Something different

Something different
Reihan ke rumah Dhea



Malam harinya Reihan terlihat sedang bersiap menuju rumah Dhea. Tempat usahanya yang ramai dan cukup terkenal, bisa membuatnya memiliki tempat tinggal yang cukup besar dan beberapa kendaraan koleksi pribadi yang memenuhi garasinya. Dipandangi terus wajahnya di cermin, karena dia harus benar-benar terlihat sempurna di depan mantan kekasihnya yang sebenarnya masih amat dicintainya itu. Dulu dia sama sekali tidak terima saat Dhea memutuskannya secara sepihak, karena saat ingin meraih simpati gadis itu, Reihan harus menunggu waktu satu tahun lebih. Tapi justru saat baru menjalin hubungan 3 bulan, Dhea sudah memutuskannya dengan alasan ingin konsentrasi sekolah.


" Dhea...apakah dia masih seperti dulu? Sederhana dan apa adanya? Atau mungkin negara asing sudah sedikit merubah kepribadiannya?" Bisik Reihan dalam hati.


Reihan kemudian keluar dari rumahnya, seorang asisten rumah tangga membukakan pintu pagar yang membatasi rumahnya dengan jalanan.


" Terimakasih pak." Sapa Reihan sambil tersenyum.


Sifat ramahnya dan selalu menghargai orang lain serta tidak pernah pandang bulu itu masih saja melekat dalam dirinya, walaupun sekarang dia sudah bisa dibilang sebagai orang kaya di lingkungannya.


Reihan terus memacu kendaraannya, dia masih ingat jalan ke rumah Dhea, walaupun sama sekali belum pernah masuk kesana. Namun dulu dia pernah membuntuti Dhea secara diam-diam hanya untuk tau dimana tempat tinggal Dhea. Dan setelah itu dia jadi sering iseng lewat di depannya hanya untuk sekedar menyapa Dhea jika kebetulan gadis itu sedang ada di depan rumah, sembari menyirami tanaman yang ada di halaman rumahnya.


Reihan tersenyum sendiri jika ingat masa-masa itu. Jika orang bilang masa itu adalah cinta monyet, namun cinta monyet itu justru tidak bisa dilupakan oleh Reihan. Dia masihhhh saja mencari informasi tentang Dhea melalui teman-temannya, dan parahnya dia selalu membanding-bandingkan kekasihnya dengan Dhea, sehingga Reihan tidak pernah bisa langgeng menjalin hubungan dengan wanita lain.


Perasaan Reihan malam itu sangat berbunga-bunga seperti orang yang baru pertamakali jatuh cinta, bahkan dia sudah memiliki sebuah rencana besar untuknya bersama Dhea. Harapan Reihan semoga saja Dhea masih menyisakan sedikit perasaan untuknya.


Reihan memutar musik di dalam mobilnya, sebuah lagu cinta mengalun di dalam sound system mahal yang terdengar sempurna di telinga pendengarnya. Reihan tersenyum-senyum sendiri menyimak setiap bait yang dilantunkan oleh penyanyi dalam lagunya itu. Dia begitu menikmati setiap detik perjalanannya, walaupun sebenarnya suasana jalanan malam itu lebih tepat dikatakan sangat semrawut dan sedikit macet, namun suasana hati Reihan yang sedang gembira membuat hambatan itu tidak ada artinya sama sekali.


Mobil Reihan terus melaju membelah jalanan dan berjibaku dengan puluhan kendaraan lainnya. Hingga tak terasa dia telah masuk ke jalan menuju rumah Dhea.


" Hemmm...lingkungan di sini sudah banyak berubah, dulu tidak ada gedung perkantoran yang sangat megah di depan sana, namun entah kapan dibangunnya, sehingga tiba-tiba sudah berdiri dengan kokohnya." Gumam Reihan.


Dheapun dulu sempat bingung saat pulang pertama kali, karena banyak bangunan baru yang bermunculan semenjak satu tahun dia tidak kembali ke tanah kelahirannya itu.


