
Makan pagi yang sangat menyenangkan, suasana begitu akrab dan hangat. Hanya Deasy saja yang merasakan bahwa kehangatan di keluarga itu justru terasa panas dalam dadanya, terlebih saat mereka saling melemparkan candaan. Dan yang membuatnya paling muak adalah, ketika melihat Dhea begitu renyah tertawa menanggapi candaan yang dilemparkan oleh Mike, suaminya.
" Padahal dia itu kan tau Mike pernah menyukainya, kenapa justru dia sepertinya tidak menjaga perasaanku sebagai istrinya? dan tertawa begitu ceria seperti itu?" Deasy menggerutu sendiri dalam hati sambil mengaduk-aduk minuman di depannya hingga bunyi denting sendok beradu dengan gelas terdengar nyaring.
Jika seseorang itu dasarnya tidak suka, maka apapun yang dilihatnya pasti akan dianggapnya tidak benar. Seperti Dhea saat ini. Tertawapun dianggap salah oleh Deasy, jangankan tertawa, mungkin Dhea bernafas dan menghirup udara yang sama dengannyapun, akan dianggapnya salah.
Deasy yang saat itu makan setangkup roti yang begitu manis dan empuk yang masuk ke dalam tenggorokkanya, justru terasa sangat pahit saat melewati mulutnya. Suasanalah yang membuatnya begitu muak dan sebal. Terlebih suaminya, Mike bahkan tidak perduli dengan dia yang ada di sebelahnya, seolah tanpa dosa laki-laki itu terus saja beramah tamah dengan mereka semua.
Karena merasa sudah tidak tahan, ditambah dengan rasa gondok di hatinya akibat cemburu yang sudah mencapai stadium akhir, Deasy tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.
" Ehhh..ehmmm..maaf semuanya yah, kepalaku sedikit pusing, aku ingin istirahat di kamar saja." Mengejutkan orang-orang yang ada di situ.
" Kau sakit nak? kenapa? apakah perlu papa panggilkan dokter pribadi?"
" Tidak perlu pah, aku hanya pusing sedikit. Setelah kubawa tidur pasti sembuh." Kata Deasy mencoba menyembunyikan suasana hatinya dari sang mertua.
" Maaf, aku ke kamar dulu ya." Kata Deasy berpamitan pada semua sambil berjalan meninggalkan meja makan.
Mike yang melihat sikap kekanak-kanakan Deasy semakin sebal saja. Dia membiarkan Deasy menuju kamarnya sendiri, tanpa berbasa basi sedikitpun pada istrinya.
" Kenapa dia tidak bisa menahan diri barang sebentar saja, agar tidak ada yang curiga dengan sikapnya itu?" Bathin Mike.
Belum juga dia sempat mengisi perutnya, namun Deasy sudah bertingkah.
" Mike, antarkan istrimu ke kamar..! Temani saja dia dulu. Nanti biar papa suruh pegawai mengantarkan sarapanmu di kamar." Suruh papanya.
" Hehhhh...sudah kuduga, papa pasti tidak akan mungkin membiarkan aku duduk diam di sini, sedangkan istriku sendirian di kamar. Kau ini Deasy, cemburumu itu sangat tidak masuk akal!!" Mike menggerutu dalam hati.
" Tidak usah pah, nanti biar aku makan di sini saja lagi. Aku temani Deasy dulu." Sambil berdiri dan menyusul Deasy yang sudah berjalan duluan.
" Maaf ya semuanya, aku ke kamar dulu."
" Silahkan Mike, semoga badai segera berlalu." Kata Daniel sambil mengunyah roti di mulutnya.
" Badai tornado Dan?" jawab Mike.
" Badai asmara buta hahahaha." Daniel yang sudah bisa membaca situasi yang menimbulkan kebencian di hati Deasy, mulai membocorkan sedikit apa yang ada dalam pikirannya.
" Sudah nak, jangan dengarkan ocehan Daniel, nanti kau tidak jadi ke kamarmu. Sana buruan susul istrimu..!!" Hanya papa William yang tidak tau situasi sebenarnya yang sudah sedikit memanas, dipikirnya anak-anaknya memang sedang bercanda.
" Baik, aku ke kamar dulu." Sambil berjalan.
" Hei Mike, jika butuh obat penurun darah tinggi untuk istrimu, aku masih punya satu tablet, lumayan walaupun reaksinya hanya bertahan satu hari hahaha."
" Sialan kau." Jawab Mike sambil mengacungkan tinjunya pada Daniel, dan semuanya hanya tertawa.
