Something different

Something different
Kekhawatiran ibu Dhea



Dhea menjalani hari-harinya dengan terus menyibukkan diri dengan mengajar di almamaternya, dari Senin hingga Jumat. Terkadang Reihan masih sering menelfonnya dan mengajaknya keluar, walaupun hanya sekedar makan saja, namun itu semua tidak membuat Dhea lantas bisa begitu saja melupakan William.


" Dhea sudah pergi bu?" Tanya ayahnya saat hendak berangkat kerja.


" Sudah yah."


" Tumben pagi-pagi sekali dia sudah pergi?"


" Iya, katanya akan ada seminar yah. Jadi dia harus berangkat lebih awal."


" Yah."


" Iya bu."


" Semenjak kepulangan Dhea ke sini, ibu lihat dia tidak seceria dulu, dan sepertinya dia terlalu menyibukkan diri. Ibu khawatir dengan kesehatannya yah."


" Biar saja bu, mungkin dia sedang semangat-semangatnya bekerja. Maklumlah baru pertamakali jadi dosen."


" Bukan itu masalahnya."


" Lalu?"


" Jika ibu tidak salah tebak, sepertinya dia memang sengaja menyibukkan diri agar tidak ingat lagi masalahnya dengan William. Ibu tau, pasti amat berat menunggu waktu satu tahun sedangkan dia sendiri belum tau kepastiannya nanti."


" Jangan khawatir bu, itu kan bisa untuk melatih kesabarannya, dan merupakan salah satu ujiannya. Jika kita ingin mendapatkan sesuatu segalanya itu perlu perjuangan, dan tidak semudah membalik telapak tangan untuk mendapatkan. Jika sesuatu itu mudah untuk didapatkan pasti mudah juga untuk melepaskan. Seandainya nanti William dan Dhea itu berjodoh, ayah yakin cinta mereka akan kuat, dan mereka pasti bisa melewati segala cobaan yang nantinya akan menerpa rumah tangga mereka."


" Iya yah, ibu hanya khawatir saja dengan anak itu, dia terlalu memforsir tenaganya."


" Tenang bu, kita sudah melatihnya sejak kecil kan? Dan ibu sendiri pasti lebih tau kemampuan Dhea."


" Benar yah..Tapi ayah apa tidak ingin mengatakan yang sebenarnya pada dia?"


" Tidak bu!! Ayah ingin semuanya berjalan apa adanya. Biarlah Dhea melewati semuanya sendiri tanpa bantuan kita."


" Ya sudah, jika itu memang keputusan ayah, ibu yakin ayah pasti ingin melakukan yang terbaik untuk Dhea." Jawab ibunya lagi.


Sekeras dan setegas apapun seorang ibu dalam mendidik anaknya, dia pasti tetap tidak tega membiarkan anaknya menderita. Tetap saja dia menginginkan untuk selalu bisa menjaga dan melindunginya, jika bisa dia ingin menjadi pengganti setiap sakit yang dirasakan anaknya. Begitupun ibu Dhea, dia tau jika Dhea saat ini merasakan kesedihan akibat perpisahannya dengan William, dan waktu satu tahun yang dirasakan Dhea pasti begitu lama untuk menunggu sebuah keputusan yang sangat diharapkannya.


Sementara itu, William terlihat sangat sibuk menelfon kesana kemari mitra bisnisnya yang tersebar di berbagai area. Selama 6 bulan terakhir semenjak perpisahannya dengan Dhea, dia sering keluar kota untuk mengurus bisnisnya itu.


" Kau harus bisa membuat semuanya beres bulan ini, aku butuh beberapa lahan lagi untuk membangun gedung baru di daerah itu. Kau harus ingat! Aku tidak mau jadi pengangguran sejati ya, walaupun setiap bulan seluruh cabang usahaku mentransfer uang ke rekeningku."


" Ya...benar bulan ini semuanya harus beres. Kau buat diskon dulu dan penawaran yang bagus agar semua bangunan itu terisi semua."


" Ya bagus, terimakasih banyak." Kata William mengakhiri telfonnya.


William kemudian bersandar pada kursi empuknya sambil tersenyum-senyum sendiri.


" Ahhhh...akhirnya semua beres juga. Tidak sia-sia aku bekerja siang malam untuk mengurus semuanya." Gumam William.


Kemudian William mengambil handphonennya dan menelfon Daniel temannya.


" Hallo bos." Sapa Daniel suaranya terlihat sedikit serak.


" Hallo Dan, kau baru bangun tidur ya? Ke kantorku sekarang ya? Aku ingin berbicara denganmu."


" Hemmm...masih pagi begini kau sudah di kantor, jangan-jangan kau memang bermalam di sana ya?"


" Heiii...lihat arlojimu teman...!! ini sudah pukul 8.00."


" Ini luar biasa Dan, ayo buruan mandi aku tunggu di ruanganku." Kata William lagi.


" Ya ya ya tunggu dulu, tapi suruh anak buahmu menyiapkan roti dan segelas kopi untukku ya? Daripada kau harus menungguku sarapan dulu."


" Ahhh beres itu, cepat ya?"


" Kau ini jika punya kemauan selalu saja terburu-buru seperti orang mau melahirkan saja." Gerutu Daniel.


" Sok tau, seperti pernah mengantarkan orang melahirkan saja kau Dan."


" Eh jangan sembarangan ya aku pernah mengantarkan orang melahirkan, tapi orang utan hahaha....!!"


" Sialan kau....!" Gerutu William.


" Ya sudah aku mandi dulu ya."


" Ya cepatlah!! Padahal daripada banyak omong seperti itu, jika kau buat mandi sudah selesai dari tadi."


" Iya oke bos...!!" Jawab Daniel sambil tertawa kemudian menutup telfonnya dan segera masuk ke dalam toilet.


Tak lama kemudia Daniel telah tiba di ruangan William.


" Hai bos mana sarapanku?" Sapa Daniel saat baru saja masuk.


" Kau ini baru saja datang malah yang kau tanyakan sarapanmu."


" Aku harus menyiapkan tenaga dulu agar tidak pingsan nanti saat mendengarkan ceritamu Will." Kata Daniel.


" Berlebihan sekali, kau pikir aku akan berbicara sehari semalam sehingga kau butuh menyiapkan tenaga segala."


" Hahaha....sebenarnya perutku memang sudah lapar Will." Jawab Daniel sembari mengambil roti di atas meja yang telah disiapkan oleh pegawai William sedari tadi.


" Ada apa sebenarnya kau menyuruhku datang?" Tanya Daniel sambil mengunyah makanannya.


" Habiskan dulu makananamu, tidak baik berbicara saat sedang makan."


" Hahhhh...sejak kapan kau jadi penuh aturan begini?"


" Sejak dulu Dan, hanya tidak kukerjakan."


" Kau ini punya ilmu tapi tidak digunakan sama saja sombong, seperti merasa sudah benar saja, mending aku tidak tau sama sekali." Gerutu Daniel.


" Ahhh sudah cepat habiskan makananmu, jangan bicara terus."


Akhirnya roti yang ada di piring Daniel habis.


" Nah makananku sudah habis, silahkan jika kau ingin berbicara."


" Begini Dan...." Kata Daniel panjang lebar.


" Lalu kapan itu Will?"


" Kapannya nanti aku beritahu, yang penting kau jangan sampai salah gunakan kepercayaanku ya, kau tau kan aku bisa mengetahui gerak gerikmu kapan saja?"


" Ya....beres Will, aku ini memang pria brengsek, tapi aku bukan orang yang suka berkhianat teman."


" Semoga kau tetap memegang kata-katamu." Kata William lagi.