Something different

Something different
Kebahagiaan Sempurna



Masa-masa kehamilan Dhea yang begitu berat tetap dijalaninya dengan sabar. Walaupun terkadang untuk bergerak saja sulit, namun harapannya untuk bisa melihat buah hatinya sehat, membuatnya begitu bersemangat. Segala hal yang dianjurkan dokter dia jalani dengan baik, walaupun terkadang sangat membosankan.


Sedangkan hubungan Mike dan istrinya semakin memanas. Tidak ada itikad baik Deasy untuk meminta maaf pada suaminya itu, hingga pada akhirnya Mike memutuskan untuk menemui Deasy di rumah orang tuanya.


" Hemmm.....ada apa kau datang kemari?? Apa kau ingin memintaku pulang??" Tanya Deasy ketika Mike datang ke rumah.


" Hehhhh...ternyata kau masih percaya diri sekali Deasy. Sifat keras kepalamu tidak berubah sama sekali!!"


" Lalu apa pentingmu datang ke rumah ini? Bukankah kau telah mengusirku???"


" Aku tidak mengusirmu, tapi kau sendiri yang keluar dari rumah. Aku hanya bilang, jika kau memang tidak ingin memperbaiki semuanya, kau bebas memilih apapun yang kau inginkan, itu saja. Dan ternyata kau memilih keluar dari rumah."


" Tapi kata-katamu seolah menyiratkan, bahwa kau tidak ingin mempertahankan hubungan kita!!!"


" Siapa bilang?? Aku sudah berkali-kali berusaha berbicara baik-baik denganmu, tapi kau tidak bisa diajak kompromi sama sekali, bahkan semakin menjadi-jadi. Kau semakin melawanku dan tidak menghargai papa dan saudaraku."


" Kau yang selalu mementingkan dirimu sendiri dan keluargamu..!!"


" Mementingkan bagaimana? Aaahhh kau ini memang bebal sekali..!! Aku kemari hanya ingin bilang, bahwa aku sudah mendaftarkan perceraian kita."


" Apa???? Kau akan menceraikanku???" Deasy amat terkejut, seakan tidak percaya dengan keputusan Mike yang selama ini dia tau sangat mencintainya.


" Ya keputusanku sudah bulat, kita bercerai!!"


" Kau memang sengaja tidak ingin mempertahankan rumah tangga kita, Mike!!!"


" Mempertahankan itu harus dua orang Deas, jika hanya satu saja percuma!!! akhirnya akan kalah juga. Aku tunggu kau di pengadilan!!" Sambil berjalan pergi.


" Mike...!!! Tunggu...!! Kita harus berbicara baik-baik!!"


" Berbicara baik-baik katamu??? Kau pikir selama ini aku tidak berbicara baik-baik??"


" Keputusanku tidak dapat berubah lagi Deas, selamat siang!!!" Lalu pergi.


" Mike.....!!!"


Akhirnya teriakan Deasy tidak didengar lagi oleh Mike, dan hanya memenuhi seluruh ruangan rumahnya saja.


Kehidupan Mike di Londonpun akhirnya harus dijalani berdua bersama Devian. Rumah tangga mereka berakhir dengan ketok palu hakim.


Perusahaan William yang dijalankan oleh Daniel semakin maju dan berkembang pesat. Untungnya William memiliki orang-orang yang dapat dipercaya, sehingga dia tidak khawatir akan keberlangsungan usahanya di London.


Kehamilan Dhea yang semakin besar membuat Dhea semakin kepayahan, bahkan sering merasa sesak dan sulit berbaring. Namun selalu ada William yang selalu menemaninya, bahkan William rela begadang jika mendapati istrinya tidak dapat tidur.


Karena memikirkan kondisi Dhea, maka dokter menyarankan agar proses kelahiran anaknya harus dilalui dengan operasi caesar, dengan pertimbangan bahwa kehamilan sebelumnyapun dia sudah melakukan operasi juga. Sebenarnya Dhea sangat ingij merasakan bagaimana proses melahirkan normal, namun dokter tidak ingin mengambil resiko yang akan dihadapi Dhea, terlebih saat ini di perutnya terdapat 2 janin.


Dan hari ini proses operasi caesar dilaksanakan. Dengan ditunggui William dan kedua orang tua Dhea, semuanya menunggu harap-harap cemas. Bahkan William tidak bisa duduk diam, dia terus berjalan kesana kemari sambil sekali-sekali mengintip di balik pintu, yang sebenarnya tertutup rapat dan tidak terlihat sama sekali dari luar.


Kedua orang tua Dhea terduduk di kursi panjang, yang ada di depan ruang operasi. Tangan mereka saling berpegangan, seolah ingin menguatkan satu sama lain. Keringat William terus menetes di pelipisnya, hingga sebentar-sebentar dia harus mengelapnya.


" Ya Allah selamatkanlah istri dan anakku. Berilah aku kesempatan untuk menjaga kedua amanahmu itu." Doa William terus berkemandang di hatinya.


