Something different

Something different
William menemui Dhea



" Hai Paula...!"


" Hai Dan...!"


Daniel menegur Paula saat siang itu mereka berdua bertemu di sebuah pusat perbelanjaan.


" Kau ada di sini juga rupanya Dan ?"


" Iya, aku sedang ingin membeli sesuatu ".


" Hhhmmm belanjaanmu begitu banyak Paula ? kau sedang ingin mempersiapkan sesuatu ?" Tanya Daniel sambil melihat kedua tangan Paula sedang membawa beberapa kantong belanjaan.


" Kau tau kan aku sebentar lagi menikah dengan bosmu ? Dan itu berarti aku harus merubah penampilan lebih baik lagi ".


" Hhhhh sampai segitunya kau mempersiapkan diri untuk menjadi istri William ?"


" Ya...aku tidak mau jika dia sudah memperistriku dan mengajakku ke berbagai tempat, penampilanku membuatnya buruk di mata teman temannya ".


" Hahaha kau sepertinya sangat percaya diri Paula, apakah kau yakin William mau mengajakmu pergi ?"


" Hhhh jika dia menolak aku akan memaksanya, bukankah aku ini istrinya, dan aku berhak atas itu ".


" Kau ini belum menjadi istri William sudah ingin mengaturnya, aku yakin pernikahanmu dengannya tidak akan bertahan lama, karena dia tidak akan mungkin mau kau atur atur ". Kata Daniel sambil tersenyum mengejek.


" Hhhh lihat saja nanti, kau akan tau sendiri dia tidak akan berkutik di bawah ketiakku hahaha...selamat siang Daniel ". Kata Paula sambil meninggalkan Daniel.


" Oh ya satu lagi, kau sepertinya harus bersiap siap mencari pekerjaan baru, karena jika aku sudah sah menikah dengan William, aku akan merekomendasikan kau untuk dipecat dari pekerjaanmu, kau tau kan aku bisa melakukan apa saja untuk menyingkirkan kerikil kerikil dalam hidupku ?" Kata Paula lagi, lalu benar benar pergi meninggalkan Daniel.


" Hahaha kasihan sekali kau Paula, mimpimu terlalu tinggi untuk berharap menjadi istri William. Kau bilang kau wanita berkelas, tapi dari sikapmu kau justru seperti wanita rendahan. Aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi, aku akan mencari cara agar kau tidak jadi menikah dengan temanku, lihat saja nanti ".


Sementara itu William siang ini bertekat menemui Dhea. Dia menunggu di tempat biasa. Dhea baru saja keluar dari kampusnya, dan berjalan seorang diri. Ada sebuah kerinduan yang tidak bisa diungkapkan oleh William saat melihat sosok wanita pujaannya itu ada di depan matanya. William segera beranjak keluar dari mobilnya.


Dhea melihat sosok William berdiri di hadapannya.


" William ? kenapa kau ada di sini ?"


" Ya Dhe, aku sengaja ingin menemuimu, aku rindu sekali denganmu ".


" Kau ini !! Bukankah sebentar lagi kau harus menikahi Paula, lebih baik kau melupakanku Will, aku bisa jadi boomerang dalam hubunganmu dengan Paula nanti ".


" Tidak Dhe, aku tidak akan mungkin bisa melupakanmu, walau apapun yang terjadi aku tidak akan mungkin bisa membiarkanmu dimiliki orang lain Dhea ".


" Kau egois sekali William ".


" Hhhh cinta itu terkadang harus egois untuk mempertahankannya Dhe ".


" Kau bicara soal cinta ? Kau tau apa tentang cinta ? Mencintai itu bukan berarti bisa memaksakan semua kehendak yang ingin kau miliki ".


" Tapi bukan berarti juga melepaskannya tanpa kita berusaha dan berbuat apa apa untuk mempertahankannya bukan ?" Jawab William tak mau kalah.


" Will...Kau pernah bilang bahwa kau akan selalu bertanggung jawab dengan semua perbuatanmu. Sekarang mana buktinya ? kau bahkan terus mengejarku, itu bisa menyakiti Paula Will ".


" Bukan Paula saja yang sakit Dhe, tapi aku juga !! Aku bahkan tidak menginginkan pernikahan ini. Aku sama sekali tidak mencintainya. Seumur hidup Dhe !! seumur hidup jika aku tetap bersamanya aku akan terus merasa tersiksa ".


" Tapi itu sudah menjadi resikomu, bukankah dulu aku sudah sering mengingatkanmu akan hal ini ? Ini semua ini adalah teguran keras dari Tuhan untukmu. Kau harus tetap menikahinya, dan jangan lari dari tanggung jawab ".


" Ya aku akan tetap menikahinya, tapi bukankah tidak ada larangan seorang pria memiliki dua wanita bahkan lebih dalam rumah tangganya. Dan dalam agamamupun membolehkan itu bukan ?"


