Something different

Something different
Pertengkaran mulai menjadi



" Assalamualaikum." Sapa Dhea saat baru pulang dari kantornya, sudah hampir magrib dia tiba di rumahnya karena acara seminar di kampusnya baru saja selesai.


Dhea segera masuk ke dalam rumah, biasanya suaminya menyambut dia saat pulang kerja, namun hari ini tidak ada sosok William yang membalas salamnya.


" Hemmm...apakah dia masih marah gara-gara kejadian tadi pagi?" Kata Dhea dalam hati.


" Bik...." Panggil Dhea.


" Iya nyonya." Jawab asisten rumah tangganya.


" Dimana tuan?" Tanya Dhea.


" Tuan belum pulang nyonya."


" Dia bilang pergi kamana?" Tanya Dhea sambil membuka tudung makanan yang ada di depannya, dilihatnya nasi goreng buatannya pagi tadi masih utuh seperti saat dia tinggal pergi tadi.


" Tuan bilang pergi ke kantornya nyonya."


" Dan dia tidak sarapan dulu?" Tanya Dhea.


" Iya nyonya, katanya ingin sarapan di kantornya saja." Dhea semakin yakin bahwa suaminya masih marah bahkan tidak mau menyentuh masakannya. Tapi Dhea gengsi untuk menelfon William, karena dia masih tersinggung dengan perkataannya tadi pagi. Maka Dhea segera masuk ke kamarnya, mandi dan segera sholat magrib.


Biasanya mereka selalu berjamaah, namun kali ini Dhea harus sholat sendiri.


" Hehhhh...dimana dia sebenarnya? Apakah dia sudah sholat magrib? Mengapa sudah jam segini dia belum pulang? Ahhh tidak, aku tidak akan menelfonnya, nanti dia malah besar kepala." Kata Dhea dalam hati.


Dhea tetap menunggu suaminya pulang dan sengaja tidak makan malam dulu, sembari menyibukkan diri memeriksa tugas dari mahasiswanya di dalam ruang kerjanya.


Pukul 20.00 William datang, dia segera masuk ke dalam rumah. Dilihatnya pintu ruang kerja istrinya terbuka.


" Hehhhh...pasti dia sedang ada di dalam sibuk dengan pekerjaannya, padahal aku berharap dia tadi menyambutku dan mencari tau dari mana aku. Sepertinya dia memang tidak perduli padaku dan hanya perduli dengan pekerjaannya." Gerutu William dalam hati. Dia segera naik ke dalam kamarnya, mandi kemudian langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia malas sekali untuk menyapa istrinya, karena jika istrinya sedang asyik seperti itu, pasti tidak suka jika diganggu.


" Hehhhh....kenapa baru tiga bulan pernikahanku terasa hambar begini? Kemana rasa cinta yang kami miliki dulu? Kemana rasa saling membutuhkan itu hilang? Padahal kami sudah berjanji untuk terus menjaga komitment itu hingga akhir hayat kami, tapi kenyataannya justru sangat bertolak belakang. Padahal rumah tangga kami sangat berkecukupan, tapi kenapa dia tidak mau mengorbankan pekerjaannya demi keutuhan rumah tangga kami? Apakah aku yang terlalu egois menuntutnya untuk selalu menemaniku? Menurutku tidak? Aku telah memenuhi segala kebutuhannya, bahkan uangku tidak akan habis untuk menghidupi tujuh turunan. Tapi kenapa dia seperti takut untuk kehilangan pekerjaannya?" Pertanyaan William datang silih berganti memenuhi pikirannya, dia begitu lelah mencari jawaban namun tidak kunjung mendapatkannya, hingga akhirnya matanyapun terpejam.


Dhea melirik jam di dinding ruangannya, sudah pukul 11 malam.


" Ya Alloh ternyata sudah malam, tapi kenapa aku belum mendengar sapaan William sedikitpun? Apakah dia belum pulang?" Tanya Dhea dalam hati. Dia segera mengakhiri pekerjaannya dan beranjak dari tempat duduknya.


Dibukalah penutup makanan yang sudah sedari tadi disiapkan oleh asisten rumah tangganya, dan ternyata posisinya masih sama, belum ada yang menyentuhmya sama sekali. Kemudian Dhea segera naik ke kamarnya, dilihatnya posisi lampu kamarnya sudah temaram itu pertanda sudah ada yang mematikannya. Dhea berjalan pelan, benar saja dilihatnya suaminya sudah tertidur pulas di bawah selimut.


