
Pagi yang cerah, secerah wajah Dhea yang terlihat begitu segar setelah bangun dan begitu menikmati tidurnya malam ini.
" Pagi sayang." Sapa William sambil memeluk istrinya dari belakang yang sedang berhias di depan cermin. Dia baru saja keluar dari kamar mandi, dan rambutnya masih terlihat basah oleh air.
" Pagi sayang." Kata Dhea.
" Hemmmm....harum sekali istriku." Dhea hanya tersenyum dan menghentikan kegiatannya.
" Bagaimana tidurmu semalam? kulihat kau tidak terbangun satu kalipun."
" Ya sayang, tidurku nyenyak sekali. Mungkin jika ada petasan meledak di sampingku, aku tidak mendengarnya."
" Hahaha....lalu siapa orang yang begitu kerjaan memasang petasan di kamar kita sayang." Sambil terus memeluk Dhea.
" Ya siapa tau sayang, ada orang yang kurang kerjaan hahaha."
" Hiiihhhhh...kau ini." Sambil menggelitik pinggang istrinya.
" Heiiii...jangan menggodaku ya, ini masih pagi."
" Hahaha...memangnya ada larangan suami tidak boleh menggoda istrinya pagi-pagi."
" Tidak juga sih, hanya saja."
" Hanya apa hayooo....."
" Hanya kenapa tidak dari tadi hahaha...."
" Heiii...kau berani genit-genitan ya sekarang."
" Hahaha.......tidak sayang ampuunnnn...!!!"
" Hemmmm...kita selesaikan tidak niihhh???"
" Sebaiknya bagaimana?"
" Hemmmm..kita tunda saja dulu ya, aku takut papa sudah menunggu kita untuk sarapan."
" Ohhh iya, aku lupa jika sedang berada di rumah mertua hahaha."
" Hemmmm...kau ini, baru saja semalam kita sampai, kau sudah lupa."
" Aku jika sudah berduaan dengan suamiku yang tampan ini, jadi lupa segala-galanya sayang."
" Hemmmm...kau pandai merayu ya sekarang. I love you sayang." Sambil mencium dahi Dhea.
" Love you too sayang."
" Ayo pakai jilbabmu, setelah itu kita turun." Ajak William sambil menyisir rambutnya, dan menyemprotkan parfum kesukaannya.
" Hemmmm...harumnya, kau membuatku semakin tidak ingin keluar dari kamar ini sayang." Sambil melirik penuh arti
" Hahaha...kau ini." Mencubit pipi istrinya.
" Jangan membangunkan macan tidur, ayo buruan.!!"
" Hehehe...iya sayang tunggu sebentar." Mengambil jilbab di dalam kopor pakaian lalu mengenakannya.
" Kau juga tampan sekali sayang."
" Semoga hingga kita menua bersama kau tetap menjadi wanita tercantikku."
" Tapi jika sudah tua mana mungkin aku masih secantik ini?"
" Buatku sifatmulah yang membuatku kau selalu terlihat cantik di mataku sayang."
" Terimakasih sayang." Jawab Dhea sambil tersenyum manis sekali.
" Ayo turun." Sambil mengulurkan jemarinya. Dhea meraih jemari itu, kemudian mereka keluar bersama.
Baru saja turun dari tangga, mereka berdua bertemu dengan Deasy yang hendak berjalan menuju ruang makan juga. Deasy terlihat sangat cantik sekali. Rambutnya yang pirang bergelombang dibiarkannya terurai, menambah kesan sexy dirinya.
" Pagi saudaraku." Sapa Dhea ramah.
Deasy menolah ke arah suara itu. Dilihatnya Dhea dan William yang saling berpegangan tangan.
" Pagi juga." Jawabnya singkat.
" Hemmmm....apakah kalian memang setiap hari selalu bepegangan tangan seperti itu? aku sendiri yang baru saja menikah tidak berlebihan seperti kalian." Lagi-lagi Deasy nyinyir. Dhea langsung menatap William.
