Something different

Something different
Mengobrol dengan Feri



"Ada apa Will? tumben kau memintaku kemari? biasanya kau jarang sekali menyuruhku kemari jika hanya ingin menyelesaikan pekerjaan." Tanya Feri sepeninggal Dhea.


" Ini bukan masalah pekerjaan Fer, tapi yang lain."


" Lalu masalah apa sehingga kau membutuhkan kehadiranku? apakah begitu serius?"


" Menurutku tidak terlalu, tapi bisa berpotensi untuk menghancurkan persaudaraanku dengan Mike, adikku."


" Adikmu? kenapa bisa begitu? masalah asmara lagi seperti dulu?" Tanya Feri yang sedikit banyak telah mendengar cerita perjalanan cinta William saat berusaha mendekati Dhea dulu.


" Bukan Fer."


" Lalu?"


" Istri Mike cemburu pada istriku karena dulu Mike pernah menyukai istriku."


" Hahaha....masalah sekecil itu? kenapa sepertinya kau pusingkan? ya sudah jelaskan saja pada istrinya, selesai!! kenapa harus bingung?"


" Kalau itu bisa, sudah pasti masalah itu selesai. Tapi tidak bisa Fer. Deasy istri Mike terus-terusan meneror istriku, kasihan istriku, Deasy sangat keterlaluan. Aku tau sifat istriku, dia pasti akan lebih memilih diam dan menahan sendiri."


" Lalu kenapa kau malah curhat denganku dan tidak mengambil tindakan demi untuk menyelamatkan istrimu dari teror istri Mike?"


" Aku itu meminta pendapatmu, kau kan pasti lebih tau jika dilihat dari sisi agama, jika aku menegur Mike dan mengingatkan dia akan sikap istrinya itu, apakah itu bisa dibenarkan? dan apakah aku tidak terlalu ikut campur urusan keluarganya?"


" Bukankah sudah jelas Will ajaran agama kita? bahwa seorang suami adalah pemimpin kaum istri, dia bertugas menjaga melindungi juga mengayomi istrinya dan juga keluarganya."


" Itu berarti kau wajib memberikan rasa nyaman pada istrimu dari hal apapun. Dan apa yang dilakukan istri Mike terhadap istrimu itu, sudah termasuk mengusik ketenangan jiwa istrimu, kau harus segera mengambil tindakan."


" Tapi itu berarti apa aku tidak terlalu jauh ikut campur dalam masalah rumah tangga adikku?"


" Masalah rumah tangga adikmu tidak boleh kau campuri jika tidak melibatkan bahkan mengganggu kebahagiaan rumah tanggamu, sedangkan sekarang istrimu selalu diteror dengan istri Mike, kau akan terus mendiamkannya dan membiarkan berlarut-larut padahal Mike tidak mampu mengatasinya?"


" Jadi aku boleh nih langsung menegur Mike, dan memberikan peringatan padanya?"


" Harus itu Will! Makanya kau harus tau prioritas Will. Prioritaskan dirimu sebagai suami yang bisa menjaga dan melindungi istrimu dengan baik. Kau kan bisa berbicara pelan-pelan dengan Mike, memintanya untuk segera menghentikan tindakan istrinya untuk tidak mengusik istrimu terus. Kasihan Dhea, jika dia terus-terusan menahan sendiri semua perbuatan Deasy, suatu hari dia tidak akan mampu membendungya Will, manusia punya ambang batas kemampuan untuk meredam emosinya."


" Ya Fer, aku juga tau itu. Tadi saja setelah mendapatkan telfon dari Deasy, dia langsung menangis, apalagi Deasy mengatakan dan memang dengan sengaja memperolok Dhea dengan kehamilannya sekarang."


" Sudah jangan berpikir lagi, segera lakukan tindakan. Siapa yang bisa menjaga istrimu dari ancaman apapun selain dirimu?"


" Ya....nanti aku akan menelfon Mike, disana mungkin masih malam." Sambil melirik arlojinya, karena perbandingan selisih waktu antara London dan Indonesia cukup jauh."


" Ehhh tadi istrimu pergi kemana? kau tidak khawatir dia diculik orang?"


