Something different

Something different
Berkumpul bersama di depan kolam renang



Kedatangan William membuat Dhea bisa bernafas dengan lega. Awalnya dia khawatir Deasy akan mengetahui bahwa dulunya Mike sempat menyukainya juga, bahkan pernah bertengkar dengan William segala.


" Kalian sedang mengobrol apa sih sayang? sepertinya asyik sekali." Sambil duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Dhea.


" Ohhh.....ini tadi aku sedang bercerita bagaimana kau dulu mendekatiku, hingga membuatku begitu sangat membencimu."


" Hahaha....jangan kau ceritakan semuanya sayang, nanti mereka semua bisa tau, bahwa aku dulu sempat menjadi budak cintamu."


" Hahhhh.....yang tidak tau bagaimana menderitanya hidupmu saat ingin mendapatkan Dhea itu hanya Deasy seorang Will, jadi rahasiamu itu sudah menjadi rahasia umum. Terlebih aku yang jadi saksi hidupmu, kau suruh kesana kemari demi untuk mendapatkan istrimu itu."


" Hahaha....makanya aku tidak akan bisa melupakan jasamu teman, jika tanpa bantuanmu, mungkin dulu aku sudah menjadi suami wanita yang tidak kucintai."


" Ya, sampai aku memutar otak tidak tidur 7 hari 7 malam, demi untuk mencari cara menggagalkan pernikahan itu."


" Hahhh...berlebihan sekali kau. Kau itu tidak tidur karena memang sedang menemani wanita simpananmu kan? kenapa aku yang kau buat alasan?"


" Ya maksudku sembari memikirkan masalahmu juga Will." Sambil cengar cengir.


" Kau ini bisa saja mencari kambing hitam."


" Oh iya nak, kau akan tinggal di sini berapa lama?"


" Terserah istriku pah. Biar dia saja yang menentukan kapan kami kembali ke Indonesia, tujuanku kemari memang ingin mengajaknya berlibur setelah dia sembuh dari sakit."


" Iya benar Will, siapa tau setelah pulang dari sini istrimu kembali fresh, dan tiba-tiba langsung hamil. Benar kan?" Sela Deasy, mulai memainkan peran gandanya.


" Amiin...seperti itu harapan kami." Jawab William singkat. Sedangkan Mike diam saja, walaupun otaknya sedang berpikir keras untuk meraba-raba apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan sang istri, kenapa perubahannya begitu drastis.


" Hehhhh....tumben yang diucapkannya itu positif? Walaupun sebenarnya sedikit tidak masuk akal. Aku kan baru saja sembuh dari operasi, bagaimana bisa langsung hamil? bukankah sangat beresiko dengan bekas operasiku? tapi biarlah, semoga ini merupakan pertanda dia tidak lagi jutek denganku, dan bukan sekedar basa-basi saja, karena ada mereka semua di sini." Kata Dhea dalam hati, menanggapi kalimat Deasy yang baru diucapkannya.


" Yaaaahhh...bagus Deasy, seperti itu terus, jaga sikapmu saat ada suamimu di sampingmu, dan buatlah kesan seolah-olah kau telah berdamai dengan Dhea. Jangan karena orang lain, kemudian kau kembali bertengkar dengan suamimu sendiri. Ya ya ya....awal yang baik." Kata Deasy dalam hati. Pilihan katanya berdamai sangat tidak tepat. Karena sebenarnya dialah yang membangun permusuhan itu, sedangkan Dhea sama sekali tidak tau jika Deasy amat membencinya.


" Hei....Dhe!! kenapa kau diam saja? Deasy baru saja mengucapkan doa untukmu..!! Kau tidak mengaminkannya???" tiba-tiba Daniel ikut unjuk bicara.


" Eh ehmm aku eh iya amiin...!!" kalimat Daniel membuyarkan lamunan Dhea, sehingga dia begitu gugub dan bingung untuk menjawabnya.


" Hahaha...aku tau yang sedang kau pikirkan Dhe, dan wajar saja jika kau berpikir keras, dan kemudian sedikit bingung. Namun, manusia itu kan gampang berubah Dhe, bisa saja satu menit yang lalu dia bicara A, kemudian tiba-tiba berubah menjadi B. Jadi harap dimaklumi ya Dhe...!!!"


" Daniel...ayolah jangan mulai lagi donk...!! Kata William sambil melirik tajam pada sahabatnya itu.


" Lalu jika tidak dimulai-mulai, kapan akan dimulainya Will? nanti keburu siang hahaha."


" Oalahhh Dan..Dan....edan kok ditekuni...!!!" Gerutu Dhea dalam hati dengan bahasa Jawa yang fasih.


" Hehhhh....susah berbicara dengan orang aneh seperti kau Dan."


" Yang aneh itu jaman sekarang yang dicari Will, karena unik dan langka."


" Ya kau sangat aneh, lain daripada yang lain. Dan biasanya orang yang berbeda dengan yang lainnya itu butuh psikiater khusus untuk ditindaklanjuti."


" Hahhh...kau pikir aku gila???"


" Yahhh beda-beda tipislah."


" Hemmm...lalu bagaimana usahamu di sana nak?"


