Something different

Something different
Cerita William



Suara berisik terdengar di depan kamar. Saat Dhea menengok, terlihat para pegawainya berkumpul di depan kamarnya sambil ikutan sibuk menghapus air mata. Mereka semua ikut bahagia menyaksikan majikannya, ternyata pulang kembali dengan selamat. Dhea tersenyum menatap mereka semua.


" Sayang, lihatlah pegawai kita, mereka semuapun ikut bahagia dengan kepulanganmu." Kata Dhea. Williampun menoleh ke arah pintu kamarnya. Diapun tersenyum.


" Kalian kembalilah bekerja, aku baik-baik saja, dan kalian tidak usah khawatir ya." Katanya pada pegawainya.


" Tuan, kami senang sekali bisa melihat anda kembali, tadinya kami pikir kami semua akan kehilangan seorang majikan sebaik anda." Kata seorang pegawai yang usianya terlihat paling tua diantara lainnya.


" Allahlah yang menyelamatkanku dari kecelakaan itu. Terimakasih ya kalian semua perhatian dengan saya."


" Ya tuan, semoga tuan dan nyonya sehat-sehat selalu." Katanya lagi. Williampun mengangguk. Kemudian satu persatu para pegawai pergi dengan perasaan lega.


" Pak, jadi anda sudah mengetahui jika suamiku selamat?" tanya Dhea pada supirnya yang juga belum beranjak keluar.


" Iya nyonya. Petugas bandara berkata jika tuan William terdaftar dalam penumpang pesawat, namun membatalkan keberangkatannya. Dan tidak jadi naik dalam pesawat tersebut. Saat petugas mengatakan itu, saya benar-benar bersyukur nyonya, hingga tidak bisa berkata apa-apa, dan hanya bisa menyebut asma Allah. Begitu besar kuasaNya, dalam hitungan menit, tuan selamat dalam insiden kecelakaan itu."


" Maafkan saya nyonya, tadi saya benar-benar shock, sehingga sangat gugub sekali."


" Iya pak tidak apa-apa. Terimakasih banyak ya pak atas bantuan bapak."


" Iya nyonya. Saya merasa sangat lega melihat tuan kembali lagi ke rumah ini."


" Sayang, jadi apa yang membuatmu berpikir untuk membatalkan keberangkatanmu ke London?"


" Jadi begini sayang." Jawab William.


Semua terlihat serius mendengarkan cerita William.


Dhea yang sedari tadi terlihat muram, wajahnya sudah sedikit ceria, dan tidak lagi pucat seperti tadi.


KILAS BALIK


William segera meninggalkan Dhea, yang terus menatapnya berjalan masuk ke dalam bangunan bandara di depannya. Dia menoleh sebentar, seperti ragu meninggalkan belahan hatinya itu, namun kemudian dengan penuh keyakinan, dia memantapkan langkah untuk pergi menghadiri pernikahan adiknya. Tidak ada kebaikan dalam sebuah keragu-raguan, kalimat itu yang selalu diingat saat diucapkan oleh Dhea.


Saat hendak menyelesaikan urusan administrasi, tiba-tiba handphonennya berdering.


" Kringggggg......!!!!!" William segera mengangkatnya.


" Papa???"


" Hallo pah?"


" Hallo Will, bagaimana kabarmu nak?"


" Aku baik-baik saja pah. Papa sehat kan?"


" Iya nak papa sehat."


" Oh iya, bagaimana istrimu?"


" Dia sehat juga pah, dan masih dalam proses penyembuhan, karena bekas operasinya belum kering benar."


" Mana dia nak? papa ingin bicara dengannya."


" Aduhhh...maaf pah, istriku di rumah."


" Lho, memangnya kamu sedang ada dimana?"


" Aku sedang ada di bandara pah."


" Di bandara? kau mau pergi kemana?" Sebelumnya William memang belum memberitahukan papanya perihal kepergiannya ke London, dan saat Dhea menanyakannya tadi, dia lupa untuk menelfon papanya.


" Iya aku lupa memberitahukan papa ya? aku hari ini akan pergi ke London pah, bukankah lusa Mike akan menikah."


" Kau akan pulang ke London, sedangkan istrimu masih belum sembuh benar."


" Sebenarnya aku juga keberatan meninggalkannya pah, tapi dia memaksaku untuk hadir di pernikahan Mike. Dia ingin Mike bahagia jika aku bisa menghadiri pernikahan itu." Sesaat kemudian William melihat arlojinya.


" Maaf pah aku harus segera naik ke pesawat, dan menyelesaikan urusan administrasi dulu."


" Tidak Will, kau harus batalkan kepulanganmu ke London."


" Kenapa pah?"


" Papa tidak ingin kau meninggalkan istrimu, di kondisinya seperti sekarang ini. Dia baru saja kehilangan bayinya, bahkan operasinya saja belum sembuh, malah sekarang kau akan pergi meninggalkan dia sendirian? Dia lebih membutuhkanmu Will. Di sini kau hanya akan menyaksikan sebuah pesta pernikahan, tapi istrimu butuh kau untuk mensuportnya."


" Nak,kehadiran seorang pasangan posisinya tidak dapat digantikan oleh siapapun, sekalipun itu oleh mertuamu. Pasangan dan orang tua memiliki peranan yang berbeda. Pulanglah, dengarkan kata papa."


" Lalu pernikahan Mike?"


" Tanpa kau hadirpun, pernikahan Mike akan tetap berjalan. Tapi istrimu, tanpa adanya kau, pasti dia akan merasa kesepian. Kau yang saat ini dibutuhkannya Will, papa sangat tau itu."


" Baiklah pah, kalau begitu aku tidak jadi pergi ke London."


" Bagus nak, prioritaskan keluargamu dulu ya, baru yang lainnya."