" Hehhhh...kenapa mood pagiku yang indah ini suasananya jadi dirusak oleh Deasy? ada apa sih sebenarnya dengan dia? kenapa dia tidak ada manis-manisnya sedikitpun pada kami, khususnya padaku?"
" Sejutek-juteknya orang, pasti dia akan berfikir dulu sebelum berbicara, tidak seperti dia. Pasti ada sesuatu yang tidak beres." Dhea berpikir keras.
" Eh Deasy, maaf ya apakah sikapku terhadap istriku ini mengganggumu?" William kemudian menjawabnya.
" Tidak sih hanya sedikit heran saja, melihat kalian hampir di setiap hari selalu berpegangan tangan, memangnya kemesraan itu penting ya untuk selalu ditunjukkan di depan umum?"
" Ohhh begitu ya, jika tidak mengganggu aku rasa tidak masalah kan buatmu? aku juga kan memegang tangan istriku, dan bukan memegang tangan istri orang lain. Dan satu lagi, kami berdua tidak mengumbar kemesraan, karena kebiasaan ini memang kami lakukan setiap hari" Jawaban telak dari William membuat wajah Deasy merah padam.
" Ayo sayangku kita langsung ke ruang makan, pasti papa sudah menunggu kita berdua di sana." Kata William lagi sambil mengajak Dhea pergi, dan sekarang bukannya bergandengan lagi, justru William memindahkan lengannya memeluk pinggang Dhea, membuat Deasy semakin geram. Namun baru saja melangkah sebentar, William berhenti.
" Oh iya Deasy, aku tadi malam sepertinya melihat Mike tidur di kamar lain. Aku sangat mengenal adikku, dia bisa saja beralasan dengan papa, tapi tidak denganku. Dia tidak akan membiarkan istrinya tidur sendirian tanpa sebab. Berhati-hatilah kau, kalian itu masih pengantin baru, jangan sampai dia illfeel padamu ya." Katanya lagi, kemudian berjalan melenggang meninggalkan Deasy yang terlihat dongkol sekali. Dhea terlihat seperti tidak enak hati, mendengar suaminya mengeluarkan kata-kata pedas pada Deasy. Dia juga merasa bingung, mungkinkah William juga mulai merasakan sikap Deasy yang tidak bersahabat itu?
" Deasy maafkan perkataan suamiku. Dia sebenarnya bukan type laki-laki yang mudah sekali mengatakan kalimat yang menyinggung perasaan orang lain, tapi sikapmu yang terlihat tidak suka akan kehadiran kami, membuat suamiku melakukan itu untuk membelaku."
" Sialan..!!! laki-laki ini sangat tampan, tapi sayang mulutnya tajam juga...!!! oke perang dimulai, aku terima tantanganmu. Kemarahan Deasy yang tidak masuk akal, menumbuhkan kebencian yang semakin membara di hatinya. Dia tidak menyadari jika kedatangan kedua saudaranya itu adalah untuk berkenalan dengannya, dan bukan untuk memelihara permusuhan.
" Hehhhhh....Mike...Mike...lagi-lagi kau jatuh di lubang yang sama. Lepas dari ular kobra kau dapatkan ular sanca. Semoga kau bisa mendidik ahlak istrimu dengan baik, dan merubah sikapnya tidak seperti sekarang lagi." Gumam William dalam hati. Sambil terus berjalan menuju ruang makan.
" Sayang, kenapa kau menjawab seperti itu pada Deasy? kau telah menyinggungnya."
" Aku memang sengaja melakukannya, agar kebiasaan mulutnya yang tidak bersahabat itu bisa berubah."
" Ya, tapi tidak dengan cara seperti itu sayang, dia bisa membenci kita."
" Kenapa takut dibenci oleh manusia jika kita benar sayang? takutlah jika Allah yang membenci kita, oke."
" Hehhhh...oke...oke...done. Terserah apa kata suamiku sajalah."
" Yaaaa...memang harus seperti itu sikap seorang istri sholehah." Sambil mencubit pipi istrinya. Dhea tersenyum manis, sambil kemudian ikut memeluk pinggang suaminya.
Deasy yang berjalan sedikit jauh di belakang mereka, semakin dongkol melihat pemandangan di depannya.