
William siang itu tetap menunggu Dhea hingga pukul 12, namun batang hidungnya belum juga kelihatan. William tetap berpikiran pisitif, mungkin Dhea masih ada kegiatan tambahan. Hingga pukul satu William masih juga tetap tidak beranjak dari tempatnya semula, padahal saat ini Dhea sudah terlelap di atas tempat tidurnya. Tak lama kemudian terdengar William sedang menerima telfon dari seseorang.
" Apa!! Jadi dia sudah di rumahnya?"
" Semenjak kapan??"
" Kenapa kau tidak mengabariku, aku menunggunya di sini lebih dari satu jam."
" Ok terimakasih kalau begitu."
Kemudian William segera meninggalkan kampus Dhea dan kembali ke kantornya.
" Hhhhh....sialan hari ini pasti dia sengaja menghindariku, lalu kapan dia pulang? Aku sedari tadi menunggu di sana tapi tidak melihat sosoknya lewat di depanku. Hmmmm pasti ada yang tidak beres. Atau dia diantarkan oleh Bram? Aku harus segera mencari tau ", gumam William sambil terus menambah kecepatan mobilnya.
Sore harinya Dhea berangkat kerja seperti biasa. Kali ini Dhea tidak bisa menghindari William, karena Andrew hanya menjemputnya saat berangkat dan pulang ke kampus saja. Namun lagi-lagi Dhea mencoba mencari akal dengan berangkat lebih awal. Dhea pergi pada pukul 3, itu berarti 1 jam lebih cepat dibanding hari biasanya. Dan saat ini dia sedang duduk santai di dalam bus yang membawa dia ke tempat kerjanya.
" Hhhhhh.....William William kau tidak menyerah mengejarku, tapi aku juga tidak akan pernah menyerah untuk menghindarimu juga ", bisik Dhea sambil tersenyum.
" Haii Dhe kenapa kau berangkat lebih awal? Bukankah jadwal kerjamu baru jam 5 nanti?" Tanya salah seorang rekan kerjanya.
" Ya, aku memang sengaja berangkat lebih awal daripada tidak ada yang kukerjakan di rumah di rumah ", jawab Dhea sekenanya.
" Tapi kasir siang belum tutup buku?"
" Tak apa aku bisa menunggunya di atas sambil istirahat dulu ", tempat kerja Dhea memiliki 2 lantai,1 lantai di atas merupakan gudang barang dimana di sebelahnya juga terdapat satu ruangan untuk istirahat karyawan.
Dhea menunggu di sana sambil istirahat sejenak, hingga saat tiba waktu gilirannya yang menjaga kasir.
" Dhe bangun!! Waktunya kerja ", tiba-tiba Olive membangunkannya, rupanya dia menunggu hingga tertidur.
" Oh iya Liv ", jawab Dhea sambil beranjak dari sofa.
" Kenapa kau datang secepat ini?" Tanya Olive sambil menuruni tangga bersama Dhea.
" Pria itu selalu memintaku pergi bersamanya."
" Pria yang bersama kekasihnya malam itu, dan sempat menyuruhmu pulang dengan paksa itu?"
" Iya Liv siapa lagi?"
" Lalu kenapa kau menghindarinya? Bukankah dia amat tampan? Ooohh aku sungguh mau diantarnya jika kau tidak bersedia."
" Kau ini kebiasaan buruk!!" Jawab Dhea sambil mendorong tubuh Olive.
Tak lama kemudian Dhea asyik dengan pekerjaannya, hingga malam mulai merambat. Dhea melayani semua konsumen dengan ramah, senyumnya tak pernah hilang dari wajah dia, walaupun Bram tidak pernah menuntutnya untuk berbuat demikian, namun Dhea merasa bahwa apa yang dilakukannya saat ini adalah bentuk loyalitas terhadap pekerjaannya.
