
Dhea segera masuk ke dalam toilet dan mengguyur tubuhnya. Setelah seharian William mengajaknya pergi, rasanya tubuhnya sangat lelah. Air mengalir membasahi pori-porinya. Rasanya kembali segar. Selesai mandi dan berpakaian Dhea segera membaringkan tubuhnya di kasur.
" Ahhhh akhirnya aku bisa kembali ke kamar ini, aku pikir laki-laki gila tadi tidak akan memulangkanku ke sini." Gumam Dhea.
" Oh iya, aku harus menelfon Bram, pasti dia mengkhawatirkanku ", perlahan Dhea mengambil telfon genggam dari dalam tasnya. Dilihatnya ternyata telfonnya mati.
" Hhmmm pasti baterainya habis, seharian ini aku tidak memeriksanya, sehingga tidak tau baterainya habis ", kata Dhea dalam hati.
Diambilnya sebuah charger, dan segera disambungkan ke handphonenya. Perlahan baterai handphonennya mulai terisi. Lalu Dhea segera menekan tombol on. Saat baru saja hidup, terdengar ada beberapa pesan masuk. Dilihatnya ada 4 buah sms dari Bram, kesemuanya menanyakan tentang keberadaannya.
" Hmmm benar dugaanku, pasti dia mengkhawatirkanku karena tadi siang William sudah menelfonnya ". Digulirkannya tombol pencarian, dan jarinya berhenti pada sebuah nomor yang bertuliskan nama Bram. Dhea segera menekannya. Terdengar nada sambung di sana.
" Hallo Dhea, kau baik baik saja bukan? William tidak menyakitimu kan?" Bram mencerca Dhea dengan beragam pertanyaannya.
" Hei Bram, maaf aku sudah mengkhawatirkanmu ya. Aku baik-baik saja?"
" Ya aku sangat khawatir. Sedari tadi siang telfonmu tidak aktif. Syukurlah jika kau baik-baik saja."
" Iya Bram baterai hpku habis, aku tidak mengetahuinya."
" Tidak apa Dhe, yang penting kau sudah pulang ke rumahmu dengan selamat. Lalu bagaimana ceritanya sehingga kau bisa bersama William?"
" Seperti biasa Bram, dia mengancamku dan memaksaku. Dia melihatku saat sedang di panti asuhan, dan ketika aku pulang dia memaksaku ikut bersamanya."
" Hhhh William...laki-laki itu benar-benar keterlaluan ", gerutu Bram
" Lalu dia tidak melakukan apa-apa padamu kan?"
" Melakukan apa maksudmu?"
" Maksudku melakukan macam-macam, ataupun menyentuhmu?"
" Tidak Bram, dia hanya mengajakku makan dan ke kantornya."
" Ke kantornya? Yang benar Dhe? Jsdi dia tadi tidak berbohong padaku?"
" Tidak Bram, dia juga mengajakku ke hotelnya."
" Hmmm apa maksud William mengajaknya kesana? Tidak biasanya dia akan membawa seorang wanita ikut ke tempat kerjanya. Sepertinya William benar-benar serius dengan Dhea. Aku khawatir William akan melakukan berbagai macam cara untuk menaklukan Dhea. Ahhh tidak, semoga Dhea baik baik saja ", kata Bram dalam hati.
" Hallo Bram? Kenapa kau diam saja? Ada yang sedang kau pikirkan?"
" Oh ehm tidak Dhe, aku hanya memintamu untuk berhati-hati dan bisa menjaga dirimu sendiri. Dalam hal ini aku tidak bisa membantu banyak."
" Ya Bram aku tau itu, doakan saja agar pria itu tidak berbuat macam-macam padaku."
" Iya Dhe semoga saja."
" Lalu besok pagi apa rencanamu? Bukankah William sudah tau jadwal kuliahmu? Dan sudah pasti dia akan menantimu di tempat biasa agar bisa berangkat bersamanya."
" Tidak Bram, dia tidak akan bisa bertemu denganku, karena aku akan berangkat lebih pagi. Besok kita ada jadwal jam 9 pagi, dan aku akan pergi 2 jam sebelumnya, dia pasti bisa kuperdaya." Jawab Dhea sambil tersenyum sendiri, membayangkan William tidak akan bisa menemuinya besok pagi.
