Something different

Something different
Nasehat orang tua Dhea



Setelah selesai makam malam, mereka berempat segera berkumpul bersama di ruang santai, dan membicarakan banyak hal. Semenjak menikah, Dhea memang sudah jarang sekali melakukan kegiatan itu bersama kedua orang tuanya. Dulu saat masih tinggal bersama, hal itu selalu menjadi rutinitas keseharian mereka. Selalu saja ada waktu untuk menyempatkan diri mengobrol bersama, di sela-sela kesibukan masing-masing. Saling menceritakan kegiatan apa yang mereka lakukan seharian itu, ataupun juga memecahkan persoalan bersama yang sedang dihadapi. Dan lebih seringnya adalah nasehat-nasehat yang selalu diberikan oleh kedua orang tuanya pada Dhea, sebagai seorang gadis yang sedang mengalami tumbuh kembang, sehingga perlu perhatian khusus dari kedua orang tuanya.


Tidak bisa menjamin sepenuhnya saat orang tua itu sering memberikan wejangan pada anaknya, kemudian anak itu akan mendengarkan sepenuhnya. Terkadang nasehat itu masuk di telinga kiri lalu keluar lagi melalui telinga kanan. Namun jangan lupa, bahwa sekecil apapun sebuah nasehat, pasti akan sangat bermanfaat, dan walaupun yang diingatnya hanya sebaris kata saja dari sekian banyak kalimat yang keluar. Nmun tidak mungkin dia akan lupa seluruhnya. Usaha itu lebih penting walaupun belum berhasil, daripada berdiam diri dan hanya menunggu takdir.


Setelah lama berbasa-basi, akhirnya ayah Dhea mengatakan maksud dan tujuannya datang ke rumah Dhea.


" Nak, sebelumnya maafkan ayah dan ibu jika terlalu jauh ikut campur masalahmu. Namun ayah tunggu sedari tadi kau tetap tidak mau membuka mulut, padahal kami berharap bisa mendengarnya dari kamu sendiri."


" Maksud ayah apa? kenapa meminta maaf?" tanya Dhea bingung. Dia pikir kedatangan orang tuanya hanya sekedar rindu padanya, karena sudah beberapa hari ini tidak berkunjung ke rumah mereka.


" Begini nak, ayah dan ibu sebenarnya sudah tau persoalan yang sedang kau hadapi, namun kau tetap bersikeras untuk menutupinya pada kami."


Dhea mengerutkan keningnya, lalu memandang William. Dia curiga pada suaminya, bahwa dia pasti telah menceritakan sesuatu pada mereka berdua.


" Kau jangan menyalahkan suamimu, dia mungkin hanya butuh suport dari orang terdekatnya. Dia tidak ingin terjadi apa-apa padamu." Sambung ayahnya lagi.


" Dhe....apa yang kau alami sekarang ini, pernah juga ibu alami. Memang tidak pernah ibu ceritakan padamu, karena menurut ibu, itu tidak penting untuk kau tau. Namun sekarang harus ibu ceritakan, karena ternyata gen itu menurun padamu. Kakakmu dulupun terpaksa digugurkan karena ibu mengalami eklamsia juga."


" Jadi dulu ibu bukan keguguran biasa? tapi mengalami eklamsia?"


" Ya nak, dan ibu harus merelakannya karena bisa berbahaya."


" Nak, semua usaha yang kau lakukan itu sudah benar, namun faktor resiko kau mengalami hal yang sama seperti ibu itu sangat besar, karena keturunan itu nak."


" Jadi maksud ibu?"


" Maksud ibu itu untuk memberitahukanmu, bahwa apapun nanti yang terjadi jangan pernah membahayakan diri sendiri. Masih banyak orang yang menyayangimu dan mengharapkan kehadiranmu. Jadi kau juga harus menyayangi dirimu sendiri nak."


" Ibu aku tau, tapi boleh kan aku berharap? walaupun harapan itu hanya 0%?


" Ya nak berharaplah, sekecil apapun harapan itu akan membuat kita bertahan menghadapi cobaan dan halangan dalam hidup. Namun jangan kecewa jika harapanmu tidak menjadi kenyataan, dan itulah yang harus kau persiapkan." Dhea menunduk tiba-tiba air matanya menetes, dan William tau itu. Kemudian William segera memeluk pundak istrinya, berusaha menguatkan orang yang sangat dicintainya itu.


" Ayah, ibu, kenapa cobaan ini begitu besar? baru saja aku memimpikan akan dipanggil mama oleh anakku, namun dokter sudah memberikan vonis mengerikan padanya. Apakah ini karena kesalahanku? mungkin aku memiliki dosa besar pada kalian berdua, maafkan aku ayah, ibu." Kata Dhea sambil sesenggukan.


" Tidak nak, apapun kesalahanmu, yang kami tau atau kami tidak tau semuanya sudah kami maafkan. Kau anak yang membanggakan kami berdua. Jangan mengatakan ini karena kesalahanmu, semuanya memang sudah menjadi kehendakNya Dhe. Semuanya belum terjadi, namun kau harus siap jika itu terjadi."