Sedangka Dhea di dalam, sedang berjuang dengan maut. Diapun tak henti-hentinya menyebutkan asma Allah, memohon keselamatan untuk kedua buah hatinya. Samar-samar dia mendengar suara dokter yang mengatakan sebuah kalimat, pertanda bahwa proses mengeluarkan bayi telah selesai. Dan itu artinya, kedua buah hati mereka sudah berada di luar. Dhea tidak perduli bahwa saat ini perutnya sedang dirobek-robek, dia tidak perduli setelah ini perutnya akan meninggalkan bekas operasi yang mungkin tidak akan hilang selamanya. Yang dia pikirkan saat ini, dia ingin segera melihat kedua buah hatinya. Dia yang selama ini tidak ingin tau mengenai jenis kelamin bayinya itu menebak-nebak dalam hati, laki-laki atau perempuankah dua bayi yang dilahirkannya.


Proses penutupan luka operasi selesai dikerjakan. Perlahan suara pintu terdengar dibuka dari dalam, satu-persatu petugas yang membantu persalinan Dhea keluar.


William dan kedua orang tua Dhea bergegas mendekat. Dokter spesialis wanita yang selama ini membantu perawatan istrinya, berjalan mendekat.


" Tuan, selamat ya. Istri dan kedua anak anda selamat, sehat, sempurna dan tidak kurang satu apapun."


" Alhamdulillah...!!" Ucap syukur terdengar dari mulut William dan kedua mertuanya.


" Anak saya laki-laki atau perempuan dokter??"


" Anda lihatlah sendiri ke dalam. Temui istri anda, anak anda sedang dibersihkan, tunggu saja sebentar."


" Terimakasih banyak dokter." Kata William sambil menjabat erat tangan sang dokter.


William sudah tidak sabar lagi menemui istrinya. Buru-buru dia masuk, diikuti kedua mertua di belakangnya.


" Sayaaang...!!" Panggil William. Dilihatnya wajah lelah sang istri. William langsung mendekati Dhea, lalu memeluknya.


" Ya sayang. Terimakasih juga selalu menemani hari-hari beratku selama kehamilan anak kita. Semoga kita berdua bisa menjaga amanahNya, dan mendidiknya agar senantiasa selalu cinta kepada Rabbnya.


" Amiin."


Disaksikan kedua orang tua Dhea yang juga ikut terharu, mereka berpelukan begitu lama, hingga lupa bahwa mereka sedang berada di ruang operasi. Kemudian orang tua Dhea mendekat.


" Nak?" Panggil ibunya. Perlahan William melepaskan pelukannya.


" Ehhh...maaf bu, aku terlalu gembira, hingga melupakan kalian."


" Tidak apa-apa nak Will." William lalu berdiri, dan mempersilahkan ibu Dhea mendekat.


" Nak selamat ya, Allah menggantinya 2 kali lipat. Kau kehilangan satu bayi, dan hari ini kau mendapatkan 2 bayi. Nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?"


" Iya bu. Allah maha segalanya. Dia sebaik-baiknya pembuat rencana."


" Dan tugasmu sekarang nak, untuk mendidik anakmu di jalan Allah. Jadikan dia anak-anak yang senantiasa bersikap dan bertindak sesuai syariatNya."


" Inshaallah bu. Aku akan berusaha sebaik mungkin, seperti ayah dan ibu mendidikku dulu."


" Permisi...!!" Tiba-tiba ada dua orang suster mendekat, ditemani dokter spesialis yang merawat Dhea.


" Maaf nyonya, ini bayi anda."


" Ohhh iya dok." Jawab Dhea, wajahnya terlihat gembira sekali.


Perlahan dua orang suster mendekat.


" Nyonya ini bayi anda." Sambil meletakkan dua bayi dalam pelukan tangan kanan dan tangan kiri Dhea. Bayi mungil berkulit putih, berhidung mancung, dan sangat dominan mewarisi gen William.


" Dokter, mereka berdua laki-laki atau perempuan?" Tanya Dhea yang belum mengetahui jenis kelamin bayinya.


" Anda mendapatkan keduanya nyonya."


" Maksud dokter??"


" Anda bisa lihat dari kain yang dikenakannya nyonya." Dhea memang tidak memperhatikan maksud warna kain yang digunakan bayinya, yang di tangan kanannya berwarna biru, sedang kirinya berwarna pink.


" Jadi??"


" Iya nyonya, anda mendapatkan dua pasang bayi." Jawab dokter sambil tersenyum.


" Maha besar Engkau ya Allah..!!" Ucap Dhea, dia tak kuasa lagi menahan air matanya. Allah benar-benar membuat hidupnya sempurna.


William dan kedua mertuanyapun, ikut menangis bahagia.


" Sayang....Allah begitu sayang dengan kita, Dia telah mengganti semuanya hari ini." Kata William. Dhea hanya menggangguk saja, tanpa bisa berbicara apa-apa.


