
Saat sedang asyik bercakap-cakap, bunyi detak sepatu yang beradu dengan lantai terdengar sedang mendekati mereka bertiga. Sebuah sapaan hangat segera terdengar.
" Haiiii...selamat pagi menjelang siang!!!" ternyata yang datang adalah Mike.
" Hai Mike..!!" Jawab Dhea dan William bersamaan.
" Sepertinya sangat menyenangkan mengobrol di sini bersama kalian ya."
" Hahaha tentu saja. Ayo duduklah di sebelah papa." Kata papa Mike sambil menarik kursi yang ada di sampingnya.
" Kau datang sendiri Mike?"
" Iya Will." Jawab Mike singkat, dan William tidak melanjutkan pertanyaannya, karena dia sudah tau pasti jawaban adiknya.
" Kau darimana nak?"
" Ohhh aku tadi dari rumah pah, dan memang sengaja ingin kemari." Jawab Mike sambil memperbaiki letak duduknya.
Seorang asisten datang sambil membawa teh panas, minuman yang memang selalu dipesan Mike jika berada di rumah papanya, sehingga tanpa memberitahupun, sang asisten sudah tau kebiasaan putra bungsu keluarga Anderson itu.
" Terimakasih." Jawab Mike singkat, dan sang asisten hanya menggangguk sambil tersenyum, lalu beranjak pergi kembali.
" Bagaimana cucuku nak?"
" Oh Devian baik-baik saja pah. Sepertinya dia tidak ingin merepotkan orang yang menjaganya, dia jarang sekali rewel pah."
" Anak yang baik, baguslah kalau begitu Mike." jawab papanya sembari mengambil teh di hadapannya, lalu segera menyeruputnya.
" Kalian sedang membicarakan apa sih? sepertinya serius sekali?" Tanya Mike.
" Serius sekali? tau darimana kalau kami sedang berbicara serius? kau kan baru saja datang?"
" Hahaha...tentu saja aku tau Will. Biasanya saat aku masuk kemari, jika kalian sedang duduk bersama seperti ini, tawa kalian itu sudah pasti akan terdengar dari kejauhan. Tapi semenjak aku mendekati arah ruangan ini, tidak terdengar sedikitpun tawa kalian. Aku pikir asisten rumah tangga tadi salah menunjukkan keberadaan kalian."
" Ohhh...begitu ya." Jawab William singkat, seolah enggan menjelaskan apa yang tadi sedang mereka bicarakan bertiga.
" Hahh...irit sekali jawabanmu Will? kau tidak ingin membocorkan pembicaraan kalian padaku?"
" Bukan begitu Mike...hemmmm...." William bingung harus menjawab apa. Jika dia mengatakan perihal apa yang mereka bicarakan tadi, sudah tentu sama saja dia akan mulai membahas juga persoalan rumah tangga Mike, dan dia tidak mau itu terjadi, kecuali Mike sendirilah yang membahasnya.
" Ooohhhh...ya..ya..ya, kalau boleh aku tebak, mungkin kalian sedang membicarakan permasalahanku bersama Deasy ya? sehingga tidak ingin membocorkannya padaku, karena khawatir aku tersinggung kan?" Mike sepertinya mulai bisa membaca situasi perasaan William yang enggan membahas pembicaraan mereka. Mike sangat paham watak kakaknya.
" Maafkan kami Mike. Tadi kami hanya sedang membahas Devian, karena kami khawatir dengan Devian."
" Begini nak." Kata papanya sambil membenahi posisi duduknya.
" Papa itu memikirkan keadaan Devian. Sudah jelas sekali bahwa Deasy itu tidak menginginkan Devian. Seperti yang papa katakan kemarin, lebih baik Devian ikut papa saja, daripada menjadi boomerang dalam rumah tangga kalian berdus."
" Lalu?"
" Namun ternyata Dhea justru melarang papa merawat anakmu, dan dia ingin Devian ikut dengannya ke Indonesia, dia ingin sekali membesarkan anakmu Mike." Mike diam saja, kepalanya hanya menunduk. Dia tidak menyangka bahwa permasalahan keluarganya itu sekarang, justru ikut menjadi beban pikiran orang tuanya dan juga saudaranya. Dia sangat terharu dengan kepedulian mereka pada Devian. Sedangkan Deasy yang merupakan ibu kandung Devian saja, ingin membuang anaknya sendiri.
" Mike? kenapa kau diam? kau tidak tersinggung kan dengan niat baik kami?"
" Ohhh ehhhh tentu saja tidak Will. Aku hanya tidak enak hati, karena telah melibatkan kalian semua dalam persoalan rumah tanggaku."
