Something different

Something different
Ketakutan Dhea



William terus menggandeng tangan Dhea masuk ke dalam apartemennya. Dhea tidak berani berbicara sepatah katapun. Dia masih shock melihat kemarahan kekasihnya itu.


" Kau ganti bajumu dulu sayang!" Perintah William pada Dhea.


Dia lalu segera menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Dan mengusap usap wajahnya dengan kedua tangan. Berusaha menghilangkan penat yang baru saja melandanya. Dhea masih saja berdiri di depan William, dan tidak berani sedikitpun beranjak dari posisinya.


Saat William membuka matanya, dia melihat Dhea masih belum mengganti bajunya.


" Lho sayang, kenapa belum mengganti bajumu? Lihatlah bajumu kotor sekali. Heemmm apa kau ingin aku yang menggantikan untukmu?" Goda William.


" Aku....???" Kata Dhea gugub sambil menundukkan wajahnya.


" Kenapa kau jadi gugub seperti iini?" Tanya William sambil berdiri.


" Ehhh...aku tadi takut sekali melihatmu marah seperti itu." Kata Dhea pelan.


" Ya ampun sayangg...maafkan aku ya? Tapi kan aku tidak marah denganmu!!" Kata William sambil menarik dagu Dhea dan menatap matanya.


" Jadi kau tidak marah padaku? Kau tidak cemburu melihat pemandangan tadi?"


" Aku sangat cemburu Dhe?"


" Tapi kau kenapa hanya marah pada laki-laki itu? Dan tidak padaku?"


" Karena aku percaya, bahwa kau itu tidak pernah mengkhianatiku."


" Kenapa bisa semudah itu kau menyimpulkannya?"


" Aku itu sangat mengenalmu sayang, aku saja yang sudah berpacaran denganmu dan mempunyai banyak kesempatan kau tidak pernah mengijinkanku untuk memelukmu, pria itu enak saja datang-datang langsung memelukmu."


" Memelukku?"


" Ya, Paula telah mengirim foto-fotomu saat pria itu memeluk tubuhmu."


" Memeluk tubuhku??" Kata Dhea bingung. Dhea langsung mengingat ingat kapan pria itu pernah memeluknya.


" Oh iya Will! Aku baru ingat pria itu pernah menabrakku, kalau begitu dia memang sengaja melakukannya dan mengambil fotoku?"


" Ya begitulah Dhea."


" Jadi kau benar tidak marah padaku?" Tanya Dhea manja.


" Iya sayang, aku lebih percaya kekasihku sendiri daripada orang lsin."


" Hehhh...aku tadi sudah sangat khawatir."


" Mana mungkin aku bisa marah, apalagi jika aku melihat wajah polosmu yang tanpa dosa ini sayang."


Kata William sambil membelai kepala Dhea.


" Terimakasih ya sayang, sudah percaya padaku?"


" Ya sebuah hubungan itu memang harus dilandasi rasa saling percaya Dhe, jika tidak pasti akan sering menimbulkan pertengkaran."


" Hemmmm...jika kau mau laki-laki itu kubuat lebih mengenaskan dari yang tadi pagi."


" Ihhh...kau ini katanya percaya padaku!!"


" Tapi bukan berarti kau boleh berdekatan dengan laki-laki lain sayang." Kata William sambil mencubit pipi Dhea.


" Hehehe aku pikir boleh." Jawab Dhea sambil tersenyum.


" Ayo ganti bajumu dulu sana!"


" Ok bos." Jawab Dhea sambil berjalan menuju kamarnya.


Tak lama kemudian Dhea sudah keluar lagi dan duduk di samping William.


" Kau tadi sudah sarapan sayang?" Tanya William.


" Sudah, tapi cuma baru separuh kumakan kemudian ada insiden tadi."


" Aku tidak habis pikir ternyata Paula masih menaruh dendam padaku."


