Something different

Something different
Bertemu keluarga William



William masih saja sibuk dengan pekerjaannya, sementara Dhea masih terlelap di atas sofa. Tak lama kemudian William mematikan laptopnya.


" Sudah hampir jam 5, aku harus membangunkannya, dan aku yakin pasti dia akan kembali mengomel karena tidak kubangunkan dari tadi." Guman William.


Perlahan William berjalan mendekati Dhea, dan mengoyangkan tangannya dengan pelan, takut akan mengangetkan dirinya.


" Dhea bangun, ini sudah sore...Dhea..."


Perlahan Dhea membuka matanya. Dilihatnya William sedang berdiri di hadapannya. Dia segera bangun dan membenahi bajunya.


" Kau....kenapa berdiri di depanku?" tanya Dhea sambil menjauhi tubuh William.


" Hhhh dasar...aku ini hanya ingin membangunkanmu , apa kau ingin terus tidur di sini?"


" Jam berapa sekarang?"


" Hampir jam 5."


" Apa jam 5....??"


" Kau kan tau aku harus pergi kerja jam 4, kenapa kau tidak membangunkanku, kau sengaja membiarkanku tidur di sini kan?"


" Hhhhh benar dugaanku, pasti dia akan ngomel ngomel lagi ", gumam William


" Walaupun kubangunkan kau jam 3 pun, tapi jika aku tidak membolehkanmu pulang bagaimana? Apakah kau bisa pergi ke tempat kerjamu?"


" Iya, tapi itu sudah tanggung jawabku Will, aku menerima gaji dari Bram, dan itu berarti aku harus menerima semua aturan di toko itu."


" Aku sudah menelfon Bram tadi, kamu tidak usah khawatir."


" Aku tau Will, Bram itu pasti selalu memberi ijin. Tapi ini masalah profesionalisme kerja, dan itu sudah menjadi kewajibanku !!"


William hanya diam saja, dan justru terus menatap Dhea yang sedang marah-marah tak karuan sambil tersenyum.


" Will aku bicara serius, kenapa kau justru tersenyum sambil menatapku begitu ?"


" Kamu tau Dhe, kamu tuh cantik sekali. Aku benar-benar gemas jika melihatmu sedang marah seperti ini."


" Will...kau...iiihhhhh ", Dhea benar-benar dibuat dongkol oleh pria di depannya ini.


" Ayo berdiri, kau harus beribadah dulu sore ini bukan?"


" Tidak, aku sedang datang bulan!!" Jawab Dhea ketus.


" Datang bulan? Lalu kenapa tidak boleh beribadah?"


" Ahhhhh jangan banyak tanya, kamu tidak akan mengetahuinya. Masuk islam dulu baru kamu akan mengerti alasannya."


" Kau ini pelit sekali dengan ilmu."


" Bukannya pelit, tapi ini bicara masalah kepercayaan, dan kau akan terus mendebatnya jika belum paham Tuan William."


" Hahaha...oke aku bisa terima alasanmu."


" Ya sudah ayo kita pulang! Atau kau akan di sini saja?"


" Hhhhhh....", gerutu Dhea sambil keluar mendahului William. William hanya tertawa melihat tingkah gadis itu.


Kemudian mereka turun melalui lift yang ada di depan ruangan William.


" Setelah ini kau akan mengajakku kemana?"


" Hhmmm kemana ya? Jika kita ke hotel bagaimana sayang?" Jawab William sambil menggoda Dhea.


" Ke hotel? Mau apa kita ke sana?" tanya Dhea, ada nada khawatir dalam kalimatnya.


" Menurutmu apa jika dua orang dewasa berada dalam satu kamar?" Kata William sambil mengerling nakal.


" Kau jangan macam-macam ya, aku akan lari sekarang juga jika kau melakukan itu."


" Hahaha gadis bodoh. Jika aku mau, sudah kulakukan dari tadi di dalam ruanganku. Tidak ada satupun orang yang berani masuk kesana kecuali oleh ijinku. Kau ini pikiranmu sangat kotor!!"


