
Setelah Feri melihat kondisi William yang tidak begitu bermasalah selesai dikhitan, diapun langsung menelfon ayah Dhea satu hari kemudian setelah proses khitan tersebut. Feri menceritakan kondisi terkini William yang tidak menghadapi kendala apapun. Setelah melakukan koordinasi dengan beberapa saksi dan juga petugas yang akan membantu proses William menjadi seorang muslim, maka telah disepakati ritual tersebut akan diadakan malam hari besok, dan itu berarti William harus menyetorkan terlebih dahulu hafalan surat alfatihahnya pada orang tua Dhea.
" Will, kau sudah siap kan?" Tanya Feri sore itu saat mereka sedang bersiap-siap berangkat ke rumah orang tua Dhea.
" Kau lihat sendiri tampilanku, sudah sangat meyakinkan bukan? apa perlu aku memakai jas juga dasi Fer?" tanya William sambil merapihkan kemejanya.
" Hahaha kau pikir kita akan mengadakan rapat direksi peruhaan? maksudku hafalan surat Al Fatihahmu yang akan kau ucapkan di depan orang tua Dhea. Kau tidak lupa kan? awas jangan sampai kau membuatku malu di sana nanti."
" Ahhhh...tenang saja teman, itu hal yang sangat mudah, bahkan aku sudah hafal di luar kepala." Jawab William sombong.
" Heiii...jangan sombong kau ya, jika kau tidak bisa membuktikan kata-katamu, lamaranmu bakal ditolak dengan orang tua Dhea. Mana mau mereka punya calon menantu tidak pandai? sedangkan mereka tau anak perempuannya adalah anak yang berprestasi."
" Heiii...kau jangan coba berironi ya, calon menantu yang tidak pandai katamu? bilang saja bodoh iya kan?" Kata William.
" Hahaha...maksudku sih seperti itu, cuma tidak enak saja jika terlalu jujur padamu."
" Hehhhh...enak saja kau mengataiku seperti itu. Kecerdasanku itu dibawah Albert Einstein jika kau ingin tau!!" Gerutu William.
" Maksudmu di bawahnya pas atau tidak?" Tanya Feri .
" Tidak dong, di bawah dia kan masih ada adik perempuan satu-satunya."
" Ooohhh kau di bawah adik perempuannya itu?"
" Sembarangan!! jelas bukan dong, nanti dikira aku ingin menyamai garis keturunannya jika dibawah mereka berdua."
" Lalu letak kecerdasanmu dimana di antara mereka itu."
" Ya setelah istri Einstein dan juga suami adiknya, kemudian kan masih ada anaknya. Lalu anak mereka memiliki cucu. Nah cucu mereka itu kan memiliki sepupu. Baru di bawah sepupu mereka itulah Fer."
" Baru kamu ya?"
" Ihhh kau ini jangan seperti itu dong, sepupu mereka kan masih punya pasangan Fer...lalu....."
" Wooiiiii...jadi kau dimananya dodol?? kenapa kau tidak menyebutkan juga bahwa setelah itu masih ada juga pembantu mereka, kemudian supir mereka, lalu tukang kebun mereka, setelah itu tetangga mereka juga, sekalian tukang sayur keliling langganannya juga ya." potong Feri sedikit sebal.
" Hahaha.....serius sekali sih kau ini." Tawa William langsung pecah mendengar kata-kata Feri yang terlihat kesal.
" Ehhh Fer, memang keluarga Einstein punya tukang sayur langganan ya?" Kata William sok serius.
" Ahhhh masa bodo apa katamu sajalah...Sialan kena aku kau kerjai." Gerutu Feri.
" Heii....kalian berdua ini, aku lihat sepertinya tidak selesai-selesai saling membulli ya." Kata Mariyam yang baru saja keluar dari kamarnya.
" Bukan membulli Mar, hanya mengasah kemampuan bersilat lidah saja." Jawab William.
" Will, semoga acaramu nanti lancar ya, dan setelah itu kau resmi menjadi saudara seiman kami." Kata Mariyam.
" Iya Mar, doakan aku ya."