Sementara itu, William sudah terlihat rapi seperti hendak pergi. Wajahnya begitu suram seperti sedang menahan amarah. Entah apa yang dipikirkannya hingga dia menekuk wajahnya sedemikian rupa.
Tak lama kemudian dia berjalan dan masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan oleh asistennya sedari tadi.
" Hhhhh...aku harus menemui dia malam ini. Dia pikir bisa seenaknya mengerjaiku tadi siang sudah menunggunya begitu lama ". Ternyata William masih merasa kesal akibat kejadian di kampus Dhea tadi.
William segera memacu kendaraannya menuju tempat kerja Dhea. Setelah tiba di sana dia langsung memarkir kendaraannya dan segera turun menemui Dhea. Tanpa basi basi dia langsung menarik tangan Dhea keluar.
" Ayo ikut aku sekarang!"
" Hei apa apaan ini!!" Teriak Dhea.
William tidak menjawab pertanyaan Dhea dan terus saja menariknya. Sesampainya di luar William baru melepaskan tangan Dhea.
" Kau ini kenapa sih Will, seenaknya menarikku seperti ini?"
" Aku tanya sama kamu, tadi siang kau pulang dengan siapa?"
" Maksudmu apa?"
" Kamu jangan pura-pura bodoh ya, aku tau kamu sengaja menghindariku kan?"
" Kalau iya kenapa?"
" Aku itu tadi siang menunggumu di sana lama, tapi ternyata kau sudah duluan tiba di rumahmu!!"
" Siapa suruh menungguku? Aku tidak pernah memintamu untuk menjemputku!"
" Kau jangan coba melawan ya?"
" Lalu apa aku harus diam saja kau terus menyalahkanku? Begitu? Mana aku tau kau tadi menunggu di depan kampusku, kau tidak mengatakannya padaku bukan?"
" Jika aku mengatakannya pasti kau belum tentu mau kan?"
" Nah itu kamu tau, kenapa harus repot repot mengajakku berdebat?"
" Kau ini tidak pernah kapok ya melawanku?"
" Kamu yang tidak pernah kapok memaksaku, padahal sudah kutolak berkali-kali."
" Sudah hentikan...!! Sekarang masuklah kembali, aku akan menunggumu di sini hingga kau pulang, awas kalau kau kabur lagi!!" Kata William mengancam.
" Hhhhh pria menyebalkan!!" Gerutu Dhea. Lalu dia masuk kembali ke dalam melanjutkan pekerjaannya.
Sedangkan William duduk di depan sambil menunggu Dhea pulang.
" Sssttt....kenapa lagi? Pria itu sepertinya menyukaimu Dhe?"
" Biar saja Liv, padahal dia sudah berkali-kali kukasari tapi tidak pernah jera."
" Ya ampun Dhe, pria seganteng itu....!! Harusnya bermanis manis di depannya bukannya justru kau kasari."
" Hahhh bermanis-manis dengannya? Bahkan aku ingin menonjoknya saat ada di depanku ", gerutu Dhea.
" Iiihhh Dhea jangan begitu dong, jika kau tidak mau buatku saja ya, mana mobilnya keren lagi, pasti mahal."
" Hahaha aku sih mau Dhe, lalu dia mau tidak denganku?"
" Tanya saja dengannya jangan denganku!!"
" Iihhh aku malu, pasti belum sempat berbicara padanya, aku langsung pingsan Dhe karena menatap matanya yang tajam ooohhh!!"
" Oliiiivee....pergi sana...jangan menggangguku!!"
" Hahaha oke sayang, lanjutkan lagi kerjamu ya? Jangan sampai konsentrasimu terganggu, karena ada seorang pangeran tampan yang sedang menantimu di depan sana ", kata Olive sambil tertawa.
" Hhhhhh....pangeran tampan, tapi menyebalkan ", bisik Dhea.