Dhea diam saja, " Benar pasti laki-laki itu bisa melakukannya tadi saat aku sedang tidur di sofa." Bathin Dhea.


" Lalu kemana kita sekarang?"


" Ikut saja denganku, jangan banyak pertanyaan."


Tak lama kemudian pintu lift terbuka, mereka sudah sampai di lantai dasar. Dan masih seperti saat masuk pertama tadi, orang-orang memberikan hormat saat Willam melewati mereka. Dhea hanya menunduk saja.


" Kenapa kau menunduk saat berjalan denganku?"


" Aku hanya tidak mau melihat pegawaimu menatapku aneh."


" Maksudmu?"


" Lihatlah penampilanku ini, berbeda dengan mereka. Kau ini pura-pura bodoh ya?"


" Hahaha yang berbeda itu justru yang dicari nona."


" Maksudmu?"


" Ahhh sudahlah ayo masuk ke mobil." Ajak William.


Mobil yang akan mereka tumpangi ternyata telah siap di depan pintu, dan seorang karyawan keluar dari pintu kemudi, lalu menyerahkan kontak mobil pada William.


" Terimakasih ", jawab William singkat. Orang itu hanya mengangguk memberi hormat.


Lalu William dan Dhea segera berlalu.


" Aku ingin mengajakmu ke rumah papaku."


" Ke rumah papamu? Mau apa kesana?"


" Aku tadi siang sebenarnya ingin berkunjung ke rumahnya, tapi kuurungkan karena tak sengaja melihatmu di panti asuhan."


" Ya sudah pergilah sendiri, dan antarkan aku pulang saja, aku tidak mau ikut denganmu."


Tak lama kemudian mereka sudah tiba di halaman rumah orang tua William.


Dhea sangat kagum dengan bangunan mewah di depannya ini.


" Ternyata rumah orang tua William tak kalah megah dengan punya William ", bathin Dhea.


" Hhhhhhh...rupanya wanita jalang itu di sini ", gumam William saat melihat mobil Mike ada di dalam garasi yang pintunya tidak tertutup sempurna.


Sebenarnya William malas sekali masuk ke dalam, namun dia sudah terlanjur ada di halaman rumah itu.


" Ayo kita turun!!" Ajak William.


Dhea turun, dan tak henti-hentinya mengagumi keseluruhan arsitektur rumah itu. William mengajaknya masuk. Dhea kembali dibuat takjub, ternyata isi rumah itu lebih mewah dari yang diperkirakan. Banyak barang antik yang menghiasi lemari kaca besar di dalam ruang tamu, beberapa lukisan yang tak kalah unikpun turut melengkapi indahnya pemandangan di rumah itu. William terus mengajak masuk Dhea lebih ke dalam. Rumahnya begitu lengang, seperti tak berpenghuni.


" Will rumah orang tuamu sangat besar, tetapi mengapa sangat sepi?"


" Papaku hanya tinggal sendirian di sini, dan hanya ditemani oleh beberapa asisten rumah tangga. Mamaku sudah lama meninggal."


" Ohhhh pantas ", jawab Dhea singkat.


Sayup-sayup terdengan suara orang tertawa.


" Sepertinya mereka ada di belakang ", gumam William.


Benar saja terlihat tiga orang yang sedang mengobrol di pinggir kolam renang, ditemani teh hangat di depannya.


" Selamat sore pah, selamat sore Mike?"


Seperti biasa William tak menggubris Jessy sedikitpun.


" Selamat sore Will ", jawab Papa William dan juga adiknya berbarengan.


" Darimana saja kau? Sudah seminggu ini kau tidak mengunjungi papa?"


" Maaf pa, aku sedang sibuk mengurus pekerjaanku."


" Mengurus pekerjaanmu atau mengurus gadis cantik di sampingmu itu Will?" Jawab papa William. Spontan semua mata memandang Dhea. Dhea berdiri kikuk di samping William mendapat tatapan seperti itu dari keluarga William.


" Oh iya, kenalkan ini Dhea."


