Something different

Something different
Keputusan terakhir



Sudah 2 hari dokter dan suster yang tinggal di rumah Dhea mengawasinya dengan berbagai macam prosedur yang dilakukannya. Dari mulai mengontrol makanannya, aktifitas fisiknya, tekanan darahnya hingga jadwal istirahatnya. Tidak ada satupun kegiatan Dhea yang luput dari pengawasan mereka.


William sengaja meminta kedua mertuanya untuk beristirahat di rumah mereka sendiri, karena saat di rumah sakit, mereka tidak bisa beristirahat dengan nyaman. Dia tidak mau kedua mertuanya kelelahan karena ikut menjaga Dhea, jika tetap berada di rumahnya. Dan hari ini Dokter Sherli kembali mengunjunginya, sambil membawa hasil lab yang baru saja keluar hasilnya.


Dokter Sherli langsung menuju kamar Dhea, sambil didampingi dokter yang berada di rumah Dhea. Dia membaca hasil laporan yang diberikan oleh dokter tersebut selama berada di rumah Dhea. Dan setelah selesai memeriksa Dhea, mereka semua keluar. Seperti biasa William selalu mengikutinya dari belakang. Mereka berkumpul bersama di dalam ruang keluarga.


" Tuan William, sepertinya kita harus cepat mengambil tindakan. Berdasarkan data yang diberikan oleh dokter disini, juga hasil lab Dhea yang saya bawa, kita sudah tidak bisa menunda waktu lagi. Kita harus segera melakukan operasi cesar."


Wajah William langsung muram, tidak sedikitpun terlihat keceriaan di sana. Tadipun dia tidak berani bertanya terlebih dahulu kondisi istrinya pada dokter tersebut, karena tidak siap mendengar kalimat yang akhirnya tetap harus dia dengar juga.


" Bagaimana tuan, anda sudah siap untuk mengatakan hal ini pada istri anda?" Tanya Dokter Sherli melanjutkan kalimatnya, dan William hanya menunduk saja, tidak mampu berkata-kata.


" Hehhhh...ribet sekali sih keluarga ini, kok sepertinya berlebihan sekali menghadapi penyakit itu. Padahal kan tidak usah selebay ini juga. Kalau memang seperti itu kenyataannya, ya sudah diterima saja. Kehilangan calon bayi saja, seperti akan menghadapi kiamat besar. Nyawa ibunya dulu yang harus diselamatkan dong, kalau bayinya kan sudah tidak mungkin lagi, masih 5 bulan juga, jarang ada bayi selamat dengan usinya yang baru segitu, mungkin juga panjangnya baru 20 cm. Dasar orang kaya, kadang-kadang aneh-aneh saja yang dipikirkannya, tidak sesimpel orang kebanyakan." Gerutu suster perawat dalam hati, yang juga ikut berkumpul di dalam ruangan keluarga itu. Untungnya William tidak mendengarnya, jika dia mendengar sudah pasti suster tersebut akan langsung dipecat dengan tidak hormat olehnya.


Terkadang kita memang tidak bisa mengerti apa yang ada di pikiran orang lain, dan hanya bisa berbicara serta mengkritik saja. Padahal jika mungkin dia sendiri di posisi mereka, belum tentu juga dia bisa setegar itu menghadapinya. Bersimpati memang penting, tapi berempati justru lebih penting lagi.


Tiba-tiba ada suara dari dalam yang mengejutkan mereka berempat.


" Dokter, anda tidak usah menanyakan kesiapan suami saya. Tapi sayalah yang perlu anda tanya. Anda tidak usah khawatir, saya sangat siap kapan saja operasi itu dilakukan. Sudah cukup suami saya terbebani dengan masalah ini, jadi mari kita segera selesaikan, agar saya bisa memulai kehidupan baru bersama dia lagi."


Semua orang yang berada di situ terkejut, yang melihat Dhea sedang berjalan ke arah mereka. William spontan berdiri, menyambut istrinya.


" Sayang kau mendengar percakapan kami?"


" Aku sangat mendengarnya sayang. Terimakasih kau sudah menjadi suami yang terbaik buatku, dalam keadaan seperti inipun kau tetap memikirkan perasaanku."


" Sayang, walau bagaimanapun aku tetap tidak tega melihatmu bersedih."


" Aku sudah bisa berkrompromi dengan hatiku, jadi kau jangan khawatir ya, yang penting aku ingin kau selalu mendukungku."


" Ya sayang, apapun yang terbaik untukmu, pasti akan selalu aku dukung."


" Hehhhh...syukurlah Dhe jika kau sudah bisa menerima semuanya?" Dokter Sherli menimpali.


" Jadi kapan operasi itu akan dilakukan dokter? jika memang harus hari inipun aku siap." Jawab Dhea tegas tanpa ada keraguan di wajahnya.


" Kenapa kau jadi antusias begitu?"


" Bukan antusias dokter, ibu mana yang antusias saat ingin berpisah dari anak yang dikandungnya. Aku hanya tidak ingin berlama-lama mengulur waktu, sebelum pikiranku berubah lagi. Bagiku malam ini ataupun besok sama saja. Aku tetap akan kehilangannya."


William tiba-tiba memeluk bahu istrinya.


" Tenanglah sayang, aku tidak apa-apa? kau jangan khawatir ya." Kata Dhea, seolah tau bahwa suaminya sedang berusaha menguatkannya.


