
Tiba-tiba saja ada suara seorang pria yang tiba-tiba berteriak dari arah luar.
" William....!!! William....kau dimana...?" Panggil pria itu.
William sangat mengenali suara laki-laki tersebut.
" Hehhhh....pria itu lagi, kenapa dia berteriak-teriak seperti itu sih? seperti di lapangan saja." Kata William.
" Syukurlah Will, aku kira aku terlambat datang, dan kau sudah terbang ke angkasa bersama burung besi yang hendak mengantarmu ke negara nusantara tercinta. Disambut oleh awan putih yang berarak-arak menemani sang langit, yang selalu setia menjadi tempat berlabuhnya." Kata Daniel yang tiba-tiba berubah jadi penyair murahan dan muncul dari arah depan.
Dhea dan Nyonya Christy hanya bengong melihat kedatangan Daniel, yang tiba-tiba saja berpuitis ria itu.
" Woooiiii...kau salah makan obat ya? atau jangan-jangan kau sedang mabuk??"
" Christy cepat ambilkan ember dan airnya!! sepertinya dia harus disiram agar kesadarannya segera pulih.
Yang disuruh segera buru-buru pergi, untuk menjalankan perintah tuannya.
" Heiiiiii....slow...slow...teman, apakah kau melihat tampangku ini seperti orang mabuk? aku bahkan sudah berpenampilan maksimal untuk melepas kepergianmu."
" Hahaha...tampang seperti itu kau bilang sudah maksimal???? kasihan sekali ibu yang sudah melahirkanmu."
" Eitttssss...kenapa kau bawa-bawa ibuku? ibuku tidak salah dalam hal ini. Jika diibaratkan ya, ibuku itu hanya sebuah terminal, tempat untuk menaik turunkan penumpang. Urusan wajah itu dia tidak ikut terlibat sama sekali. Dia kan hanya sebagai media atau alat saja untuk melahirkanku ke dunia."
" Hahhhh...ibumu kau samakan dengan terminal??? pantas mukamu mirip toilet umum yang ada di terminal hahaha."
" Huuussss...sayang kau tidak sopan sekali!!!" Kata Dhea yang merasa suaminya sudah amat keterlaluan mengatai Daniel.
" Biar saja Dhe, biar suamimu puas. Aku tau, di sana nanti dia tidak memiliki teman sekeren aku." Kata Daniel membela diri.
" Palingan tiap hari dia hanya sibuk menggelendot di badanmu saja, karena kesepian. Hahaha....!!!" kata Daniel lagi merasa senang dengan bayangannya sendiri tentang William.
" Hemmmm....kau belum tau Dan, bahkan di negara istriku sana, tampang penjual makanan keliling saja jauh lebih menjual dibanding wajahmu."
" Hahhhh...benarkah Dhe? lalu kenapa kau malah justru memilih laki-laki ini dibanding penjual keliling itu? bukankah mereka jauh lebihmenarik juga daripada suamimu?" tanya Daniel meyakinkan.
Dhea sedikit tergelitik membayangkan apa yang dikatakan William. Dia ingat tukang bakso keliling langganannya saat masih tinggal di rumah orang tuanya, yang selalu style rapi lengkap dengan asesoris topi lebar juga handuk di pundaknya. Keterlaluan sekali suaminya ini menyamakan Daniel dengan mereka, bathin Dhea.
" Heiiii...sudahlah saling beroloknya.Kalian berdua bagiku itu sama saja."
" Sama apanya sayang?" tanya William.
" Sama-sama aneh dan tidak masuk akal." Kata Dhea.
" Haaahhhh...aku memang tidak masuk akal sayang, apalagi caraku mencintaimu, sangat tidak masuk di akal, apalagi di akal Daniel, karena dia memang tidak punya akal....hahaha."
" Hehhhh...capek dehhhh...." Gumam Dhe. Dan Daniel hanya bersungut-sungut saja, karena setiap bertemu William dia tidak pernah bisa menang melawan olokan temannya itu.
" Kau kenapa tadi terburu-buru kemari? seperti ibu-ibu mau melahirkan saja. Lalu apa itu yang kau bawa? bom?" kata William sambil melihat bungkusan besar yang ada di tangan Daniel.
" Eitttsss sembarangan...enak saja, kau pikir aku itu *******. Aku sengaja mencarikan ini untuk istrimu."
" Istriku? kenapa untuk istriku? kau tidak berpikiran macam-macam padanya kan? Sini aku lihat!! jangan-jangan kau memberinya makanan yang sudah kau isi dengan mantra-mantra dan ingin menggunai-gunai dia agar menjauh dariku." Kata William sambil mencoba merebut bawaan di tangan Daniel.
" Woooiiiii....pikiranmu itu seperti lokasi pembuangan sampah umum saja, kotor sekali." Kata Daiel sambil menjauhkan bawaaannya dari tangan William yang hendak merebutnya.