" Hahaha...kau ini ada-ada saja. Dia pasti sedang jalan-jalan di sekitar kantor ini, jika saat mulai bosan duduk di sofa itu, dia pasti langsung kabur keluar."


" Ya ya ya...kau sangat hafal kebiasaannya ya."


" Bagaimana tidak, hampir setiap kali ke kantor ini, aku selalu mengajaknya. Daripada dia sendirian di rumah. Aku juga tidak merasa terganggu dengan mengajaknya kemari."


" Hemmmm....seandainya anakku sudah besar, aku mau punya menantu kau Will hahaha."


" Hahhh...dasar kau ini. Aku yang tidak mau mempoligami istriku, enak saja!!!"


Hari terus beranjak siang, William menyelesaikan memeriksa laporannya dibantu dengan Feri, sedangkan Dhea terlihat asyik berkeliling-keliling di lokasi kantor suaminya. Sebenarnya itu sudah berulangkali dilakukannya, namun melihat kesibukan pegawai suaminya itu dia selalu tersenyum sendiri. Ternyata banyak cara untuk mempertahankan hidup demi mencari sesuap nasi. Beruntungnya mereka masih berada di dalm ruangan berac, duduk di depan laptop sembari memegang alat tulis, walaupun terkadang otak mereka terasa dipelintir mengingat harus menyelesaikan deadline sesuai dengan waktu yang ditentukan. Namun mereka tidak perlu bersusah payah, harus kepanasan dan kehujanan seperti orang-orang yang hidupnya di luaran sana, bahkan terkadang harus berjibaku dengan asap dan debu hingga tidak memikirkan kulit yang semakin menghitam karena dibakar oleh panas matahari. Banyak hal yang harus kita syukuri untuk menikmati semua anugerah yang diberikan oleh Allah, dibandingkan dengan menghabiskan waktu untuk selalu mengeluh dan bersedih.


Dhea terus berjalan mengitari hampir seluruh bangunan gedung besar itu, sembari melemaskan otot kakinya. Dia kemudian berhenti di deretan kantin yang sengaja dibangun oleh suaminya, memberikan ruang untuk masyarakat sekitar yang ingin berjualan di area sekitar situ. Penjual menyapanya ramah. Wajahnya sudah tidak asing lagi oleh orang-orang di sekitar kantor suaminya itu. Dhea mampir sebentar, mengobrol ngalor ngidul sambil memilah makanan. Dan setelah selesai membayar, satu plastik berisi gorengan dan makanan ringan lainnya berhasil dia bawa keluar. Sebenarnya semua makanan itu tidak mungkin habis oleh dia dan suaminya, namun dia berpikir apa salahnya melarisi pedagang tersebut, dan sampai rumah nanti dia bisa memberikan makanan itu pada pegawainya, mereka semua pasti akan merasa senang sekali.


Walaupun sekarang telah menjelma menjadi orang kaya, Dhea tidak pernah berubah sedikit dalam hal selera memilih makanan juga tempat dimana dia membelinya. Dia tidak khawatir dengan makanan yang masuk ke dalam perutnya, selama itu dimasak dengan baik dia tidak takut terkena penyakit apapun karena menurutnya yang mempengaruhi seseorang itu terkena penyakit lebih didominasi oleh pikiran dan hati manusia itu sendiri.


" Assalamualaikum." Sapanya saat sudah tiba lagi di dalam ruangan suaminya.


" Waalaikum salam." Jawab Feri dan Mike berbarengan. William melihat satu plastik besar di tangan istrinya.


" Hemmmm...sudah kuduga, jika kau kembali lagi kesini pasti akan memborong makanan dulu di kantin kan?" Kata William yang sudah tau kebiasaan istrinya itu.


" Hahaha...prinsipku kan jika ada seseorang ingin memancing, kita jangan melemparkan ikan padanya, karena ikan tersebut akan habis untuk sekali makan, tapi berikanlah kailnya agar dia bisa terus memanfaatkan kail tersebut."


" Hemmm...kau memang tidak salah memilih istri Will." Kata Feri disambut tawa William yang merasa bangga akan pujian sahabatnya itu.


Assalamualaikum readers...maaf ya lama upnya..author tepar lagi nih hehe...lumayan belum bisa mikir berat....jadi up segini dulu bayar yang kemarin ya...