
Dhea dan William tertidur pulas sekali. Pesta pernikahan mereka sungguh menguras tenaga, sehingga tidak sedikitpun terjaga dari tidurnya. Hingga saat menjelang subuh Dhea terbangun, dan dia sedikit terkejut saat ada mahluk laki-laki yang sedang tidur memeluk tubuhnya dari belakang. Dhea baru ingat bahwa laki-laki itu adalah seseorang yang baru semalam menjadi suaminya. Dhea segera membalikkan badannya, dan menatap wajah William tanpa berkedip. Dengan pelan Dhea menyentuh bibir laki-laki itu dengan jemarinya, bibir yang semalam telah membangkitkan gairahnya, namun tertunda karena ada sedikit gangguan. Tiba-tiba William membuka matanya.
" Selamat pagi suamiku!" Kata Dhea.
" Selamat pagi istriku." Jawab William sambil tersenyum suaranya masih terdengar parau.
" Ayo bangun!! Kau punya kewajiban untuk sholat subuh sekarang dan harus mengimamiku." Kata Dhea.
" Tapi sayang aku masih mengantuk." Kata William sambil kembali merengkuh tubuh Dhea dalam pelukkannya.
" Heiii...ayolah, kita harus mandi besar dulu."
" Mandi besar? Kenapa? Bukankah belum terjadi apa-apa semalam?"
" Ya benar, tapi kau sudah merasakan sesuatu karena bergairah bukan?"
" Ya sedikiiiiit." Kata William sambil bercanda.
" Sedikit banyak sama saja, ayo bangun sayang!!!" Kata Dhea sambil meronta di dalam pelukan William. Bukannya melepaskan justru William semakin erat mendekapnya, dan mulai menggoda Dhea di telinganya.
" Sayang...jangan begitu...kita harus sholat subuh, tidak baik menunda sholat." Kata Dhea sambil terus menggeliat.
" Tapi kau harus janji, setelah ini kita akan melanjutkan yang tertunda semalam ya." Kata William mencoba membuat penawaran.
" Kau ini seperti belum pernah merasakannya saja." Gerutu Dhea.
" Memang sudah sering, tapi bersama orang yang sangat kucintai ini bukankah belum pernah???"
" Tapi sayang." Kata Dhea beralasan.
" Kau berani menolak permintaan imammu ini sayang???" Kata William seolah sedang mengintimidasi Dhea.
" Iya...iya...kau ini...Ayo mandi dulu!!! Dan ingat saat sholat nanti hilangkan pikiranmu tentang itu, atau kau tidak akan bisa konsentrasi menjalani ibadahmu nanti." Kata Dhea.
" Yesss....." Kata William. Dia segera berlari girang menuju toilet dan langsung mengguyur tubuhnya. Dhea hanya terbahak melihat suaminya begitu gembira seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru saja.
Setelah William dan Dhea selesai mandi, mereka berdua langsung menjalankan sholat. Walaupun sebenarnya William belum begitu fasih melafazkan ayat pendek, namun untuk seorang mualaf baru usahanya sudah patut diacungi jempol. Selesai mengucapkan salam Dhea menitikkan air mata. Dia sangat terharu karena impiannya untuk sholat berjamaah bersama dengan suaminya sudah tercapai. Kemudian Dhea mencium tangan William begitu lama.
" Sayang..." Kata William sambil mengangkat dagu istrinya itu, Dhea kemudian menengadahkan kepalanya, masih ada sisa air mata yang menggenang di pelupuknya
" Sayang kenapa kau menangis? Apa yang sedang kau pikirkan? Apakah aku telah membuat kesalahan?" Tanya William khawatir.
" Tidak sayang, aku hanya sedang merasa bahagia. Aku tidak menyangka bisa berjamaah denganmu, padahal aku dulu bahkan takut untuk membayangkannya, yang aku pikirkan saat itu bahwa pasti mau tidak mau kita akan berpisah." Kata Dhea di sela isaknya.
" Sayang, semuanya sudah berlalu. Aku dan kamu sekarang sudah bernaung di bawah panji yang sama yaitu Al Quran, jangan pernah takut lagi kita akan berpisah, kecuali mautNya."
