Something different

Something different
Mengobati luka William



William memacu kendaraannya, darah terus mengalir dari bibirnya. Dhea melirik pria di sampingnya itu.


" Berhenti Will !!" Kata Dhea.


" Memang kau mau kemana Dhe ?"


" Berhenti dulu kataku !!"


" Hhhmmm yaa...".


William mengikuti kata kata Dhea, dia segera menepikan kendaraannya.


" Kau ada peralatan obat tidak ?" Tanya Dhea.


" Ada itu di dalam laci dashboard depanmu ".


Dhea segera membukanya dan mengambil sebuah kapas dan obat merah.


" Sini wajahmu ", kata Dhea.


William menurut saja, dia menyorongkan wajahnya ke dekat Dhea.


" Maaf ya ", kata Dhea. Lalu segera membersihkan luka di wajah William dan mengolesinya obat merah.


" Awww....", teriak William saat obat merah itu menyentuh kulitnya.


" Tahanlah sedikit seperti anak kecil saja ", kata Dhea.


Wajah William begitu dekat dengan Dhea, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk terus mengamati tiap lekuk wajah cantik di depannya.


" Kenapa kau tadi tidak membalas pukulan adikmu, dan justru diam saja ?" Tanya Dhea sambil terus membersihkan luka di wajah William.


" Sejak kecil dulu aku selalu menjaganya, bahkan tidak pernah kubiarkan anak lain mengganggunya apalagi menyakiti dirinya. Lalu mana mungkin sekarang aku tega memukulnya sedangkan dulu aku selalu melindunginya ".


" Tapi mukamu bisa babak belur jika tidak kuhentikan tadi ?"


" Biar saja, jika dia memang sayang denganku, pasti dia tidak akan mungkin tega berbuat lebih jauh lagi. Darah yang mengalir di tubuh kami sama Dhe, walaupun sifat kami berbeda ".


Tiba tiba air mata Dhea menetes, laki laki seperti William ternyata seposesif itu terhadap orang yang disayanginya, bahkan adiknya yang sudah menyakitinyapun tidak tega untuk dibalasnya.Ternyata dia memiliki hati yang baik, hanya saja terlalu keras kepala.


" Kenapa kau menangis Dhe ?" Tanya William.


" Tidak....Pasti lukamu sangat sakit ya ?" Kata Dhea berbohong.


" Tadi sakit, tapi sekarang jadi tidak berasa Dhe, bahkan aku mau Mike memukulku lagi agar kau lebih lama mengobati lukaku ". Kata William sambil mengerling nakal.


" Huuuuu.....", kata Dhea sambil menekan luka William dengan kapas yang digunakan untuk mengobati laki laki itu ".


" Awwww....", kata William sambil meringis kesakitan tapi bercampur senang.


" Sudah ayo kita pulang ".


Kata Dhea sambil memberesi obat obatan itu dan memasukkannya kembali ke dalam laci.


" Dhe...", kata William dia tetap tidak beranjak dari posisinya semula.


" Iya...", jawab Dhea, dia menengok dan otomatis jaraknya sangat dekat dengan wajah William.


William menatapnya tanpa berkedip, Dhea ternganga melihat William dengan jarak sedekat ini.


Dada Dhea berdegub kencang.


" Ya Tuhan apalagi yang akan dilakukannya ? Apakah dia mau menciumku ? Aku tidak mau melakukan dosa lagi ", kata Dhea dalam hati.


Ternyata tebakan Dhea salah besar, tiba tiba William mundur sedikit, dan dengan kedua tangannya William menghapus air mata yang masih bersisa di mata Dhea.


" Dhe, jangan pernah menangis lagi ya ? Aku janji akan membuatmu bahagia. Maafkan jika caraku salah dan membuat hidupmu hancur, tapi aku janji akan mengganti tangisanmu ini menjadi senyuman. Itu janjiku Dhe !!" Kata William sambil menatap Dhea.