" Bagus juga idemu Dhe, walaupun nanti di kelas kau akan duduk sendiri hingga satu jam ke depan hahaha."
" Tidak masalah, aku bisa sambil membaca-baca buku, dibanding bertemu pria brengsek itu lagi."
" Ya, okelah bagus sekali idemu, semoga pulangnyapun William tidak menunggumu lagi."
" Hahaha jika itu akan kupikirkan nanti Bram, minimal aku bisa pergi dengan selamat dulu."
" Ok Dhe, semoga otakmu tidak akan menjadi gila karena sibuk memikirkan kucing-kucingan dengannya."
" Hahaha ya ya ya, aku akan pergi ke psikiater jika itu benar-benar terjadi."
" Ok, sampai besok di kampus ya. Istirahatlah karena seharian tadi kau baru berkencan dengan William."
" Hei tutup mulutmu, aku tidak berkencan, tapi lebih tepatnya jadi wanita sanderaannya, karena dia terus mengancamku."
" Hahaha...oke oke...wanita sanderaannya boleh juga sebutan itu."
" Hehhhh sialan kau Bram, malah menggodaku."
" Tidak Dhe, hanya ingin menghilangkan stres di kepalamu akibat ulah temanku."
" Ya sudah Bram aku istirahat dulu ya."
" Ok Dhe, sampai besok. Selamat malam."
" Selamat malam Bram."
" Hhhhhhhh......" Dhea menarik nafas panjang dan langsung membanting tubuhnya di atas kasurnya yang empuk.
" Hmmmmmm....rasanya nyaman sekali ", gumam Dhea, dipejamkannya matanya sambil meregangkan seluruh tubuhnya yang pegal.
Sementara itu William sedang berada di balkon depan kamarnya, tempat dimana biasa dia menyendiri. Dia sangat menyukai tempat itu, karena bisa melihat suasana malam di sekitarnya tanpa terganggu oleh satu orangpun. Rumahnya yang begitu asri dipenuhi oleh berbagai macam tanaman. Sebenarnya cukup menyenangkan bagi setiap orang yang tinggal di sana. Halamannya sangat luas, bahkan William menyuruh beberapa orang untuk merawat kebun di samping rumahnya. Ada beberapa macam pohon buah ditanam di sana. Dan William senang jalan-jalan pagi di sekitar pepohan itu, sambil menikmati sejuknya udara yang jauh dari polusi dan kebisingan.
" Hhhhhhhh......", William menarik nafas panjang. Tiba-tiba ada rasa yang tidak bisa dia sebutkan. Rasa yang begitu dalam pada seseorang. Dhea, bayangan wanita itu terus menari-nari di pelupuk matanya seolah tak mau pergi. Suaranya yang tidak berhenti berkata ketus padanya, seolah terus berdengung di telinganya.
" Aaaaaaaaaaaa......." Teriak William tiba-tiba.
Dia sudah mencoba masuk ke kamar, menghidupkan musik disana sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaannya, seperti biasa yang selalu dilakukannya saat menjelang tidur. Tapi semua itu justru menambah penat otaknya. Lalu William keluar dari kamarnya, kemudian menonton film di sebuah home theater yang terletak di ruang tengah. Bukannya menikmati, tapi justru dia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali terhadap adegan-adegan di film tersebut.
" Aahhh sial!! Aku harus menelfonnya. Jika tidak aku bisa-bisa tidak tidur semalaman karena memikirkannya ", Gumam William.
Lalu dia beranjak masuk ke dalam kamarnya lagi. Diambilnya telfon genggam dari dalam laci meja. Dan segera menghubungi Dhea.
Dhea terkejut saat mendengar telfon masuk, karena tadi sehabis menelfon Bram tanpa sengaja dia langsung ketiduran dengan handphone masih di tangan.
" Hallo ", jawab Dhea masih dengan terkantuk-kantuk dan tidak tau siapa orang yang saat ini menelfonnya.
" Hallo Dhea kau sudah tidur?"
" Hhhmmm ya, baru saja aku tertidur. Ini siapa?Jawab Dhea, dia tidak sadar bahwa orang yang diajak bicara itu adalah William.
" Kau sudah lupa suaraku? Aku orang yang mengajakmu berkeling seharian tadi."
Dhea terkejut, dia benar-benar tidak sadar bahwa itu suara William. Tiba-tiba rasa kantuk Dhea lenyap dan segera beranjak bangun.
