Something different

Something different
Dokter Untuk Dhea



Sudah hampir 3 hari Dhea tidak dapat pergi kemana-mana akibat ditabrak Paula kemarin. William seperti orang kebakaran jenggot, setiap hari dia menunggu Dhea di depan flatnya, berharap cemas Dhea segera muncul dan pergi ke kampus seperti biasanya. Ini sudah keempat harinya, William kembali menanti Dhea seperti biasanya, namun hingga pukul 9 pagi yang ditunggu belum datang juga.


" Aku harus melakukan sesuatu, aku takut dia kenapa napa ", bisik William.


William segera menelfon Paul, dan memberikan sebuah perintah padanya.


" Bagaimana Paul kau sudah paham?"


" Sudah tuan, itu perkara mudah buatku."


" Ok kalau begitu aku tunggu secepatnya ya? Ingat jangan lama-lama, bila perlu kau hubungi orang orangku untuk mencari tau di pusat informasi."


" Baik tuan, akan segera saya laksanakan."


Kemudian William menutup telfonnya. Dia masih tetap menunggu di dalam mobilnya sambil memperhatikan jendela Dhea yang tertutup rapat. Berhari hari Dhea tidak membukanya.


" Apa yang sedang dilakukannya di dalam sana? Sehingga hanya untuk sekedar membuka jendelanya saja dia tidak mau."


Kaki Dhea memang tidak sesakit kemarin, sudah lumayan sembuh, tapi jalannya masih terpincang-pincang.


Setengah jam kemudian Paul menelfon William kembali.


" Bagaimana Paul kau sudah berhasil mendapatkannya?"


" Ya tuan aku sudah mencatatnya."


" Bagus, aku suka dengan cara kerjamu. Sekarang kamu kirimkan segera padaku ya?"


" Baik Tuan."


Tak lama sebuah sms masuk di handphone William, sebuah kombinasi nomor telefon.


" Hhhhh....mudah-mudahan ini benar nomornya."


William segera menjalankan rencana selanjutnya, dia menelfon nomor dokter pribadinya.


" Hallo tuan William."


" Hallo dokter."


" Ada apa tuan? Apakah ada salah satu keluargamu yang sakit?"


" Bukan dokter."


" Lalu kenapa kau menelfonku?"


" Aku ingin kau memeriksa seorang gadis."


" Seorang gadis?"


" Ya seorang gadis."


" Kekasihmu?"


" Bukan, dia temanku."


" Tolong anda segera memeriksa kakinya, karena sudah 3 hari dia tidak bisa berjalan."


" Baik segera kirimkan alamatnya, aku akan bersiap-siap dahulu."


William segera mengirimkan alamat tempat tinggal Dhea ke dokter pribadinya itu.


Dalam tempo waktu tidak sampai setengah jam, dokter tersebut sudah ada di depan tempat tinggal dia. Dia segera mengikuti intruksi William. Saat sudah ada di depan kamar Dhea, dokter itu segera mengetuk pintu.


Dengan tertatih-tatih Dhea mengintip dari lubang pintunya.


" Siapa dia? Sepertinya aku tidak mengenalnya." Kata Dhea dalam hati. Lalu Dhea segera membuka pintu untuknya.


" Selamat pagi nona."


" Iya selamat pagi, maaf anda siapa ya? Sepertinya saya belum pernah mengenal anda sebelumnya?"


" Ya nona, anda memang belum pernah mengenal saya."


" Apa tujuan anda kemari?"


" Aku adalah dokter ortopedi, seseorang menyuruhku untuk memeriksa kaki anda, aku dengar kaki anda baru saja terkilir akibat terserempet mobil beberapa hari yang lalu."


" Maaf saya tidak butuh anda, kakiku sudah hampir sembuh." Jawab Dhea.


Dokter itu melihat kaki Dhea.


" Itu kaki anda masih terlihat membiru, jika tidak segera diatasi bisa berbahaya nona, bisa menyerang syaraf kaki anda."


" Tidak, pulanglah aku tidak mau!"


Tiba-tiba handphone Dhea berbunyi, dia segera mengambil dari atas tempat tidurnya. Dilihat sebuah nomor asing memanggilnya.


" Hallo siapa ini?"


" Hallo Dhea, kau masih mengenal suaraku?"


" Hahaha mana mungkin dia mau memberikan nomormu padaku, sedangkan dia begitu gencar memintaku menjauhimu."


" Apa maumu tiba-tiba menelfonku?"


" Aku hanya mau kau diperiksa oleh dokter yang kukirimkan padamu."


" Sudah kuduga itu pasti perbuatanmu."


" Aku tidak mau! Suruh pergi saja dia, aku tidak sudi berhutang budi padamu!"


