Something different

Something different
telfon papa dan Daniel



Saat Dhea terlihat sudah terlelap, William segera beranjak dari duduknya. Dia berdiri sebentar sambil meregangkan seluruh anggota tubuhnya. Diliriknya arloji di tangannya, dia ingat belum sholat dhuhur. Lalu dia berjalan ke toilet, mengambil air wudhu sebentar, sesaat kemudian sudah terlihat khusuk menjalankan ibadah lima waktunya. Setelah selesai rakaat terakhir dan ditutup dengan doa, kemudian dia berjalan ke sofa dengan maksud ingin merebahkan tubuhnya sebentar dan beristirahat sejenak. Sebenarnya ada kasur khusus juga yang disediakan untuk digunakan bagi penunggu pasien, namun William tidak mau jika dia tidur di kasur itu, pasti dia akan keenakan, dan khawatir jika tidak mendengar Dhea memanggilnya dan membutuhkannya.


Baru saja hendak memejamkan mata, tiba-tiba handphonennya berbunyi. Buru-buru dia segera bangun dan mengambil handphone tersebut, dilihat ayahnyalah yang memanggilnya. Dia segera keluar, untungnya Dhea tidak terbangun dengan bunyi nyaring hanphone tersebut, mungkin memang tidur istrinya sangat nyenyak, sehingga tidak terusik dengan suara apapun.


" Hallo pah." Sapanya saat sudah berada di luar kamar.


" Hallo Will, bagaimana proses operasi istrimu?" Tanya papanya yang baru saja menelfonnya, dan langsung menanyakan kabar operasi menantunya. Karena selisih waktu antara London dan Indonesia jauh berbeda, sehingga baru sekarang papanya menelfon.


" Alhamdulillah lancar pah."


" Syukurlah, dua-duanya selamat kan nak?"


William diam sesaat dan tidak langsung menjawab pertanyaan papanya.


" Will? kenapa kau diam saja?" Tanya papanya penasaran, walaupun papanya tidak secara langsung melihat ekspresi William, namun perasaan orang tua tetap tidak bisa dibohongi.


" Istriku baik-baik saja pah, tapi anakku?" Jawab William singkat, kemudian memutuskan kalimatnya.


" Anakmu? kenapa dia? apakah dia tidak bisa diselamatkan?"


" Ya pah, anakku meninggal beberapa jam yang lalu."


" Ya Tuhan benar dugaanku. Jarang ada bayi yang bertahan di usia kandungan semuda itu, kecuali ada sebuah keajaiban." Gumam papanya.


" Lalu bagaimana dengan Dhea Will? apakah dia masih terus bersedih?"


" Jika sedih sudah tentu pah, tapi Alhamdulillah dia wanita yang sangat tegar, dia sudah bisa menguasai rasa sedihnya."


" Hehhhhh....semoga kalian bisa melewati ujian ini dengan ikhlas ya nak."


" Ya pah, ini hanyalah sedikit dari sepersekian coba hidup. Masih banyak orang yang mengalami kesulitan yang lebih parah daripada yang kami alami, dan sudah sepatutnya kami tetap bersyukur dengan apa yang telah terjadi. Walaupun itu bentuknya sebuah musibah sekalipun, kami sekarang masih bisa bernafas hingga detik ini saja, itu adalah anugerah luar biasa pah, itu tandanya Allah masih memberi kami kesempatan untuk menikmati segala ciptaanNya yang indah di dunia ini."


" Semakin hari kau semakin bijak saja, papah sangat bangga padamu."


" Aku hanya juga sedang belajar pah, belajar untuk terus memperbaiki diri."


" Oh ya bagaimana dengan pernikahan Mike? apakah semua persiapan sudah beres semua?"


" Pernikahan Mike tidak jadi dilaksanakan minggu ini nak, tapi dimundurkan satu minggu lagi."


" Lho kenapa pah?"


" Mike ada kesibukan pekerjaan yang tidak bisa ditunda nak, jadi harus diundur satu minggu lagi."


" Ohhhhh....aku pikir dia kekurangan uang untuk biaya pernikahannya pah." Canda William.


" Hahaha...kau ini ada-ada saja Will, jika itu benar terjadi, papah akan langsung menodongmu."


" Papa ini, tanpa ditodongpun aku yang akan turun tangan langsung untuk membereskan semuanya. Kalian berdua adalah tetap tanggung jawabku pah."


" Ya nak, papa tidak pernah meragukan perhatianmu pada kami."


" Sekarang istrimu sedang apa Will?"


" Dia sedang tidur pah, kasihan dia dari semalam baru sekarang ini dia bisa tidur nyenyak."


" Ya, pasti dia terus memikirkan kondisinya itu."


" Ya sudah biarkan saja. Nanti lain waktu saja papa menelfonnya. Salam saja buatnya ya, suruh jaga kondisinya, jangan terlalu memikirkan kematian bayinya. Buat papa kesehatan dia adalah yang utama, papa tidak ingin terjadi apa-apa dengannya."


" Ya pah, terimakasih sudah sangat menyayangi istriku dengan tulus."


" Nak walaupun dia masuk ke rumahku dengan status sebagai istrimu dan merupakan menantuku, tapi bagiku dia sudah menjadi bagian dalam keluarga kita, itu artinya aku juga wajib menyayanginya. Karena aku juga ingin, dia menganggapku sebagai orang tuanya sendiri, maka aku harus memperlakukan dia sebagai anakku sendiri juga."


