Something different

Something different
Nyonya baru



" Pah kami pulang ya! kami ingin menghabiskan liburan di rumahku dulu, tapi nanti kami masih sering-sering kemari. Ya kan sayang?" Pamit William sore itu pada papanya, sambil meminta persetujuan Dhea tentang kalimatnya.


" Iya sayang tentu saja." Jawab Dhea mengiyakan perkataan suaminya.


" Ya, tidak apa-apa. Papa tau, kau belum pernah mengajak istrimu tidur di rumahmu sendiri kan?" kata papa William, sambil mengedipkan sebelah matanya pada putra sulungnya itu.


Dhea hanya tersenyum malu, sambil mencoba mengartikan makna kode papanya pada William tadi.


" Ahhhh dua orang laki-laki dewasa ini sepertinya sedang menggunakan bahasa mereka sendiri." Gumam Dhea dalam hati.


" Bukan hanya tidur pah, tapi aku bahkan bisa main petak umpet di dalam rumah besarku dengannya nanti, tanpa harus malu ada orang lain yang melihatnya, karena aku akan mensterilkannya dulu dari gangguan mahluk apapun sementara waktu ini." Bisik William pada papanya.


" Hahahaha....." Papanya tergelak mendengar candaan William, dan tanpa dikomando, 2 anak dan bapak itu melakukan gerakan tos yang kemudian membuat Dhea menatap keheranan mereka berdua.


" Hemmmm....aku harus waspada!! sepertinya akan ada serangan besar-besaran di rumah itu." Kata Dhea menggumam dengan bahasanya sendiri, walaupun dia tak bisa berbohong untuk tidak bisa menahan senyumnya dalam hati.


Mike sendiri sudah pulang sedari tadi pagi, karena banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan di kantornya. Setelah memeluk orang tuanya, mereka berdua langsung keluar dan masuk ke dalam mobil yang sudah sedari tadi disiapkan oleh pegawai papanya di depan.


" Bagaimana sayang kesan menginap pertamakali di rumah papa mertuamu?" Tanya William membuka obrolan di dalam mobil.


" Ahhh...menyenangkan sekali mempunyai mertua seperti papa!! beliau benar-benar memperlakukanku seperti anaknya sendiri, tidak ada perasaan canggung ataupun yang lain. Aku benar-benar bersyukur memiliki kalian semua." Kata Dhea. Sinaran matanya tidak bisa berbohong dan mengisyaratkan kebenaran akan kalimatnya.


" Seandainya papa mau tinggal bersama kita di Indonesia ya sayang, aku pasti akan senang sekali."


" Hahaha...itu tidak akan mungkin sayang."


" Kenapa?"


" Jangankan tinggal di Indonesia, tinggal di rumah Mikepun papa tidak akan mungkin mau. Dia tidak akan bisa meninggalkan rumah itu begitu saja. Banyak kenangan manis bersama mama di sana. Dan itu tidak akan mudah dilupakan oleh papa."


" Jadi itu alasannya?"


" Ya, memang seperti itu."


" Hemmm...aku paham. Memang hampir setiap orang tua seperti itu. Jarang ada yang mau pindah ke rumah anaknya, terlebih jika mereka merasa masih mampu melakukan apa-apa sendiri. Pada intinya mereka tidak ingin membebani anaknya. Padahal merawat mereka bukanlah beban, tetapi kewajiban, terlebih kewajiban seorang anak laki-laki sepertimu." Kata Dhea.


" Lalu apakah kau mau jika kau kuajak pindah di rumah papa?" Kata William menguji keikhlasan Dhea sebagai seorang istri.


" Jika memang papa bersedia, lalu itu sudah menjadi keputusan suamiku, maka sudah menjadi kewajibanku untuk mengikutimu sebagai imamku. Walaupun ke dalam lubang semutpun, jika itu titahmu maka aku tidak bisa menolakmu suamiku. Yang penting hakku sebagai istri tidak diabaikan, dan kewajibanmu sebagai seorang suami tetap dijalankan." Jawab Dhea penuh dengan keyakinan.


William menatap mesra istrinya. Walaupun dia tau sebenarnya papanya tidak akan mau, jika dia memboyong istrinya ke London demi untuk menemani orang tua itu. Sepertinya dia memang sudah sangat nyaman dengan kehidupannya sekarang.


" Sayang, apakah Nyonya Christy ada di rumah?" Tanya Dhea menanyakan keberadaan kepala pelayan yang dulu sempat dijadikan mata-mata William, namun justru menjadi teman untuk Dhea.


" Ya sayang, dia aku beri tugas untuk menjaga kerapihan rumah itu setiap hari."


" Ahhhh......aku ingin memelukmya, rasanya rindu sekali dengan dia, aku ingin menceritakan banyak hal padanya." Ada binar di mata Dhea. Sudah lama sekali dia tidak mengobrol dengan orang tua itu.


" Hemmmm.....kau tidak akan menggosip tentang suamimu seperti dulu lagi saat aku sedang mendekatimu kan???"


" Hahaha...tentu tidak sayang. Jikapun ada, pasti aku akan menceritakan kebaikanmu, karena untuk menceritakan keburukanmu itu akan sulit sekali, kau begitu sempurna untukku sayang." Kata Dhea sambil mengusap pipi suaminya.


" I love you." Kata William sambil mencium jemari Dhea.


" Love you too." Jawab Dhea sambil membalas mencium jemari William.


