Something different

Something different
William putus asa



William pulang ke rumahnya setelah sore hari, siang tadi dia hanya berputar putar kota seharian, berusaha untuk melupakan masalahnya. Perasaannya begitu hancur, kepalanya seperti mau pecah mengingat Mike membawa Dhea pergi dari hadapannya. Bram segera masuk ke dalam kamarnya. Dia tetap tidak bisa melupakan semua kejadian siang tadi. Dia melemparkan barang apa saja yang ada di hadapannya, tak ketinggalan juga cermin besar yang ada di kamarnya menjadi sasaran tonjokkan tangannya. Darah segar mengalir dari sela sela jarinya, namun rasa perih yang ditimbulkan oleh pecahan kaca itu tak sebanding dengan rasa perih di hatinya.


" Dheaaaa...!!! Aku itu sangat mencintaimu, apa yang harus aku lakukan untuk bisa memilikimu ? Apakah aku harus menculikmu dan membawamu pergi dari kota ini ?"


" Arrrggghhhh..." William berteriak keras keras.


William merasa amat gelisah, pikirannya tidak bisa berpindah dari sosok Dhea. Diapun menelfon papanya. Terdengar nada sambung di sana.


" Hallo Will ".


" Hallo pah, apakah kau di rumah ?"


" Iya aku di rumah, ada apa ?"


" Aku ingin menemuimu pah ?"


" Kemarilah nak, aku menunggumu di sini "


" Iya pah, terimakasih ".


Kemudian William menutup telfonnya.


" Ada apa dengan anak itu, nada bicaranya begitu sedih, apakah dia sedang ada masalah ? tidak biasanya dia menelfon jika ingin bertemu denganku ? Hhmmm pasti masalah anak muda ", bisik papa William sambil tersenyum.


Sementara itu William terlihat sedang membalut jemariku dengan kain kasa, dia tidak ingin luka di tangannya diketahui oleh papanya nanti. Kemudian dia segera keluar dari kamarnya. Sesaat kemudian dia memanggil salah satu asisten rumah tangganya.


" Iya tuan ada apa ?"


" Kau tolong bersihkan kamarku, dan bilang Paul untuk mengganti kaca di kamarku ".


" Baik tuan, akan aku kerjakan ".


" Ya terimakasih ".


Lalu William segera pergi meninggalkan rumahnya mengendarai mobilnya. Dia benar benar tidak bisa sedikitpun berkonsentrasi, sehingga sebentar sebentar dia mengerem mendadak karena hampir menabrak mobil di depannya.


Sampai di rumah orang tuanya matahari telah tenggelam, dia segera turun dan mencari papanya. Dan ternyata papanya sudah menunggu di depan kolam renang.


" Hai Will kau sudah datang ?"


" Iya pah ", jawab William sambil memeluk papanya.


" Ada apa nak ? sepertinya kau sedang ada persoalan berat, wajahmu terlihat suram sekali. Ceritakanlah pada papa ".


" Dhea pah ".


" Ada apa dengan Dhe ".


" Dhea sekarang benar benar membenciku, bahkan tadi dia pergi meninggalkanku bersama Mike ".


" Mike ? kenapa bisa bersama Mike ?"


" Ya pah, akhir akhir ini mereka berdua sangat akrab, aku hancur pah, hancur...Kau tau kan aku sangat mencintainya ".


Papa William hanya menarik nafas, dia tau saat ini William sangat rapuh. William tidak pernah mengadu tentang masalahnya kepada orang tuanya, namun saat ini tiba tiba dia datang seolah tidak mampu lagi menghadapi beban hidupnya.


" Nak...aku tau..aku tau apa yang kau rasakan. Dengar ya !! cinta itu tidak bisa dipaksakan, kau harus bisa menerimanya. Dhea mungkin akrab dengan Mike, tapi belum tentu juga mencintai Mike ".


" Iya pah, tapi aku takut kehilangannya ".


" Will harus ada yang berkorban salah satu jika kau ingin mendekatinya, kau atau dia, dan mungkin itu bisa menyatukan kalian ".


" Lalu Paula pah ?"