" Ya Alloh laki laki ini benarkah yang dia katakan ? Apa yang harus aku lakukan ? Haruskah aku mempercainya dan mengikuti semua kemauannya ? Lalu bagaimana sedangkan kami berbeda ? Ya Alloh tolong berilah petunjukMu pada hambaMu ini ".


Kemudian William segera membenahi duduknya, lalu kembali menjalankan kendaraanya menuju apartemen Dhea. Dheapun ikut membenahi duduknya.


" Kenapa kau tidak naik bus lagi seperti pagi tadi ?" Tanya Dhea.


" Tidak Dhe, cukup tadi pagi saja ".


" Hahaha kenapa kau sudah jera ya ?"


" Tidak juga, hanya kasihan saja denganmu, aku tidak tega jika di cuaca panas seperti ini membiarkanmu naik bus lagi ".


" Hahh bilang saja kau takut berdiri lagi seperti tadi pagi kan ???" Kata Dhea meledek.


" Asalkan itu di sampingmu aku tidak pernah keberatan Dhe ".


" Hehhh gombal ", gerutu Dhea.


" Dhe...Ikut aku yuk ?"


" Kemana ?"


" Ke kantorku ".


" Ke kantormu yang dulu lagi ?"


" Ya, kau tidak keberatan kan ? Daripada kau sendirian di dalam kamarmu ".


" Bolehlah ", jawab Dhea singkat.


" Kau sudah membawa peralatan ibadahmu kan ?"


" Iya aku selalu membawanya di dalam tasku ".


" Baguslah jadi kita tidak perlu mengambilnya di apartemenmu ".


" Kau tidak ingin mengganti pakaianmu dulu ? Lihatlah banyak darah di situ ". Tanya Dhea.


" Aku ada baju di kursi belakang ", kemudian William menepikan kendaraannya. Lalu segera turun dan mengambil kemeja yang tergantung di belakang, lalu masuk lagi, dan tanpa basa basi membuka bajunya di depan Dhea.


" Hei.....apa yang kau lakukan Will ??" Teriak Dhea.


William mengurungkan niat untuk membuka bajunya.


" Katamu aku harus mengganti pakaianku ?"


" Iya tapi bukan di depanku seperti ini ".


" Ahhh kau ini tak tau malu, itu auratmu kau umbar di depanku, memalukan !!" gerutu Dhea.


Kemudian Dhea segera menutup kedua matanya dengan telapak tangan.


" Sudah buruan ganti bajumu !!" Kata Dhea.


" Hahaha kenapa ?? kau takut tergoda dengan keseksian tubuhku sayang ??" Goda William.


" Ihhhh udah cepat jangan banyak tanya !!"


" Oke oke...tunggu sebentar ya ".


Tak berapa lama William meminta Dhea membuka matanya.


" Ya sudah Dhe buka saja matamu...", kata William.


Lalu Dhea segera membuka matanya, tapi ternyata William masih belum memakai bajunya.


" Haaaaaaa......Williammmmm......!!!" Kata Dhea sambil kembali menutup matanya.


" Cepat pakai bajumu atau aku akan keluar dari mobil ini sampai kau selesai berpakaian !!" Teriak Dhea.


" Hahaha iya iya sayang, aku hanya menggodamu ", kata William sambil tertawa tergelak karena sudah berhasil memperdaya Dhea. Lalu dia segera mengganti pakaiannya.


" Sudah Dhe, ayo buka saja matamu ", kata William.


" Benar ?"


" Iya benar ".


" Kau tidak bohong ?"


" Ihhh...nih pegang ", kata William sambil menarik tangan Dhea dan menempelkan di tubuhnya yang sudah memakai baju.


Dhea baru percaya lalu mengintip sedikit, setelah yakin baru dia membuka kedua matanya.


" Bagaimana ? percaya kan ?"


" Kau tuh awas ya, suka sekali mengerjaiku ", gerutu Dhea sambil cemberut.


" Kamu tuh lucu Dhe ".


" Kau pikir aku pelawak hehhhhh ".


