
Saat mereka berempat sedang asyik berada di kamar Devian, tiba-tiba saja Deasy masuk, wajahnya merah padam dan terlihat marah saat melihat Dhea sedang menggendong Devian.
" Taruh anakku Dhe!!!" perintahnya sambil sedikit berteriak. Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut bukan kepalang, melihat sikap Deasy yang tak beretika itu.
" Ehhh Deas...maaf, aku hanya ingin menggendongnya saja. Jika kau tidak suka aku akan meletakkannya." Jawab Dhea.
" Ya aku sangat tidak suka ada orang lain menyentuh anakku!!!"
" Deasy!!! apa-apaan kau ini??? sikapmu sangat tidak sopan!!!"
" Dia yang tidak sopan menyentuh Devian tanpa seijinku!!"
" Sejak kapan kau perduli dan memberlakukan aturan itu pada Devian???"
" Kau tidak perlu bertanya kapan aku membuat aturan itu. Yang jelas aku ibunya, aku punya hak untuk melarang siapa saja menyentuh Devian!!!"
" Kau lupa? tadi pagi aku mengatakan apa padamu??"
" Aku tidak perduli Mike!! yang jelas aku tidak suka ada orang lain menyentuh anakku."
" Dhea dan William bukan orang lain Deasy. Mereka berdua adalah saudaraku!! kau tidak berhak melarang mereka!!" Deasy bukannya menghentikan kemarahannya, tapi dia justru mendekati Dhea.
" Dhe, kau bebal ya? letakkan anakku!!" Dhea yang terbengong sedari tadi melihat pertengkaran Mike, seolah tersadar dengan ucapan Deasy, dan langsung meletakkan Devian dalam box bayi.
" Aku tau, kedatanganmu kemari hanya pura-pura ingin melihat Devian, dan sebenarnya hanya akal-akalanmu yang ingin memperolokku kan? kau ingin membalas perlakuanku selama ini melalui Devian kan??"
" Ya Allah Deasy, pikiranmu kotor sekali. Aku kemari karena memang ingin mengucapkan selamat pada kalian, dan ingin menengok Devian, tidak ada maksud lain."
" Aaahhh kau jangan sok perduli!! kau kan sudah tau Devian tidak dapat melihat, dan pasti kau berpikir ini waktunya membalasku. Sebenarnya kau ingin memperolok Devian kan??"
" Deasy!!! Devian itu keponakanku. Kenapa aku harus memperoloknya?? Dia bayi yang masih suci Deasy, dia tidak bersalah apa-apa. Kenapa kau harus libatkan Devian dengan persoalanmu?"
" Aku juga belum mengetahui jika Devian kondisinya seperti itu, kami baru tau tadi dari Mike, saat hendak masuk ke kamar ini.
" Ahhhh tidak usah berpura-pura!! Kau ini sok berhati mulia!!"
" Deasy cukup!!!" Papa Mike yang sedari tadi diam, dan selama ini tidak pernah mau ikut terlibat dengan urusan anaknyapun, tiba-tiba angkat bicara. Semua orang yang ada di situ terkejut, karena tidak biasanya papa mereka bersikap seperti itu.
" Deasy....maaf, papa harus ikut berbicara, karena papa lihat kau sudah sangat keterlaluan!! Kau tidak bisa menahan amarahmu, sedangkan ada papa di sini. Kau sama saja tidak menghargai papa. Papa sudah mendengar semua cerita Mike tentang ketidakinginanmu untuk merawat Devian, jika kau tidak mau, serahkan Devian pada papa, biar papa yang merawatnya. Papa masih memiliki banyak harta jika hanya untuk membesarkan Devian, dan mencari pengasuh Devian!!!"
" Kau sangat keterlaluan!! kau anggap Devian apa, sehingga mengabaikan dia? Apapun keadaan Devian, dalam tubuhnya tetap mengalir darahku, darah keluarga pewaris Anderson. Camkan itu!!!"
" Dan satu lagi, aku tidak suka sifatmu yang keras kepala itu, dan selalu berfikiran negatif pada orang yang ingin berniat baik padamu."
" Deasy!!! kau sangat keterlaluan!!!"
" Kesalahamu ini sudah tidak bisa kutolelir lagi!!" Sambil berjalan meninggalkan Deasy.
Mike yang jarang sekali melihat papanya semarah ini, langsung mengejar orang tua itu yang sudah berada di luar kamar anaknya.
" Pah!!! pah!!! tunggu pah!! maafkan aku. Jangan dengar kata-kata Deasy." sambil memegang tangan papanya.