" Paula tetap menjadi tanggung jawabmu, karena itu sudah menjadi resikomu ".


" Tapi Dhea tetap tidak bersedia kudekati jika aku sudah menikahi Paula ?"


" Jalani saja dulu, jangan takut dengan apa yang ada di depan, hadapi nak, karena hidup itu tidak semudah yang kau pikirkan dan juga tidak sesulit yang kau bayangkan. Hanya bagaimana cara kau menyikapinya saja ".


" Ya pah...aku tau ".


" Sekarang kembalilah ke rumahmu, jernihkan pikiranmu, dan jangan dahulukan emosimu. Sesuatu yang dilakukan dengan emosi tidak akan berujung baik ".


" Ya pah, terimakasih atas nasehatmu, aku pulang dulu ya ".


Setelah memeluk papanya, Williampun segera pergi. Papa William hanya memperhatikan punggung anak lelakinya itu hilang perlahan lahan dibalik dinding pembatas yang memisahkan kedua ruangan itu.


Saat di dalam mobil William menelfon Daniel.


" Dan ayo temani aku ", ajak William saat Daniel mengangkat telfonnya.


" Menemani kemana Will ?"


" Temani aku mabuk, kepalaku sedang pusing ".


" Oke Will, dimana aku bisa menemuimu ?"


" Di tempat biasa kita minum ".


Tak lama kemudian Daniel telah datang di tempat itu juga, matanya mencari cari sosok William. Ternyata William terlihat sedang duduk di depan meja bar. Dihadapannya terdapat beberapa minuman keras.


" Hai Will, hhmmm sepertinya kau sudah bersiap siap untuk mabuk semalaman ya ".


" Ya..pikiranku kacau Dan, wanita...itu wanita itu meninggalkanku Dan...Dhea tidak mau bertemu denganku lagi ", kata William seraya memeluk Daniel dan menangis di dadanya.


" Hhhhhh sudah habis berapa botol kau, baru saja kau tiba di sini, sudah mabuk kau rupanya ". gerutu Daniel.


" Hei Dan, kau jangan bertindak bodoh lagi ya, kalau aku mabuk kau jangan ikutan mabuk, jaga tubuhku ini, aku tidak mau ada wanita lain lagi yang hamil karenaku, tapi jika itu Dhea, aku bersedia menghamilinya Dan, dan aku akan menikahinya segera hahaha...Aku akan mengadakan pesta 1 bulan lamanya untuk merayakan pernikahanku...Aku akan memberinya banyak kebahagiaan Dan, bukan cuma harta tapi juga cintaku Dan...cintaku...kau tau itu kan ???"


" Tapi kenapa dia justru menolakku Daniel ? Aku bahkan berani mengorbankan segalanya untuknya, tapi kenapa dia tidak mencintaiku. Apakah wajahku kurang tampan Dan ? hah wajahku kurang tampan ya Dan ? Ayolah jawab jangan diam saja, kau tidak punya mulut ya ?"


" Sssttt...sudah Will...kau berbicara terus dari tadi...minummu sudah terlalu banyak kau sudah mabuk berat ".


" Tidak aku tidak mabuk Dan, aku itu justru dimabukkan cinta oleh Dhea, Dhea ohhh Dhea I love you aku sangat mencintaimu Dhea hahaha ".


William terus berbicara tidak karuan, dan Daniel dibuat kewalahan mengatasi laki laki itu.


" Ayo kita pulang Will, sebelum kau menjadi tontonan orang orang di bar ini ".


" Pulang Dan ? ohhh tidak...aku hanya mau pulang jika ada Dhea di sampingku, dan dia yang akan menemaniku semalaman, seperti saat aku mabuk waktu itu....Dhea...!!! Hei Dhea...!!! kemarilah aku sedang mabuk...Dhea....bukankah dulu kau pernah menungguiku saat mabuk seperti ini ???"


" Ahh kau ini bicaramu sudah semakin ngelantur, ayo aku bawa kau pulang, menyusahkan saja ", gerutu Daniel sambil memapah tubuh William dan membawanya pulang.