
Setelah jam mata kuliah pertama usai, Bram mendekati Dhea.
" Bagaimana? Kau berhasil menghindarinya tadi? dan Kau bisa selamat pergi kesini diantar bus langgananmu kan?" Tanya Bram.
" Hehhhh siapa bilang?"
" Lalu?"
" Dia itu sepertinya memiliki banyak mata-mata, aku berangkat lebih awalpun dia mengetahuinya. Bahkan dia tiba duluan sebelum bus yang aku tunggu belum datang."
" Hahaha William William, aku tidak menyangka bisa separah ini kau mengejar-ngejar temanku."
" Kok malah tertawa? Kau senang ya aku setiap hari stres dibuatnya?"
" Tidak Dhea bukan begitu. Lucu saja orang sekelas William bisa melakukan hal bodoh itu hanya untuk mendapatkan seorang gadis, tapi aku benar-benar salut dengan perjuangannya."
" Perjuangan apa? Perjuangan gila?"
" Hei coba kau pikir sendiri, jika wanita itu bukan kamu, mungkin dia akan merasa melayang terbang tinggi diperlakukan seistimewa itu oleh William."
" Ya jika wanita itu bodoh, setelah itu dia akan merasakan bagaimana sakitnya dicampakkan oleh pria psikopat seperti dia. Untungnya aku bukan tipe wanita seperti itu Tuan Bram."
" Ya benar, karena kau istimewa Dhea. Kau sangat kuat memegang prinsipmu."
" Karena aku wanita Bram, milikku yang paling berharga saat ini adalah harga diriku, dan jika itu sudah hilang apalagi yang bisa aku banggakan? Apa bedanya aku dengan wanita yang berkeliaran di pinggir jalan itu?"
" Ya Dhe, aku tidak menyalahkan cara berpikirmu. Asal usul dan budaya kita tidak sama, maka wajar saja jika prinsip kitapun berbeda. Kau tetap memegang teguh semua itu, tapi kau jangan lupa bahwa tidak mungkin bisa menyamakan cara berpikirmu dengan cara perpikir mereka."
" Aku tidak menyamakannya, aku tetap menghargai semua itu. Buktinya sebelum kemunculan temanmu yang brengsek itu, hidupku baik-baik saja berdampingan dengan orang-orang di sini, juga pria di sampingku yang tak beda jauh dengan William." Kata Dhea sambil melirik Bram.
" Hei yang tak beda jauh dengan William itu maksudmu aku?" Tanya Bram kemudian.
" Hahaha menurutmu? kau sama tidak dengannya?"
" Hahaha sedikit sih...hanya saja cara bermainnya saja yang lebih halus, dan uangku tak sebanyak dia untuk bisa mendapatkan wanita."
" Hahhh...kau ini sama menyebalkannya dengan dia ", kata Dhea sambil merengut kesal.
" Hmmm lalu apa sekarang yang akan kau lakukan?"
" Menurutmu?"
" Hhhhmmmmm sebentar aku pikir pikir dulu ", kata Bram sambil menengadahkan kepalanya untuk mencari ide.
" Hahaha sudah....tundukkan lagi kepalamu, aku tidak mau posisi cara berpikirmu itu membuat kau cidera leher."
" Hhhhhhh....sialan kau Dhe."
" Aku sudah memiliki ide bagus untuk menghindarinya Bram."
" Apa itu kalau boleh aku tau?"
" Kau ingat Andrew?"
" Andrew anak kelas sebelah yang pernah menyatakan cinta padamu dan kau tolak?"
" Ya benar, aku tau sampai saat inipun dia masih menginginkanku."
" Dari mana kau tau?"
" Hahaha aku bisa merasakannya, dari cara dia menatapku dan mencuri pandang saat aku melewatinya."
" Kau kan pernah menolaknya, lalu maksudmu bagaimana?"
" Aku ingin mendekatinya."
" Mendekatinya?"
" Ya...Aku yakin dia mau membantuku, dan tidak akan bisa menolak untuk mengantar dan menjemputku ke kampus setiap hari dengan mobilnya, agar aku bisa menghindari William."
" Hahaha boleh juga idemu, ternyata kadang-kadang kau bisa berbuat gila juga untuk melindungi diri."
" Hhhhh sialan kau Bram, hanya sebatas mengantar dan menjemputku saja bukan yang lain."
" Jika dia meminta lebih?"
" Maksudmu?"
" Hahaha kambuh lagi bodohmu, Andrew itu pria yang lahir dan dibesarkan di sini, sudah tentu kebiasaannya akan sama dengan pria kebanyakan di sini. Dekat dengan seorang wanita, terlebih yang spesial itu berarti ****!!! Kau berani ambil resiko itu?"
" Tapi dia bukan tipe pria seperti William."
" Seorang laki-laki pendiampun jika libidonya sedang naik, dia akan bisa berubah menjadi garang Nona Dhea. Seperti ini Geerrrrrrrrr.....", kata Bram sambil mempraktekkan dengan kedua tangannya yang hendak menerkam.
" Heiiii.....kau menjijikan sekali Bram!!" Teriak Dhea.
" Aku akan lari dan menelfonmu jika dia berbuat itu."
" Hahaha Dhea Dhea kau ini lucu sekali, pantas saja William tergila-gila padamu."
" Aaahhh sudah jangan bercanda terus." Kata Dhea sambil berdiri.
" Aku mau memulai rencanaku Bram."
