
" Will....tunggu!! Cepat sekali jalanmu."
" Kau yang lambat, buruan!!" Jawab William ketus.
" Hei lihat saja tinggiku saja hanya sepundakmu, dan langkah kakimu itu 2 kali lipat dari langkahku, aku seperti mengejar seekor jerapah saja di depanku ", jawab Dhea dongkol.
" Kau ini cerewet sekali ", kata William sambil berhenti menunggu Dhea yang berjalan jauh di belakangnya.
" Rumah orang tuamu ini seperti stadion saja besar sekali, butuh sepatu roda untukku sampai di depan sana." Gerutu Dhea.
" Memang kenapa?"
" Kakiku lelah, apalagi ditambah harus mengimbangi langkahmu."
" Apa kau ingin aku menggendongmu, seperti waktu itu?" kata William menggoda Dhea.
" Awas kau ya jika berani melakukannya lagi ", jawab Dhea sambil melotot.
" Kau ini baru jalan beberapa meter saja sudah mengeluh, pasti kau jarang berolahraga, pantas tubuhmu gampang sakit."
" Hehhh kau pikir aku ini punya waktu banyak untuk bisa berolahraga? Bahkan aku itu sering tidur tengah malam karena harus bekerja!!" Jawab Dhea membela diri.
" Hahaha siapa suruh kau kerja sehingga waktu istirahatmu berkurang?"
" Jangan mendikteku, itu hakku, dan jangan pernah ikut campur dalam kehidupanku."
" Terserah kau sajalah, dasar gadis menyebalkan!!"
" Hahaha....aku menyebalkan? Tapi kenapa kau selalu mengikutiku? Apa kau juga ingin berguru padaku untuk jadi pria yang menyebalkan juga? Ahhh tapi aku rasa tidak perlu, karena kamu itu 1000 kali lebih menyebalkan daripada aku tuan William."
" Sudah jangan banyak bicara, cepat naik ke mobil, telingaku sakit mendengar omelanmu dari tadi!!"
" Siapa suruh mengajakku ikut bersamamu. Dasar pria aneh!!"
Setelah berada di dalam mobil, William segera membawa keluar kendaraannya itu dari halaman rumah orang tuanya.
" Kau sebenarnya ada masalah apa dengan wanita itu?"
" Bukan urusanmu!"
" Hahaha kalau aku lihat-lihat, sepertinya kalian ada masalah pribadi. Masalah hati ya??" Kata Dhea sembari menatap William dan berusaha memancing untuk membuka mulutnya.
William hanya diam saja dan tidak menjawab sepatah katapun.
" Hmmm kau tidak mau menjawab ya? Pasti ini sangat pribadi. Oh ya, siapa sebenarnya dia kalau boleh aku tau? Waktu di kantormu aku tidak melihat wajahnya di foto itu.
" Dia istri adikku." Jawab William singkat.
" Ohhhh...istri adikmu? Hmmm sangat menarik, seorang adik ipar memiliki masalah dengan kakak iparnya. Kalau boleh aku tebak, kau suka dengannya ya?"
William tetap diam saja.
" Hhmmm apa ya?? Coba aku telaah, bahkan tadi kau membelaku di depannya, seolah ingin menunjukkan bahwa aku ini lebih baik dari dia, sepertinya kau ingin membuat dia cemburu padaku?"
" Kau jangan terlalu percaya diri ya, aku bukan membelamu, hanya ingin merubah pola pikirnya agar jangan merendahkan orang lain." Jawab William, dia mulai terpancing emosinya.
" Hahaha so sweet...benarkah? Bukan karena kau sedang menyimpan dendam padanya?"
" Jangan-jangan dulu kau kekasihnya ya?"
William menggerutu dalam hatinya.
" Sialan gadis ini peka juga perasaannya, dia bisa menebak apa yang pernah terjadi antara aku dan Jessy."
" Benarkan tuan William tebakanku? Anda pernah jatuh cinta dengannya? Spakah anda sakit hati karena dia menikah dengan Mike?"
