Something different

Something different
Bersama Dhea dan papa2



" Oh iya Deas, tadi kau tidak jadi sarapan kan? Kau tidak ingin sarapan dulu?"


" Entah kenapa perutku tiba-tiba terasa kenyang Dhe, mungkin karena terlalu gembira berkumpul bersama, sehingga aku tidak nafsu makan." Jawab Deasy.


" Maksudku terasa kenyang hingga ingin muntah melihat candaan kalian tadi Dhe." Sambung Deasy dalam hati.


" Tapi itu tidak baik untuk perutmu Deasy, ayolah makan dulu, kau tadi kan bilang jika kepalamu sakit?"


" Nanti saja Dhe, sepertinya mendengar ceritamu jauh lebih menarik, dibandingkan dengan mengisi perutku."


" Lalu apakah sakit kepalamu sudah sembuh nak?"


" Sudah lumayan pah, tidak sesakit tadi lagi."


" Tidak sakit lagi pah, karena rasanya sekarang berganti mau pecah melihat kalian begitu akrab." Gerutu Dheasy lagi dalam hati.


" Syukurlah kalau begitu. Jika memang sakit lagi, nanti biar papa panggilkan dokter pribadi papa untuk memeriksamu. Papa tidak mau ada anggota keluarga di sini yang sakit, tapi papa tidak melakukan apa-apa."


" Aku baik-baik saja pah, papa tidak usah khawatir."


" Hehhh...sebenarnya aku tau anda orang tua yang bijaksana pah, dan juga begitu tulus menyayangiku. Tapi aku tidak suka kau begitu akrab dengan Dhea, karena sangat membuatku muak pah...!!" Kata Deasy lagi dalam hati.


" Oh iya Dhe, ceritakanlah padaku bagaimana kehidupanmu dulu di sini? dan bagaimana awalnya kau bisa bertemu dengan William?"


" Hahaha...ceritanya sangat panjang Deasy, penuh dengan romantika murahan yang tidak masuk akal."


" Romantika murahan yang tidak masuk akal? maksudmu?"


" Yahhh...sangat tidak masuk akal, bayangkan aku ini hanya seorang mahasiswi S2 yang bisa menuntut ilmu di sini, karena mendapat beasiswa dari pemerintah di negaraku. Dan wajahku juga tampangku? kau lihat saja sendiri. Tempat tinggalku dulupun jauh dari kata mewah, hanya sebuah flat sederhana. Dan dulu akupun harus bekerja paruh waktu demi untuk menambah uang sakuku."


" Lalu?"


" Yahhh....mungkin Tuhan sudah memberikan jalanNya. William seorang pengusaha kaya raya, tiba-tiba tertarik padaku, dan mengubah kehidupanku, sampai sekarang ini."


" Hahahaha..memang sungguh tidak masuk akal ya Dhe? padahal jika William mau, dia bisa mendapatkan 10 wanita yang jauh lebih sempurna dibanding kamu. Bahkan dari golongan high class, Iya kan? hahahaha." Deasy tertawa terbahak.


" Karena kecantikkanmu itu yah bisa dibilang standar, bodymupun jauh dari kata sexy, bahkan penutup kepalamu itu, menambah sempurna keelokan rupamu untuk tidak terlihat...hahaha." Sambung Deasy lagi. Dhea hanya tersenyum saja.


" Hemmmm.....kenapa harus kau jelaskan sedetail itu Deasy? kau benar-benar ingin menghinaku? hehhhh menyesal aku mengatakan yang sebenarnya pada Deasy, dia semakin berada di atas angin untuk menyudutkanku, karena mendapat senjata baru untuk menjatuhkanku.".


" Hahaha...untungnya Deasy, William itu sangat mencintai Dhea, makanya menurut William Dhea adalah wanita tercantik dari seluruh wanita cantik yang ada di negeri ini. Buktinya dia pernah menangis datang ke papa karena begitu menginginkan Dhea, dan Dhea terus menolaknya."


" Hahhhh...separah itukah pah? Hemmmm....sungguh perasaan yang tidak wajar, kenapa dia begitu ngotot untuk mendapatkan Dhea? sedangkan Dhea terus-terusan menolaknya?"


" Karena William mencintai Dhea dengan ini nak, dan bukan dengan ini. Dan memang seperti itu kenyataannya. Jawab papa mertuanya sambil menunjukk dada serta matanya.


" Ya aku sangat tau jika Dhea ini wanita yang sangat baik pah. Jika tidak, mana mungkin seisi rumah ini begitu menyayanginya. Tapi yang perlu diingat adalah, bahwa tidak ada satupun manusia itu yang sempurna di muka bumi ini." Mencoba mematahkan kata-kata mertuanya.


