Something different

Something different
Mengabari Papa William



" Tuan William, besok pagi anda bisa bawa Dhea ke rumah sakit. Aku harus melakukan pengecekan terlebih dahulu pada istri anda, dan setelah semuanya kondisi tubuhnya normal, baru kita akan melakukan operasi." Kata Dokter Sherli saat menelfon William pada malam hari.


" Ya dokter, besok kami akan kesana." Jawab William singkat.


" Bagaimana keadaan istri anda malam ini setelah mendengar dia harus dioperasi?"


" Alhamdulillah dia baik-baik saja dokter. Aku bahkan tidak menyangka dia bisa menerima ini semua dengan ikhlas. Apa yang aku bayangkan sebelumnya ternyata bertolak belakang dengan kenyataan."


" Ya, dia itu wanita yang sangat tegar. Namun wajar saja jika dia dulu sedikit tidak terima, karena dia juga manusia biasa. Tapi dia itu wanita yang sholehah, jadi aku yakin dia pasti akan menerima takdir Tuhan yang diberikan dengan sabar."


" Ya dokter, kami hanya menjalani saja."


" Oke tuan, besok saya tunggu di rumah sakit ya."


" Ya dokter, terimakasih sebelumnya."


" Sama-sama tuan." Lalu telfonpun ditutup.


William kemudian mendatangi istrinya yang sedang menonton televisi bersama pegawai perempuan lain di ruang tengah, juga tidak ketinggalan dokter dan suster pribadinya.


" Heiii...kalian sedang menonton apa?" tanya William yang langsung mengomentari beberapa kaum hawa yang sedang serius di depan layar televisi.


" Sayang, jangan gabung di sini ya, kau nanti bisa ikutan baper karena kami sedang menonton sinetron." Jawab Dhea, sambil memandan sebentar pada suaminya, namun kemudian beralih lagi ke depan layar televisi.


" Waduhhh senetron? kenapa tidak melihat siaran yang lebih masuk akal dibanding sinetron?"


" Misalnya?"


" Misalnya siaran bola begitu." Kata William mencoba bernegosiasi agar acara televisi itu diganti. Karena pecinta sinetron memang kebanyakan kaum wanita, sedangkan pria menganggap bahwa sinetron adalah acara yang kurang menarik, dan terlalu dibuat-buat.


" Hemmmm....kau mencoba mengganggu konsentrasi kami ya." Kata Dhea sambil melirik tajam pada suaminya diikuti oleh tatapan pegawai lainnya sambil menahan tawa, dan lirikan Dhea seperti sedang mengintimidasinya.


" Hehehe...tidak sayang. Oke lanjutkan saja menonton kalian. Aku akan menonton di dalam kamar saja."


" Baguslah...kau sangat pengertian sekali suamiku."


" Sayang, kau tidak ingin menonton bersamaku di kamar?" Dan sekali lagi Dhea meliriknya tajam.


" Hehehe...oke..aku menonton sendiri saja. Pasti kau sedang ingin bersama mereka ya."


" Issshhh sayang, kau mengganggu konsentrasiku!!" Rajuk Dhea manja.


" Hehehe...ya sudah aku ke dalam ya."


" Yaaaa...silahkannn." Kata Dhea sambil matanya tidak beralih dari televisi.


" Sayang....!!!" panggil William sekali lagi.


" Iya." Jawab Dhea sambil menengok.


" I love you." Kata William sambil mengedipkan sebelah matanya. Spontan Dhea langsung melotot sambil berteriak.


" Tuan William Sean Andersonnnn....awas kau ya!!!!"


" Hahahaha...." William yang berhasil mengerjai istrinya langsung pergi sambil terbahak.


Pegawai Dhea hanya terkikik melihat tingkah majikannya itu. Dhea memang ingin berkumpul bersama mereka semua, hitung-hitung melupakan sejenak bahwa esok dia akan segera dioperasi, dan malam ini dia harus benar-benar rilex dan tidak memikirkan apa-apa agar tensinya stabil. Padahal seandainya dia sebelumnya bisa serilex ini setiap hari, mungkin saja penyakitnya tidak separah sekarang. Manusia memang terkadang seperti itu, disaat semuanya sudah terlambat, baru dia baru mulai merubah diri. Namun perasaan memang tidak bisa dibohongi, sebesar apapun usaha kita untuk melupakan sebuah masalah, namun tetap saja itu menjadi sebuah beban pikiran.


Setelah meninggalkan istrinya yang sedang asyik menonton sinetron bersama pegawai lainnya, William tidak langsung masuk ke kamar, tapi menuju depan rumahnya. Dia berniat menelfon ayahnya, untuk memberitahukan kabar menantunya yang akan segera dioperasi.


" Hallo pah!" Sapa William saat papanya baru saja mengangkat telfon darinya.


" Hai Will."


" Bagaimana kabar papa hari ini? Sudah dua hari papah tidak menelfon kami. Papah sibuk ya?"


" Hahaha...hanya ada sedikit urusan nak."