" Hahhh kau William? Kenapa kau menelfonku malam-malam? Belum puas tadi seharian berdebat denganku?" Jawab Dhea ketus.
" Hahaha sifat judesmu datang lagi. Tumben kau langsung mengangkatnya, biasanya harus diancam dulu baru mau mengangkat telfonku."
" Karena aku tidak tau kalau ini telfon darimu."
" Memangnya kau tidak menyimpan nomorku?"
" Aku simpan, hanya saja tadi waktu mengangkatnya mataku terpejam karena setengah mengantuk."
" Dan sekarang apakah kau masih mengantuk?"
" Tidak, karena rasa kantukku sudah hilang akibat mendengar suaramu yang hampir merusak gendang telingaku ", jawab Dhea ketus.
" Memangnya sekeras apa suaraku sehingga hampir memecahkan gendang telingamu?"
" Bukan keras, tapi suaramu lebih mirip seorang ******* yang sedang siap-siap mengintimidasi sasarannya."
" Hahaha separah itukah ketakutanmu padaku, sehingga suaraku di telfonpun dianggap sedang mengintimidasi."
" Ya...bahkan lebih dari itu."
" Kau ini sudah pergi seharian denganku, bahkan aku tidak macam-macam denganmu, tapi kau masih menganggapku buruk."
" Pria baik tidak akan menggunakan segala cara untuk menarik perhatian seorang wanita Tuan William."
" Karena sejak awal mengenalku kau sudah mengagapku buruk Dhea."
" Ya karena kesan pertama yang aku lihat seperti itu, apalagi saat dengan mudahnya kau memeluk beberapa wanita yang berbeda di dalam pestamu."
" Hahaha itu hanya sekedar memeluk sayang, bahkan kami biasa berciuman dengan lawan jenis di sini."
" Ya benar, lalu alat pengaman yang dibeli Paula waktu itu bagaimana? Kau bilang kau pria baik baik?"
" Pria baik-baik itu akan menghormati wanita dan bukan menginjak-injak harga dirinya."
" Menginjak-injak bagaimana maksudmu?"
" Jelas menginjak-injaknya, kau kejar mereka, setelah kau mendapatkanya kau meniduri mereka, dan setelah bosan kau akan meninggalkannya dan kembali lagi mencari yang lain, kau bilang itu pria baik-baik?"
" Aku tidak bilang bahwa aku ini baik, aku hanya bilang bahwa hal itu biasa dilakukan di sini."
" Dan aku tidak biasa dengan yang seperti itu. Jadi aku tidak sudi berhubungan lebih jauh denganmu."
" Lalu Bram bagaimana? Bukankah kau juga sering berhubungan dengannya? Dan bukankah Bram tidak lebih suci dariku?"
" Ya benar, tapi Bram selalu berbuat sopan padaku, tidak berani menyentuhku, apalagi memaksaku pergi bersamanya seperti kau memaksaku."
" Ayolah Dhe, kenapa kau selalu marah-marah denganku? Apa yang harus aku perbuat agar kau bersikap baik padaku?"
" Jauhi aku, kita berteman biasa saja. Jangan memaksaku selalu ikut bersamamu, dan jangan mengutitku terus."
" Hahaha sepertinya syarat itu terlalu berat Dhea, aku tidak akan mungkin mau mengikuti syaratmu."
" Ya sudah, itu berarti aku tidak akan bisa bersikap manis padamu."
" Oohhh itu bukan masalah besar, karena bagiku suara ketusmu saja sudah terasa manis di telingaku sayang."
" Kau ini memang sudah tidak waras."
" Ya sudah Dhea tidurlah lagi. Aku hanya ingin mendengar suaramu saja, aku rindu kau mengomel seperti tadi. Dan aku yakin malam ini bisa tidur dengan nyenyak."
" Terserah kau mau berkata apa!"
" Ya sudah my sweety selamat malam, selamat mimpi indah..."
Lalu William segera menutup telfonnya. Ada senyum tersungging di bibirnya. Setelah itu dia merebahkan diri di kasur, dan tak berapa lama dia telah tidur nyenyak dibuai keremangan malam. Sementara itu rasa kantuk Dhea tiba-tiba hilang akibat menerima telfon dari William tadi. Dan dia tidak berhenti mengutuk pria brengsek tersebut.