buru-buru ya, karena aku pasti butuh waktu lama untuk berjalan menuju dapurmu." Jawab Dhea.
" Hahaha...tidak sayang, aku ingin memanjakanmu selama di sini. Banyak asistenku yang bisa aku minta untuk membuatkan sesuatu untukku nanti, kau adalah ratu di rumah itu, jadi kau cukup duduk manis dan siap jika aku membutuhkanmu sewaktu-waktu." Kata William sambil tersenyum penuh arti.
" Hei...butuh apa maksudmu??? sepertinya kau menyimpan rencana terselubung dari senyum yang sedikit mistis itu." Kata Dhea penuh selidik.
" Ahhh...kau seperti tidak tau saja bahasa pria dewasa." Kata William.
" Ihhhh....kau ini memang genit sekali." Kata Dhea sambil mencubiti lengan suaminya.
" Hahaha...ayo kita masuk sekarang sayang!" ajak William sambil menggandeng tangan Dhea. Dan Dhea hanya menuruti ajakan suaminya itu untuk melangkahkan kaki, menuju ke dalam rumah besar milik papa William.
Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuk mereka. Sambil membungkuk memberi hormat, dia mempersilahkan Dhea dan William masuk ke dalam.
" Selamat siang tuan dan nyonya." Katanya sopan.
" Selamat siang." Jawab William dan Dhea bersamaan.
" Apakah papaku ada di dalam?" tanya William pada pegawai wanita itu.
" Ada tuan, papa anda sedang duduk di depan kolam, sepertinya dia sudah menanti kedatangan tuan dan nyonya sedari tadi pagi, dan sibuk mempersiapkan semuanya untuk menyambut menantu barunya." Kata pegawai tersebut sambil memandang Dhea.
Dhea hanya tersenyum sambil memandang suaminya.
" Oke terimakasih. Oh ya, tolong ambilkan koperku di dalam mobil ya? ini kuncinya." Kata William sambil menyerahkan kunci mobilnya pada pegawai tersebut.
" Baik tuan." Kata pegawai tersebut, sambil kemudian berjalan keluar mengambil barang bawaan William.
" Ayo sayang!!" ajak William.
" Papa pasti akan senang sekali melihat kehadiran kita, apalagi jika kuberitahu dia akan segera mendapatkan cucu. Aku yakin dia akan sering menerormu setiap hari untuk menjaga kandunganmu."
" Oh ya? ternyata tidak salah, sifatmu itu benar-benar menurun dari ayahmu. Bukan hanya sifat play boymu, tapi juga sikap posesifmu." Jawab Dhea.
" Posesif itu kan salah satu bentuk pengekspresian rasa kasih sayang, istriku."
" Ya benar, tapi rasa kasih sayang yang kadang tidak masuk akal dan berlebihan. Kau tau kan segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik? ibarat makanan itu, jika kurang garam rasanya hambar, tapi jika berlebihan juga rasanya tidak karuan."
" Hahaha...kau memang dari dulu pintar sekali bermain kata sayang." Jawab William. Sambil terus berjalan beriringan.
" Sayang, bisa tidak kolam renang ayahmu dibawa kesini saja, agar aku tidak terlalu jauh menuju kesana. Kakiku rasanya lelah." Rajuk Dhea.
" Hahaha...aku jadi ingat saat dulu kaupun mengeluh lelah ketika kita meninggalkan rumah ini."
" Ya, aku pikir setelah lama tidak kemari rumah ini sedikit diperkecil, ternyata sama saja." Gerutu Dhea.
" Kalau begitu tolong kau bawa kue ini." Kata William sambil menyerahkan kotak kue itu pada istrinya.
" Uppsss...hahhhh....begini pasti kau tidak akan mungkin merasa lelah lagi sayang." Kata William sambil mengangkat tubuh Dhea.
" Aaaaarggggg......!!!" teriak Dhea kaget.
" Kau ini, kenapa tidak bilang-bilang dulu??? kalau tau kau akan menggendongku, lebiah baik dari tadi saja aku mengeluh padamu." Kata Dhea manja, sambil tertawa dan bersandar di dada bidang suaminya. William hanya tertawa mendengar kata-kata istrinya itu. Dia tak pernah kehabisan akal untuk menunjukkan rasa cintanya pada wanita yang telah dinikahinya itu, rasanya tak ada sosok suami yang lebih membahagiakan, selain suami yang begitu tulus mencintai kita.