" Ya benar. Tapi yang harus diingat juga, pasti kita juga memiliki kelebihan, dan pandai-pandailah menutup kekurangan itu dengan kelebihan kita, dan bagaimana kita bisa menonjolkan kelebihan itu, sehingga orang tidak bisa melihat lagi kekurangan kita."


Deasy hanya diam saja tidak menjawab satu patah katapun. Satu orang lagi yang membuatnya sebal, yaitu papa mertuanya. Semua orang di rumah ini, tiba-tiba berubah menjadi malaikat penyelamat bagi Dhea yang sedang dibullinya.


" Masa depan kami?"


" Ya masa depan kalian. Anak Dhe? memangnya kau tidak ingin mempunyai anak lagi setelah kegagalanmu menyelamatkan dia? papa pasti sangat kecewa karena harapannya untuk menjadi seorang kakek gagal. Dan kau harus memikirkan itu. Jangan sampai kau gagal lagi, dan kemudian aku duluan yang hamil, lalu semua perhatian papa dan semua orang di rumah ini berpindah kepadaku hahaha."


" Ya Allah, istri si Mike ini hatinya terbuat dari batu mungkin ya? kenapa dia bicara semudah itu tanpa memikirkan perasaanku? atau memang dia itu sengaja melakukannya?"


" Nak, tidak ada yang memindahkan perhatian pada siapapun. Karena papa tidak pernah membeda-bedakan kasih sayang terhadap kalian berdua. Kau juga tidak boleh menyalahkan Dhea, karena tidak bisa mempertahankan bayinya. Anak itu pemberian Tuhan Deasy, kalaupun nanti memang kau ataupun Dhea yang hamil duluan, itu sudah merupakan rejeki kalian, syukuri itu. Papa juga tidak menuntut harus sekarang kalian memberi papa cucu. Yang penting buat papa saat ini adalah, melihat keluarga anak-anak papa itu bahagia dan harmonis nak."


" Tapi apa benar papa hanya cukup dengan melihat kami bahagia saja? tidak ingin cepat mendapatkan cucu dari kami?"


" Jika Tuhan belum memberi, apa bisa papa memaksa, Deasy? sudahlah kau jangan terus menyudutkan Dhea, kasihan dia. Kau tidak memiliki masalah pribadi dengannya kan?" Tatap mertuanya tajam.


" Masalah pribadi? hahaha tentu saja tidak pah, bagaimana aku bisa memiliki masalah pribadi dengannya? sedangkan aku baru saja bertemu dengannya. Papa ini ada-ada saja." Elak Deasy.


" Orang bodoh saja bisa tau jika sikapmu padaku itu seperti sedang memiliki masalah pribadi Deasy, apalagi papa. Sepertinya papa mulai merasakan ketidakberesan itu." Kata Dhea dalam hati.


" Oh iya Dhe, apakah saat William mengejar-ngejarmu Mike juga tau?" Sambil melirik tajam pada Dhea, mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Yaa...tentu saja Mike tau....!!" Jawab Dhea jujur.


" Oh ya??? lalu apakah Mike dulu juga dekat denganmu?"


" Maksudmu?"


" Maksudku ya seperti orang pada umumnya, jika seorang kakak memiliki pacar, adiknya tau donk?"


" Ohhh iya, Deasy. Mike tau bahkan sangat tau."


" Sangat tau bagaimana maksudmu?"


Dhea bingung bagaimana caranya menjelaskannya. Tidak mungkin kan jika dia mengatakan, bahwa Mike juga sempat menyukainya? sudah tentu Deasy bisa meradang jika mendengarnya.


" Kenapa kau diam Dhe? kau keberatan menceritakannya padaku ya?" Pandangan Deasy semakin tajam saja seolah sedang mengintimidasi Dhea.


" Sedekat apa dulu kalian bertiga?" Cecar Deasy.


" Ohhh...kami dulu dekat saja."


" Dekat saja maksudnya?"


" Ya de....."


" Heiii...asyik sekali kalian mengobrol di sini..!"


Tiba-tiba saja datang William bersama Mike dan Daniel.


" Ayo kemari nak..!! kita pindah lokasi mengobrol di sini saja!!" panggil papanya menjawab kalimat William. Dhea langsung bernafas lega. Tiga orang pria itu datang di saat yang tepat, sehingga Dhea tidak perlu mencari cara untuk menghindari pertanyaan Deasy.