Something different

Something different
Telfon papa William



Selama satu bulan berlibur di kampung halaman William, mereka hanya menghabiskan waktu dengan mengunjungi berbagai tempat yang menarik di kota itu, juga sanak saudara William yang juga berada di kota tersebut. Sesekali William pergi ke kantor, namun hanya sebentar, karena tidak ingin membiarkan istrinya sendirian di rumah tanpa ditemani olehnya, dan hanya ditemani oleh asisten rumah tangganya saja. Perhatian William tidak sedikitpun berkurang pada Dhea, apalagi kondisi istrinya yang sedang hamil muda itu, sehingga William semakin ekstra menjaga Dhea.


Hari itu mereka berdua berkemas-kemas hendak kembali ke Indonesia, setelah satu hari sebelumnya berpamitan terlebih dahulu pada papa dan juga adik William. Tidak ketinggalan Daniel dan juga Bram, dua orang sahabat mereka. Dan seperti biasa, kepulangan seseorang dari berlibur pasti bawaannya 2 kali lebih banyak dibandingkan saat keberangkatannya. Sekarang ada 4 buah koper besar telah siap di hadapan mereka. Oleh-oleh yang sengaja dibawa Dhea untuk dibagi-bagikan kepada orang tua dan juga sanak saudaranya, berada di dalam koper-koper tersebut.


" Simon, tolong nanti turunkan koper yang ini ya! yang lainnya kau kirim melalui pesawat cargo saja, aku tidak mungkin membawanya semua!" kata William pada supir pribadinya, dan menunjukkan satu koper pakaian yang harus Simon turunkan, untuk dibawa langsung oleh William di pesawat nanti.


" Baik tuan." Jawab Simon singkat sambil mengangkat bawaan-bawaan tuannya ke dalam mobil.


" Sayang semoga kau selamat ya hingga tiba di negaramu sana. Sehat-sehatlah selalu agar kau bisa melahirkan calon cucuku dengan sehat." Kata Nyonya Christy saat akan melepas kepergian Dhea.


" Iya nyonya pasti itu. Terimakasih ya atas pelayananmu selama aku di sini."


" Itu memang sudah tugasku sayang, jadi kau tidak perlu sungkan dan mengucapkan terimakasih padaku."


" Christy tolong kau rawat dengan baik rumahku ini ya. Kau perintahkan bawahanmu untuk membantumu." Pesan William pada Nyonya Christy.


" Ya tuan, anda jangan khawatir, percayakan semuanya padaku, aku jamin beres semuanya."


" Ya Cristy, aku sangat mengandalkanmu." Kata William.


Terdengar dering telfon dari saku celana William. Lalu diambilnya telfon genggam itu.


" Siapa sayang?" tanya Dhea.


" Papa sayang." Jawab William.


" Angkatlah dulu."


" Iya sebentar ya." Dhea hanya menganggukan kepalanya.


" Hallo Will." Sapa papanya di seberang sana.


" Iya pa, ada apa?"


" Kalian sudah berangkat?"


" Belum pah, ini masih bersiap-siap."


" Oh ya sudah, papa hanya ingin memastikan saja. Ingat ya jaga istrimu baik-baik, jangan sampai kau biarkan dia lelah, kau tau kan ada calon cucuku di perutnya. Jangan sampai lengah juga kau mengawasinya!!"


" Iya pah, pasti itu."


" Dan jangan lupa makan-makanan yang bergizi, kalau kau tidak punya uang untuk membelikannya, suruh istrimu tinggal di sini dulu sementara waktu, biar papa yang memenuhi gizinya selama kehamilannya!!" Wanti-wanti papanya.


" Ahhhh papa ini, tenang saja pah. Uang di rekeningku cukup untuk memenuhi gizinya, walaupun dia hamil 1000 kali pah." Jawab William sambil tertawa.


" Haaa..kau pikir istrimu itu pabrik anak, hingga bisa melahirkan hingga seribu anak?"


" Hahaha....tentu saja bukan pah." Jawab William sambil terbahak.


Sebenarnya pesan itu sudah berkali-kali disampaikan papanya pada William, namun lagi-lagi orang tua itu mengucap pesan yang sama setiap bertemu ataupun berbicara di telfon dengannya. Kemarinpun saat dia dan Dhea berpamitan pada papanya, kalimat itu kembali terdengar di telinganya. Ternyata sifat William yang posesif juga menurun dari papanya tersebut. Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, kecuali menggelinding di tanah yang menurun🤭


" Mana istrimu Will? papa ingin bicara sebentar padanya." Kata papanya lagi.