" Tapi jika perutmu ini nanti sudah besar, jangan memintaku menggendongmu lagi ya, atau kau ingin membuat suamimu ini sakit pinggang."
" Ahhh kau ini, mungkin nanti berat badanku hanya bertambah 10 sampai 20 kilo saja , tidak terlalu berat bukan?" Jawab Dhea.
" Hehhhh....sepertinya aku harus lebih rajin latihan beban untuk mempersiapkan diri." Jawab William sambil bersungut-sungut, dan Dhea hanya terbahak melihat suaminya.
William terus menggendong tubuh istrinya menuju kolam renang di rumah papanya yang memang dibangun di area tanah yang sangat luas itu.
" Sayang, turunkan aku di sini saja! aku tidak mau papamu melihatku kau gendong seperti ini."
" Memangnya kenapa kalau papa tau?" tanya William.
" Aku malu, nanti dipikir papamu kita sok romantis."
" Hahaha....romantis di depan orang tua kan tidak salah, kenapa harus malu? kita kan sudah menikah."
" Sayang...tapi kan ini kurang sopan." Kata Dhea sambil berusaha turun dari gendongan suaminya.
Namun ternyata William tidak perduli dengan rengekan Dhea yang memintanya untuk segera menurunkannnya.
" Aku tidak akan menurunkanmu di sini, tapi akan menurunkanmu saat sudah di depan papaku." Kata William.
" Sayang...pleas...ayo dong turunkan aku!!!"
William tetap tidak mengacuhkan kata-kata Dhea, dan hanya tertawa-tawa saja, hingga mendekati lokasi dimana papanya sedang duduk santai.
Tiba-tiba ada suara seseorang yang mengejutkan mereka berdua.
" Heiiii....kalian rupanya!! papa dengar ada suara ribut-ribut, rupanya orang jauh yang papa tunggu sudah datang!!!" ternyata itu papa William, yang saat mendengar suara William dan Dhea tadi segera beranjak dari duduknya, dan mendekati arah suara tersebut.
William segera menurunkan Dhea dari gendongannya.
" Tuhh...lihat papamu jadi tau!! kau ini, aku kan jadi malu!!!" bisik Dhea sambil mencubit pinggang suaminya.
" Awwww...." teriak William, dan dengan sengaja mengeraskan suaranya, papa William hanya tersenyum melihat kemesraan kedua anak dan menantunya itu.
" Selamat datang nak..." Kata papa William sambil membentangkan kedua tangannya.
William segera menyambut papanya, dan memeluk erat orang tua itu.
" Papa sehat kan?" tanya William.
" Ya, lihatlah papa selalu sehat, apalagi jika melihat anak-anak papa rumah tangganya bahagia, pasti papa akan semakin sehat." Kata papa William sambil melepaskan pelukannya.
" Syukurlah pah." Jawab William.
" Hai menantuku yang cantik, kemarilah!! apakah orang tua ini sudah boleh memelukmu sebagai papamu?" Tanya papa William dan bergantian menyambut Dhea.
" Tentu pah, anda sekarang adalah papaku juga." Kata Dhea sambil menyambut pelukan papa mertuanya.
" Ahhhh....setelah aku kehilangan satu menantu perempuan, akhirnya aku kembali mendapatkannya. Semoga kau bisa menyayangiku seperti orang tuamu sendiri ya nak?" kata papa William.
" Pasti itu pah, jika aku menyayangi anakmu, maka akupun harus menyayangimu." Jawab Dhea.
" Ayo...ayo...sini duduk!! papa ingin sekali mendengarkan cerita kalian berdua." Katanya sambil mempersilahkan Dhea dan William duduk di sampingnya. Seperti biasa orang tua memang selalu begitu tidak pandang bulu, padahal anaknya itu baru saja datang, tapi sudah ditodong untuk bercerita. Namun tentu saja tidak bisa disalahkan, mungkin itu sebagai bentuk ekspresi, betapa bahagianya mereka saat dikunjungi oleh anak-anaknya.
Heeiii readers..alhamdulillah visual act udah lulus sensor. Bagi readers yang pengen lihat visual act Dhea, Willi dan Mike, buka saja di bab 166 prolog sesion 2 + visual act....semoga imajinasi saya tentang sosok 3 orang tersebut tidak salah ya, terutama sosok William, karena menurut author gambar tsb sudah cukup mewakili bayangan author tentang bang Will, cos suami author tidak setampan orang di foto itu, tapi tetap suami author yang the best di hati author cie cie...jadi pengen malu🤭🤭🤭