
Hari ini setelah satu bulan William putus dengan Dhea, tekadnya sudah bulat untuk pergi ke Indonesia menemui kedua orang tua Dhea, menyatakan kesungguhannya untuk menikahi Dhea, juga sekaligus membuktikan keseriusannya itu dengan ingin segera menyatukan keyakinan yang selama ini menjadi perbedaan mereka berdua. Satu minggu sebelumnya dia telah menelfon Feri temannya, untuk bisa menjembatani dialog antara dia dengan orang tua kekasihnya itu.
Ternyata selama ini sebelum bom waktu itu meletus, dimana dengan penuh keyakinan orang tua Dhea mengatakan bahwa perbedaan mereka berdua tidak bisa ditolelir, sebenarnya secara diam-diam William sudah memikirkannya jauh-jauh hari kemungkinan terburuk itu. Bahkan saat Bram pernah menanyakan perihal tersebut, saat sebelum secara serius dia ingin menikahi Dhea, segalanya telah diantisipasinya, namun belum terlalu fokus dan menjadi prioritas dalam pikirannya. Saat itu yang terpenting dahulu adalah bisa menarik perhatian Dhea, dan berhasil menjadikan dia kekasihnya. Getaran itu timbul ketika berada di Indonesia pertamakali, saat dia membangun usahanya bersama Feri, dimana setiap hari dia selalu mendengar suara adzan dimana-mana, baik pagi, siang, sore, ataupun malam. Dan getaran itu semakin hebat saat datang kedua kalinya bersama Dhea. Terlebih melihat nuansa islami di rumah kekasihnya itu. Hatinya begitu tenang dan damai. Semenjak itulah dia semakin memupuk perasaan tersebut, dan memantapkan hatinya untuk fokus memperbaiki diri dan menjadi muslim sejati, walaupun butuh waktu beberapa lama, bahkan memutuskan Dhea agar bisa menjadi William yang berbeda dan siap menjadi imam yang baik buat kekasihnya itu.
Tiket kepergiannya ke Indonesia telah berada di tangannya. Walaupun William adalah sosok orang kaya sekaya-kayanya, namun William bukan orang yang suka berpergian dengan diantar jet pribadi ataupun pesawat pribadi seperti selebritis terkenal Indonesia yang beken dengan kalimat manjanya itu. William lebih suka berbaur, menikmati perjalanannya, layaknya masyarakat pada umumnya. Ahhhh....Babang Will sukses membuat author meleleh dengan kesederhanaannya...Tiiiitttt...!!!dilarang keras protes ya, suka-suka author dong, kadang cerita novel memang begitu suka bikin baper n sedikit lebay.ðŸ¤ðŸ¤
Sebelum keberangkatannya, William ingin menemui papanya terlebih dahulu, memohon restu dan sekaligus meminta maaf pada orang tua itu, karena memilih keyakinan yang berseberangan dengannya juga adik semata wayangnya. Tidak ada satupun yang mengetahui tujuan kepergiannya, kecuali papanya saja.
Supir pribadi kepercayaannya telah menunggunya, sambil berdiri di samping mobilnya sedari tadi di depan rumah. Dengan langkah pasti dia segera naik di atas kendaraan itu. Setelah William telah berada di dalam, Simon langsung menyusulnya naik ke belakang kursi kemudi, lalu segera meluncur ke rumah Papa William. Mobil berjalan santai sesuai dengan interuksi tuannya yang duduk tenang di dalam kendaraan tersebut.
Tak lama kendaraan yang dikemudikan Simon sudah tiba di halaman besar kediaman keluarga Anderson yang terkenal itu. Tanpa harus berlama-lama menunggu dibukakan pintu terlebih dahulu, William ternyata telah berada di luar kendaraannya. Bagi William bukanlah sebuah keharusan menunggu supirnya turun dari belakang kemudi, lalu berjalan keluar, baru kemudian membukakan pintu untuknya. Ada saat dimana dia lebih sering melakukan kegiatan itu sendiri.
Tanpa banyak bicara, William segera melangkah masuk ke dalam rumah besar tersebut. Seorang pegawai menyambutnya ramah, memberinya ucapan salam dan mengatakan bahwa papanya sedang berada di dalam ruang kerjanya. William mengucapkan terimakasih, lalu segera berjalan kembali menuju tempat yang ditunjukkan pegawai tadi.
Dilihatnya pintu ruang kerja papanya tertutup rapat seperti biasanya. William tau pasti orang tua itu sedang membaca buku, atau sekedar membuka-buka album foto kenangan masa-masa bahagia mereka saat tinggal bersama. Biasanya saat papanya melakukan itu, pasti beliau sedang rindu sosok almarhum istrinya.
William mengetuk pelan pintu itu. Tak lama kemudian papanya membuka dari dalam.
" Hai nak, masuklah!!" kata dia mempersilahkan anak sulung laki-lakinya itu memasuki ruangannya.
Jejeran buku tersusun rapi di dalamnya, mendominasi sebagian isi dari ruangan kerja papanya. William memeluk sebentar papanya.
