
Saat Dhea duduk di kursi mobil, terlihat handphone yang tadi tanpa sengaja dilemparnya, ada di bawah kakinya. Diambilnya handphone tersebut, dan dilihatnya ada sepuluh lebih panggilan dari Bram, dia ingat saya kejadian tadi sedang telfonan dengan Bram, dan pasti pria itu mendengarnya juga.
" Mungkin dia mengkhawatirkanku." Bathinnya.
Tapi bukannya menelfon balik Bram, agar kerisauan temannya itu terjawab, Dhea justru mengotak atik handphonennya, menekan tombol galeri, dan melihat-lihat fotonya saat bersama William. Galeri tersebut memang dipenuhi foto mereka berdua. Sebentar-sebentar dia tersenyum memandang foto itu, sambil terus sibuk menghapus air matanya, supirnya yang melihat Dhea dari spion di atasnya, ikut pula meneteskan air mata.
" Sayang, aku belum tau bagaimana nasibmu sekarang, tapi masih bisakah aku berharap kau kembali di sampingku dengan keadaan selamat, dan sehat seperti sediakala? sedangkan kecelakaan itu begitu dahsyat? apakah masih ada harapan buatku untuk memohon padaNya? adakah sedikit keajaiban untukku? masih belum cukupkah Dia menguji keimananku dengan mengambil bayi kita? dan sekarang giliran dirimu direnggut dariku. Berdosakah jika aku terus meratapi ini semua? tapi saat ini aku tidak tau harus melakukan apalagi selain menangis. Sayang maafkan aku jika tangisanku ini memberatkanmu. Jika memang benar kau telah berada di sisiNya, aku hanya ingin mendengar kejelasan semuanya saja." Kata Dhea seorang diri. Dia tidak perduli supirnya mendengar semua keluhannya.
" Nyonya, nyonya yang sabar ya. Saya tau beban yang nyonya rasakan sangat berat, tapi Allah tidak akan memberi kita cobaan di luar kekuatan kita. Dia maha tau. Dia sangat paham nyonya pasti bisa hadapi ini semua. Dia ingin menguji sekali lagi keimanan Nyonya padaNya."
" Ya pak, saya sangat tau, tapi untuk yang ini begitu berat buat saya. Saya bahkan bingung untuk memulai hidup saya kembali jika benar-benar saya kehilangan suami saya."
" Nyonya kita ada di dunia ini awalnya sendiri, dan pada akhirnya akan sendiri juga. Dan itu tidak bisa kita hindari, semua manusia entah kapan gilirannya akan mengalami kesendirian juga. Nyonya masih sangat muda, dan masa depan nyonya masih panjang, hadapi semua dengan ikhlas, insyaallah semua akan berlalu."
" Lalu, kenapa harus secepat ini pak? padahal dulu kami berjanji untuk menjalani sisa umur kami berdua dan menua bersama, tapi baru hitungan bulan, bahkan saya belum merasakan membesarkan anak bersamanya, Allah sudah memanggilnya." Protes Dhea seakan tidak terima dengan kenyataan yang dia alami.
" Nyonya, maut itu tidak mengenal usia. Dan suami anda mungkin sudah ditakdirkan meninggal di usia yang masih muda, jika memang benar tuan ikut menjadi salah satu korban pesawat tadi. Mungkin itu memang yang terbaik untuk Tuan William. Dan nyonya harus bersyukur dia meninggal setelah memeluk islam."
" Pak, setelah anda mengantar saya, tolong segera cari informasi mengenai suami saya ya, tolong cari kabar bagaimana nasibnya."
" Iya nyonya, saya janji akan segera mencari informasi itu, anda tidak usah khawatir."
" Terimakasih ya pak?"
" Iya nyonya sama-sama, tenangkan diri anda di rumah dulu, dan tetap berdoa untuk tuan ya."
Dhea hanya mengangguk pasrah, air matanya yang sedari tadi mengalir seperti sebuah anak sungai yang tidak bisa dibendung lagi, walaupun sudah sekuat tenaga dia menahannya.
Setibanya di rumah, Dhea segera turun. Beberapa pegawainya menyambutnya dengan deraian air mata. Entah mendapat informasi darimana, sehingga mereka secepat itu mereka mendapatkan kabar meledaknya pesawat yang ditumpangi oleh tuannya. Dhea masuk dipapah oleh dokter dan susternya yang juga ikut menyambutnya di depan pintu.
" Sabar ya Nyonya Dhea, kami mendengar berita itu dari televisi yang menyiarkannya secara langsung. Kami juga terkejut. Semoga ada keajaiban buat Tuan William." Kata dokter itu tanpa dijawab sepatah katapun oleh Dhea, dan air matanya kembali mengalir deras. Dua orang tersebut memapah Dhea masuk ke dalam kamarnya. Beberapa pegawai lain yang ikut berjalan di belakangnya ikutan sibuk juga menyeka air matanya.