" Hemmmm....urusan apa pah? sehingga papa jadi tidak bisa meluangkan waktu untuk menelfonku? padahal hampir setiap hari papa selalu menanyakan kabar menantu kesayangan papah."


" Ya tadi baru saja papah berpikiran ingin menelfonmu dan menceritakan sesuatu, tapi ternyata kau sudah menelfon terlebih dahulu."


" Oh ya? papah ingin menceritakan apa?" tanya William antusias.


" Nanti saja, tadi kau menelfon papah ada apa Will?" tanya balik papanya.


" Ohhhh....aku ingin mengabari kondisi istriku pah." Kata William pelan.


" Ada apa dengan Dhea Will? dia baik-baik saja kan?" nada suara papahnya begitu khawatir.


" Terpaksa bayinya harus digugurkan pah."


" Iya pah, karena semakin hari kondisinya semakin memburuk, dan bisa membahayakan nyawanya."


" Apa tidak ada cara lain lagi Will?"


" Tidak pah, selama ini papah tau kan kami sudah mengusahakan pengobatan yang maksimal dan berusaha mempertahankan anak itu, tapi Tuhan berkata lain."


" Ya nak, tidak ada satu mahlukpun yang bisa menahan kehendakNya. Bersabarlah, badai pasti akan segera berlalu. Jadi kapan operasi istrimu dilakukan?"


" Besok pah. Dokter tidak mau jika kami mengulur waktu akan semakin fatal buat Dhea."


" Buru-buru sekali Will?"


" Iya pah, semakin cepat semakin baik. Tidak ada efek positifnya jika menunda-nunda lagi."


" Hehhhh...padahal papah ingin sekali kesana Will, papah ingin memberikan suport pada istrimu."


" Terimakasih pah atas perhatian papah. Tapi aku tidak ingin merepotkan papah. Ada kedua orang tua Dhea juga yang menemaninya."


" Papah cukup mendoakan kami saja ya."


" Iya nak pasti itu."


" Pah, maafkan aku ya belum bisa memberi papa cucu." Kata William pelan, seperti ada penyesalan dalam hatinya.


" Hei....jangan seperti itu. Tidak ada orang yang mau kehilangan darah dagingnya. Bagi papa, kesehatan kalian berdua itu lebih penting. Sisi positifnya mungkin papa tidak akan tua-tua, karena belum ada yang memanggil papa opa hahaha." William hanya tersenyum getir mendengar candaan papanya, yang memang ingin menghiburnya. Namun dia sangat tau, bahwa papanya itu juga merasa kehilangan calon cucunya yang diharapkan bisa menjadi penerus keluarga Anderson.


" Oh ya pah, tadi katanya papa ingin menceritakan sesuatu padaku."


" Sebenarnya papa tidak tega nak menceritakan kabar bahagia ini, di tengah kondisimu yang sedang bersedih."


" Cerita saja pah. Aku memang sedang bersedih, tapi bukan berarti mendengar kabar bahagia papa aku jadi tidak ikut bahagia."


" Sebenarnya papa ingin menceritakan ini sejak lama, hanya saja kalian sedang ada masalah, jadi papa tunda."


" Ayolah pah, aku penasaran sekali. Ini cerita tentang papa atau siapa?"


" Bukan papa nak, tapi adikmu."


" Adikku Mike?"


" Hahaha....memang kau punya adik berapa?"


" Hehehe....siapa tau ada adik-adik dari mama lain yang aku tidak tau." Kata William menimpali candaan papanya.


" Hahaha....papa hanya ingin mempunyai anak dengan mamamu saja Will, kalau dengan wanita lain, itu hanya selingan." Jawab papanya membongkar sedikit masa lalunya saat masih muda.


" Ada apa dengan Mike pah?"


" Adikmu sebentar lagi akan menikah nak."


" Mike menikah? Alhamdulillah....!!! Akhirnya dia bisa mendapatkan pengganti Jessy."


" Bagaimana wanita itu pah?"


" Ya....kau tau sendiri selera adikmu. Sudah pasti cantik."


" Ya semoga saja bukan hanya cantik wajahnya, tapi juga hatinya. Yang terpenting dia juga bisa tulus menyayangimu?"


" Ya nak, papa harappun demikian. Semoga ini pernikahan terakhirnya, dan tidak ada lagi perceraian."


" Amiinn....Oh ya kapan pernikahan Mike dilaksanakan pah?"


" Mungkin satu minggu lagi nak."


" Jika memungkinkan aku akan menghadirinya pah, lihat kondisi istriku dulu."


" Tapi jangan kau paksakan Will. Yang terpenting prioritaskan kesembuhan istrimu dulu, urusan yang lain belakangan."


" Iya pah pasti itu."


" Lalu sekarang istrimu ada di mana?"


" Dia sedang menonton televisi pah."


" Ohhhh ya...nanti jika sudah free, kau telfon papa lagi ya, papa ingin berbicara dengannya."


" Ya pah, nanti pasti aku telfon papa."