
" Sayaaanggg....aku kan tidak apa-apa hanya lemas sedikit saja, kenapa harus ke rumah sakit segala?" Dhea yang memang sangat tidak suka dengan bau rumah sakit, berusaha menolak ajakan William. Walaupun sebenarnya dia tau, William pasti tidak akan mungkin mengabulkan permintaannya untuk tidak pergi ke rumah sakit. Namun paling tidak, minimal dia sudah berusaha menggoyahkan keinginan suaminya itu, dan siapa tau berhasil.
" Sayaangggg....!!!" Jawab William sambil menatap Dhea. Dan Dhea sudah tau pasti, itu adalah jawaban William yang tidak akan mungkin berubah lagi.
" Hemmmm......ya..ya..ya...aku nanti akan menutup hidungku dengan masker saja, agar bau obat-obatan itu tidak tercium." Jawab Dhea.
" Ya...itu baru jawaban benar sayang."
" Sini buka mulutmu." Kata William sambil menyuapi Dhea roti yang telah dioles selai coklat, ke dalam mulut istrinya.
" Kau makan dulu, lalu minum vitaminnya ya. Setelah itu kita siap-siap ke rumah sakit."
" Heeemmmm...." jawab Dhea sambil mengunyah roti.
" Aku itu sangat benci jika harus pergi ke rumah sakit." Gerutu Dhea lagi.
" Kau jangan coba-coba protes ya."
" Bau obat-obatan itu sangat menyengat sayang, belum lagi suasananya yang menyeramkan."
" Hahaha...namanya rumah sakit, tentu saja bau obat sayang. Kalau bau harum itu, namanya toko minyak wangi."
" Ahhh kau ini bercanda terus."
" Sudahlah, kau menurut saja ya. Kita hanya sebentar di sana. Aku ingin kau diperiksa lebih detail lagi, agar bisa diketahui yang membuat tubuhmu lemah itu apa, ok?" sambil membuka bungkus vitamin lalu memberikannya pada Dhea.
" Hehhhh....tidak ok!!!" jawab Dhea asal.
" Hahaha...dasar manja....!!!" sembari mencubit pipi Dhea.
" Ayo kita siap-siap, agar tidak terlalu siang."
" Iyaaa....iyaaa..." sambil malas-malasan bangun dari tempat duduknya.
" Ya, kamu tunggu di depan saja, kami sedang bersiap-siap." Kata William menelfon supirnya.
"Ayo sayang!! kau sudah siap kan? supir sudah menunggu di depan."
" Ya sayang." Sembari meraih tas yang ada di atas meja makeup.
" Kita langsung ke rumah sakit X ya." Kata William memerintahkan supirnya.
" Baik tuan."
Dan mobilpun meluncur membelah jalanan yang dipenuhi oleh kendaraan lain. Perut Dhea terasa diaduk-aduk, mengingat sebentar lagi dia akan mencium bau rumah sakit yang sangat dibencinya itu. Benar saja, baru saja turun dari kendaraan, Dhea langsung memuntahkan semua isi perutnya.
" Sayang....kau tidak apa-apa kan?"
" Tidak sayang. Aku sedari tadi hanya membayangkan bau rumah sakit, hingga perutku mual."
" Kau ini, belajarlah untuk menghilangkan phobiamu pada rumah sakit sayang." Dhea tidak menjawab, hanya sibuk menutup mulutnya dengan tisu. William menunggu Dhea hingga istrinya itu benar-benar siap masuk ke dalam.
" Bagaimana? kau sudah enakan?" Dheapun mengangguk
" Ya sudah, ayo kita masuk!!" Dheapun menurut, dan berjalan di sebelah William yang langsung menggandeng tangannya.
" Selamat pagi dokter."
" Selamat Will, Dhe. Masuklah, aku sudah menunggumu sedari tadi." Dhea dan Williampun masuk, lalu duduk di sebuah kursi berhadap-hadapan dengan sang dokter.
" Heiii....kenapa wajahmu pucat sekali Dhe? kau tidak minum vitamin yang kuberikan tadi ya?"
" Aku meminumnya dokter."
" Lalu kenapa kau pucat sekali "
" Dhea itu tidak suka masuk ke dalam rumah sakit dokter, sehingga tadi saat baru saja tiba, dia langsung memuntahkan semua isi perutnya."
" Hahaha...begitu ya. Kau ini seperti masuk ke dalam rumah hantu saja, setakut itu melihat rumah sakit."
" Aku lebih memilih masuk rumah hantu dokter, dibandingkan masuk ke dalam rumah sakit. Bagiku masuk rumah sakit itu, seperti kita sedang menghadapi kursi pesakitan."
" Hahaha.. Dhea...Dhea...kau lucu sekali."
" Sekarang apa yang kau rasakan? masih lemas."
" Tentu saja dokter, justru sekarang ditambah dengan pusing dan mual karena bau ruangan dokter ini." William hanya tersenyum mendengar jawaban jutek sang istri. Dia sangat tau Dhea sangat tidak nyaman saat ini.