" Ya sayang aku hanya setengah tidak percaya saja." Kata Dhea lagi.
" Ya kadang kita perlu meyakinkan diri untuk sesuatu di luar akal sehat kita, namun karena kuasaNya saat ini aku bisa berada bersamamu, di dalam ruangan ini, dan menjadi imam sholatmu."
" Semoga kau tetap islam hingga nafas terakhirmu nanti." Harap Dhea.
" Pasti itu sayang."
" Jangan pernah menangis lagi ya, aku itu menikahimu bukan untuk membuatmu menangis seperti ini. Ayo tertawalah, aku suka melihat wajahmu yang ceria itu. Bukankah bermuka masam di depan suami itu di dalam agama kita merupakan dosa besar?" Kata William.
" Nahhh...begitu baru benar." Kata William sambil tersenyum.
Dhea segera memeluk laki-laki di depannya itu, dan William segera menyambut pelukan istrinya.
" Aku sangat bersyukur sekali memilikimu sayang." Bisik Dhea.
" Akupun 10 kali lipat lebih bersyukur sayang." Balas William.
Tiba-tiba William melepaskan pelukkannya dan menatap Dhea, perlahan dia mendekatkan bibirnya ke bibir Dhea.
" Aku ingin menagis janjimu sayang." Bisik William pelan, dan tatapannya tak sedikitpun beralih pada mata bulat Dhea.
" Sayaaaanggg....aku lapaaaarrr....!!!" Kata Dhea tiba-tiba.
" Kau tidak sedang mempermainkanku kan?" Kata William sambil menghentikan gerakannya.
" Ssstttt....diamlah, dengarkan suara perutku." Kata Dhea. Kemudian William mendekatkan kepalanya ke perit Dhea, dan terdengarlah suara perut Dhea yang keroncongan minta diisi.
" Kau ini, padahal badanmu kurus tapi ternyata gampang sekali lapar, masak sepagi ini perutmu sudah menagih makanan?"
" Kau pikir suara itu aku yang mengarangnya sendiri?"
" Ya sudah, keluar yuk!" Ajak William sambil menarik tangan Dhea untuk berdiri.
" Memangnya sudah ada masakan? Bukankah asisten rumah tangga kita masih kau liburkan semua?"
" Ya, aku pikir kehadiran mereka semua bisa membuyarkan konsentrasi malam pertama kita."
" Dan ternyata? Kata Dhea.
" Dan ternyata tanpa merekapun malam pertama kita sudah gagal." Gerutu William.
" Hahaha...kau ini tidak sabaran sekali. Bukankah nantipun kita pasti akan melakukannya sayang?"
" Ya, tapi kau tau sayang, kepalaku sudah pusing sekali dari semalam karena harus terus menundanya."
" Hahahaha....kau minum obat sakit kepala saja dulu bagaimana?"
" Hehhhh...setelah itu aku langsung tertidur dan lupa semuanya, begitu kan maksudmu?" Kata William sambil bersungut-sungut.
" Ayolah sayang, jangan cemberut begitu. Bagaimana jika setelah sarapan nanti kita keliling-keliling komplek menikmati udara pagi di sini? Biar badan kita sehat." Kata Dhea.
" Hemmmm boleh." Kata William sambil menarik kursi makan yang ada di depannya. Sementara itu Dhea menyiapkan bebarapa potong roti dan juga susu panas untuk mengganjal perut mereka berdua.
Setelah itu mereka berdua terlihat asyik menikmati sarapannya.
" Ayo jadi jalan-jalan pagi tidak sayang??" Teriak William saat mereka sudah selesai sarapan.
William membuka pintu rumahnya. Udara segar langsung menerpa kulitnya. Dia lalu membentangkan kedua tangannya sambil menghirup dalam-dalam udara itu.
" Iya sebentar." Jawab Dhea sambil mencuci tangannya, kemudian segera keluar menyusul William, dan kemudian merekapun berjalan bergandengan sambil menyusuri setiap gang rumah mereka.