" Nak, kau tidak bersalah, jangan meminta maaf." Biarkan kami pulang saja. Selesaikan masalah kalian yang seperti papa bilang tadi. Semua keputusan ada di tanganmu, karena kau yang akan menjalaninya. Papa tidak apa-apa. Jangan pikirkan papa ya." Sambil memegang pundak Mike.
" Kalimat papa tadi tidak main-main. Jika demi untuk menyelamatkan rumah tanggamu, dan Devian harus keluar dari rumah ini, papa yang akan merawatnya nak."
" Tidak pah. Devian tetap anakku, apapun keadaannya. Aku janji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya."
" Yahhh...secepatnya. Jangan kau ulur lagi, sebelum jadi bom waktu yang akan meledak sewaktu-waktu. Kami pulang dulu ya. Semoga kau bisa menemukan solusinya." Mike hanya mengangguk lemah.
" Mike...maafkan kami ya. Karena kedatangan kami, kau jadi bertengkar dengan istrimu."
" Tidak Will. Ini bukan salah kalian, akulah yang salah, tidak bisa mengendalikan istriku sendiri."
" Kami akan menginap di rumah papa. Jika kau ada waktu datanglah kesana ya."
" Iya Will, pasti aku akan menemui kalian di sana."
Akhirnya mereka bertiga berpamitan pulang, Mike mengantarnya hingga di depan rumah.
Selama perjalanan, tidak ada obrolan seru seperti saat berangkat tadi. Semua mulut seolah terkunci rapat, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Dhea yang begitu sedih memikirkan keadaan keponakannya. William yang tidak habis pikir dengan sikap norak Deasy terhadap istrinya tadi, serta papanya yang begitu bingung memikirkan nasib rumah tangga Mike selanjutnya.
Sementara itu, sepeninggal papa dan kakaknya, Mike bertengkar hebat dengan Deasy. Bahkan Mike sudah habis kesabarannya, hingga mengucapkan kata cerai pada Deasy. Deasy yang begitu terkejut, dan tidak menyangka Mike mampu mengucapkan hal itu, membuat Deasy naik pitam. Emosinya tidak terkendali lagi. Dia yang selama ini menganggap bahwa kecantikkan dan kemolekkan tubuhnya, mampu menaklukan hati laki-laki yang telah menjadi suaminya itu, ternyata salah besar. Rumah tangganya bahkan sedang ada di ujung tanduk. Mike seolah tidak memiliki rasa cinta sedikitpun lagi pada Deasy.
Namun bukannya intropeksi diri, Deasy justru mengkambinghitamkan Dhea sebagai penyebab keretakkan rumah tangga mereka berdua. Dia menyangka, Mike lebih memilih membela Dhea, dibanding dia. Hingga pada ujung pertengkaran, Deasy membawa keluar semua pakaiannya, dan pergi meninggalkan rumah besar itu. Deasy sebenarnya berharap, kepergiannya itu bisa membuat Mike merasa kehilangan dia, dan tau rasanya jika tidak ada dia di samping Mike. Dia berharap, Mike kemudian merubah keputusan untuk bercerai dengannya.
Namun Deasy salah besar. Keputusan Mike sudah bulat. Dengan keluarnya Deasy dari rumahnya itu, merupakan pertanda bahwa dia benar-benar sudah tidak perduli pada dirinya, bahkan pada Devian anak mereka. Padahal Devian sangat membutuhkan air susunya.
Sungguh pelik persoalan mereka. Ternyata ego bisa meruntuhkan semuanya. Cinta, rasa sayang, bahkan buah hatipun bisa menjadi korban akibat mempertahankan sebuah ego yang seharusnya bisa diselesaikan baik-baik, dan dengan kepala dingin, tanpa mendahulukan emosi semata.
Sepeninggal Deasy, Mike segera masuk ke dalam kamar anaknya. Dipandanginya buah hatinya yang belum mengerti apa-apa tentang kondisi kedua orang tuanya itu. Bayi merah tanpa dosa yang menjadi korban keegoisan orang tuanya. Mike mengangkat tubuh anaknya, dan dipeluknya bayi mungil itu. Tanpa terasa titik bening menetes keluar dari pelupuk matanya.
" Maafkan papa dan mamamu nak. Maafkan kami berdua. Papa janji, tidak akan menyia-nyiakanmu. Papa janji akan membesarkanmu hingga kau dewasa, hingga kau paham begitu beratnya cobaan yang papa alami ini. Kelak kau akan mengerti semuanya nak. Semoga suatu hari nanti, kau akan menjadi cahaya yang menerangi rumah ini. Walaupun kau memiliki kekurangan, tapi papa yakin, kelak kau bisa membanggakan keluarga besar Anderson." Bisik Mike di telinga anaknya.y