
Saat Mike dan Dhea asyik mengobrol di lobby, terlihat William baru saja tiba dari kantornya, dan bertemu mereka di bawah ketika akan naik ke dalam kamarnya.
" Hei....sayang!!" Sapa William sambil memeluk dan mencium istrinya, dan Dhea membalas pelukan William.
" Mike, bagaimana kabarmu?" Tanya William sambil bergantian memeluk adiknya itu.
" Kabarku baik Will." Jawab Mike singkat.
" Kau sudah pulang sayang? Apakah urusan kantormu sudah selesai?" Tanya Dhea.
" Sebenarnya belum, tapi mana mungkin aku tega membiarkan istri manjaku ini sendirian di kamar, jadi aku sudah menyerahkan semua pada Daniel, dan anak itu pasti bisa mengurusnya dengan baik sayang." Kata William sambil mengusap pipi istrinya.
" Kau ini seperti orang yang baru saja jatuh cinta, aku kan sudah terbiasa berada di dalam kamar apartemen ini sendirian." Jawab Dhea.
" Hahaha aku memang setiap hari selalu jatuh cinta padamu baby." Jawab William sambil menatap mesra istrinya, lalu mengambil kursi yang ada di dekatnya dan menggesernya di samping Dhea.
" Ahhhh...sepertinya aku harus menutup mata dan telingaku, usiaku belum cukup umur untuk melihat adegan dewasa ini." Gerutu Mike.
" Hahaha maaf Mike, bukan maksudku membuatmu cemburu, aku hanya ingin memotivasimu untuk segera menyusul kami. Ya tidak sayang?" Kata William sambil meminta dukungan dari Dhea.
" Ya sayang, akupun tadi sudah banyak memberikan masukan padanya, yahh semoga saja dia mendengar saran kita ya?"
" Ya Mike, tidak ada yang lebih membahagaiakan saat kita memiliki pasangan yang mau mengerti dengan kelebihan dan kekurangan kita, dan yang paling berharga dalam rumah tangga adalah adanya istri sholeha yang selalu bisa mengingatkan kita di saat kita salah dan khilaf."
" Kau semakin dewasa saja Will."
" Hahaha pengalaman hidup yang membuatku dewasa Mike."
" Yang penting jangan pengalaman hidup bersama wanita-wanita dewasa ya." Kata Mike sambil tertawa.
" Sssstttt....kau jangan membahas itu di depan kakak iparmu, jika mood baiknya berubah dan nanti berpengaruh pada janinnya, kau tidak mau kan memiliki keponakan segalak ibu tiri?" Canda William.
" Hehhh....kalian kakak beradik sepertinya ingin menyerangku secara halus ya?" Gerutu Dhea.
" Hahaha tidak mungkin sayang, sudah cukup dulu kami menyerangmu secara bersama-sama, ya kan Mike?" Mikepun hanya tertawa menimpali pertanyaan William.
" Sayang, bagaimana kabar anakku di dalam sana? apakah semenjak kutinggal tadi dia merepotkanmu?"
" Tidak sayang, justru anak ini sepertinya ingin membuatku over weight, lihatlah makanan dengan porsi besar yang dibawa Mike tadi sudah masuk ke dalam perutku semua!!"
" Hehhhh...sepertinya aku harus bekerja lebih keras lagi karena stok uangku harus banyak untuk mencukupi selera makan istriku yang gila-gilaan ini." Gerutu William.
" Hahaha....kau ini berlebihan sekali sayang, kau pikir akan mencukupi kebutuhan makan orang sekota ini." Kata Dhea sambil tertawa dan William ikut tertawa, sedangkan Mike hanya menyunggingkan sedikit senyum karena begitu iri melihat kemesraan saudara kandungnya itu.
" Mike, kau tidak ke kantormu hari ini?" Tanya William.
" Tidak Will, sebagai adik yang baik aku harus memprioritaskan hubungan saudara daripada pekerjaan. Belum tentu aku bisa bertemu denganmu setiap hari, apalagi sekarang kau sudah menetap di Indonesia."