" Apakah dia kekasihmu?" Tanya papa William.


" Jika dia mau, akan kujadikan kekasihku pah."


Dhea melotot ke arah William, namun William tidak menggubrisnya sama sekali.


" Ayo duduklah kalian dulu."


" Terimakasih pah ", jawab William singkat.


William mengambil tempat di samping Mike, sedang Dhea duduk di tengah diantara William dan papanya.


Seorang asisten rumah tangga menghampiri mereka.


" Maaf tuan William, anda ingin minum apa?"


" Tolong buatkan aku kopi panas saja, Dhea kamu mau kopi?" Tanya William.


" Tidak, aku teh hangat saja ", jawab Dhea.


" Will siapakah gadis ini? Tumben kau mengajak seorang wanita ke rumah ini?" Selidik Mike.


" Ohh maaf tuan, aku ini hanyalah teman William ", serobot Dhea sebelum William sempat membuka mulutnya.


William terlihat menarik nafasnya, jengkel dengan sikap yang baru saja ditunjukkan Dhea.


" Hahaha rasakan ", teriak Dhea dalam hati.


" Hmmm benarkah? Aku sangat mengenal kakakku nona, dia tidak akan mungkin mau membawa seorang wanita ke rumah ini, apalagi mengenalkannya pada kami jika tidak ada maksud apa-apa."


" Kau dengar itu Dhea!!!" Kata William menatap Dhea penuh arti.


Dhea merengut dongkol. Ternyata apa yang baru saja dilakukannya tidak ada pengaruhnya apa-apa.


" Sejauh mana kalian sudah berhubungan? Apakah gadis ini hamil sehingga kau membawanya kemari karena ingin memberitahuku Boy?" Tanya ayah William sambil mengerling penuh arti kepada William.


Dhea sangat kelabakan melihat reaksi ayah William, dia tidak mau dianggap gadis sembarangan yang mau tidur dengan laki-laki yang bukan suaminya.


" Ehhh tidak tuan, maaf aku tidak pernah melakukan itu dengan anak anda, aku tidak hamil, dan bisa dibuktikan bahwa aku masih Virgin."


Semua mata menatap Dhea setengah tidak percaya.


" Jadi benar kau masih Virgin Dhea?" Tanya William sambil mengerling nakal.


" Upppsss aku salah bicara ", gumam Dhea sambil menutup mulutnya.


" Hahaha William William...jadi seperti ini wanitamu sekarang? Sungguh mengenaskan." Kata Jessy sambil tertawa.


" Tutup mulutmu Jes, dia bahkan seribu kali lebih baik daripada kamu."


" Hahaha sungguh? Dari sikap bodohnya barusan? Kamu yakin? Sepertinya dia bukan gadis yang setara dengan kita tuan William."


Dhea terkejut dengan ucapan istri Mike, dan saat Dhea hendak membuka mulutnya untuk membela diri, William sudah duluan berbicara.


" Jessy...kasihan sekali kamu ya, kau menilai seseorang itu darimana sehingga bisa tau dia dari kalangan kita atau bukan? Kau tau? Dhea ini seorang mahasiswi S2, seorang terpelajar. Bahkan dia bisa sekolah disini karena dibiayai oleh negaranya. Kau tau kenapa? Karena dia cerdas, tidak seperti orang yang cuma bisa berbicara tapi tingkah laku dan isi otaknya nol ", kata William sambil menatap tajam ke arah Jessy kemudian segera berdiri.


" Ayo kita pulang Dhe!! Rasanya aku malas jika harus mengobrol dengan orang yang tidak punya pemahaman apa-apa, tapi sok tau!!"


" Ayolah Will jangan pergi dulu. Kau belum menceritakan siapa gadis cantik ini pada papa."


" Lain waktu saja pah aku kemari lagi, malas jika ada seseorang yang sok tau ikut campur dalam obrolan kita."


William segera beranjak dari tempat duduknya. Dhea mengikutinya dari belakang, sambil memberikan senyum pada keluarga William terlebih dulu, sebelum pergi meninggalkan mereka.