" Siapa bilang kau berhutang budi padaku, ini bentuk tanggung jawabku karena Paula yang telah membuatmu seperti ini."


" Kamu lihat sekarang kan, sepertinya semenjak mengenalmu hidupku jadi sangat bermasalah, kemarin orangmu membuatku ketakutan karena selalu mengikutiku, kemudian pacarmu itu bahkan membuatku celaka."


" Maafkan aku Dhea, aku tidak pernah berniat membuat masalah padamu."


" Tapi kau telah melakukannya, hentikanlah aku ingin hidupku tenang seperti dulu Will."


" Benarkah Dhea? Kalau begitu kau harus mau diperiksa oleh dokter itu, jika tidak hidupmu akan kubuat semakin berantakan."


" Hei kenapa kau memaksaku?"


" Karena kau sepertinya harus selalu minta dipaksa Dhea, jangan tunggu kesabaranku habis, atau aku sendiri yang akan datang kesitu untuk mengatasimu, hhhmmm sepertinya itu akan lebih menyenangkan buatku."


Dhea bergidik ngeri mendengar kata-kata William.


" Kau pria gila..oke oke, aku bersedia...tapi setelah ini jangan pernah lagi ganggu hidupku!!"


Kemudian Dhea segera mempersilahkan dokter itu masuk dan memeriksa kakinya.


" Mungkin sekitar 2 harian lagi kakimu akan sembuh, jangan terlalu banyak digerakkan ya, sementara kau gunakan satu kakimu dulu untuk menopang tubuhmu, aku sudah memberikan obar pereda rasa nyeri."


" Baik dokter terimakasih."


" Sama-sama nona, saya permisi dulu."


" Eh ehm maaf, apakah anda sudah lama menjadi dokter pribadi William?"


" Sudah sangat lama, aku dokter keluarganya, ayahnya yang pertama menjadi pasienku, hingga sekarang ini."


" Apakah mereka keluarga baik-baik?"


" Oohhhh sangat baik, keluarganya sangat terpandang di kota ini nona, ayah dan ibunya orang yang sangat ramah."


" Lalu kenapa William itu seperti bukan orang baik-baik?"


" Anda tau darimana William bukan orang baik?"


" Yah kelihatannya saja."


" Itu kan anda baru melihatnya dari luar saja nona, dan belum benar-benar mengenalnya."


" Hhhhh...aku tak sudi mengenal laki-laki yang suka memaksakan kehendaknya itu ", bisik Dhea.


" Maaf anda bicara apa nona?"


" Oohhh tidak dokter, bukan apa-apa, silahkan jika anda mau pulang, terimakasih sebelumnya."


" Baik nona sama sama, oh iya wajah anda cantik sekali, mungkin tuan William tertarik dengan anda, sehingga dia memaksaku kemari."


" Ahh itu mungkin hanya perasaan anda saja dokter."


" Yaa mudah mudahan perasaanku salah, permisi nona."


" Silahkan dokter, jangan lupa tolong tutup pintu kamarku kembali."


" Baik nona."


Kemudian dokter tersebut segera berlalu dari hadapan Dhea.


" Hhhhh...sebenarnya apa sih mau William? Benarkah apa yang dikatakan dokter itu? Bram juga sering mengatakan demikian, William tertarik denganku. Tapi mengapa ? Bukankah banyak wanita yang lebih cantik dan menarik dibanding aku? Sepertinya aku bukan tipe wanita yang sesuai dengan kriterianya " , Kata Dhea dalam hati


Ya benar, Dhea jauh dari kata seksi, bahkan tubuhnya selalu dibalut dengan pakaian yang menutupinya dari atas hingga ke bawah, berbeda dengan wanita-wanita yang selalu mengelilingi hari-hari William selama ini.


" Atau jangan-jangan dia sudah bosan dengan wanita seperti mereka, sehingga sekarang dia menginginkanku...hiiii....aku benar-benar merinding membayangkan laki-laki itu ", gumam Dhea pada diri sendiri.


Sementara itu William masih saja berada di tempatnya semula, hingga kemudian melihat dokter suruhannya keluar dari tempat tinggal Dhea dan berlalu dengan kendaraannya. Bram menelfon nomor dokter tersebut.


" Bagaimana dokter? Sudah kau selesaikan pekerjaan anda dengan baik?"


" Sudah tuan, dia hanya terkilir sedikit, sementara ini tidak boleh terlalu sering digerakkan dulu, tapi jangan khawatir sebentar lagi juga pulih."


" Terimakasih dokter atas bantuan anda."


" Sama-sama tuan William ", kemudian telfon ditutup.


Ada senyum lega di wajah William, kemudian dia segera beranjak pergi dari tempat itu.