Tak lama kemudian Reihan sudah berada di depan rumah Dhea.


" Rumah ini ternyata tidak pernah berubah dari dulu." Gumam Reihan sambil berjalan keluar dari mobilnya.


Reihan segera menuju pintu rumah Dhea, dan langsung mengetuknya. Dadanya sedikit berdebar, karena sebentar lagi dia akan bertemu wanita yang selama ini belum pernah sedikitpun bisa dilupakannya semenjak mereka berdua putus.


Perlahan pintu dibuka dari dalam, dan ibu Dhealah yang membukakannya.


" Assalamualaikum bu." Sapa Reihan ramah.


" Wa'alaikum salam. Cari siapa nak?"


" Dheanya ada bu?"


" Oh ada, ayo silahkam masuk." Suruh ibu Dhea.


" Terimakasih bu." Jawab Reihan.


" Duduk nak, ibu panggilkan Dhea dulu ya."


" Iya bu, terimakasih."


Lalu ibu Dhea segera masuk ke dalam. Tak lama kemudian Dheapun keluar menemui Reihan.


" Assalamualaikum." Sapa Dhea pada Reihan yang saat itu sedang mengotak atik handphonennya.


" Wa'alaikum salam." Gumam Reihan sambil mengangkat kepalanya.


" Hai...!" Sapa Dhea sambil tersenyum.


" Ya ampun...Dhei sekarang ternyata lebih cantik!!" Kata Reihan dalam hati sambil bengong menatap mantan kekasihnya saat di SMU dulu.


" Eh ehm maaf Dhei, aku takjub saja sudah lama tidak melihatmu, ternyata kecantikkanmu tidak pernah luntur, padahal sudah dibawa menyebrang lautan dan pegunungan." Canda Reihan.


" Hahaha kau ini ada-ada saja."


Kemudian Dhea segera duduk di kursi yang ada di depan Reihan. Reihan terus saja memandanginya tanpa berkedip. Ada kerinduan yang tidak dapat dia ungkapkan.


" Kok melihatnya seperti itu sih Rei?" Kata Dhea.


" Tidak Dhei, aku hanya sedang mengagumi kecantikkanmu saja." Kata Reihan sambil tersenyum.


" Hemmmm keahlianmu dalam merayu ternyata tidak berubah ya Rei?"


" Hahaha....namanya juga usaha Dhei."


" Kau sudah lama kembali dari London Dhei?"


" Hampir satu bulan Rei."


" Dan langsung mengajar di kampusmu?"


" Begitulah."


" Beruntung sekali kamu Dhei, tidak sia-sia dulu kau memutuskanku karena ingin berkonsentrasi dengan studimu, akhirnya kau berhasil juga meraih cita-citamu itu."


" Hahaha...kau ini malah membahas itu."


" Ya jika kau saat ini masih saja menganggur, percuma saja kau dulu belajar mati-matian."


" Bagaimana usahamu?" Tanya Dhea mengalihkan pembicaraannya.


" Alhamdulillah Dhei lancar."


" Eh besok sabtu kau libur tidak?"


" Iya libur Rei, kenapa?"


" Aku ingin mengajakmu jalan-jalan, kau sudah tidak takut ketahuan orang tuamu jika pergi bersama seorang pria kan?"


" Hahaha...tidak Rei, karena aku sudah bisa mencari uang sendiri, tidak seperti dulu. Dan yang paling penting aku bisa menjaga diriku sendiri Rei."


Reihan dan Dhea mengobrol hingga malam, sebentar-sebentar Dhea tertawa dengan candaan-candaan Reihan. Pukul 21.00 Reihan pamitan pulang.


" Aku pulang dulu ya Dhei? Sabtu pagi aku jemput ke sini ya?"


" Jam berapa Rei?"


" Jam 9 ya?"


" Ok, siap bos."


Kata Dhea, kemudian Reihanpun segera pamit pulang.