" Lalu itu apa? tumben sekali kau punya pikiran untuk memberi istriku oleh-oleh, sejak kapan kau perhatian padanya?"
" Sejak dia hamil Tuan William. Ini untuk istrimu khususnya untuk anak yang ada di dalam perut istrimu, karena sebentar lagi aku akan menjadi paman."
" Hehhhh...sial sekali anakku punya paman sepertimu, semoga dia nanti bisa menerima kenyataan ini."
" Ya sudah jika kau tidak mau, aku akan bawa pulang kembali barang ini." Kata Daniel seraya membalikkan badannya.
" Kau coba maju satu langkah saja, kau tidak akan bisa kembali ke sini lagi, dan juga perusahaan yang kau pimpin sekarang." Ancam William.
" Waduhhhh Will, ancamanmu lebih mematikan daripada ancaman virus corona." Kata Daniel sambil kembali membalikkan badannya.
" Hahhhh...berlebihan kau ini."
" Bukannya berlebihan, memang begitu kenyataannya. Kau tau sendiri, jika terserang corona, mungkin tidak butuh waktu lama, langsung saja meninggal. Jika kau memecatku, kau bukan saja ingin mematikan mata pencaharianku saja, tapi juga ingin membunuh karakterku. Kau bahkan akan melemahkan seluruh daya kemampuanku dalam mendapatkan wanita. Itu berarti kau membunuhku secara pelan, dan perlahan-lahan, lama kelamaan tubuhku akan semakin lemah, semakin kurus, kurus, kuruuuusss lalu end!!"
" Hahhhhh....sangat bertele-tele."
" Sini barang itu." Kata William sambil menyodorkan tangannya untuk meminta barang yang dibawa Daniel. Sedangkan Dhea hanya terbahak melihat tingkah polah Daniel yang ada di depannya itu.
Akhirnya Daniel menyerahkan bungkusan tersebut pada William. Tanpa basa basi William segera membukanya.
" Apa ini Dan??? kata William bingung.
" Hehhhhhh....kau kan bisa melihatnya sendiri, kenapa harus bertanya lagi padaku." Jawab Daniel setengah menggerutu.
Akhirnya William mengeluarkan semua bungkusan itu. Dan ternyata isinya adalah bermacam-macam bentuk pakaian bayi.
" Baju bayi????" kata William, sambil membentangkan satu persatu baju bayi itu.
" Ya itu baju untuk anak kalian nanti, bagaimana lucu-lucu kan bentuknya???" kata Daniel penuh percaya diri.
" Aku tidak menanyakan bentuknya lucu atau tidak. Yang aku permasalahkan di sini, kenapa satu warna baju ada terdapat berbagai ukuran? kau pikir istriku akan melahirkan berapa anak?"
" Hahhh...kau ini Will, aku kan tidak tau anakmu nanti keluarnya besar atau kecil? jadi aku beli saja mulai dari ukuran terkecil hingga terbesar." Jawab Daniel tanpa merasa bersalah.
" Lalu apakah kau sudah tau jenis kelamin anakku? kenapa kau belikan baju model cowok semua??" Tanya William masih belum tau jalan fikiran sahabatnya itu.
" William...William...kenapa kau sekarang jadi mendadak kurang pintar begitu. Jika aku membeli baju perempuan, dan jenis kelamin anakmu laki-laki, pasti baju itu tidak akan mungkin bisa terpakai."
" Lalu???"
" Jika anakmu itu perempuan, kan jahitan celananya bisa kau buang, hingga lubangnya hanya tinggal satu dan bisa berfungsi jadi rok. Mudah kan???" Kata Daniel sok cerdas.
" Hahhhhh?????" William dan Dhea saling bertatapan.
" Ya Alllah kenapa hidupku bisa sespesial ini punya teman aneh sepertimu Dan."
" Ahhhhh kau jangan memujiku berlebihan Will, aku jadi tidak enak hati." Jawab Daniel berseloroh semakin ingin membuat William meradang.
" Sayang maafkan temanku ya, mudah-mudahan kau bisa memakluminya."
" Hahaha...tidak sayang, justru aku sangat beruntung kau memiliki sahabat seperti dia. Dia sangat perhatian sekali sayang."
" Daniel, kau jangan ambil hati kata-kata suamiku ya."
" Hahaha tenang saja Dhe, aku sudah sangat mengenalnya. Bahkan aku juga tau berapa jumlah tahi lalat di seluruh tubuhnya."
" Heiii...sembarangan!!! kapan aku membuka baju di depanmu. Kau pikir aku mahluk yang hidup di dua alam."
" Maksudmu???"
" Alam laki-laki dan alam perempuan Daniel!!! hehhhh...kenapa harus kujelaskan lagi." Gerutu William. Dan Daniel hanya terkekeh.