" Duduklah." Suruh orang tua itu.
Kemudian William menarik kursi kayu kuno, yang merupakan furniture mahal dan antik yang masih terlihat kuat namun kokoh, lalu dia segera duduk di atasnya. Sedangkan papanya duduk berseberangan dengannya, dibatasi oleh sebuah meja besar yang ada diantara mereka berdua. Dan benar perkiraannya, sebuah album foto besar masih terbuka lebar di hadapan papanya, sesaat kemudian dia segera menutupnya, meletakkan kembali ke salah satu bagian rak buku menyatu bersama album yang lain, kemudian kembali duduk di bangkunya kembali.
" Kau jadi berangkat hari ini Will?" tanya papanya yang telah tau tujuan kepergiannya ke Indonesia.
" Ya pah?" jawab William sambil menunduk, sembari memainkan jemarinya.
" Kau telah memantapkan hatimu dengan pilihanmu itu?" tanya papanya.
" Kau sudah benar-benar yakin tidak akan menyesalinya?" tanya papanya memastikannya sekali lagi.
" Aku yakin pah, keputusanku sudah bulat."
" Jika keputusanmu sudah tidak bisa dirubah, papa harap kau bisa menerima semua resiko atas segala keputusanmu, apakah kau sudah siap dan mempertimbangkan resiko itu?"
" Ya pah, aku sudah sangat siap akan semua resiko terhadap pilihanku." Jawab William tegas dan jelas.
Papa William menarik nafas panjang, keputusan anak sulungnya itu tidak bisa lagi diganggu gugat. Sepertinya keyakinannya sudah sangat bulat untuk menentukkan pilihannya sendiri. Kemudian papa William segera beranjak dari tempat duduknya, berjalan mendekati tempat duduk anaknya.
" Nak, sedari dulu papah tidak pernah melarang segala hal yang sudah menjadi keputusanmu. Apapun itu, tidak juga tentang keyakinanmu. Tetapi sejak dari kecil papa sudah mengajarkanmu artinya bertanggung jawab. Begitupun sekarang, silahkan pilih apapun keyakinan yang menurutmu benar, tapi bertanggung jawablah atas keyakinanmu itu. Papa tidak suka jika kau memilihnya bukan karena dari hatimu, tapi karena hal lain." Kata papanya panjang lebar.
" Tidak pah, bukan karena apapun aku memilih keyakinan itu, juga bukan karena Dhea. Jika seandainyapun panggilan itu datang seiring cintaku pada wanita itu, mungkin itu hanya sebagai perantara Tuhan membuka pintu hatiku. Hatiku telah mantap untuk mempercayaiNya pah." Jawab William tegas.
" Ya nak, walaupun papamu ini bukan umat yang begitu taat, namun bagiku satu hal tersebut tetap bukanlah untuk permainan. Semoga apa yang kita bicarakan hari ini bisa kau pahami benar-benar, dan tidak kau jilat sendiri ludahmu itu di kemudian hari." Kata papa William lagi.
" Ya pah, aku pasti akan mengingatnya semua. Doakan aku, agar bisa lancar melalui semua prosesnya. Dan kembali ke sini menjadi anakmu yang lebih baik lagi dari kemarin."
" Ya nak, papa merestuimu, dan doa papa selalu menyertaimu. Semoga setelah ini kebahagian akan segera menghampirimu." Jawab papanya pelan.
William segera berdiri dan memeluk lelaki tua itu. Rasanya begitu beruntung memiliki orang tua yang memiliki pikiran yang begitu maju, dan percaya sepenuhnya pada anaknya yang diyakini bisa memilih sesuatu demi kebaikan untuk dirinya sendiri.
" Terimakasih pah, terimakasih banyak atas pengertianmu. Aku sangat menyayangimu pah." Kata William.
Kalimat sayang begitu lancar mengalir di bibirnya. Kalimat yang begitu lama tidak dia ucapkan pada laki-laki di hadapannya sekarang, membuat papanya menitikkan air mata, namun buru-buru dihapusnya, agar tidak dilihat oleh William, karena sejak dari dulu dia selalu mengajarkan pada kedua anaknya, bahwa seorang laki-laki itu harus kuat dan tidak boleh gampang menangis karena sebuah masalah."
" Pergilah nak. Hati-hati di jalan, dan kembalilah lagi ke kota ini dengan selamat."
Setelah bersalaman sebentar dengan papanya, William segera membalikkan badan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Bibir papa William terlihat komat-kamit sebentar mengiringi kepergian anaknya, lalu melakukan gerakan khas menyentuh dahi dan kedua bahunya. Entah kata-kata apa yang baru diucapkan orang tua tadi, hanya dia dan Tuhan saja yang tau. Setelah punggung anaknya sudah tidak terlihat lagi, karena terhalang oleh pintu yang ditutup lagi oleh William, papanya menarik nafas panjang, lalu segera duduk kembali dan terlihat membuka-buka album kenangan mereka lagi.