" Sayang, orang tuamu benar. Kita boleh barharap, tapi kau jangan lupa, Dia yang berkehendak. Yang penting kita sudah berusaha ya."


" Tapi sayang, aku akan mengecewakan banyak orang, terlebih papamu. Bahkan aku tidak tega jika melihatnya bersedih mendengar kabar berita ini."


" Papa sudah tau sayang."


" Benarkah?"


" Ya, akulah yang memberitahukannya. Makanya akhir-akhir ini papa sering menelfonmu kan? karena dia sangat mengkhawatirkan keselamatan mantu kesayangannya ini."


" Awalnya dia memang kecewa, tapi dia akan lebih kecewa lagi, jika kau tidak memikirkan keselamatanmu sendiri, dan bersikeras mempertahankan anak ini. Karena dia sangat menyayangimu Dhe, seperti anaknya sendiri. Bahkan papa bilang, tidak ada wanita yang bisa menyamai kesempurnaan mamaku selain dirimu. Sifat yang ada pada mendiang mama itu melekat padamu. Makanya papa sangat gembira saat aku bisa mendapatkanmu."


" Kau ini, tapi papa apa masih bisa bersabar jika belum ada yang memanggilnya opa?"


" Hahaha....itu sudah biasa bagi papa, dulupun saat Mike menikah, hingga sampai 3 tahun tidak diberikan satu orang cucupun, papa tidak pernah protes. Yang penting baginya, rumah tangga anak-anaknya selalu harmonis sayang."


" Dhe, anak itu titipan Allah, bagamaimanapun kita berusaha mati-matian untuk mempertahankannya, tapi jika memang Allah tidak mengijinkan kita untuk merawatnya, semua itu akan mustahil."


" Iya ayah, Dhea mohon doa dari ayah dan ibu agar semuanya tidak seburuk yang kita bayangkan, dan Dhea bisa mempertahankan anak ini."


" Kami semua mengharapkan juga seperti itu nak."


" Oh iya ayah dan ibu tidur di sini saja ya, besok hari Sabtu, ayah libur kan kerjanya?" kata William pada mertuanya. Dia berharap kehadiran mereka bisa sedikit memberikan semangat pada Dhea untuk menghadapi masalahnya.


" Iya nak, memang dari awal kami ingin menginap di sini." Dan William bisa melihat perubahan mimik muka istrinya yang telihat senang mengetahui orang tuanya akan bermalam di rumahnya.


Mereka berempat kemudian melanjutkan obrolannya. Waktu terus beranjak malam, saat melihat kedua orang tuanya sudah mengantuk, Dhea mempersilahkan mereka berdua masuk ke kamar yang telah disiapkan, sedangkan Dhea dan William masuk ke dalam kamar mereka.


" Sayang, kenapa kau mengabari ayah dan ibu tanpa berbicara denganku dulu?" tanya Dhea saat menjelang tidur.


" Maafkan aku sayang, bukannya aku ingin membebani pikiran mereka berdua, tapi ini bukan masalah sepele, mereka berdua juga perlu tau, terlebih menyangkut keselamatan anak dan calon cucunya."


" Iya sayang, aku tau itu. Tapi menurutku ini terlalu cepat. Bukankah Dokter Sherli belum memutuskan semuanya?"


" Tapi Dokter Sherli hanya memberi batasan waktu satu minggu lagi. Dan dalam waktu sesingkat itu apakah aku bisa merubah keputusanmu yang tetap kekeuh mempertahankan semuanya? aku butuh orang yang bisa memberimu pengertian, apalagi setelah aku tau bahwa dulupun ibu pernah mengalami ini, jadi aku rasa beliau orang yang sangat tepat untuk menasehatimu."


" Tapi aku masih sangat berharap sayang."


" Ya akupun sama. Tidak ada seorang ayah yang rela mengorbankan anaknya. Tapi saat ini kita berbicara masalah pilihan walaupun itu sangat sulit."


" Sayang....." kata William sambil menggenggam kedua jemari istrinya.


" Kau masih ingat perjanjian kita kan? bahwa kau akan menuruti semua perkataan suamimu? perkataan imammu? aku mencintaimu sayang. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Ini yang aku maksudkan waktu itu untuk membuat perjanjian denganmu, dan aku tidak ingin kau mengingkarinya."


" Namun jika tanpa menggugurkan anak kita, akupun kemudian akan meninggalkanmu bagaimana?"


" Itu namanya takdir sayang. Dan takdir itu berlaku setelah kita melakukan ikhtiar yang maksimal dan tidak pasrah sambil berdiam diri."


" Sayang....aku tidak tau harus bahagia atau harus bersedih. Yang jelas saat ini hatiku sangat bimbang."


" Sayang...kebimbangan hatimu bisa kau sembuhkan. Tahajutlah, berserah dirilah padaNya. Dia maha pemberi segalanya." William lalu memeluk istrinya.


Dhea merasa beruntung sekali mendapatkan suami yang sangat menyayanginya dengan sepenuh hati dan tanpa syarat. Dia tidak perlu menjadi orang lain demi untuk menyenangkan suaminya. William menerima segala kekurangannya. Membimbingnya dengan penuh kesabaran untuk menjadi istri yang sholehah.