" Sayang....apakah kau masih marah sehingga tidak mau menegurku sama sekali?" Kata Dhea dalam hati sambil menatap suaminya.


" Kau tidak tau betapa berharganya pekerjaan itu untukku. Kau tidak tau ini adalah salah satu bentuk baktiku kepada kedua orang tuaku. Mereka sudah bersusah payah menyekolahkanku, aku tidak bisa begitu saja keluar kerja setelah mereka berkorban begitu banyak padaku. Sayang, maafkan aku bukan aku tidak perduli padamu. Mengertilah sedikit dengan posisiku." Kata Dhea dalam hati sambil mengusap pipi suaminya. Perlahan dia mencium kening William dan segera merebahkan diri. Dia sudah lupa dengan rasa laparnya, tiba-tiba saja selera makannya menjadi hilang. Dilingkarkannya tangannya ke tubuh kekar William, namun perlahan William melepaskannya dan justru berbalik arah membelakangi Dhea. Sebenarnya saat Dhea masuk tadi William belum sepenuhnya tertidur dan masih mendengar langkah kaki istrinya. Dhea sangat tidak suka diperlakukan William seperti itu. Maka dia segera membangunkan suaminya.


" Aku tau kau belum tidur, kau masih marah dengan kejadian tadi pagi? Bahkan saat pulangpun kau tidak menyapaku seperti biasanya."


William memilih diam karena dia tau jika menjawab pasti Dhea akan semakin emosi.


" Will, ayo bangun!! Kau jangan pura-pura tidur." Kata Dhea sambil menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.


" Will, kau jangan seperti ini, kita harus selesaikan masalah kita." Kata Dhea.


" Tidak perlu Dhe, karena aku pikir semuanya tidak akan selesai jika kau masih tetap ingin mempertahankan pekerjaanmu." Jawab William.


" Lalu kau ingin aku keluar kerja begitu???"


William kemudian beranjak bangun.


" Dhe, jika satu-satunya penyelesaian masalah kita ini adalah kau harus keluar kerja, apakah kau bersedia?" Tanya William.


" Tidak Will!! Aku tidak mau!! Jawab Dhea.


" Ok fix, berarti memang tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, rumah tangga kita akan tetap seperti ini." Kata William.


" Will kau tidak tau posisiku."


" Posisi apa Dhe? Posisimu sebagai istriku?"


" Posisiku sebagai seorang anak Will."


" Sebagai seorang anak bagaimana maksudmu?"


" Aku harus membalas budi pada orang tuaku Will."


" Jadi cuma itu jalan satu-satunya untuk kau membalas budi pada orang tuamu?"


" Iya, saat ini hanya itu." Jawa Dhea singkat.


" Kau ini orang tuamu sudah mendidikmu Islam dari kecil tapi tidak paham bagaimana cara membalas budi yang dianjurkan oleh agamamu. Ternyata kau harus belajar lagi tentang agamamu." Kata William sambil beranjak dari tempat tidurnya.


" Will, apa maksudmu?" Kejar Dhea.


" Pikirlah sendiri." Kata William, sambil terus meninggalkan istrinya.


" Kau mau kemana? Pembicaraan kita belum selesai?"


" Tidak akan mungkin selesai, karena kau tidak mau mendengar kata-kata suamimu. Aku tidur di bawah." Kata William.


" Hei kau tadi sudah sholat belum?" Tanya Dhea penasaran.


" Kau tidak perlu khawatir sayang, walaupun aku seorang mualaf tapi aku sudah yakin dengan keputusanku dan tidak akan setengah-setengah mengimaninya." Jawab William ketus.


Dhea tidak bisa menghalangi William lagi, laki-laki itu terlihat marah sekali.


" Ya Alloh, kenapa dia begitu egois, apa yang harus kulakukan?" Dan Dhea mulai menitikkan air matanya.


William langsung keluar dari kamarnya dan tidur di atas sofa ruang tengah mereka, padahal tadi saat baru saja pulang dia berharap istrinya menyambut kedatangannya dan bukannya sibuk lagi dengan pekerjaannya. Padahal tadi dia ingin mengatakan kepada istrinya ingin mengajak bulan madu ke London napak tilas di tempat-tempat saat mereka pacaran dulu. Tapi sikap Dhea justru membuat dia amat kecewa dan malah mengajaknya bertengkar.