" Ya, Mike benar!! Persaudaraan itu lebih penting daripada segalanya. Karena jika terjadi apa-apa dengan kita, orang pertama yang akan kita mintai bantuan adalah saudara. Saudara itu adalah pelindung dan pembela sejati tanpa pamrih, jangan pernah terpedaya dengan banyaknya orang di sekelilingmu, karena belum tentu mereka itu tulus, setelah orang tua, orang yang paling dekat dan terpercaya itu adalah saudara-saudara kita, makanya pintar-pintarlah kalian menjaga keharmonisan hubungan persaudaraan kalian. " Jawab Dhea panjang lebar.
" Lihatlah Mike, bagaimana aku bisa berpaling dari wanita mengagumkan seperti dia, sepertinya aku harus lari ke ujung dunia untuk melupakannya, jika dulu aku tidak jadi mendapatkannya."
" Untung kau mendapatkanku sayang, jadi kau tidak perlu lari ke ujung dunia, tapi lari ke hatiku."
" Hahaha sepertinya istrimu mulai tertular sifat menggombalmu Will."
" Hehhh...sepertinya aku salah menurunkan ilmu, semoga saja dia memakai ilmu itu untuk orang yang tepat bukan seperti aku dulu yang salah sasaran." Gerutu William dan disambut tawa Dhea serta adiknya Mike.
" Will, aku pulang dulu ya? sudah siang, pasti kalian berdua ingin segera beristirahat." Kata Mike.
" Ya Mike hati-hati di jalan."
" Oh ya jika kalian akan menginap di rumah papah, kabari aku ya, aku juga ingin berkumpul bersama kalian."
" Ok Mike nanti pasti aku telfon jawab William."
" Ayo sayang kita naik!!" Ajak William pada istrinya sambil menjulurkan tangannya pada Dhea. Dea menyambut uluran tangan suaminya itu sambil berjalan di sampingnya.
" Kita lewat tangga seperti biasanya kau siap?" Kata William.
" Siapa takut!! dari kemarinpun aku lewat tangga itu bukan?" Kata Dhea menjawab tantangan suaminya.
" Aku itu cuma hamil sayang dan bukan sedang mengidap suatu penyakit, jadi kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku." Kata Dhea.
" Ya aku tau sayang, tapi sifat keras kepalamu itu yang kadang-kadang perlu diwaspadai, aku takut jika tak kuawasi, kau seenaknya sendiri dan menganggap bahwa yang kau kandung itu bukan anak orang tapi anak jin." Canda William.
" Iiiihhhhhh.....kau pikir aku akan menyakiti anakku sendiri." Kata Dhea sambil mencubit pinggang suaminya.
" Hahaha ya kan kau itu kadang susah sekali jika diberitahu, apalagi jika itu menurutmu benar sayang."
" Hemmmm....apakah itu artinya kau sedang memprotes sifat keras kepalaku Tuan William???" Kata Dhea sambil melirik suaminya.
" Hanya menyentil sedikit siapa tau kena sasaran." Jawab William sambil tertawa.
Dhea sangat paham dengan sifat suaminya yang selalu berhati-hati ketika ingin menasehatinya, selama mereka menikah William jarang sekali mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan di telinga Dhea, terlebih jika ada sesuatu yang menurut William tidak disukai pada istrinya itu.
Tak lama kemudian mereka telah tiba di depan kamar. William membukakan pintu untuk istrinya.
" Silahkan masuk Nyonya Anderson." Kata William sambil membungkuk seperti seorang asisten yang sedang mempersilahkan majikannya.
" Hahaha kau ini, jika ada seorang asisten setampan kau, pasti tidak akan ada majikan yang mau mempekerjakanmu, karena bisa aku jamin kau akan membuat majikanmu tidak pernah berhenti untuk memandangmu." Kata Dhea sambil mengacak-acak rambut suaminya.
" Ya, untungnya aku adalah suamimu dan bukan majikanmu sayang." Jawab William sambil mengikuti istrinya dari belakang.