" Hahaha semoga sukses Dhea, dan kau tidak salah sasaran yang justru akan memancing hasrat seksualnya!!"
" Huuuuu....", kata Dhea sambil mengepalkan jemarinya ke arah Bram. Dan Bram tertawa terpingkal-pingkal.
Dhea kemudian berjalan keluar dari kelasnya, mata kuliah kedua masih dimulai 1 jam lagi, dan itu berarti dia punya banyak waktu untuk ngobrol dengan Andrew.
Dea berjalan terus ke depan. Biasanya Andrew sering dilihatnya duduk di sana bersama teman-temannya. Benar saja, saat matanya berkeliling mencari, Andrew terlihat sedang mengobrol dengan beberapa mahasiswa lainnya. Kebetulan saat itu Andrew melihat ke arah Dhea, dan dengan wajah yang dibuat semanis mungkin, Dhea tersenyum kepada Andrew. Ternyata Andrew membalasnya. Tanpa ragu Dhea mulai mendekati Andrew.
" Hai...." Sapa Dhea pada 3 teman Andrew yang sedang bersamanya.
" Hai juga..." Kata teman-teman Andrew.
" Maaf mengganggu, boleh aku berbicara dengan Andrew?"
" Oh silahkan ", jawab seseorang dari mereka.
Kemudian mereka semua pergi, hanya tinggal mereka berdua yang berada di situ.
" Kenapa kau berdiri di situ saja? Duduklah sini di sampingku." Kata Andrew membuka pembicaraan.
Andrew sebenarnya pemuda yang memiliki paras lumayan, orangnya sedikit pendiam, dan sepertinya sangat sopan. Hanya saja Dhea menolaknya, dan bukan karena apa-apa, Dhea memang memiliki prinsip kuat untuk tidak mau mengganggu studinya dulu dengan sebuah urusan percintaan, apalagi dengan lelaki yang berbeda iman dengannya.
" Terimakasih An ", jawab Dhea sambil duduk sedikit jauh di samping Andrew.
" Ada apa? Tumben kau menemuiku?"
" Maaf An aku ingin meminta bantuanmu bisa?"
" Jika itu bisa aku lakukan kenapa tidak?"
Dhea diam, perlahan ada rasa ragu menyerangnya, dia takut jika Andrew salah paham akan dirinya dan berpikir dirinya hanya ingin memanfaatkan dia saja.
" Dhe, kenapa kau diam? Bicaralah jangan ragu-ragu aku akan mendengarnya."
" Hmmm begini An, sebelumnya aku minta maaf. Aku tidak ada maksud untuk mempermainkanmu apalagi memanfaatkanmu karena aku tau kau menyukaiku."
" Ya, lalu?"
" Aku benar-benar ingin meminta bantuanmu."
" Ya bantuan apa itu?"
" Aku ingin jika kau bersedia, maukah kau mengantar dan menjemputku ke kampus setiap hari An ", tanya Dhea, wajahnya terlihat sungkan menatap Andrew.
" Ada apa rupanya? Bukankah selama ini kau bilang tidak ingin berdekatan dengan seorang pria?"
" Ya benar, itu masih berlaku bagiku. Namun saat ini terpaksa aku lakukan."
" Kenapa Dhe? Apa yang membuatmu menjadi terpaksa?"
" Akhir-akhir ini ada seorang pria yang menerorku, dia mengikutiku kemanapun aku pergi. Bahkan sering memaksaku untuk ikut bersamanya saat berangkat dan pulang dari kampus."
" Memang siapa dia?"
" Dia teman Bram, seorang pengusaha kaya raya. Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk bisa menghindarinya. Mungkin satu-satunya cara aku harus memiliki seseorang yang bisa mendampingiku saat pergi kemana-mana."
" Lalu Bram? Kenapa kau tidak memintanya untuk mengantarmu?"
" Tidak An, dia sudah memiliki kekasih, dan aku tidak mau kekasihnya itu cemburu padaku."
" Hemm ya ya ya."
" Bagaimana An? Kau mau kan?"
Andrew diam sedikit lama seperti sedang berpikir. Dhea harap-harap cemas akan jawaban yang diberikan Andrew.
" Ya Dhea aku mau." Jawab Andrew kemudian.
" Benar An?"
" Ya benar."
" Terimakasih ya maaf sudah merepotkanmu. Aku tidak tau harus meminta bantuan siapa. Karena cuma kamu saja yang sepertinya bisa membantu."
" Iya Dhe, semoga saja setelah ini masalahmu selesai ya?"
" Iya An, dan hidupku bisa tenang kembali."
" Ok An, aku ke kelas dulu ya? 10 menit lagi mata kuliah segera dimulai. Nanti aku tunggu di depan kelasku jam 11.30 ya."
" Ok Dhe sampai nanti."
Kemudian Dhea berjalan menuju kelasnya. Andrew memperhatikan Dhea dari balik punggungnya. Andrew benar-benar mengaguminya. Sosok Dhea yang sangat mempesona, sikap lembutnya, dan juga gaya berbicaranya yang sopan sangat menarik perhatian Andrew dan membuatnya jatuh cinta. Namun ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan . Dhea menolaknya dengan alasan tidak ingin mengganggu studinya dan juga tidak ingin menjalin hubungan dengan pria yang memiliki perbedaan prinsip dengannya.
Andrew menarik nafas panjang. Dan kemudian segera beranjak dari duduknya.