Dhea merasa tidak enak hati melihat Deasy meninggalkan meja makan, pasti suasana hatinya benar-benar tidak enak. Tapi dia tidak tau sebenarnya apa yang membuat Deasy bertingkah seperti itu.
Mike menaiki tangga yang menuju arah kamarnya, saat sudah masuk ke dalam dilihat istrinya sedang duduk bersandar di atas ranjang, wajahnya ditekuk sedemikian rupa. Dia menengok sejenak, saat tau suaminya datang, namun kemudian pandangannya kembali menatap lurus ke depan. Mike segera mendekati Deasy.
" Deasy kenapa kau jadi bersikap seperti ini sih? bisa tidak kau menahan diri barang sebentar saja, kau tidak menghargai orang-orang yang ada di ruang makan tadi dengan meninggalkan mereka di sana."
" Maksudmu menghargai Dhea kan?"
" Bukan cuma Dhea Deasy, tapi juga William kakakku, papaku dan juga Daniel. Kau merusak suasana kebersamaan kami."
" Bukan kehadiranmu Deasy, tapi sikapmu yang kekanak-kanakan ini...!!!" Mike masih berusaha mengontrol emosinya.
" Mike..!! kau bilang sikapku kekanak-kanakan?"
" Ya, sangat kekanak-kanakan. Kau kan bisa menahan diri sebentar untuk menghargai keberadaan mereka."
" Menahan diri sampai emosiku benar-benar meledak di sana, kemudian mempermalukan kau di hadapan mereka semua, akibat aku sudah tidak bisa menahan rasa marahku melihat kau bercanda dengan Dhea? begitu maksudmu?"
" Siapa yang bercanda dengan Dhea?"
" Tapi kau melemparkan joke-joke yang ditanggapi juga oleh Dhea."
" Lalu apa maumu aku harus duduk diam disana, dan hanya sibuk mengunyah makanan? begitu?"
" Bukan begitu."
" Lalu?"
" Kau hargailah keberadaanku di sampingmu. Kau tau kan aku cemburu dengan Dhea? tapi kau seolah ingin membuat suasana begitu hidup dengan candaanmu. Kau tidak khawatir Dhea akan semakin tertarik padamu?"
" Hahaha...sepertinya kau kelelahan Deasy, dan benar-benar butuh istirahat, agar kondisimu stabil."
" Kondisiku cukup stabil Mike, dan yang terpenting otakku masih waras untuk dipakai berpikir."
" Tapi jalan pikiranmu sangat tidak masuk akal Deasy. Harus bagaimana lagi aku menjelaskan padamu?"
" Tidak perlu penjelasan Mike, tapi aku butuh kau jaga sikapmu, itu saja."
" Sikap yang mana Deasy."
" Sikap bercandamu jika ada Dhea."
" Yaaa Tuhaannn.....aku kan tidak sedang duduk berdua dengan Dhea? ada banyak orang di sana. Kenapa kau berpikir candaanku ditunjukkan untuk Dhea?"
" Tapi Dhea ikut tertawa kan?"
" Ya ampun Deasy. Wajar saja jika semua orang di situ tertawa dengan candaanku dan Dheapun ikutan tertawa, yang aneh itu jika Dhea tertawa sedangkan yang lainnya diam saja."
" Ahhhh....intinya aku tidak suka melihat sikapmu tadi Mike." Sambil cemberut kemudian beranjak dari tempat tidur, lalu berdiri di depan jendela dan membuang pandangannya keluar.
" Deasy pleas rubah sikapmu itu. Dulu aku mencintaimu karena sikapmu yang begitu anggun dan dewasa. Kenapa semuanya hilang hanya karena sebuah rasa cemburu? jangan sampai kau membuat perasaanku jadi berbalik. Aku sudah muak dengan sikap istriku dulu, jangan buat aku menyesal dua kali karena telah menikahimu."
" Apa?? jadi sikap cemburuku ini akan kau jadikan alasanmu untuk tidak lagi mencintaiku?"
" Jika kau tidak berubah, itu bisa saja terjadi, karena aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama lagi. Jangan peliharacrasa bencimu, aku sekarang adalah suamimu, dan ini perintah. Rubah sikapmu...!!!" sambil berjalan pergi meninggalkan Deasy seorang diri.
" Mike...Mike...tunggu...!!! kita harus selesaikan ini dulu."
" Kau yang harus menyelesaikannya, karena itu masalah yang kau buat sendiri. Dan jika sikapmu tidak berubah, aku rasa tidak akan mungkin bisa selesai..." sambil terus berjalan keluar, membuka pintu dan kemudian hilang setelah pintu tertutup kembali.
" Arrrggghhhhhhh......!!!" Deasy berteriak sendiri di dalam kamarnya.