Something different

Something different
Pergi ke mall



" Sayang nanti antar aku ke mall ya?" Kata Dhea di sela-sela sarapan pagi mereka.


" Ada yang ingin kau beli ya?"


" Iya sayang, aku ingin mencari kosmetikku yang habis. Kau mau kan menemaniku?"


" Tentu saja sayang, mana rela aku membiarkan istriku jalan sendiri di tempat seperti itu, pasti banyak mata pria yang akan melirikmu nanti."


" Hahaha kau ini, masih banyak wanita yang lebih cantik dan lebih menarik daripada aku. Kenapa mereka kurang kerjaan sekali melirik ibu-ibu hamil sepertiku?"


" Heiii....kehamilanmu itu belum terlihat sayang, jika kau jalan sendirian mereka pasti akan menganggapmu seperti gadis kuliahan, apalagi dengan wajahmu yang baby face ini." Kata William.


" Ya ya ya....baiklah, makanya aku itu mengajakmu, bukan berarti aku itu takut digoda oleh mereka, tapi lebih tepatnya aku takut jika aku yang tidak kuat digoda oleh mereka hahaha."


" Heiii...kau bicara apa??? kau belum puas sudah memiliki suami setampan bintang iklan hollywood ini?"


" Iklan apa sayang? iklan obat gosok yang hanya terlihat punggungnya itu kan???"


" Hemmmm....kau berani memperolok suamimu ya???" kata William sambil menggelitik Dhea.


" Hahaha tidak sayang....aku hanya bercanda, mana ada bintang iklan obat gosok setampan kau." Kata Dhea di sela tawanya.


" Nah itu baru benar ya." Kata William sambil menghentikan gerakannya, lalu menyuapkan roti ke mulutnya kembali.


" Kau ingin kuantarkan jam berapa sayang?" Tanya William.


Dhea lalu melirik jam dinding di sampingnya.


" Nanti saja kita berangkat jam 9, mall kan bukanya sedikit siang. Setelah itu kita ke rumah ibu ya? mengantar oleh-oleh yang kita bawa kemarin."


" Ok sayang." Jawab William singkat.


Lalu mereka berdua segera menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Setangkup roti tawar berisi selesai coklat serta segelas susu dan teh hangat, makanan yang biasa mereka nikmati di saat sarapan pagi, cukup mengenyangkan untuk mengganjal perut mereka, hingga tiba saat makan siang nanti.


Sebenarnya Dhea bisa saja pergi sendirian ke mall, apalagi dulu dia adalah type wanita yang mandiri dan selalu ingin melakukan apa-apa sendiri, selama itu tidak menyulitkannya. Mengajak suaminya hanya untuk sekedar membeli sebuah kosmetik saja, rasanya kurang kerjaan sekali. Sepertinya tidak ada hal yang lebih penting dikerjakan suaminya, dibandingkan harus menungguinya di counter yang mayoritas dikunjungi oleh kaum hawa itu. Namun sejak menikah, entah mengapa segala sesuatu yang dia lakukan tanpa ditemani oleh laki-laki itu, serasa ada yang kurang. Jangankan untuk jalan ke mall sendirian seperti dulu, untuk sekedar makan saja, dia lebih senang jika ditemani suaminya di sampingnya, menurutnya rasanya jauh lebih nikmat dibandingkan makan seorang diri.


" Iya ayo!" Ajak Dhea. Lalu mereka berjalan keluar, dan meminta kontak mobil pada supir pribadinya yang baru saja mengeluarkan kendaraan itu dari bagasi rumahnya.


" Terimakasih pak." Lalu di jawab anggukan kepala oleh supir pribadinya.


" Kenapa bukan Pak Halim saja yang membawa mobilnya sayang?" tanya Dhea.


" Kau kan tau, dari dulu sekali sejak pertama aku mendekatimu, aku selalu suka berduaan di dalam kendaraan ini denganmu, dan tidak ingin ada orang lain di samping kita, kecuali saat-saat penting saja."


" Yaaa....kau memang selalu ingin memilikiku sendirian kan." Kata Dhea sambil menutup pintu di sampingnya.


