
William rutin menelfon Dhea selama kekasihnya itu berada di Indonesia. Dan ini sudah minggu ke dua Dhea berada di kampung halamannya.
" Hallo Dhe, kau sedang di mana?" Tanya William saat menelfon malam hari.
" Aku sedang berada di rumah Will, baru saja selesai makan siang."
" Kau sendiri?"
" Aku sedang duduk di depan balkon kamarku Dhe."
" Perasaan setiap menelfonku kau selalu ada di kantor, kalau tidak kau sedang berada di balkon kamarmu, kau tidak pernah pergi kemana mana?"
" Tidak Dhe, aku kan selalu mengikuti pesanmu."
" Hahaha ya ampun sayang, kau jangan salah mengartikan kata kataku."
" Maksudmu?"
" Maksudku itu aku melarangmu pergi ke tempat tempat maksiat, tapi bukan berarti kau harus menutup diri dari dunia luar. Beraktivitaslah seperti biasa, bergaul, bertemu dengan teman temanmu, tapi kau harus bisa menjaga dirimu sendiri."
" Aku hanya takut melanggar janjiku sayang."
" William, jika kau terus terusan menutup diri seperti itupun tidak baik, kau boleh menuruti kata kataku tapi ambil saja yang baik, bukan berarti jika kau mencintai seseorang itu kau harus mengiyakan semua kata katanya. Kau ini seorang laki-laki, jadi harus bisa jadi panutan untuk istri dan anakmu nanti. Kamu harus memiliki prinsip yang kuat asalkan itu benar, dan tidak kaku."
" Jadi aku harus bagaimana Dhe?"
" Sayang, bukankah kau sudah dewasa? Kau pasti bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak, aku kemarin khawatir kau bergaul dengan Daniel karena takut kau bisa terpengaruh dengan kebiasaan buruknya, dan kau bilang kau bisa menjaga dirimu sendiri. Itulah yang kumaksud Will, kau harus bisa memfilter sendiri hal apapun yang nantinya bisa berakibat buruk padamu. Seandainya aku itu memiliki niat jahat Will, pasti aku akan begitu gampang mengendalikanmu, dan aku bisa dengan mudah memanfaatkanmu. Kau paham kan maksudku?"
" Iya sayang aku paham sekali, tapi saat ini aku hanya ingin membiasakan diri untuk tidak membuang buang waktu yang tidak penting dulu dengan pergi yang tidak ada manfaatnya, dan lebih baik kubuat istirahat di rumah saja."
" Ooohhh jika itu memang tujuanmu, aku setuju sekali. Tapi ingatlah tetap bergaul dengan temanmu, yang penting kau bisa jaga diri ya?"
" Iya sayangku....pasti itu!!"
" Dhe, rasanya aku sudah tidak bisa menahan rinduku, aku ingin menjemputmu ke Indonesia, boleh?"
" Sayaaang....bukankah satu minggu lagi aku sudah kembali ke negaramu?"
" Dhe, pleass...aku bisa gila jika selalu merindukanmu seperti ini."
" Tapi jika kau kemari, aku tidak bisa menemanimu sebebas saat aku di sana Will. Orang tuaku memiliki aturan buatku, apalagi jika kau menginap di hotelmu sendirian, sudah pasti mereka akan melarangku untuk datang menemuimu seorang diri."
" Aku tau Dhe, makanya aku ingin datang ke rumahmu, menginap di tempatmu, dan bukan di hotel."
" Di rumahku Will?"
" Iya sayang, aku ingin mereka tau kita memiliki hubungan dan mereka mengenalku, sehingga mereka bisa percaya dengan niat baikku Dhe. Apakah mereka tidak lebih khawatir jika anak gadisnya berpacaran dengan orang yang tidak mereka kenal?"
" Iya Will, aku tau itu, tapi....!!"
" Tapi apa Dhe? Bukankah kau sudah cukup umur untuk mengenalkan seorang pria pada kedua orang tuamu sayang?"
Dhea diam saja tidak menjawab, sambil berpikir sebentar.
" Hemmm....ya sudah Will, besok aku coba berbicara dengan mereka."
" Ya sudah sayang, aku tunggu kabarmu besok ya? Jika diperbolehkan aku akan berangkat hari selasa, nanti kita pulang bersama ke London hari minggu ya?"
" Iya sayang." Jawab Dhe, lalu menutup telfonnya.
" Ahhhh kenapa William ingin datang ke sini? Bagaimana caraku mengatakan kepada ayah dan ibu? Sedangkan mereka tau agama kami berbeda?"
Dhea terus berpikir keras untuk mencari cara mengatakan pada kedua orang tuanya.
Malam harinya saat seperti biasa mereka mengobrol di ruang keluarga, Dhea memberanikan diri untuk mengatakan keinginan William datang ke rumah dan berkenalan dengan kedua orang tuanya.
" Ibu, ayah, Dhea boleh minta ijin dengan ibu dan ayah tidak?"
" Minta ijin kemana nak?" Tanya ibunya.
" Maaf bu...hemmmm....??" Ada keragu raguan dalam hati Dhea untuk mengatakan hal tersebut.