Tiba-tiba William menghentikan laju mobilnya. Dan menatap Dhea.
" Kalimatmu tidak sepenuhnya benar, aku bukan sakit hati karena dia menikah dengan adikku ya."
" Lalu?"
" Aku tidak suka jika dia menghianati William seperti saat dia bersamaku."
" Heiii...dia pernah menghianatimu? Wow..berita yang sangat mengejutkan, jadi kalian pernah berhubungan?"
" Apa pentingmu untuk tau masalah pribadiku?"
" Sebenarnya sangat tidak penting buatku untuk tau tentangmu. Hmmm siapa juga kamu? Bukan siapa-siapaku kan? Bahkan kamu itu seperti kutu dalam rambutku."
" Maksudmu itu apa? Aku seperti kutu?"
" Ya kutu. Kau itu membuatku sangat risih, dan aku ingin sekali menangkapmu dengan tanganku, lalu melenyapkanmu dengan ibu jariku. Dan...... MATI... Paham kan maksudku?"
" Hahaha sebelum kau berhasil menangkapku, aku duluan yang akan mengurungmu sayaaangg dengan cintaku oke???"
" Hah cinta??? Bahkan aku itu tidak tertarik sedikitpun denganmu, apalagi untuk mencintaimu."
" Kubuat kau terpaksa mencintaiku Dhea, dan itu janjiku." Jawab William sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Dhea. Dhea beringsut mundur dari tempat duduknya.
" Kita makan dulu, perutku sudah lapar ", kata William kemudian sambil menghidupkan kembali mesin mobilnya.
William menghentikan kendaraannya pada sebuah restoran yang memiliki bangunan sangat mewah. Dan sepertinya restoran itu menyatu dengan sebuah hotel yang tak kalah megah di sampingnya.
" Will kau hanya ingin mengajakku makan saja kan? Dan tidak masuk ke hotel itu?" Tanya Dhea.
" Kita juga akan masuk ke hotel itu."
" Apa? Aku tidak mau. Kau pikir aku wanita yang bisa kau ajak tidur??"
" Sudah cepat...ayo turun!!" ajak William.
" Hhhhhhh....", William segera keluar dari pintu kemudi, dan berjalan menuju pintu di sebelah Dhea.
" Ayo turun...!!"
" Tidak kau akan mengajakku ke hotel itu juga kan? Bukankah kau tadi sore janji tidak akan mengajakku ke hotel?"
" Aahhh kau ini bandel sekali!!" Kata William dan menarik tangan Dhea keluar dari mobilnya.
" Ikuti saja perintahku dan jangan membantah jika kau ingin pulang ke rumahmu dengan keadaan yang utuh."
" Utuh maksudmu?"
" Keperawananmu yang utuh sayanggg!!! Apakah harus kukatakan lebih jelas lagi??"
" Hhhhhh....pria brengsek ", gerutu Dhea.
Dhea berjalan di samping William menuju restoran tersebut. Saat tiba di sana semua karyawan memberi salam pada mereka, dan William hanya mengangguk saja. Bukannya memilih tempat duduk, tapi William masuk terus menuju ke samping restoran, tepatnya masuk ke dalam bangunan hotel itu, karena ada akses dari restoran untuk langsung menuju ke sana. Seorang pria muda mungkin seumuran William menyambut mereka berdua, lalu menjabat tangan William.
" Hallo bos...bagaimana kabarmu? Kenapa kau tidak bilang-bilang jika ingin kemari, aku bisa menyiapkan menu spesial untukmu?"
" Kau ini Bran tak perlu basa basi begitu."
" Hahaha aku perlu basa basi agar tetap dipercaya untuk memegang usahamu ini teman."
Dhea baru tau dari perkataan teman William tadi, ternyata restoran sekaligus hotel ini adalah milik William.
" Pantas saja dia langsung masuk ke dalam ", kata Dhea dalam hati.
" Ayo silahkan masuk ", Kata Brandon mempersilahkan mereka masuk ke dalam ruangannya.