William hanya tersenyum, entah kenapa hatinya sangat bahagia, walaupun kata kata Dhea masih sedikit ketus, tapi sikapnya tidak sekasar dulu lagi padanya. William terus memacu kendaraannya menuju kantor.


Setelah tiba di kantornya William dan Dhea segera turun. Pegawai William menyambut mereka berdua dengan ramah. William hanya menundukkan kepalanya.


" Kau sok berwibawa sekali Will ", bisik Dhea.


" Harus seperti itu Dhe, kita harus bisa membedakan sikap di hadapan pegawai, di hadapan seorang teman, dan di hadapan seorang kekasih sepertimu Dhe ", kata William sambil tersenyum dan melirik Dhea.


" Hehhhh...kau mulai lagi ", gerutu Dhea.


Mereka mulai masuk ke dalam lift dan naik ke atas menuju ruangan William. Sekretaris William menyambut mereka berdua. Dhea tersenyum menyambut senyuman itu. Sekretaris William terus memperhatikan hingga tubuh William dan Dhea hilang dibalik pintu di dalam ruangan William.


" Hmmm...sepertinya wanita itu lebih cocok untuk menjadi pendamping Tuan William dibanding wanita sebelumnya ", kata sekretaris William.


" Kau tunggu di situ dulu ya Dhe, aku akan menyelesaikan pekerjaanku ", kata William setelah di dalam ruangan sambil menuju kursinya.


" Hanya duduk seperti dulu lagi dan memperhatikan kau bekerja ?"


" Iya, memang kau ingin apa ?" Tanya William sambil menghidupkan laptopnya.


Dhea mendekati William dan melihat apa sebenarnya yang sedang dikerjakan William.


" Kau sedang mengerjakan apa ?" Tanya Dhea.


" Ini aku sedang mengecek laporan akhir bulan dari seluruh cabang perusahaanku ".


" Ohhh coba lihat sini ", kata Dhea sambil merebut laptop yang ada di depan William.


" Hei memangnya kau tau apa yang harus kau kerjakan ?"


Dhea tidak menjawab sambil terus memperhatikan tabel data di depannya.


" Ini pekerjaan gampang tuan William, kau pikir apa jurusan kuliahku selama ini ?"


" Memangnya apa ?"


" Ya seperti ini, mengolah data data seperti milikmu ini ", kata Dhea.


" Benarkah ?"


" Kau diamlah dan duduk di sana, biar aku yang mengerjakannya ", kata Dhea sambil menarik tangan William dan menyuruh dia pergi dari tempat duduknya.


William hanya menurut saja dan gantian dia yang duduk diam sembari memperhatikan Dhea yang terus asyik di depan layar laptop.


Tidak sampai satu jam pekerjaan Dhea sudah selesai.


" Selesaii...nih lihatlah ", kata Dhea sambil berdiri dan beranjak dari kursi tersebut.


" Hahhh benarkah ? Biasanya aku butuh waktu lama untuk mengerjakan itu, kenapa kau tidak sampai satu jam Dhe ?"


" Lihat sendiri jika kau tidak percaya ".


William segera melihat ke layar laptopnya.


" Bagaimana ? seperti itu kan yang kau maksud ? Semua hasil akhir harus sesuai dengan data yang kau miliki ?"


" Hahhh gila otakmu boleh juga ".


" Kau pikir selama ini aku gadis bodoh ? Aku bahkan berani adu kepintaran denganmu ", kata Dhea sombong.


" Ya ya ya...aku percaya...Dhe, kalau tidak mana mungkin pemerintahmu mau menyekolahkan gadis sepertimu jika otakmu tidak pintar ".


" Yaaa...kau tinggal bayar saja hasil pekerjaanku barusan ya ", kata Dhea sambil ngeloyor pergi.


" Hei kau mau kemana ?"


" Pulang dong. Bukankah pekerjaanmu sudah selesai ? Atau kau ingin membantu pekerjaan OBmu ? dengan senang hati aku akan menunggumu di sini Tuan William ".


" Hahaha tentu tidak Dhe, ayo pulang kalau begitu ", ajak William dan langsung mematikan laptopnya.