" Hahaha...memangnya aku ingin mengajak orang lain untuk memilikimu bersamaan, seperti main rumah-rumahan saja."


Lalu William segera menghidupkan mesin mobilnya dan langsung menginjak pedal gas, mengantarkan Dhea ke mall terdekat.


" Kemarin ada urusan apa bersama Feri di kantor? kok lama sekali sayang? biasanya kau kesana hanya mengecek-ngecek sebentar lalu pulang."


" Ohhh biasalah, mengobrol dulu dengan pegawai di sana."


" Ohhh aku pikir ada urusan yang penting."


Seperti biasa William selalu mengemudikan kendaraannya dengan santai. Dia ingin menikmati setiap detik perjalanan itu bersama istrinya berdua.


" Ayo sayang!" Ajak William setelah tiba di mall tersebut. Dan sesuai kebiasaannya, dimana saja dan kapan saja, selalu menggandeng tangan istrinya.


Mereka berdua segera masuk ke dalam mall besar di kota itu. Hawa panas yang tadi menyengat di kulit langsung berubah dingin setelah masuk ke dalam mall tersebut. Sangat kontras dengan cuaca di luar ruangan. Bahkan jika harus memilih, lebih baik Dhea di rumah saja sembari bermalas-malasan di dalam kamarnya yang ber-ac itu, namun dia harus mengantar oleh-oleh ke rumah orang tuanya, dan juga ke mall membeli beberapa kosmetiknya yang habis.


Saat masuk ke dalam, yang langsung dimasukinya adalah tempat peralatan kosmetik. William hanya menungguinya sambil memperhatikan istrinya yang terlihat sedang mencoba beberapa merk parfum. Biasanya banyak pria yang malas sekali mengantarkan istrinya belanja, apalagi belanja kebutuhan wanita. Belum lagi menunggu lama moment-moment mereka saat memilah barang. Kemudian mencoba satu persatu benda yang mereka sukai. Dan sialnya saat keluar toko, barang yang dicoba mungkin lebih dari 10 pcs, namun yang dibayar dan dibawa pulang hanya 1 pcs. Dan itu yang terkadang membuat sang suami menjadi ill feel lalu mengomel dari a hingga z, berbagai macam asumsi keluar dari bibirnya, lalu imbasnya di kemudian hari menjadi trauma untuk mengantarkan sang istri.


Namun entah terbuat dari apa hati lelaki satu itu. Dia selalu sabar membuntuti istrinya keluar masuk dari toko satu ke toko lainnya. Dia lebih tidak rela jika istrinya tersebut pergi sendirian tanpa diawasinya. Dia lebih memikirkan keselamatan istrinya, dibandingkan rasa lelah dan bosan yang melandanya saat menemani wanita yang dicintainya itu.


Sebuah lipstik warna peach dioleskan tipis-tipis di bibirnya, lalu dengan tersenyum Dhea segera menengok ke arah suaminya yang sedang berdiri tidak jauh dari dirinya, dengan tujuan untuk meminta persetujuannya. Dengan tanpa menjawab pula, William hanya mengacungkan ibu jarinya kepada Dhea. Dhea yang melihat reaksi suaminya hanya mengangguk sambil tersenyum kembali. Dhea terlihat gembira melihat sikap suaminya yang sependapat dengan pilihan lipstik terbarunya. Padahal tanpa dia harus meminta persetujuan William, jika Dhea mencoba memakai lipstik warna hitampun pasti suaminyapun akan bereaksi yang sama. Kebanyakan wanita kan memang seperti itu, selalu ingin dimengerti. Walaupun sebenarnya dia berpura-pura meminta persetujuan sang suami, namun jika yang suami tidak setuju, pasti dia akan terbayang-bayang barang itu siang dan malam, karena merasa pilihannya itu sudah yang paling tepat.


Satu buah kantong plastik, berisi satu buah parfum kesukaannya, satu buah lipstik warna baru, juga sebuah pelembab wajah akhirnya berhasil dibawa keluar dari toko tersebut oleh Dhea. Lalu mereka berdua melenggang santai menyusuri setiap sudut mall.