" Mike, Devian itu tetap keponakan kami, dan sudah selayaknya kami perduli padanya. Kau tidak keberatan kan jika aku dan suamiku merawat anakmu? aku janji akan membesarkan Devian dengan kasih sayang, dan tidak akan menyia-nyiakannya."
" Aku tidak ada maksud lain, hanya ingin membantu memberikan jalan keluar permasalahan keluargamu. Selamatkanlah rumah tanggamu bersama Deasy, dan biarkan kami membawa Devian pulang ke Indonesia, daripada nanti kau kehilangan istri untuk yang kedua kalinya."
" Tidak Dhe!!! aku sudah memutuskan untuk membesarkan Devian sendiri. Jika memang Deasy tidak mau, aku lebih rela kehilangan dia daripada kehilangan Devian."
" Maksudmu kau akan bercerai dengan Deasy?"
" Ya Will!! jika memang dia tidak mau menerima keputusanku, aku persilahkan dia keluar dari rumah. Untuk apa aku mempertahankan rumah tanggaku, sedangkan aku harus menyingkirkan darah dagingku sendiri, hanya demi seorang wanita yang tidak memiliki hati nurani seperti dia. Seekor binatang sekalipun Will, tidak akan mungkin membuang anaknya, tapi Deasy Will???" Mike berbicara sangat berapi-api, terlihat bahwa dia sedang menahan emosinya agar tidak meledak di tempat itu. Setelahnya, dia langsung menengguk minuman yang disediakan asisten papanya tadi.
William hanya menarik nafas panjang. Hatinya sangat miris memikirkan rumah tangga Mike yang begitu pelik. Namun apa boleh buat, seperti yang papanya bilang, mereka hanya bisa memberi saran saja, dan selebihnya keputusan ada di tangan mereka berdua. Dhea hanya menunduk saja. Merasa bingung sendiri, kenapa kehadiran Devian yang seharusnya menjadi cahaya dalam rumah tangga adiknya itu, justru malah menjadi pemicu masalah besar. Kenapa takdir Tuhan pada Devian tidak bisa mereka terima dengan ikhlas dan sabar? bukankah selama ini Tuhan telah memberikan kenikmatan duniawi begitu besar pada mereka berdua? dan saat inilah Tuhan mengujinya, namun ternyata mereka gagal, terutama Deasy.
" Jadi rencanamu selanjutnya bagaimana nak?" Papa Mike mulai ikut bicara.
" Maaf pah. Terus terang sepulangnya kalian dari rumah kami waktu itu, aku dan Deasy bertengkar hebat. Dan saat itu dia telah keluar dari rumah. Dia benar-benar keras kepala, dan tidak bisa sedikitpun menerima saran orang lain."
" Jadi Deasy dari kemarin tidak pulang?"
" Ya pah. Aku beri waktu dia hingga satu minggu. Jika dia tidak pulang, maka keputusanku sudah bulat, aku akan berpisah dengannya."
" Apa tidak sebaiknya kalian bicarakan baik-baik dulu Mike? sayang kan? rumah tangga kalian itu masih seumur jagung, mungkin saja butuh waktu lebih lama lagi untuk saling memahami satu sama lain."
" Percuma Dhe. Aku itu sudah berulang kali memberi dia masukan, tapi tidak ada satupun yang dia terima. Lalu untuk apa lagi aku mempertahankan dia, jika aku saja tidak pernah dihargainya?"
Dhea langsung diam. Benar juga kata Mike. Walaupun Mike itu tinggal di negara yang menjunjung tinggi sebuah emansipasi, namun keluarga Anderson itu bukan keluarga kebanyakan. Dulu mama Mike-pun sangat menghargai papanya. Walaupun mama Mike adalah orang berpendidikan, namun dia tetap menomorsatukan keluarga dibandingkan kariernya. Mungkin cara didik ora tuanyalah, yang membuat cara berpikir Mike sedikit berbeda dengan orang-orang yang ada di negara tersebut. Memang benar emansipasi itu penting, namun sebagai wanita tidak boleh menyalahi takdir, posisi laki-laki tetap harus dihargai sebagai seorang suami.
" Ya sudah nak. Jika menurutmu keputusan itu adalah yang terbaik, kami hanya bisa berharap, semoga ke depannya kau dan Devian bisa menjalani hidup yang lebih tenang lagi. Dan jika kau butuh bantuan, kami siap membantumu."
" Ya pah. Aku hanya butuh suport dan doa kalian, agar permasalahan ini bisa segera berakhir, dan aku bisa konsentrasi membesarkan Devian dengan keadaan yang lebih tenang daripada sekarang."