" Pasti itu Will. Ingat kau jangan bercanda terus, di sana nanti pasti banyak ulama yang menghadiri acaramu juga. Jaga sikap, dan jaga wibawa oke."
" Seperti ini Mar." Jawab William sambil berdiri tegak, mengangkat sedikit kepalanya ke atas, wajahnya dibuat sekeren mungkin, dan alisnya diangkat satu.
" Mercon bantingan? apa itu Fer?" tanya William bingung.
" Abi...sudah deh jangan bercanda terus, sudah saatnya serius nih." Kata Mariyam pada suaminya.
" Hehehe...iya mi maaf. Heran saja, bisa-bisanya umi kenal bule aneh seperti dia. Dan lebih herannya lagi ternyata dia seorang konglomerat..Hehhh...sungguh sulit diterima akal sehat, sepertinya dunia ini tidak adil padanya." Gumam Feri.
" Tidak adil padaku atau padamu Fer? hehehe. Memang begitu Fer, kadang akal sehat itu tidak berlaku untuk menghadapi jaman yang semakin gila ini. Kalau kau tidak ikutan gila, maka kau tidak kebagian, begitu sekarang istilahnya." Jawab William membela diri.
" Hahhhh....untung sebentar lagi kau pulang ke negaramu Will, jika tidak, bisa ikutan begini aku jika mengikuti pola pikirmu." Kata Feri sambil menyilangkan jari ke dahinya.
" Dasar bule gebleg." Kata Feri kemudian dalam hati.
" Hahaha....yang penting kau tidak melanggar koridormu sebagai manusia yang masih berada di jalan yang lurus Fer."
" Yahhh...memang seharusnya begitu Will." Jawab Feri.
" Abi...sebenarnya sedang membahas apa sih kalian berdua ini?" Tanya Mariyam sambil memandang heran pada dua laki-laki di depannya itu.
" Hahaha....tenanglah umi, teman umi ini sepertinya butuh pencerahan sedikit." Kata Feri menjawab pertanyaan istrinya.
" Ya sudah kalian berangkat sana!! lihatlah sudah jam 3 ini, bukankah harus ke rumah orang tua Dhea terlebih dahulu? jangan sampai mereka menunggu lama di sana." Kata Mariyam mengingatkan.
" Ya sudah mi, kami berangkat dulu ya." Kata Feri sambil beranjak berdiri dari kursinya. William dan Mariyam mengikuti gerakan yang sama dengan yang dilakukan Feri. William membenahi kemejanya sebentar, lalu berjalan keluar setelah berpamitan pada Mariyam, sedangkan Feri tetap melakukan kebiasaannya ketika hendak keluar rumah tanpa didampingi istrinya.
" Hati-hati ya bi?"
" Ya mi, doakan kami berdua ya, semoga acaranya lancar."
" Iya bi, pasti itu. Allah pasti tau niat baik abi mengantarkan William ke sana." Kata Mariyam sambil mengantarkan suaminya hingga ke depan
rumah mereka.
" Iya mi, abi juga yakin Allah pasti melancarkan semuanya."
" Iya bi amiin."
" Hei...Fer, lama sekali sih pamitannya? seperti kau akan pergi berperang ke Timur Tengah saja." Panggil William yang sedari tadi sudah menunggu Feri di samping kendaraannya.
" Ihhhh...sabar sedikit dong." Jawab Feri sambil berjalan.
" Iya nih, William belum pernah menikah ya bi, jadi wajar saja. Dia belum tau bagaimana rasanya melepas pasangan. Itu kan bisa mempererat hubungan emosional kita ya bi."
" Iya...iya.....aku tau...kalau begitu masuklah kembali ke dalam jika masih ingin menyampaikan pesan dan kesan, aku tunggu di sini masih ada waktu 3 jam lagi sebelum adzan magrib." Kata William sambil bersungut-sungut.
" Hahaha....pesan dan kesan selama aku jadi suaminya ya Will? bisa 3 hari tiga malam kau menunggu di sini. Ayo berangkat!!" ajak Feri, sambil naik di belakang kemudinya.
" Hati-hati ya kalian berdua!!" Teriak Mariyam sambil melambaikan tangannya.
Feri hanya menganggukan kepalanya sambil membalas lambaian istrinya.