" Duduklah di sini ", kata Brandon menyuruh mereka duduk di atas sofa yang berbentuk setengah lingkaran. Dhea memilih duduk sedikit jauh dari dua pria tersebut.
" Hei kenapa kau duduk begitu jauh? Sini agak mendekat denganku ", kata William sambil melihat ke arah Dhea.
" Hhhh duduk saja jadi masalah, seperti dalam bis saja duduk dekat dekatan ", gerutu Dhea.
" Kau bicara apa? Sku belum tuli untuk bisa mendengar gerutuanmu sayang."
Dhea hanya merengut kesal dan menggeser tubuhnya lebih dekat ke arah William.
" Sudah aku di sini aja, aku tidak mau terlalu dekat denganmu, bukan mahram!!" kata Dhea ketus.
" Mahram? Apa itu mahram?" tanya William.
" Mahram artinya tempat duduk ", jawab Dhea asal karena tidak ingin William terlalu banyak bicara.
" Ohhh ya ya ya...tapi aku rasa bukan itu maksudnya, tapi its ok ", jawab William lagi.
" Heiii bos siapa gadis ini? Boleh aku berkenalan dengannya?"
" Kenapa? Kau penasaran?"
" Ya penasaran sekali, kau sebelumnya tidak pernah membawa mahluk yang berjenis kelamin wanita jika sedang berbicara masalah pekerjaan denganku."
" Dia calon bos wanitamu ", jawab William sambil melirik Dhea.
" Maksudmu? Calon istrimu?"
" Ehhhh bukan bukan...aku bukan siapa-siapanya, aku baru saja kenal dengan dia, dan tidak ada hubungan apa-apa dengannya." Jawab Dhea mendahului William.
" Hahaha ada apa ini rupanya teman? Kenapa gadis ini tidak mengakuinya?"
" Biasa Bran, wanita kalau sedang datang bulan bawaannya selalu marah-marah."
" Kau ya....!!" Kata Dhea melotot.
William hanya tersenyum melihat reaksi Dhea.
" Lihatlah Bran...matanya begitu indah bukan saat dia melotot seperti itu?"
" Ya benar bos, dia sangat cantik. Pantas kau jatuh cinta dengannya."
" Heiii siapa yang jatuh cinta denganku? Dia? Aku tidak akan mau menerima cinta dia, anda dengar itu tuan!!" Jawab Dhea ketus.
" Sudahlah Bran jangan menggodanya terus, aku tak mau besok-besok lagi dia tidak mau ikut denganku."
" Hhhhh hari ini saja aku sebenarnya tidak sudi ikut denganmu, semua ini karena kau memaksaku Tuan William ", gerutu Dhea.
Ada senyum di bibir William melihat wajah Dhea yang terlihat kesal.
" Nanti lagi mengomelnya ya sayang? Aku akan berbicara dengan orang kepercayaanku dulu ", Kata William. Dhea tidak menjawab dan terus cemberut.
" Bagaimana Bran, apakah ada peningkatan bisnisku ini?"
" Tenang saja bos, bulan ini kita mendapatkan peningkatan kunjungan 20 %, itu berarti hotel kita ini semakin diminati oleh para wisatawan."
" Bagus aku suka kerjamu, jangan lupa naikkan terus pelayananannya, juga kebersihannya. Aku tidak mau mendengar ada keluhan konsumen mengenai kebersihan kamar di hotel ini."
" Siap bos, akan aku laksanakan, jangan khawatir percayalah denganku."
" Ngomong-ngomong apakah kalian berdua ingin makan di dalam ruangan ini? Biar aku pesankan sekarang?"
" Tidak Bran, nanti saja aku pesan sendiri di depan sana. Aku cuma ingin bilang, nanti tolong kirim ke emailku laporan hotel dan restoran ini ya? Biar nanti malam aku periksa."
" Ok siap bos, nanti segera aku kirim laporannya."
" Ya sudah aku ke depan dulu, aku tidak ingin wanita di sampingku ini kelaparan karena lama menunggu kita ngobrol."
" Ok silahkan bos ", Jawab Brandon sambil berdiri dan membukakan pintu untuk William dan Dhea.