" Ya memang betul, tapi tidak bisa sembarangan kau menggunakan alasan agama untuk membenarkan perkataanmu itu. Ada hal yang lebih penting dari sekedar cinta bagi seorang pria memiliki istri lebih dari satu, dan kau bahkan harus mempertanggungjawabkannya di sana nanti ".


" Aku tidak perduli itu Dhe, apapun yang terjadi aku tetap tidak akan melepaskanmu ".


" Terserah apa katamu Dhe, saat ini aku begitu rindu padamu, dan kau harus ikut denganku ", kata William, tiba tiba dia menarik tangan Dhea dan hendak membawanya masuk ke dalam mobil ".


" Lepaskan Will, lepaskan tanganmu !! Aku tidak mau ikut denganmu !! Kau mau membawaku kemana ?"


" Aku akan membawamu ke suatu tempat dimana kau tidak akan bisa lari lagi dariku !!"


William benar benar sudah gelap mata, dia bertindak di luar akal sehatnya. Kerinduannya kepada Dhea membuatnya bertindak gegabah, dan justru itu semua membuat Dhea semakin takut dan membencinya.


" Lepaskan Will, lepaskan ", kata Dhea sambil berusaha menahan tubuhnya agar tidak bisa masuk ke dalam mobil William.


Saat adegan tarik menarik antara William dan Dhea terjadi, tiba tiba saja sebuah mobil hitam berhenti tepat di belakang mereka. Mike berlari keluar mencoba menghalangi tindakan William yang memaksa Dhea masuk ke dalam mobilnya.


" Hei Will !! lepaskan Dhea !! Kau tidak bisa memaksanya ikut bersamamu !!" Teriak Mike sambil berusaha melepaskan tangan William dari lengan Dhea.


" Kau jangan ikut campur Mike, ini urusanku dengannya ".


" Tidak ini juga urusanku !! lepaskan tanganmu !!"


Tiba tiba Mike mendorong tubuh William hingga terjatuh, Dhea langsung beringsut mundur.


" Dhe masuk dalam mobilku cepat !!" kata Mike.


Dhea segera berlari masuk ke dalam mobil Mike.


William mencoba mengejar Dhea, tapi dihalang halangi oleh Mike kembali.


" William berhentilah...kau ini sudah sangat keterlaluan, hatimu sudah benar benar buta !!"


" Hhhhh....benar Mike hatiku sudah benar benar buta, itu karena aku sangat mencintainya, bukankah kamu tau itu ".


" Tapi bukan begini caranya ".


" Lalu seperti apa caranya ? Coba kau tunjukkan padaku ? Bahkan kau sendiri justru akan merebutnya dariku kan ???? iya kan ???" William benar benar marah.


Dhea hanya bisa melihat kakak beradik itu bertengkar di depannya. Dia merasa ngeri saat itu, tubuhnya menggigil karena ketakutan.


" Ya Alloh tolonglah hamba, jangan biarkan hamba jatuh ke tangan laki laki itu ", doa Dhea.


" Will, kau itu harusnya lebih bisa menerima kenyataan yang telah terjadi, inilah yang selalu membuat hidupmu terpuruk, kau tak pernah bisa menerima takdir Tuhan, kau selalu saja mengingkarinya ".


" Lalu takdir seperti apa yang tidak akan membuatku terpuruk Mike, takdir yang mana lagi ? Bahkan aku harus bertahan bertahun tahun untuk membuat diriku kembali kuat. Tapi mana ? mana ? mana takdir yang berpihak padaku hah, kau bisa menjelaskannya ?"


" Benar kata Dhea, kau pria yang menyedihkan, kau pria yang tidak pernah belajar dari pengalaman masa lalumu ".


" Hhhhh lalu apa kau juga belajar ?"


" Aku belajar Mike, lihatlah !! perceraianku dengan Jessy tidak membuatku patah semangat sepertimu, tidak membuatku lari ke hal hal negatif sepertimu. Itu justru merugikan kita sendiri Will ".


" Hahaha tentu saja kau tetap semangat hidup, karena kau bertemu dengan Dhea bukan, Dhea yang membuatmu kembali kuat bukan ?"


" Terserah kau mau berkata apa, yang jelas lebih baik kau belajarlah untuk mencintai Paula, dia sebentar lagi menjadi istrimu. Biarkan Dhea bahagia dengan pilihannya, dengan atau tanpa aku Will ".


" Kau adik yang tidak tau diri Mike !!"


" Mungkin aku tidak tau diri, tapi aku tidak akan mungkin memaksakan kehendak kepada wanita yang aku cintai, dan aku akan mengikhlaskannya jika dia memilih laki laki lain dan bukan diriku. Pulanglah aku akan mengantarkan Dhea ke rumahnya, pasti dia merasa shok sekali setelah kejadian ini ".


Kemudian Mike pergi meninggalkan William sendirian dan terpaku menatap mobil Mike lewat di hadapannya.


" Dheaaaaaa.......!!!!!!" Jerit William. Dia sudah tidak perduli dengan tatapan mata heran beberapa orang yang melihatnya.