" Oh iya pah, ini dia ada di sampingku. Sebentar ya." Lalu William menyerahkan handphonennya pada Dhea.


" Papa ingin berbicara padamu sayang." Kata William.


Dhea segera menerima telfon genggam tersebut, lalu menempelkan di telinganya.


" Iya hallo pah." Kata Dhea.


" Kau sudah mau berangkat nak?"


" Iya sebentar lagi pah."


" Nak ingat ya jaga kesehatanmu. Istirahatlah yang cukup. Jangan terlalu stres karena itu nanti bisa berpengaruh di kandunganmu."


" Iya nak, maafkan papa tidak bisa menemanimu di sana ya, apalagi di saat kondisimu hamil seperti itu."


" Tidak pah, akulah yang seharusnya minta maaf karena tidak bisa menemani anda tinggal di sini."


" Tidak usah kau pikirkan nak, utamakan kebahagiaan keluargamu saja, papa pasti akan baik-baik di sini. Masih ada Mike yang setiap saat bisa mengunjungi papa."


" Iya pah terimakasih atas perhatian dan pengertian anda." Jawab Dhea.


" Oh iya, mana suamimu lagi? ini ada Mike yang ingin berbicara padanya."


" Ohhh papa sedang bersama Mike?"


" Iya nak, kebetulan dia sedang ada di sini."


Dhea lalu memberikan kembali handphonennya pada William.


" Hallo Will." Sapa Mike.


" Hei Mike kau disana rupanya."


" Iya Will."


" Kau sudah mau berangkat Will?"


" Belum Mike, ada apa?"


" Ya aku hanya ingin menegaskan pesan papa tadi padamu, jika kau tidak bisa menjaga istrimu dengan baik, aku dengan senang hati bisa menggantikannya." Kata Mike sambil terkekeh.


" Hahaha sialan kau, tapi sebagai securitynya saja ya, kau mau?"


" Hahaha...wajah setampan aku kau suruh jadi security? apa itu bukan ancaman untuk majikanku?"


" Hehhhh...ya ya ya, sepertinya sih begitu. Kau lebih cocok untuk security di pemakaman umum saja kalau begitu."


" Waduhhhh....sembarangan."


" Ingat ya, jika aku kembali lagi ke sini dan kau belum juga menikah, kubelikan kau baju gambar Tweety hahaha."


" Hehhhh...sepertinya aku harus bekerja lebih keras lagi." Gerutu Mike.


" Tapi tenang saja, aku pasti akan mencarikan saudara ipar untuk istrimu. Kau kembali lagi kesini satu tahun lagi kan?"


" Sepertinya begitu Mike, karena jika perut istriku sudah mulai membesar, aku tidak ingin membiarkannya pergi kemana-mana."


" Yaaaaa...aku rasa waktu satu tahun itu cukup buatku untuk menyeleksi seorang calon istri."


" Hahaha semoga saja Mike, yang penting kau harus berusaha."


" Ya sudah Will, semoga kalian berdua selamat hingga tiba di sana. Jangan lupa kabari kami ya."


" Ok Mike terimakasih, pasti itu. Aku akan langsung mengabarimu jika sudah sampai."


Lalu William menutup telfonnya.


" Sayang....aku jadi khawatir dengan kehamilanku ini, sepertinya keluargamu begitu mengharapkan anak ini untuk meneruskan dinasti keluarga Anderson." Kata Dhea sambil membelai perutnya.


" Tenanglah sayang, kau jangan terlalu memikirkannya. Papaku memang begitu, bukan cuma denganmu saja, dulu beliaupun begitu pada mamah saat hamil kami berdua. Itu hanya salah satu bentuk perhatiannya padamu, karena dia tau begitu berat beban seorang wanita pada masa kehamilannya."


" Apalagi ini adalah cucu pertama baginya, wajar saja dia sangat mengkhawatirkanmu."


" Iya sayang, aku hanya takut saja, jika suatu hari ada apa-apa dengan kehamilanku."


" Stttt...tidak sayang. Semua akan baik-baik saja. Kau akan sehat, begitu juga anak kita."


Dhea hanya mengangguk kepala dan mengaminkan ucapan suaminya.