Dokter membantu membaringkan tubuh Dhea di atas ranjang. Kemudian mengambilkan beberapa obat untuk Dhea.
" Anda sebaiknya minum obat ini dulu, agar lebih tenang." Kata dokter tersebut sambil menyodorkan kepada Dhea. Dhea menerimanya dan langsung memasukkan ke dalam mulutnya, dibantu dengan air minum yang telah diambilkan oleh suster pribadinya.
" Belum nyonya, tadi baru menyiarkan berita tentang kecelakaan itu saja, dan belum ada informasi jumlah orang yang menjadi korban. Kita tunggu saja, pasti tidak akan lama, karena kejadian itu tidak terlalu jauh dari lokasi bandara."
" Aku tidak berani melihat berita dokter, aku sudah bisa membayangkan mungkin hanya puing-puing pesawat saja yang tersisa." Kata Dhea sambil terisak.
" Sebaiknya anda memang harus menenangkan diri dulu, ingat anda harus menjaga kesehatan anda sendiri."
" Ya dokter, tadi pak supir sudah aku minta untuk kembali ke bandara, semoga saja dia pulang dengan membawa berita baik."
" Ya nyonya, harapan sayapun demikian. Ada sebuah keajaiban dari Allah untuk tuan. Beliau orang yang baik, banyak doa dari orang-orang yang pernah dibantunya tentunya untuk keselamatan dirinya, semoga itu yang bisa melindunginya dari segala macam bahaya."
" Tadi saat dia hendak pergi, rasanya aku berat sekali melepasnya, apakah ini semua pertanda bahwa dia akan meninggalkanku selamanya?" Dhea kembali tersedu-sedu, suster dan dokter yang menemaninyapun tak kuasa melihat pemandangan di depannya, perlahan sang dokter memeluk Dhea berusaha untuk menguatkan pasiennya.
Sementara itu supir Dhea terlihat sedang kembali menuju bandara, berusaha mencari informasi detail mengenai berita kecelakaan itu. Saat telah tiba di bandara, dia segera buru-buru menuju pusat informasi, dan ternyata suasana bukannya semakin sepi justru malah semakin ramai. Rombongan orang-orang yang merasa anggota keluarganya berada di dalam pesawat tersebut, semakin banyak berdatangan dan memenuhi setiap sudut bandara. Suasa pilu semakin terasa, dan isak tangis terdengar dimana-mana.
Supir Dhea segera mendekat ke ruangan informasi, yang masih penuh sesak itu. Namun dia tidak menyerah, dengan sekuat tenaga dia berhasil menerobos kerumunan orang-orang tersebut.
" Mbak...mbak....bagaimana kondisi penumpang pesawat yang meledak tadi?" tanyanya sedikit berteriak.
" Informasi yang kami dapatkan untuk sementara ini, belum diketemukan satupun penumpang yang selamat, namun pihak kami akan terus mengusahakan untuk mengumpulkan jenazah dan mengidentifikasinya satu persatu." Jawab petugas tersebut.
" Mbak bisakah saya meminta informasi apakah penumpang yang bernama William Sean Anderson ikut dalam penerbangan itu?" Tanyanya sekali lagi. Dan sepertinya Tuhan berpihak pada supir Dhea, karena setiap pertanyaannya langsung dijawab oleh petugas tersebut.
" William Sean Anderson? coba saya cek dulu ya? untuk yang lainnya mohon sabar, jika ada informasi terbaru pasti akan kami umumkan." Katanya lagi.
Kemudian terlihat petugas tersebut mengotak atik layar monitor di depannya, mengecek satu persatu nama penumpang yang ada dalam pesawat itu."
" Ya benar pak, William Sean Anderson terdaftar dalam penumpang pesawat tersebut."
" Benarkah mbak?" Jawab supir Dhea seolah tidak percaya. Petugas itu kemudian melihat kembali layar monitor untuk memastikan jawabannya. Tak lama kemudian terdengar dia bercakap-cakap lagi dengan supir Dhea. Entah apa yang dikatakan petugas tersebut, sehingganya supir Dhea kemudian mundur teratur, dan dengan tubuh lunglai langsung terduduk di kursi yang tidak jauh dari hadapannya.
Sambil menangis dan menutup wajah dengan kedua tangannya, bibirnya terlihat komat-kamit, entah apa yang diucapkannya, lalu kemudian dia segera beranjak dari tempat duduk itu dan setengah berlari menuju mobilnya yang terparkir di depan, tanpa basa basi lagi langsung menancap gasnya dengan cepat.
Hai para readers.....kayaknya novel ini udah kepanjangan deh ya, pengen tau aja kira2 dah pada bosan belum? mo end or lanjut? Karena sesuatu kl berlebihan kan ga baik juga hehehe...aku sebagai author ga mau egois, tujuanku buat novel ini kan buat hibur kalian semua, tp kalau kalian udah jenuh kan ga asyik juga. Minta masukkannya di kolom komen ya makasiiihhhhh....😊😊😊🙏🙏