" Hahaha...jangan menyindirku dokter."
" Aku tidak menyindirmu tuan, tapi langsung mengatakannya terus terang hahaha."
" Yaaahhh...lakukan yang terbaik untuk istriku, jangan ada yang terlewat satupun ok..!!"
" Tuh kan Dhe, benar kan kataku."
" Ya..ya..ya ayo dok kita mulai sekarang saja, sebelum aku pingsan di sini." Kata Dhea sambil berdiri dari tempat duduknya.
Atas perintah dokter, seorang perawat mendekati Dhea, dan mengambil sampel darahnya, lalu meletakkan pada tabung kaca kecil. Setelah itu Dhea dipersilahkan berbaring di ranjang, dimana sebelahnya terdapat sebuah monitor, dan peralatan kedokteran. Sedikit cairan dioleskan pada perut Dhea, dan dokterpun mulai memainkan perannya.
Dahi sang dokter sedikit mengkerut, dia seperti sedang berpikir keras. William yang sedari tadi ikut duduk memperhatikan cara kerja sang dokter, melihat perubahan wajah dokter tersebut.
" Ada apa dokter? kenapa raut wajah anda berubah?"
" Hemmmm....sebentar tuan, aku ingin memastikannya sekali lagi." Jawab dokter singkat.
Mata William dan Dhea ikut menatap layar monitor, tanda tanya besar ada dalam benak mereka, ada apa sebenarnya? sehingga dokter itu mengatakan ingin memastikannya lagi. Walaupun Dhea dan William tidak paham, gambar apa yang ada di dalam monitor itu, namun mata mereka tetap saja tidak beralih dari benda segi empat tersebut.
" Ok fix!!"
" Fix apa dokter? istriku baik-baik saja kan?"
" Maaf tuan, istrimu tidak baik-baik saja."
" Maksud anda apa dokter?" tanya Dhea sambil membenahi bajunya.
" Anda itu sangat tidak baik-baik saja nyonya!!"
" Lalu apa yang terjadi dengan istriku dokter?"
" Istrimu itu wanita yang sangat tidak baik."
" Maksud dokter???"
" Bagaimana aku bisa mengatakan dia wanita baik? saat ini dia sedang hamil, tapi tidak tau bahwa dia itu hamil!!"
" Apa dokter???" William sangat terkejut dengan jawaban dokter, sedangkan Dhea hanya bengong saja, antara percaya dan tidak dengan kalimat dokter barusan.
" Ya...penyebab tubuh istri anda itu lemas, karena sekarang dia sedang hamil tuan William. Dan yang aku heran kenapa sampai istrimu tidak tau jika dia hamil?"
" Dokter benarkah? anda tidak bohong kan??"
" Tidak nyonya, anda benar-benar hamil, selamat ya."
" Ya Allah sayang, kita akan memiliki anak!!!" teriak William histeris. Dan Dhea hanya bengong sambil menitikkan air mata.
" Nyonya, kau ini apa tidak ingat masa datang bulanmu? sehingga kau tidak menyadari kau sedang hamil?"
" Tidak dokter, semenjak aku kehilangan bayiku, aku tidak ingin mengingat-ingat tanggal bulananku. Karena jika aku mengingatnya, maka aku selalu berharap untuk segera hamil, aku hanya tidak ingin memikirkannya saja, dan menjalani sesuai dengan skenario Tuhan."
" Hemmmm...kau ini. Untung saja langsung ketahuan. Jika tidak, kau pasti tidak berhati-hati. Ingat usia kandunganmu masih sangat muda, jadi kau jangan bertingkah sembarangan ya."
" Iya dok, istriku ini kalau sedang tidak ada kesibukan, suka memanjat-manjat pohon sendirian." Jawab William sambil cekikikan.
" Haaahhh...sejak kapan aku jadi tarzan sayang??? kau yaaa...!!!"
" Hahaha.. maaf sayang, aku keceplosan."
" Hahaha...kalian ini."
" Jadi kita tidak perlu cek lab lagi kan dokter?"
" Ihhh kau ini sayang, kan sudah jelas penyebab tubuhku lemas itu karena aku hamil, jadi tidak perlu cek lab segala. Kau ini menyebalkan sekali, sudah tau aku tidak betah berlama-lama di sini, malah meminta dokter cek lab segala." Gerutu Dhe sambil merengut.
" Hahaha...sabar ya tuan William. Wanita yang sedang hamil muda, terkadang emosinya suka tidak terkontrol, maklum hormonnya tidak stabil." Bisik sang dokter.
" Iya dokter tidak apa-apa. Yang penting sebentar lagi aku akan menjadi seorang papa." Jawab William tak kalah pelan.
" Kalian berdua, jika ingin bisik-bisik jangan tanggung seperti itu, aku bisa mendengar kalimat kalian dengan jelas." Gerutu Dhea lagi.
" Hahahaha ...." Dokter dan William tertawa bersamaan, sedangkan Dhea hanya bersungut-sungut.