Something different

Something different
Telfon dari papa William



" Ada apa nak? kalian sedang ada masalah?"


" Kami berdua baik-baik saja pah."


" Lalu ada apa? kenapa kau menelfon papah sambil sembunyi-sembunyi seperti ini?"


" Begini pah, tadi pagi Dhea mengalami mual dan pusing, lalu aku memanggil dokter langganan kami." Kemudian William bercerita panjang lebar secara detail, hingga diagnosa dokter yang membuatnya sangat khawatir itu. Papanya mendengarnya dengan seksama.


" Begitu pah ceritanya."


" Lalu apakah itu sudah positif Will?"


" Belum sih pah, baru tadi siang kami mengadakan tes laboratorium."


" Apakah itu berbahaya Will?"


" Ya pah, bahkan bisa menyebabkan kematian." Kata William ada nada sedih dalam kalimatnya.


" Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya? kau tidak ingin membawa istrimu kemari agar bisa ditangani lebih serius?"


" Ya pah, tapi aku ingin memastikannya dulu. Aku harap apa yang diperkirakan dokter salah. Satu-satunya cara untuk mencegahnya hanya melahirkan janin yang dikandung Dhea lebih cepat pah."


" Apaaaaa??? itu sama saja membunuhnya Will!!!"


" Memang begitu pah. Karena bisa membahayakan nyawa istriku."


" Ya Tuhaaaan....hukuman apa yang kau timpakan pada keluarga kami? aku baru saja ingin berbahagia mendapatkan seorang cucu, namun kau sudah memberikan masalah seberat ini?"


" Jangan berkata seperti itu pah. Ini bukan hukuman, tapi sebuah ujian. Tuhan tidak pernah memberikan ujian di luar batas kemampuan manusia. Bardoalah pah, semoga Dhea dan calon bayinya baik-baik saja." Kata William mencoba membesarkan hati papanya.


Dia sangat tau, salah satu orang yang akan sangat kecewa mendengar kabar ini adalah papanya. Orang tua itu memiliki harapan yang sangat besar pada kelahiran anaknya kelak. Sudah lama dia memimpikan itu semua. Membayangkan ada seorang anak kecil yang memanggilnya opa. Bermain dan tertawa bersamanya. Bayangan itu sangat menyenangkan sekali. Mike yang lebih dulu menikah bukannya memberikan seorang cucu, tapi malah justru bercerai. Namun mungkin itu salah satu cara Tuhan untuk menyelamatkan adiknya dari perempuan bejat yang telah menjadi mantan istrinya itu.


" Hehhhhh....Will, papa sangat berharap semuanya akan baik-baik saja. Dan semoga itu semua tidak benar."


" Ya pah, sama seperti harapanku juga. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa saja, jika ada kemungkinan terburuk yang terjadi, aku harap papa bisa mengikhlaskannya."


" Ya nak, tidak ada yang bisa melawan kuasaNya selain bersabar."


" Ya pah."


" Will, salam untuk istrimu ya. Papa yakin jika memang itu terjadi, dia pasti akan kuat menjalaninya. Dia itu wanita yang hebat."


" Iya pah terimakasih atas suportmu."


" Kabari papa ya, apapun hasilnya itu."


" Ya pah pasti itu. Baik-baik ya pah di sana."


" Iya nak kau juga. Jagalah keluargamu baik-baik."


" Iya pah." Lalu telfonpun ditutup. William menarik nafas panjang, dia sangat tau setelah ini papanya pasti akan terus semakin mengkhawatirkan istrinya. Dan tidak akan pernah absen satu haripun untuk tidak menelfonnya. Benar-benar mertua yang begitu baik, tidak pernah membeda-bedakan antara anak sendiri dan menantu. Walaupun banyak seorang mertua yang mengatakan bahwa menantunya itu sudah dianggapnya seperti anak sendiri, namun sikap tidak bisa membohongi lisan. Lisan boleh saja berkata seperti itu, namun jika menantu bersikap salah sedikit saja, sudah pasti bakalan jadi sumber pembicaraan dengan tetangga di sekitarnya. Beda sekali dengan papa William yang benar-benar menyayangi Dhea tulus, sehingga akhirnyapun Dhea bisa dengan tulus juga menyayangi mertuanya.


William masuk kembali ke dalam kamarnya. Dilihatnya Dhea baru saja menyelesaikan rakaat terakhirnya. William masuk ke dalam toilet, berwudhu sebentar lalu segera keluar lagi. Dhea masih saja belum beranjak dari sajadahnya, tangannya terlihat menengadahkan ke atas. Entah apa yang sedang dia minta pada Robbnya sehingga membutuhkan waktu sedikit lama. William menunggui istrinya hingga selesai. Dia tersenyum melihat istrinya begitu khusuk berdoa. Dulu sebelum menjadi mualaf, dia jarang meminta apa-apa pada Tuhannya. Karena dia merasa hidupnya sudah sangat sempurna. Apapun yang dia inginkan dengan begitu mudah terpenuhi. Namun ternyata sekarang berubah 180°, bahkan dulu dia lupa agar Tuhan memanjangkan umurnya dan memberinya kesehatan. Namun sekarang dia bahkan takut mati dan berharap bisa hidup 10000 tahun lagi agar bisa menebus semua dosanya di masa lalu.