" Itulah Will, jika manusia selalu diliputi dendam hidupnya tidak akan tenang. Lihatlah dia terus saja menyibukkan diri mencari cara untuk membalasmu, padahal itu sudah membuang waktu percuma, seharusnya dia bisa melakukan pekerjaan yang lebih bermanfaat bukan terus terusan pusing memikirkan dendamnya."


" Ya, aku juga bingung kenapa dia tidak mencari laki-laki yang mau menikahinya dan mencintai dia dengan tulus, bukan terus menghinakan dirinya di hadapanku."


" Yah mungkin saja dia ingin mencari seorang laki-laki sempurna. Padahal kita bisa tau sempurnanya seseorang itu jika sudah hidup bersama dengannya."


" Maksudmu Dhe?"


" Ya, aku tidak tau watak aslimu sekarang, karena selama ini kita hanya bertemu beberapa jam saja, itupun kita hanya menghabiskan waktu untuk ngobrol, jalan-jalan dan senang-senang. Pernikahan itu bukan hanya sekedar untuk memiliki pendamping hidup yang tampan dan mapan saja yang bisa diajak tertawa terus tapi harus bisa diajak menangisbersama juga, bahkan lebih dari itu."


" Memangnya kau sudah pernah menikah sehingga tau seperti apa kehidupan pernikahan itu?"


" Hahaha...karena sudah banyak temanku yang menikah, dan sering menceritakan permasalahan keluarganya padaku, sehingga aku bisa tau sedikit tentang sebuah pernikahan Will."


" Hehh...tapi bagiku yang penting kita bisa saling mencintai lalu saling menerima kelebihan dan kekurangan, itu sudah cukup Dhe."


" Itu bagimu Will, tapi belum tentu semua bisa berjalan lancar saat kau sudah menikah. Terkadang cinta itu bisa terkikis hanya karena masalah kecil. Apalagi kalau sudah berbicara masalah hak dan kewajiban, itu bisa lebih rumit lagi."


" Yah jika itu memang perlu kesadaran masing-masing pihak Dhe."


" Ya benar, tapi banyak orang yang tidak sadar akan itu, dan yang paling penting jangan mendahulukan egoisme dan harus bisa saling menyatukan pemikiran. Terkadang yang aku lihat dalam kehidupan suami istri itu, pihak laki-laki merasa ingin menunjukkan bahwa dia itu adalah kepala rumah tangga yang berhak dihormati oleh seluruh kuarganya, namun dia lupa bahwa tidak semata mata dia bisa memakai haknya untuk memaksakan kehendaknya. Peranan istri itu tidak kalah pentingnya dari seorang suami, namun seorang istri juga tidak bisa bersikap semaunya sendiri dan bisa melawan suaminya dengan sekehendak hatinya. Yang jelas asalkan dua belah pihak bisa mau saling intropeksi, saling menghargai satu sama lain, dan yang paling penting bisa menahan egonya masing-masing pasti rumah tangga akan aman tentram Will."


" Hemmm...sepertinya kau sudah siap berumah tangga sayang?"


" Siap tidak siap minimal kita harus tau itu terlebih dahulu Will. Kau pikir pernikahan itu hanya sekedar untuk hidup bersama, bisa bebas kapan saja dekat dengan pasangan kita, bebas bermesraan kapan saja dengan mereka, begitu? Kau tau? Air yang tenang saja jika dilempar dengan sebuah batu kecil akan menyebabkan air itu bergelombang, sama dengan rumah tangga Will, selalu saja ada masalah-masalah kecil yang datang, dan jika tidak disikapi dengan bijak akan bisa menjadi sebuah bola salju. Kau paham kan?"


" Iya sayang aku paham sekali. Ternyata diam-diam kau ini pintar juga.


" Hahhh...kemana saja kau selama ini? sehingga baru tau kalau aku pintar.


William hanya tersenyum mendengar perkataan kekasihnya itu.