" Aku akan mengatur jadwal operasimu Dhe, sekarang aku akan kembali ke rumah sakit, untuk mempersiapkan segalanya. Aku usahakan besok bisa kita lakukan operasi itu, untuk meminimalisir efek eklamsia yang nanti bisa membahayakanmu."


" Siap dok, kabari aku secepatnya ya?" Tak ada keraguan dalam kalimat Dhea, bahkan kata-katanya seperti hendak menantang saja.


" Ya Dhe pasti itu. Siapkan saja fisikmu, karena sebelum dilakukan operasi, kondisi tubuhmu dan tekanan darahmu harus benar-benar baik."


" Ya dok, insyaallah aku akan berusaha agar tekanan darahku tidak naik lagi."


" Bagus, semoga operasi kita nanti bisa berjalan lancar, dan tidak terjadi apa-apa."


" Amiin..." Jawab mereka semua berbarengan.


Kemudian setelah semua selesai dibicarakan, Dokter Sherlipun segera berpamitan pulang.


" Nyonya, sebaiknya anda segera beristirahat saja. Saya akan menyuntikkan obat pada anda terlebih dahulu." Kata dokter yang ada di rumah Dhea, setelah Dokter Sherli pergi.


" Baik dokter. Hehhhhh.....ternyata hikmah dibalik sakitku ini adalah, aku jadi lebih sering tidur sayang." Kata Dhea pada William, yang berjalan di sebelahnya, diikuti dokter pribadi yang mengikutinya dari belakang, masuk ke dalam kamarnya,


" Kenapa harus kau perhatikan?"


" Karena aku tidak bisa tidur, jadi lebih baik memperhatikan kau tidur saja." Dan Dhea hanya tertawa mendengar jawaban polos suaminya.


Setelah menyuntikkan obat ke tubuh Dhea, dokter tersebut segera keluar dari kamar.


" Selamat beristirahat nyonya. Saya permisi dulu."


" Terimakasih dokter."


" Sama-sama nyonya."


Entah kenapa, setelah selesai disuntikkan obat, Dhea langsung terlelap, mungkin dokter tersebut sengaja memberikan obat tidur juga, agar Dhea bisa mudah beristirahat. Saat melihat istrinya sudah terlelap, William mengambil telfon genggamnya, dia berniat menelfon mertuanya untuk memberitahukan, bahwa Dhea akan segera dioperasi.


Terdengar nada panggil di seberang sana. Sambil berjalan keluar, William menunggu telfonnya diangkat. Tak perlu menunggu lama, sebuah ucapan salam dari ibu mertuanya, menyapanya ramah.


" Assalamualaikum nak William."


" Wa'alaikum salam bu."


" Bagaimana bu, ibu sehat?"


" Alhamdulillah nak, ibu sehat-sehat saja."


" Syukurlah bu, aku khawatir ibu dan ayah kelelahan karena ikut menjaga istriku di rumah sakit."


" Tidak nak. Kami juga di rumah sakit tidak mengerjakan apa-apa kok, hanya makan tidur dan mengobrol saja."


William hanya tersenyum saja, walaupun dia tau mertuanya hanya berbasa basi. Makan, tidur dan mengobrolpun, jika dilakukan berulang-ulang akan sangat membosankan. Memang bukan fisik yang lelah tapi otaklah yang lelah, dan sudah pasti jenuh . Apalagi dibarengi dengan tinggal di rumah sakit, sudah pasti itu sangat membosankan.


" Oh ya nak, bagaimana istrimu? apakah ada perubahan yang baik?"


" Saya menelfon memang untuk membicarakan ini bu. Mungkin besok Dhea akan dioperasi." Kata-kata William begitu pelan, tapi masih cukup jelas terdengar di telinga mertuanya.


" Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Spontan mertuanya mengucapkan kalimat itu.


" Dan saya ingin meminta tolong pada ayah dan ibu, untuk bisa menemani kami saat di rumah sakit nanti. Dhea pasti sangat menginginkan kehadiran ayah dan ibu, terlebih suport dari kedua orang tuanya."


" Ya nak, kami pasti akan kesana secepatnya."


" Apakah jadwalnya sudah ditentukan?"


" Belum bu, hari ini Dokter Sherli sedang mengatur jadwalnya. Mungkin nanti malam dia segera mengabari kapan waktunya dilaksanakan."


" Ya, nanti ibu akan berbicara dengan ayah, dan mudah-mudahan nanti malam kami bisa langsung ke rumah kalian."


" Bu maafkan aku karena selalu merepotkan ibu." Kata William merasa tidak enak hati.


" Padahal aku belum bisa menjadi menantu yang baik, dan belum bisa membalas jasa ayah dan ibu, karena telah mengikhlaskan anak yang telah kalian besarkan untuk menjadi istriku."


" Nak Will, jangan berkata seperti itu. Didiklah Dhea menjadi istri yang sholehah, dan itu sudah merupakan balas jasa yang sangat luar biasa buat kami berdua. Tidak ada materi yang bisa menandinginya, kecuali memiliki anak yang sholeh dan sholehah. Dialah nanti yang bisa menyelamatkan kami berdua dari siksa neraka nak."


" Ya bu, doakan saya agar bisa terus memperbaiki diri dan menjadi imam yang baik buat Dhea."


" Ya nak, insyaallah ibu akan terus mendoakanmu dan juga istrimu."


" Terimakasih banyak bu."