Something different

Something different
Curhat dengan ibu Dhea



Sepulang dari kampusnya mengajar, Dhea pergi ke rumah ibunya, hatinya benar-benar sedang galau karena kemarahan William padanya. Dia sebenarnya sangat bingung dengan keputusan yang harus diambilnya, di sisi lain dia tidak ingin mengecewakan orang tuanya dan juga tidak ingin terlalu bergantung pada suaminya, dan di sisi lain dia ingin mempertahankan keharmonisan rumah tangganya. Dhea duduk di kursi belakang kendaraan yang dikemudikan oleh supirnya. William tidak pernah mengijinkannya lagi membawa kendaraan sendiri karena begitu khawatir dengan kondisi keselamatan istrinya jika harus berkendara sendiri.


Setelah tiba di rumah orang tuanya Dhea segera turun, dan mengetuk pintu rumah mereka.


" Assalamaualaikum." Sapa Dhea sambil membuka handle pintu yang tidak terkunci itu.


" Wa'alaikum salam." Jawab Ibunya.


Dhea berusaha terlihat gembira agar orang tuanya tidak tau bahwa hatinya sedang bersedih.


" Nak, tumben kau sendirian, mana suamimu?" Tanya ibu Dhea keheranan karena setelah menikah tidak pernah Dhea datang sendirian ke rumah orang tuanya itu.


" William sedang ke London bu, ada urusan pekerjaan. Ibu masak apa?" Tanya Dhea sambil membuka penutup makanan di meja.


" Ibu masak sayur asam, makanlah." Kata ibunya.


" Ahhh malas bu." Jawab Dhea sambil menutup kembali makanan itu.


" Tumben kau malas makan masakan ibu, biasanya jika ke sini apapun yang ibu masak selalu kau makan." Kata ibunya sambil menatap Dhea.


" Wajahmu pucat, kau sedang sakit?"


" Tidak bu, aku hanya sedang merasa tidak bergairah saja, sepertinya tubuhku tidak bertenaga." Kata Dhea sambil menelungkupkan kepalanya di meja makan.


" Hemmmmm...kau sedang rindu suamimu ya??? Sudah berapa hari dia di sana?"


" Sudah satu minggu bu." Jawab Dhea singkat.


" Lama sekali? Memangnya pekerjaannya itu sangat penting ya, sehingga harus selama itu meninggalkanmu? Masih berapa lama dia di sana?"


" Aku tidak tau bu."


" Lho bagaimana kamu ini? Suamimu pergi berapa lama kau tidak tau." Kata ibunya.


" Dia juga tidak bisa memastikannya bu, katanya bisa satu minggu, dua minggu, atau bahkan 1 bulan."


" Aneh sekali, bekerja kok tidak tau batasan waktunya. Kalian tidak sedang ada masalah kan?" Tanya ibu Dhea curiga.


" Tidak bu, kami baik-baik saja kok."


" Kalau begitu telfon suamimu sekarang, tanyakan pada dia kapan pastinya dia pulang."


" Tidak bu, aku tidak mau menelfonnya, biar dia sendiri yang menelfonku."


" Hemmmm.....ibu semakin yakin pasti kalian berdua sedang ada masalah kan? Kalau tidak kenapa kau menolak untuk menelfonnya? Ayo jangan bohong dengan ibu." Kata ibu Dhea penasaran.


" Kami baik-baik saja bu." Kata Dhea mencoba meyakinkan ibunya.


" Nak, Ibu itu yang melahirkan dan membesarkanmu, jadi ibu sangat hafal sifatmu. Ayo ceritakan pada ibu, kamu itu bukan type orang yang kuat untuk menahan perasaan rindu kan? Apalagi dengan orang yang kau sayang."


" Kenapa ibu tidak percaya padaku?"


" Karena ibu itu mengenalmu Dhea. Ayo katakan jangan sungkan-sungkan siapa tau ibu bisa membantumu."


" Tapi bu, Dhea malu jika harus menceritakan persoalan keluarga Dhea pada ibu, Dhea takut jadi beban pikiran ibu nanti."


" Dhe, saat seorang anak sudah berkeluarga, tidak ada satupun yang berhak mencampuri urusan keluarganya, sekalipun itu orang tuanya. Tapi jika hanya sekedar memberi nasihat demi keutuhan rumah tangga anaknya itu apa salahnya? Ayolah ceritakan pada ibu, siapa tau ibu bisa membantu."


" Ada apa sebenarnya sehingga kau sekhawatir itu menceritakannya semua?"


" William meminta Dhea berhenti bekerja bu."


" Lalu kau tidak bersedia begitu kan?"


" Iya bu. Dhea tidak ingin mengecewakan ibu dan ayah yang sudah berjuang bersusah payah menyekolahkan Dhea hingga ke negara orang. Sudah banyak biaya yang ibu keluarkan untuk Dhea di sana."


" Dhea...Dhea...itu sudah kewajiban ibu dan ayah untuk memberimu pendidikan yang layak, jika kau nantinya bisa menggunakan ilmu itu dengan baik di dunia pekerjaanmu berarti itu sudah rejekimu, jika tidak kami juga tidak menuntutmu untuk meraih semua itu." Kata ibu Dhea sambil tersenyum.