Kebahagiaan itu telah datang. Di hari upacara potong rambut dan aqiqah yang diadakan di rumah milik William, dihadiri oleh semua kerabat dekat dan tetangga sekitar. Dan yang paling membahagiakan, papa Williampun datang bersama rombongan. Ada Mike, Bram, Daniel, nyonya Christi, dan beberapa saudara lainnya. Kemeriahan acara disambut gembira oleh semuanya. Papa William sangat gembira mendapati dua cucu kembarnya itu ternyata sangat mewarisi gen William. Sepasang bayi laki-laki dan perempuan, yang kemudian hari akan menjadi penerus keturunan keluarga Anderson yang sangat termasyhur di negara London.


Adnan dan Adnin...nama indah yang akhirnya disematkan pada sepasang bayi tersebut, berisi harapan dan doa agar kedua anak mereka selalu diberkahi kebaikan yang abadi. Kebaikan dunia dan akhirat, dan senantiasa menjadi anak yang mencintai dan dicintai Robbnya.


Dan pada akhirnya segala cobaan telah terlewati. William serta Dhea mampu menjalaninya dengan ikhlas. Hidup terus berjalan, dan segala halangan tidak akan mungkin berhenti di situ saja, pasti masih ada hal yang lain di kemudian hari yang menjadi ujian mereka berdua. Allah akan terus selalu menguji hambanya yang beriman, sebagai bentuk cara Dia melihat, seberapa jauh cinta hambaNya kepadaNya. Setiap manusia yang mampu melaluinya dengan tulus dan ikhlas, dan selalu berserah diri padaNya, di kemudian hari pasti akan berbuah manis, dan Allah akan menaikkan derajadnya.


Putra dan putri Dhea tumbuh menjadi anak-anak yang sehat dan cerdas. Adnan yang begitu tampan, dan Adnin yang begitu cantik, membuat semua orang tak pernah bosan memandang dua anak tersebut. Namun akhlak mereka yang sangat baik, tidak menjadikan mereka berdua sombong dianugerahi segala kelebihan yang tidak dimiliki oleh anak seumurannya. Mereka tetap menjadi anak-anak yang baik, menyayangi dan menghargai teman-temannya, bertutur kata sopan, dan menghormati yang lebih tua.


Hubungannya dengan Devianpun sangat luar biasa. Mereka sangat menyayangi saudaranya yang kekurangan itu, bahkan tidak malu sama sekali memiliki saudara berkebutuhan khusus. Setiap pulang ke London, mereka berdua pasti bermain bersama Devian. Untungnya mereka menguasai dua bahasa, bahasa Inggris dan Indonesia, sehingga tidak memiliki kendala saat harus berkomunikasi dengan keluarga papanya.


Kehidupan Mike disibukkan dengan mengurus Devian, sehingga dia lupa untuk mencari lagi pendamping hidupnya. Dia sangat konsentrasi menjadikan Devian mandiri, menyekolahkan dia di sekolahan yang memang khusus untuk orang-orang seperti Devian. Segala skill yang dimiliki Devian diolah di sana, sehingga nantinya dia dapat mandiri walaupun tidak mampu melihat.


Bram, pada akhirnya menikah dengan seorang wanita dari kalangan biasa. Karena dari dulunya dia memang tidak terlalu menyukai wanita dari kalangan elite. Karena menurutnya wanita dari kalangan elite tuntutannya terlalu banyak. Dia bertemu dengan wanita itu saat sedang duduk santai di taman. Wanita yang sedang asyik mengawasi murid-muridnya bermain di taman. Wanita sederhana yang berprofesi sebagai guru tk, benar-benar menyentuh hatinya. Penampilannya yang anggun, dan tutur sapanya yang sopan, mengingatkan dia pada sosok Dhea. Ya...lagi-lagi Dhea yang menjadi inspirasinya. Sehingga pada akhirnya Bram mantap menikahi wanita itu.


Daniel


Hahaha...Daniel tetap saja gila dan tetap memegang prinsip hidup bebas itu indah. Dia tetap tidak ingin terikat dengan sebuah pernikahan. Namun setiap ditanya oleh William, dia pasti akan menjawab, bahwa dia akan berhenti, jika dia sudah benar-benar bosan menikmati keindahan dunia ini. Dan Williampun pasti hanya geleng-geleng kepala saja.


Hidup itu adalah pilihan. Kita semua bebas menentukkan apa yang menjadi prioritas dalam hidup kita masing-masing. Namun yang perlu kita ingat, hidup itu cuma sesaat. Dan kita ada di dunia itu bukan karena kebetulan, dan muncul secara tiba-tiba. Setiap hal yang diciptakan Allah di dunia ini, pasti ada maksud dan tujuannya, begitu juga manusia. Jangan menjadi mahlukNya yang sia-sia. Waktu satu menit yang telah terlewati, tidak akan mungkin kembali lagi. Kita juga tidak mungkin bisa menghentikan waktu. Manfaatkan hidupmu dengan baik, selama kesempatan itu masih ada. Allah memberikan kita umur panjang, karena Allah masih memberikan kita kesempatan untuk bertobat, pahami itu!! jangan sampai terlena, seolah kau akan hidup selamanya!!!


Tamat