Aahhhh...sepertinya dua anak manusia itu memiliki sejuta cinta buat mereka berdua. Tidak ada kata-kata lagi untuk melukiskan kemesraan William dan Dhea. Betapa Indahnya sebuah pernikahan yang dilandasi saling pengertian dan juga kasih sayang. Bahkan rasanya ingin menutup kedua mata dan telinga setiap mendengar kalimat cinta yang keluar dari bibir mereka, karena begitu iri dan cemburu. Kenapa ya ada mahluk manusia yang tak pernah bisa memiliki rasa bosan untuk saling memberikan pujian pada pasangannya itu. Seandainya saja itu terjadi setiap hari, dan bukan hanya saat menjadi pengantin baru, mungkin semua hakim di ruang pengadilan agama tidak akan ada yang bekerja, karena pasti tidak akan ada pasangan yang rela bercerai satu dengan yang lainnya.


" Hahhh...apakah ini drama-drama kolosal di negeri dongeng ya??" kata Dhea dalam hati sambil tersenyum menatap mereka semua, yang mungkin jumlahnya mencapai 30an orang.


Jangan protes ya, selebritis tanah air sekelas Raffi Ahmad saja, memiliki 20 orang pembantu, apalagi Bang William yang tajir melintir, dan kekayaannya itu jika dihitung dengan kalkulator, mungkin angka nolnya hingga tercecer di bawah karena tidak muat di layar hahaha...( suka-suka author deh ya🤭).


Pintu mobil dibuka dari luar oleh dua orang pegawai berseragam hitam, yang merupakan ciri khas pakaian pegawai pria di rumah itu. Yang satu membukakan untuk William, dan yang satunya lagi membukakan untuk Dhea. William memang lebih senang mengendarai mobil sendiri jika sedang bersama istrinya. Dan itu sudah dilakukannya sejak awal dia mendekati Dhea. Dia lebih bisa menikmati perjalanan bersama istrinya dan lebih bebas romantis-romantisan, dibandingkan ada orang lain di depan yang mengemudikan mobilnya itu.


" Selamat datang Tuan dan Nyonya." Kata pegawai tersebut sembari membungkukkan badannya.


William hanya sebatas menjawab dengan senyuman saja. Sedangkan Dhea, dia tetap tidak bisa menghilangkan ciri khas masyarakat Indonesia yang terkenal ramah. Ucapan terimakasih begitu ringan meluncur dari bibir mungilnya.


" Selamat datang Tuan William dan Nyonya Dhea." Sambut pegawai mereka serempak sembari membungkukkan badannya, memberi hormat pada majikan mereka, tempat menggantungkan hidup mereka dan anggota keluarganya.


" Terimakasih atas sambutan kalian semua." Jawab William, merasa tersanjung dengan penghargaan yang diberikan, padahal dia hanya menelfon Simon bahwa hari ini akan pulang, namun tidak menyebutkan waktunya, tapi ternyata mereka sudah mempersiapkan segalanya. Rasanya belum pernah selama menjadi majikan mereka diperlakukan seistimewa ini.


" Mungkinkah karena saat ini ada sosok Dhea di sampingku? tapi bukankah mereka belum tau seperti apa majikan perempuan mereka ini nantinya?" Tanya Dhea dalam hati.


Tiba-tiba Christy yang merupakan kepala pelayan di rumah itu maju ke depan.


" Maaf tuan dan nyonya, anda pasti terkejut dengan sambutan kami. Saya yang menginstruksikan mereka semua untuk menyambut kedatangan nyonya baru di rumah ini." Kata Christy sambil menunduk.


" Sudah aku duga, pasti tetanggamu dulu yang mempunyai ide ini semua sayang." Kata William sambil menatap mesra pada istrinya.


" Kau memaafkannya kan sayang?" tanya Dhea.


" Mana mungkin aku tidak memaafkan orang yang baru saja memberikan penghormatan yang luar bisa pada kita berdua." Jawab William.


" Christy, terimakasih ya atas perhatianmu. Aku bahkan tidak memikirkan ini semua untuk mengadakan acara selamat datang untuk istriku di rumah ini."


" Ya tuan, kami ingin melakukan yang terbaik untuk Tuan dan Nyonya di rumah ini."


" Nyonya Christy aku sangat merindukanmu!" Kata Dhea sambil membentangkan tangannya lebar-lebar. Namun Christy justru beringsut mundur, dia merasa tidak pantas dan tidak sederajat untuk memeluk majikan wanitanya itu.


Dhea mengerutkan dahinya, namun sesaat kemudian mimik wajahnya kembali berubah normal. Dia tau apa yang ada di dalam pikiran Christy.


" Sayangku, bukankah semua manusia di hadapan Tuhan sama?" kata Dhea sambil meminta persetujuan suaminya untuk memeluk wanita itu.


" Tentu saja sayang." Jawab William.


" Lihatlah Nyonya, kau dan aku sama. Oke??" kata Dhea sambil kembali membuka tangannya lebar-lebar.


Cristy tau maksud perkataan nyonya barunya itu, dan tanpa ragu dia segera mendekat kemudian menyambut pelukan hangat Dhea, mahasiswi Indonesa yang merupakan tetangganya, sekaligus orang yang dimata-matainya, namun akhirnya sangat disayanginya.


" Nyonya Cristy aku sangat merindukanmu!!" Kata Dhea.


" Aku juga sangat merindukanmu Nyonya Dhea." Kata Chrisy.


" Hei mana ada seorang ibu memanggil anaknya nyonya?" tanya Dhea sambil mengangkat kepalanya dengan pandangan sedikit tidak suka.


" Dhea...kau adalah Dhea. Dhea yang begitu manis dan sedikit keras kepala." Kata Chrisy sambil membelai lembut kepala Dhea.


" Ohhh Nyonya aku sangat menyayangimu!!"


" Aku juga sayang." Jawab Christy mencoba bersikap normal selayaknya teman, seperti dulu lagi.