" Maksud ibu?"


" Nak, ibu itu menyekolahkanmu untuk membuatmu pintar dan tidak untuk mewajibkanmu bekerja kemudian membalas budi pada kami sebagai bentuk terimakasihmu pada ayah dan ibu."


" Ilmumu itu tidak hanya bisa kau manfaatkan di dunia kerjamu saja, tapi di kehidupan sehari-harimupun bisa. Apa jadinya jika setiap orang tua menuntut anaknya untuk bisa bekerja sesuai dengan tingkat pendidikannya. Mau berapa banyak perusahaan yang bisa menampung mereka semua?"


" Jadi maksud ibu, ibu tidak keberatan jika Dhea keluar kerja?"


" Sangat tidak keberatan nak. Ibu justru akan lebih bangga jika bisa melihatmu berbahagia bersama keluargamu, menjadi istri sholehah untuk suamimu, dan menjadi ibu yang pintar untuk anak-anakmu. Baktimu pada suamimu itu sudah menjadi balasan baktimu pada kami. Dengan kamu berbakti pada suamimu, kamu telah menyelamatkan kami dari siksa neraka akan pertanggungjawaban kami mendidikmu selama di dunia nak."


" Tapi Dhea ingin sekali bisa membelikan ibu dan ayah sesuatu dengan hasil keringat Dhea sendiri bu."


" Milik suamimu adalah juga milikmu, jika suamimu melarangmu bekerja dan dia sudah siap memenuhi segala kebutuhanmu. Itu berarti kau harus menaatinya. Apapun yang kau beri walaupun itu bukan hasil jerih payahmu sendiri, ibu akan dengan rasa lega menikmatinya, karena ada keikhlasan darimu untuk menyerahkan seluruh jiwa raga mengabdi pada suamimu. Dan Alloh akan Ridho dengan semua itu, dibanding kau mengabaikan suamimu dan lebih mementingkan pekerjaanmu."


" Jadi benar ibu ikhlas Dhea berhenti bekerja?"


" Insyaalloh ibu dan ayah ihklas nak jika itu demi keutuhan keluargamu. Bukankah kau juga tidak merasa kekurangan?"


" Iya bu, tapi Dhea takut."


" Takut apa nak?"


" Takut Dhea tidak ada harganya lagi di mata William."


" Dhea...Dhea...keberadaanmu sebagai istri sholehah itu lebih berharga dari harta apapun. Kau jangan takut. Maka itulah gunanya ibu menyekolahkanmu, agar kau bisa jadi anak pintar, pintar urus suami, pintar membahagiakan suami, dan pintar mencari solusi setiap persoalan dalam doa yang kau panjatkan padaNya, dan yang paling penting pintar membuat suamimu selalu tergila-gila padamu sehingga dia tidak akan mungkin berpaling pada wanita lain. Bagaimana berguna kan sekolah tinggimu itu walaupun profesimu hanya sebagai ibu rumah tangga?"


" Iya bu terimakasih bu, Dhea jadi lega sekarang."


" Nak cara berpikir orang yang berilmu tinggi dengan yang tidak itu berbeda, itu nantinya yang akan membedakanmu dalam profesimu sebagai istri sekaligus sebagai calon ibu untuk anak-anakmu."


" Bu, aku beruntung sekali dibesarkan dalam keluarga ini. Terimakasih telah menjadi orang tua yang baik untuk Dhea."


" Ya nak, terimakasih juga sudah menjadi anak yang selalu membuat ibu dan ayah bangga kepadamu. Pulanglah dan telfon suamimu, ciptakan suasana harmonis dalam keluargamu kembali sehingga suamimu selalu ingin berada di sampingmu."


" Ya bu pasti itu. Dhea tidak akan membiarkan ada pihak ketiga yang merusak keutuhan rumah tangga kami."


" Ya nak bukan hanya wajah cantik saja yang bisa membuat seorang suami betah berada di samping istrinya, tapi juga bagaimana kita memperlakukan seorang suami agar bisa terus bergantung pada kita dan merasa tidak bisa hidup tanpa kita." Kata ibunya.


" Hemmmm....pantas saja ayah tidak bisa jauh-jauh dari ibu, hanya untuk membuatkan secangkir kopi saja ayah selalu menunggu ibu dan tidak ingin orang lain yang membuatkannya."


" Hahaha karena ibu punya resep khusus agar ayahmu ketagihan kopi buatan ibu nak."


" Hahaha ibu ini." Kata Dhea, kemudian mereka tertawa bersama.


Hai reader author masih punya beberapa tema untuk novel selanjutnya, sekedar minta saran saja, untuk novel selanjutnya kalian lebih suka yang bergenre romantis lagi or komedi ya? Tolong sarannya, karena author ingin membuat novel sesuai dengan harapan kalian semua agar tetap bisa kalian nikmati dan tentunya tidak bosan untuk membacanya 🙏🙏🙏🙏