" Oh iya ini ada Mike, dia ingin berbicara denganmu." Kata papanya sambil menyerahkan telfon genggamnya pada Mike, yang sedari tadi ada di sebelahnya.


" Hallo Will?"


" Hallo Mike, apa kabarmu?"


" Aku baik Will. Benar Will kata papa, temani saja istrimu, ini kan pernikahanku yang kedua, dulu saat pernikahanku yang pertama, kan kau sudah membantuku. Seharusnya waktu istrimu operasi tempo hari itu, kamilah yang sepantasnya datang kesana dan menengoknya, tapi yaaa bagaimana lagi? jadwal pernikahanku waktunya sudah mepet sekali, sehingga aku sedikit sibuk untuk mempersiapkan semuanya. Sekarang aku mau kau tunggui saja istrimu, nanti jika dia sudah sembuh benar, kau boleh mengajaknya pulang dan berkenalan dengan istriku."


" Hehhhh...ya sudahlah jika itu maumu. Padahal aku sudah memesan tiket pulang pada Daniel."


" Hahaha...apa itu artinya kau sedikit kecewa, karena telah kehilangan sejumlah uang besar??? sejak kapan kau begitu sayang buang-buang uang Will? dulu hampir setiap malam kau menghamburkan uang dengan kegiatan yang tidak jelas."


" Ahhhh itukan masa lalu Mike. Kalau sekarang, aku sangat memikirkan setiap lembar uang yang kukeluarkan, jika itu tidak ada manfaatnya, lebih baik kusumbangkan untuk orang-orang yang membutuhkannya, daripada kuhambur-hamburkan."


" Ohhhhh god...!!! secepat itukah Dhea merubahmu Will? seandainya istrimu itu memiliki kembaran yang sama semuanya seperti dia, aku rela menjadi suaminya Will hahaha."


" Heiii...awas kau ya!!! istriku itu cuma satu, kau jangan main hati ya, cukup dulu saja kau jadi sainganku."


" Hahaha...serius sekali kau jika menyangkut istrimu...!! mana berani aku main hati lagi. Kekagumanku pada istrimu itu tidak pernah hilang Will, tapi jangan khawatir, rasa cintaku sudah kuberikan semua pada calon istriku."


" Ya bagus, jika kau menikahi seorang wanita, jangan sisakan perasaanmu untuk ditempati oleh wanita lain, karena itu bisa memicu perselingkuhan. Kau paham!!!"


" Oke siappp bos, kecuali jika istrimu yang menggodaku, mungkin aku tidak akan menolaknya hahaha."


" Ahhhh kau ini." Gerutu William.


" Ngomong-ngomong bagaimana dengan calon istrimu?"


" Maksudmu?"


" Maksudku kwalitasnya?"


" Hahaha...secara kwalitas kau tau sendiri selera adikmu ini, pasti tidak jauh-jauh sepertimu. Jika secara kuantitas, yahhh....buatku dia sudah memenuhi standar kriteriaku."


" Hahhhh....tapi tidak seperti mantan istrimu kan? kau jangan cuma menilainya dari fisik saja Mike."


" Iya Will, aku tau itu. Namun aku yakin dengan pengalaman kegagalanku bersama istriku, aku bisa mulai mendidiknya untuk menjadi istri yang sesuai dengan yang kuinginkan."


" Memang yang kau inginkan seperti apa?"


" Yang kuinginkan? hemmmm....tidak jauh-jauh seperti istrimulah baik, ramah, sayang dengan papa dan juga setia. Begitu kan?"


" Ya memang begitu seharusnya. Tapi jangan menyamakannya dengan istriku lagi ya, awas aku bisa cemburu padamu...!!!"


" Hahaha....kau ini, mana mungkin istrimu itu tergoda denganku? dulu saja dia tidak mau, apalagi sekarang."


" Siapa tau kau khilaf."


" Jadi kau masih di bandara Will?"


" Ya, itu pesawat yang kunaiki baru saja terbang. Ya sudah aku pulang dulu ya, aku tidak mengabari istriku jika aku membatalkan kepergianku, pasti dia akan senang sekali mendapati suaminya pulang lagi."


" Hahaha...kau ini, kemesraanmu dengan istrimu memang tidak pernah ada habisnya ya."


" Yaaa...memang harus seperti itu Mike. Ya sudah ya."


" Ok Will, salam untuk istrimu." Kemudian telfonpun ditutup. William segera beranjak dari tempat duduknya, menatap sebentar pesawat yang hendak dinaikinya terbang.


" Hemmmm.....pergilah dulu, jika istriku sudah sembuh, aku akan kembali menaikimu." Kata William dalam hati.


Baru saja William selesai berbicara dalam hati, tiba-tiba pesawat itu meledak. Dan Williampun tidak dapat berkata-kata, seketika tubuhnya lunglai, dia baru saja selamat dari kecelakaan tersebut, jika saja papanya tidak melarangnya, mungkin dia sudah ikut hancur bersama pesawat itu.


Spontan dia mengambil handphonennya kembali, di tengah suasana riuh dan kacau karena banyak orang yang berlarian dan berteriak-teriak, dia menelfon papanya, dan mengabari perihal kecelakaan pesawat itu. Tidak ada kalimat lain yang dikatakan papanya, hanya ucapan syukurlah yang keluar dari bibirnya, demikianpun dengan William. Dia sedikit lama berada di situ, menyaksikan sendiri bagaimana petugas bandara dengan sigap menuju lokasi meledaknya pesawat itu. Hingga dia sendiri lupa bahwa dia harus segera pulang, jika saja dia tidak melihat arlojinya, mungkin saat ini dia masih berada di bandara dan ikut heboh bersama orang-orang lainnya.