" Ada apa Dhe? Kenapa kau ragu-ragu? Bukankah ayah dan ibu selalu mengajarimu untuk selalu berani mengungkapkan pendapatmu sendiri?" Tanya ayahnya.
" Hemmm begini yah...William akan datang kesini dan menginap di rumah ini."
" William?"
" Iya William kekasihku yah." Jawab Dhea sedikit khawatir.
Ayah dan ibunya saling berpandangan.
" Kau yang menyuruhnya kemari nak?"
" Iya pasti itu, lalu?"
" Dia justru ingin kemari yah, untuk berkenalan dengan ayah dan ibu."
" Begitu ya?" Kata ayahnya lagi.
" Iya yah."
" Hemmm...Ya sudah nak, ajak dia kemari. Ayah dan ibu juga ingin berbicara banyak padanya, apakah dia bisa berbahasa Indonesia nak?"
" Tidak yah, tapi aku nanti bisa mengartikannya untuk kalian."
" Baiklah, kapan dia kemari nak?"
" Hari Rabu insyaalloh dia sampai di sini yah, dan hari Minggunya aku akan kembali ke London bersamanya."
" Baiklah nak, kami akan menunggunya di sini."
" Terimakasih Bu, Yah."
Mereka berdua hanya tersenyum membalas ucapan terimakasih Dhea.
Tak lama kemudian merekapun masuk ke kamarnya masing-masing.
" Yah kenapa ayah mengijinkan Willam datang ke rumah ini? Bukankah ayah tau mereka berdua berbeda keyakinan?" Tanya ibu Dhea saat sudah berada di kamarnya.
" Bu, kita sudah membekali Dhea dengan ilmu agama, dan ayah yakin anak itu pasti bisa tau mana yang terbaik untuknya. Ayah tidak mau langsung mematahkan keinginannya, kita harus dengan cara halus memberi pengertian pada mereka berdua, apalagi Dhea jauh dari pengawasan kita. Jika kita memberi pengertian mereka dengan baik, ayah yakin itu justru akan lebih bisa mengena di hati, dibanding melarangnya dengan cara frontal."
" Yah semoga saja mereka mau mengerti, dan masih bisa menggunakan akal sehatnya untuk berpikir, dibandingkan menggunakan ego mereka."
" Berdoalah bu untuk kebaikan anak kita, doa seorang ibu itu bisa menembus langit, dan yakinlah akan semua yang diberikan pada kita olehNya itu adalah yang terbaik."
Ibu Dhea mengaminkan ucapan ayahnya.
Sementara itu Dhea terlihat sedang menelfon William di kamarnya.
" Hallo sayang kok kamu belum tidur?" Sapa William.
" Belum Will, aku tidak bisa tidur."
" Kenapa sayang? Apakah ada yang sedang kau pikirkan? Ceritakanlah padaku."
" Aku hanya memikirkan apakah kau nanti bisa nyaman tidur di dalam rumahku yang sederhana ini, dan ukurannya mungkin hanya sebesar dapurmu di sana."
" Heiii Dhe, jangan bicara seperti itu!! Aku itu ke sana bukan untuk mengukur seberapa besar rumahmu, tapi untuk berkenalan dengan orang tuamu."
" Tapi apakah kau nanti tidak merasa kepanasan di sini sedangkan kamar yang kau pakai nanti tidak ber-ac?"
" Dhea, dengar...Aku mencintaimu karena kepribadianmu, dan bukan seberapa kaya orang tuamu. Siapapun dan bagaimanapun mereka, aku tetap harus menghormatinya, seperti aku menghormatimu. Tidak penting kamarku itu ber-ac ataupun tidak, masih untung orang tuamu mau memberikan tempat untukku menginap di sana."
" Jadi kau nanti tidak akan masalah jika ternyata tempatku di sini tidak sesuai dengan yang kau harapkan?"
" Memangnya aku berharap apa? Kau tau tentang harapanku sayang?"
" Tidak Will."
" Harapanku itu orang tuamu memperbolehkan aku menjalin hubungan denganmu, dan percaya kepadaku, bahwa aku itu sungguh sungguh denganmu."
" Tapi pasti nanti kau akan ditanyai banyak hal Will."
" Aku sudah tau Dhe, orang tua yang baik memang harus seperti itu, dan aku mewajarkannya. Itu berarti mereka sayang dan perduli padamu."
" Kau tidak keberatan? Dan sudah siap dengan hal terburuk sekalipun?"
" Aku siap Dhe, aku akan menjawab semua pertanyaan mereka jika aku bisa menjawabnya."
" Ok Will, berangkatlah Hari Selasa. Aku menunggumu di sini."
" Benarkah Dhe? Mereka mengijinkanku datang?"
" Iya sayang, mereka mengijinkan, dan kau benar- benar harus siap diinterogasi mereka."
" Aku sangat siap sayang, siap sekali!!" Jawab William antusias.
" Ya sudah Will, aku tidur dulu ya, disini sudah malam."
" Ya sayang selamat mimpi indah, I love you."
" Love you to." Kemudian telfonpun ditutup.