" Ya pah memang harus seperti itu. Jangan sampai hubungan mertua dan menantu itu seperti kucing dan anjing. Salah sedikit langsung tersulut emosi. kebanyakan sih seperti itu, terlebih menantu perempuan. Terkadang seorang mertua merasa bahwa menantu perempuan telah merebut kasih sayang anak laki-lakinya, sehingga ujung-ujungnya selalu tidak ada kecocokan satu sama lain, dan merasa paling benar sendiri-sendiri."


" Padahal pada intinya, tidak ada yang merebut dan tidak ada yg direbut. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Buktinya papa, sekarang justru mendapat tambahan perhatian, yang tadinya hanya darimu, ada satu orang lagi yang menyayangiku, yaitu istrimu."


" Semoga orang tua di luaran sana bisa seperti papa semua ya. Papa adalah orang tua yang sangat luar biasa."


" Hahaha...makanya papa juga memiliki anak yang luar biasa juga, seperti kau dan adikmu Mike."


" Ya sudah nak, istirahatlah dulu, mumpung istrimu juga sedang tidur. Kau pasti juga sama lelahnya seperti dia. Jaga kesehatanmu ya, jangan sampai kau nanti ikutan sakit juga."


" Ya pah, terimakasih. Jaga diri papa baik-baik."


Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu.


" Aahhhh...kenapa aku berdiam diri? sedangkan sebentar lagi adikku hendak menikah. Aku harus menelfon Daniel untuk meminta bantuannya." William lagi-lagi menghubungi sahabat andalan yang selalu siap untuk dimintai bantuannya itu.


Lama sekali Daniel tidak mengangkat telfonnya, sehingga William harus mengulanginya sekali lagi, dan akhirnya Daniel mengangkatnya.


" Hallo teman, ada apa? apakah ada berita baik untukku? sehingga pagi-pagi sekali kau sudah menelfonku, padahal aku baru saja bangun tidur." Kata Daniel dengan suara sedikit serak


" Hahhhh baru bangun? memangnya disitu sudah jam berapa? di sini sudah jam 13.30 siang.


" Hehhhh...di sini masih jam 06.30 teman, kau mengganggu tidurku saja, padahal cuaca masih belum terang." Gerutu Daniel.


" Dasar pemalas!!! jam segitu kau bilang masih pagi? buka jendela kamarmu, matahari itu sudah muncul. Atau jangan-jangan kau tidur di kolong ranjang tidurmu ya, sehingga suasana di kamarmu masih gelap?" William mulai dengan kebiasaannya meledek Daniel.


" Sialan...kurang kerjaan sekali aku tidur di kolong."


" Hahaha siapa tau kau memang kurang kerjaan."


" Heehhhh...kau mau mulai lagi nih."


" Apa enaknya berbicara serius denganmu, jika dengan bercanda saja bisa, bukankah itu lebih mengasyikan?"


" Ya ya ya...terserah kau sajalah, yang penting kau bahagia."


" Ada perlu apa kau menelfonku? apa ada persoalan genting yang membutuhkan kejeniusan otakku?"


" Hemmmm....sifat sombongmu mulai kambuh, awas ya orang sombong itu biasanya susah bahagia."


" Ihhhhhh takuttttt....!!!" kata Daniel dengan gaya kemayu.


" Hahhh...tolong jangan bawa-bawa profesi sampinganmu Dan."


" Maksudmu?"


" Ya itu tadi, kalau mau bergaya kemayu cukup malam hari saja, jangan pagi-pagi begini."


" Sialan kau!!"


" Jadi apa keperluanmu? dari sejak pertama telfon kau malah menggodaku terus, kalau tidak ada hal penting yang dibicarakan aku mau melanjutkan tidurku saja, lumayan kan masih ada satu jam lagi sebelum aku ke kantor." Ancam Daniel.


" Hemmm...berani nih memutus telfonku???"


" Hehehe...kalimatmu pelan, tapi dalam sekali Will, mana berani aku memutus telfon dari bosku."


" Dan, aku butuh bantuanmu sedikit."


" Apa itu Will?"


" Dua minggu lagi adikku Mike akan menikah, tolong kau cek kesana, jika ada sesuatu yang kurang, kau bereskan semuanya."


" Mike mau menikah? dengan siapa?"


" Dengan wanita tulen dong, kau pikir dengan siapa?"


" Ahhhh aku juga tau mana mungkin dia akan menikahi wanita jadi-jadian. Maksudku siapa namanya? asalnya darimana? kau ini masak hal sepele seperti itu harus kujelaskan lagi, kau dulu sekolahnya pasti sering tidur di kelas ya?"


" Hahaha sial kau. Mana aku tau? aku juga baru dikabari papaku beberapa hari yang lalu."


" Ohhhh aku pikir kau sudah mengenal calon adik iparmu. Tapi aku yakin pasti semua urusan sudah beres Will, adikmu kan memiliki banyak uang, pasti dia sudah membayar orang untuk menyelesaikannya."


" Ya, tapi minimal aku juga ingin mengutusmu sebagai bentuk perhatianku padanya. Aku belum bisa kesana, karena aku sedang menemani istriku di rumah sakit."


" Oh iya aku lupa!! lalu kabar istrimu bagaimana?"


" Dia baru saja dioperasi, dan anak kami tidak bisa bertahan, dia meninggal Dan."


" Ya Tuhan...aku tidak tau teman, maafkan aku ya. Semoga kalian bisa melewati ini semua dengan sabar."


" Ya Dan, terimakasih atas doamu."


" Ya sudah, jangan lupa pesanku, kau bereskan semua kebutuhan pernikahan adikku jika ada yang masih kurang ya."


" Ok siap bos, serahkan semuanya padaku."