" Ahhhhh...nyamannya....!!" Kata Dhea sambil melemparkan tubuhnya di sofa empuk dalam kamar mereka.
" Punggunggku pegal sekali karena terlalu lama duduk di bawah tadi." Kata Dhea sambil menggeliat untuk meregangkan otot-ototnya.
" Siapa suruh kau duduk di bawah? bukankah tadi aku menyuruh Mike mengantarkan makanan di kamar, agar kau bisa makan sambil mengobrol dengan adikku di sini." Kata William sambil melemparkan tubuh di samping istrinya.
" Sayang kau tidak tau ya?"
" Tau apa sayang?" Tanya William.
" Walaupun dia itu adikmu, tapi dia hanya saudara iparku. Dan kau tau saudara ipar itu bisa menjadi maut."
" Maut bagaimana? apa karena Mike pernah menyukaimu sehingga kau menganggapnya maut?"
" Bukan itu sayang. Aku tidak bisa sembarangan menerima tamu laki-laki walaupun dia adik iparku sendiri. Kau tidak sadar bahwa banyak kejadian ipar itu bermain api dengan istri atau suami saudara sendiri?"
" Ohhh maaf, aku tidak berpikiran sejauh itu sayang. Aku beranggapan bahwa adikku itu tidak mungkin berbuat macam-macam padamu."
" Benar sekali sayang jika pikiranmu positif padanya, tapi apakah setan bisa kau ajak kompromi? dan apakah kau bisa menjamin bahwa nanti aku ataupun dia tidak khilaf?"
" Hei apakah kau tidak yakin dengan imanmu sendiri?"
" Sayang...aku itu manusia biasa, dulu kau tau bagaimana aku begitu hebatnya mempertahankan prinsipku untuk tidak mau disentuh oleh laki-laki? tapi ternyata apa? hanya dihadapkan oleh pria setampan kau saja imanku sudah goyah, bagaimana jika aku dihadapkan pria lain yang memiliki pesona yang sedikit berbeda darimu? manusia itu memiliki sifat ingin tau dan penasaran oleh hal-hal yang belum pernah dicobanya, dan aku tidak ingin terlalu percaya diri bahwa aku itu tidak akan goyah oleh segala hal yang menggiurkan apalagi menyenangkan di dunia ini, maka jauhilah segala hal yang bisa menyesatkanmu dan jangan coba-coba mendekati sedangkan kita tau itu akan menjerumuskan kita. Lebih baik tidak sama sekali daripada kebablasan ya kan?"
" Hehhhh...sepertinya PRku banyak untuk lebih mengetahui segala aturan dalam agamaku." Gerutu William sambil bersungut-sungut.
" Belajar itu tidak boleh berhenti sayang, selama nyawa kita masih ada di dalam tubuh selalu belajarlah untuk terus memperbaiki diri. Karena tanpa belajar kita tidak akan pernah tau bahwa banyak hal yang belum kita ketahui di dunia ini. Dan yang terpenting, kita akan semakin sadar bahwa kita masih jauh dari kata pintar sehingga kita tidak akan pernah sombong dengan segala ilmu yang kita miliki. Kau ingat di atas gunung masih ada gunung, kau tidak akan pernah tau dalamnya lautan jika kau tidak menyelaminya, dan kau tidak akan pernah tau suatu kebenaran jika kau tidak mau belajar." Kata Dhea.
" Ya sayang, hampir saja aku menjerumuskan istriku akibat ketidaktahuanku ini."
" Tidak apa-apa sayang, orang yang tidak tau itu masih bisa dimaafkan, daripada orang yang sudah tau tapi melanggar dan pura-pura tidak bersalah." Jawab Dhea sambil tersenyum.
William hanya mendengarkan kata-kata Dhea yang panjang lebar. Dia orang yang sangat open mind, tidak pernah merasa istrinya sedang mengguruinya, walaupun posisinya sekarang adalah tertinggi dalam rumah tangga mereka. Tidak ada rasa gengsi apalagi malu mengakui bahwa masih banyak hal yang perlu dia belajar dari orang-orang sekitarnya.