" Alhamdulillah lancar pah. Semua sudah bisa dihandle oleh orang kepercayaanku, aku hanya memantaunya saja, dan sekali-kali berkunjung."


" Jadi semua pekerjaanmu kau serahkan pada orang lain Will?"


" Iya Deasy. Anggap saja bagi-bagi rejeki. Ya tidak sayang?" sambil menatap istrinya. Dan Dhea hanya mengangguk sambil tersenyum manis.


" Lho istrimu kan lulusan S2? kenapa kau tidak meminta bantuannya untuk mengurus perusahaanmu? Seperti aku dan Mike?, kami bekerjasama untuk memajukan perusahaan kami."


" Itu kan Mike, dan bukan aku. Cara berpikir Mike dengan aku berbeda. Aku menikahi istriku bukan untuk membantuku bekerja. Aku membutuhkan dia untuk mendampingiku. Dan saat ini aku merasa dengan seperti itu rejekiku sudah cukup untuk menghidupi keluargaku, jadi untuk apa aku membuang-buang waktu kebersamaan kami demi untuk mengejar materi?"


" Jadi kalian selama 24 jam hanya bersama di rumah?"


" Yaaa begitulah."


" Haahhh...apa itu tidak sangat menjemukan?"


" Aku harap itu tidak terjadi di antara kami Deasy. Itu semua tergantung bagaimana kami menyikapinya, dan bagaimana kami terus membangun suasana agar pasangan tetap nyaman berada di samping kita, dan tidak berpaling dari kita. Intinya komunikasi dan tetap saling pengertian. Apapun yang tidak kita sukai dari masing-masing pasangan harus kita terima, dan pada intinya jangan pernah lelah untuk berusaha menjadi yang terbaik buat pasangan kita, itu saja. Ya kan sayang?" Lagi-lagi Dhea hanya mengangguk sambil tersenyum.


" I love you sayangku." Sambung William lagi tiba-tiba.


" Love you too." Jawab Dhea spontan , kalimat biasa yang mereka ucapkan saat berada di rumah.


" Hei...teman....!!! ingat ada kami di sini ya!! kau anggap kami ini hanya sebagai display saja!!!" Protes Daniel


" Yeee biar saja. Aku kan mengucapkannya pada istriku sendiri, kenapa kau yang pusing?"


" Yaaa...benar istrimu sendiri. Jika kau ucapkan itu padaku sudah tentu kau akan dismack down dengan isyrimu, dipikirnya kau telah berpaling padaku honey.... " Dengan gaya kemayu.


"Sana, sana lanjutkan...anggap saja di kamar pribadi kalian sendiri ya."


" Hahaha....biar saja Daniel. Papa merasa bahagia melihat keromantisan mereka berdua. William itu benar-benar seperti bayangan papa. Dulu papa juga tidak pernah malu mengucapkan cinta pada mama di depan orang lain. Bukan maksudnya pamer, tapi papa memang tidak bisa menyembunyikan perasaan, dan William pasti juga seperti itu. Ya tidak nak?"


" Iya benar pah. Biar saja Daniel itu mau berbicara apa, dia itu memang iri, iri kan tanda tak mampu pah hahaha."


" Hehhhh...benar kata papa, William ini begitu mencintai Dhea. Apa sih hebatnya wanita ini? pria setampan dan sekaya William sampai bisa bertekuk lutut padanya?"


" Hehhh...sayang sekali ya Dhe? sayang sekali ilmu yang kau tempuh hingga jauh ke negara orang itu akhirnya hanya menguap saja." Kata Deasy lagi menyambung kalimatnya.


" Siapa bilang menguap? Orang berilmu dan tidak berilmu itu sangat berbeda Deasy. Dan ilmu yang kita punya itu tidak harus digunakan di dunia kerja sesuai dengan jenjang pendidikan. Contohnya sekarang, hal yang paling sederhana saja. Bandingkan antara orang yang berilmu seperti istriku dan Daniel yang yahhh...aku tidak tau dia itu sekolah atau tidak. Cara bicaranya kau dengar sendiri kan? bahkan dia tidak segan-segan menyindir lawan bicaranya di depan umum, sedangkan istriku? sudah jelas-jelas semenjak kedatangan dia pertama kali ke rumah ini, sering mendengar kalimat yang menyudutkannya, tapi dia tenang saja. Dia tau bagaimana bersikap dan menjaga harga diri di depan umum." William tanpa basa-basi mengucapkan kalimat yang membuat wajah Deasy memerah. Sepertinya William memang sengaja melakukan itu untuk menutup mulut nyinyir adik iparnya.


" Heiiiii....Will...!!! kenapa harus aku yang kau contohkan? apa aku harus menunjukkan ijazah terakhirku padamu? dan jumlah nilai yang kuraih saat itu?"


" Hahaha....itu kan hanya contoh Dan, jangan tersinggung ya."


" Aku itu bukan tidak berilmu Will, tapi memang karakterku seperti itu. Dan memang salah satu caraku untuk menjebak lawan hahaha." Sambil melirik Deasy.


" Sudahlah...kalian jangan saling memperolok. Lebih baik kita mengobrol yang lainnya saja ya." Kata Dhea berusaha mengalihkan pembicaraan, saat melihat mimik muka Deasy benar-benar sedang menahan amarah.