Dhea terus saja menyelesaikan pekerjaannya, melayani konsumen yang hendak membayar barang belanjaannya, hingga waktu pulangpun tiba. Dhea keluar bersama dengan karyawan lainnya. Saat tau Dhea sudah siap untuk pulang, William segera berdiri dari duduknya, dan memberi senyum pada teman Dhea yang lain.
" Hei Dhe senyum pangeranmu sangat manis, rasanya aku ingin menjilatnya ", bisik Olive.
" Kau ini menjijikkan sekali ", jawab Dhea.
" Hallo tuan kau ingin menjemput temanku?"
" Ya nona, aku ingin menjemput Dhea."
" Hati-hatilah tuan, sepertinya moodnya sedang tidak baik jangan sampai wajahmu yang tampan itu dilukainya ya?" Kata Olive coba menggoda Dhea.
Dhea langsung melotot tajam ke arah Olive.
" Hahaha siap nona aku pasti akan mengikat tangannya jika dia berbuat seperti itu."
" Ya sudah aku duluan ya ", teriak Olive sambil melambaikan tangannya ke arah Dhea dan William.
" Kau tadi berangkat kerja jam berapa?" Tanya William saat sudah di dalam mobil.
" Untuk apa kau tanya-tanya?"
" Orang suruhanku tadi bilang kau berangkat lebih awal tidak seperti biasanya. Kenapa kau ingin menghindariku lagi kan?"
Dhea diam saja tidak menjawab. Dhea hanya bingung, kenapa hidupnya sekarang jadi seperti seorang maling yang selalu diawasi setiap waktu, padahal dia tidak memiliki salah apa-apa dengan pria di sampingnya itu. Dia bahkan tidak lagi memiliki kebebasan.
" Kau ingin langsung pulang?"
" Ya, memangnya mau kemana lagi?"
" Siapa tau kau ingin membeli sesuatu dulu."
" Tidak, aku tidak ingin membeli apa-apa."
" Oke kalau begitu aku yang ingin beli."
" Terserah kau, biasanya juga selalu begitu ", jawab Dhea pasrah.
William menghentikan mobilnya di sebuah toko roti.
" Ayo turun!" Kata William.
" Aku lelah Will, aku ingin segera sampai di rumah."
" Aku tidak ingin mengajakmu makan di sini, tapi hanya untuk memilihnya untukmu saja."
" Untukku?"
" Ya untukmu."
" Buat apa Will? Aku sudah kenyang."
" Untukmu makan besok pagi."
" Hhhh...kau sajalah yang pilih aku malas turun ", jawab Dhea lagi.
Akhirnya William masuk sendiri ke dalam toko tersebut dan keluar lagi membawa satu kotak besar berisi kue di tangannya.
" Nih nanti simpan di kamarmu ya? Dan jangan lupa kau makan, karena kuperhatikan kau sering melewatkan waktu makanmu, kau ingin diet? lihat tubuhmu seperti orang yang kurang makan saja."
" Bawel!!" gerutu Dhea.
Kemudian William kembali menghidupkan mesin mobilnya menuju rumah Dhea.
Setelah William pergi dan Dhea sudah berada di kamarnya, dia segera menelfon Andrew.
" Hallo Dhea ada apa menelfonku?" Jawab Andrew di sebrang sana.
" Maaf An, ini aku baru saja pulang dari tempat kerja, dan pria itu lagi lagi memaksaku untuk naik mobil bersamanya."
" Lalu?"
" Bagaimana jika besok kita pergi lebih awal, soalnya aku takut dia tau kau mengantarku. Tadipun dia marah-marah, karena tidak berhasil menemukanku di kampus, dan langsung menemuiku di toko."
" Hhhh menjengkelkan sekali dia ya?"
" Iya An sangat menjengkelkan. Jadi bagaimana bisa kan?"
" Iya Dhe kuusahakan. Jam berapa?"
" Hhhhmmm jam 7 saja kau ke rumahku."
" Ok Dhe sampai besok ya."
" Iya An sampai besok."
Kemudian telfonpun ditutup.