Dilihatnya Dhea telah menyelesaikan doa-doanya dan sedang melepas mukenanya.


" Kau sudah wudhu sayang?" tanya Dhea.


" Iya. Aku menunggumu berdoa lama sekali. Apa sebenarnya yang kau minta. Jangan minta yang aneh-aneh ya."


" Aneh-aneh bagaimana? bisa kau contohkan padaku?"


" Yaahhh...misalnya saja meminta Dia mendatangkan mantanmu ke rumah ini."


" Hahaha...kurang kerjaan sekali meminta doa yang tidak penting itu."


" Ya kalau datang sungguhan kupersilahkan masuk dong, masak harus kuusir. Tamu itu membawa rejeki sayang."


" Sudah cepat sholat sana!! ngobrol terus."


" Hehehe oke."


Dhea segera bangun dan membaringkan tubuhnya, lalu meminum obat yang tadi diberikan Dokter Sherli untuk yang kedua kalinya. Kepalanya masih berdenyut, namun rasa mualnya sudah hilang, hanya rasa sakit di perut bagian atas masih sedikit terasa. Dia terus beristigfar dalam hati, berharap rasa sakit itu bisa berkurang dengan asma Allah yang sedang diucapkannya.


Rakaat terakhir telah diselesaikan oleh William. Dia segera menggulung sajadahnya. Dilihatnya istrinya sedang duduk selonjoran di atas kasur sambil bersandar dan bibirnya sibuk berkomat kamit. Dia merasa beruntung memiliki istri yang tak pernah berhenti mengingat Tuhannya disaat apapun.


" Sayang...kau sudah meminum obatmu?" Dhea membuka matanya, mendengar suaminya berbicara padanya.


" Sudah sayang, baru saja. Tadi siapa yang menelfonmu? sepertinya lama sekali?"


" Ohhh...papa yang menelfonku. Biasalah papa, kau tau kan kebiasaannya jika menelfonku? pasti dia akan menitipkan pesan banyak sekali."


" Hehehe itu berarti papa sangat perhatian pada kita sayang."


" Ya...tentu saja, juga padamu, menantu perempuan yang disayanginya."


" Bagaimana papa? apakah beliau baik-baik saja?"


" Sudah tentu sayang. Walaupun papa itu sudah lanjut usia, tapi jiwanya masih sangat muda dan tidak mau kalah dengan yang usianya jauh di bawah dia."


" Yaaa....pantas semangat hidupnya sangat besar, karena dia selalu happy menjalani kehidupan ini."


" Ya benar. Yang penting selalu berpikiran positif, itu salah satu cara menuju hidup sehat."


" Ya benar sekali, positif thinking dan tidak cemburuan lebih tepatnya. Iya kan?"


" Heiiiii....kau sedang menyindirku ya?" Tanya William.


" Tidak! aku tidak menyindirmu. Kau kan positif thinking dan tidak cemburuan."


" Hehhhh....kau pikir aku tidak tau maksud kata-katamu."


" Hihihi...memang kau cemburuan???"


" Ya...sangat cemburuan. Ayo kau mengaku saja, kau menyindirku kan???" tanya William sambil menggelitik Dhea.


" Hahaha...iya tapi cuma sedikit, tidak banyak."


" Sedikit juga tetap saja menyindir kan?"


" Ya..ya..ya ampun...hahaha...ya aku menyindirmu." Kata Dhea diantara tawanya.


William menghentikan gelitikannya, dan kemudian memeluk wanita yang amat dicintainya.


" Sayang berjanjilah, akan selalu mencintaiku dan akan selalu bersamaku menemaniku hingga kapanpun."


" Ya sayang, kau jangan khawatirkan kesetiaanku."


" Dan satu lagi, tetap jadikan aku imammu dan mematuhi kata-kataku."


" Kenapa itu lagi sayang? bukankah aku tadi pagi sudah berjanji? kau tidak perlu mengulanginya lagi."


" Aku hanya ingin mengingatkanmu saja."


" Hehhhh...aku masih belum lupa sayang."


" Hehehe....manusia kan gampang berubah."


" Ya sudah tidur yuk." Kata William sambil membaringkan tubuhnya. Dhea mengikuti gerakan suaminya. Dan tak lama mereka berdua terlelap dengan tangan William yang memeluk pinggang Dhea.