
Tak lama ayah Dhea datang diikuti ibunya yang berjalan di belakangnya, sambil membawa minuman juga sepiring pisang goreng.
" Assalamualaikum." Sapa Feri kepada ayah Dhea sambilberanjak dari duduknya diikuti oleh William.
" Wa'alaikum salam." Jawab ayah Dhea sembari menyalami mereka berdua.
" Ayo nak silahkan dicicipi." Suruh ibu Dhea sambil ikut duduk di samping suaminya, lalu meletakkan nampan yang dibawanya di bawah meja.
" Ada perlu apa kalian kemari? tanya ayah Dhea berbasa-basi, padahal di belakang tadi istrinya sudah menceritakan maksud dan tujuan mereka berdua datang ke rumah.
Begitulah ciri khas masyarakat kita, selalu suka berbasa-basi. Memang tak dapat dipungkiri, basa-basi sering kali berupa ungkapan-ungkapan yang tidak memiliki esensi penting dalam inti percakapan. Melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sudah tau jawabannya. Boleh percaya atau tidak, basa-basi memiliki fungsi krusial dan manfaat yang signifikan dalam interaksi sosial bahkan dapat dijadikan sebagai alat untuk mencairkan suasana dan menghindari kecanggungan saat memulai percakapan.
" Begini pak, nama saya Feri, saya ini teman William kekasih anak bapak. Nah kedatangan saya kemari karena diberi amanah oleh William, untuk menyampaikan niat baik dia untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi dengan anak bapak." Jawab Feri panjang lebar.
" Oh begitu ya. Begini ya nak Feri, saya dan ibunya Dhea itu tidak pernah melarang Dhea berhubungan dengan siapapun dan dengan laki-laki manapun. Tapi yang penting dia harus seiman dengan kami, dan aturan itu tidak bisa ditawar lagi." Jawab ayah Dhea tegas.
" Iya pak, Williampun sudah menceritakannya kepada saya. Jadi sebenarnya kedatangannya dia selain ingin menyampaikan keseriusannya dengan anak bapak, tapi sekaligus ingin meminta bantuan bapak untuk mencarikan seseorang yang bisa membantu dia menyatakan keislamannya."
" Benarkah?" Tanya ayah Dhea sedikit terkejut, merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan Feri.
" Benar pak, dia sudah yakin dengan keputusannya itu. Makanya dia meminta bantuan saya untuk mengantarkan dia menemui anda."
" Benar kan William kau sudah mantap dengan keputusanmu untuk memeluk islam? ayah Dhea ingin jawabanmu untuk meyakinkan akan kesungguhanmu." Kata Feri pada William untuk semakin meyakinkan kedua orang tua Dhea.
" Ya, aku sangat yakin." Kata William sambil menganggukan kepalanya sebagai bukti pembenaran akan kalimat Feri.
" Ayah Dhea dan ibunya saling berpandangan, ada senyum lega di wajah mereka.
" Alhamdulillah...!" ucap ayahnya.
" Baiklah, nanti saya akan menghubungi seorang ulama kenalan saya, kapan ada waktu untuk bisa membantu kita melaksanakan niat baik itu."
" Tapi sebelumnya saya ingin William belajar melafazkan Al Fatihah dulu di hadapan saya, sebelum proses pengucapan kalimat sahadat. Itu salah satu syarat dia jika ingin menunjukkan keseriusannya pada Dhea."
" Baik pak, nanti saya sampaikan pada dia." Jawab Feri.
" Tapi jangan santai dulu, itu baru satu syarat, ada syarat kedua yang harus dia selesaikan untuk tahap selanjutnya dia sebagai seorang muslim yang sebenarnya."
" Apa itu pak??" tanya Feri penasaran.
" Nanti saya sampaikan setelah dia sah mengucapkan dua kalimat sahadat." Jawab ayah Dhea.
" Ayah, apa yang akan ayah suruh lakukan pada William, jangan terlalu mempersulit dia, bukankah dia baru ingin menunjukkan keseriusannya masuk ke dalam agama kita." Kata ibu Dhea sedikit khawatir.
" Ibu tenang saja, ayah tau apa yang harus ayah lakukan untuk menguji kesungguhannya memperistri anak kita bu. Ayah ingin sekali lagi dia membuktikannya." Kata ayah Dhea.
" Iya pak, dia pasti akan menerima syarat yang diberikan oleh bapak, karena dia benar-benar serius dengan Dhea." Kata Feri menimpali.
" Ya semoga dia bisa melakukannya dengan baik." Jawab ibu Dhea.
" Oh iya, bagaimana kabar Dhea di sana? apakah setelah mereka berdua berpisah anak saya tidak terus-terusan bersedih? saya hanya mengkhawatirkan kesehatan anak itu." Tanya ayah Dhea.
" Benarkah, sespesial itu William memperlakukan Dhea?"
" Ya pak, saya sendiri terkejut dia bisa seposesif itu pada anak bapak. Dia memang sangat mencintai Dhea, apapun akan dilakukannya untuk menjaga Dhea."
" Hehhhhhh.....semoga saja dia laki-laki baik yang dipilihkan Allah buat anak kami ya bu?"
" Amiin...semoga yah, kami mendukung apapun yang menjadi keputusan Dhea, selama itu baik buat dirinya." Sambung ibunya.
" Insyaallah pak, semoga ini menjadi awal yang baik buat kita menjalin silaturahmi bersama."
" Kenapa William begitu tertarik pada Dhea, bukankah banyak wanita yang lebih cantik daripada Dhea di negaranya sana? bahkan dia mau melepas agamanya demi anak saya?"
Kemudian Feri menanyakan langsung pada William perihal pertanyaan ayah Dhea.
" Aku mencintainya karena dia benar-benar wanita yang kuinginkan Fer. Dia tidak sama dengan wanita lainnya, dia tidak pernah silau dengan hartaku, dia tidak pernah tertarik dengan semua perlakuan istimewa yang aku berikan padanya, juga fasilitas mewah yang kusediakan selama tinggal di apartemenku, bahkan dia berkali-kali menolaknya. Aku yakin dia wanita yang bisa merubah hidupku menjadi lebih baik lagi." Kata William panjang lebar, dan dengan tanpa mengurangi dan menambahi kalimat tersebut, Feripun menyampaikan kata-kata yang diucapkan William pada ayah Dhea.
Ayah dan ibu Dhea hanya mengangguk-angguk saja mendengarkan penjelasan Feri.
" Hehhhh....anak itu, semoga dia tetap seperti itu, tidak memandang harta yang menjadi tujuan utamanya." Gumam ayah Dhea, merasa lega dengan ucapan William tentang alasannya sehingga tertarik pada Dhea.
" Ehhh iya....ayo silahkan diminum dulu. William ayo makan pisang goreng buatan ibu ini." Kata ayah Dhea sambil menyodorkan piring yang berisi pisang goreng ke depan William.
" Ambil Will!! walaupun makanan itu masih asing buatmu, tapi kau harus memakannya sebagai bukti kau menghargai mereka." Kata Feri.
" Oh begitu, baiklah aku ambil." Kata William sembari mengambil satu biji, kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya.
" Hemmm...ternyata enak juga, aku mulai sekarang memang harus membiasakan diri makan makanan di sini, karena sebentar lagipun aku akan menjadi suami orang Indonesia." Kata William dalam hati, dia tersenyum sendiri dan merasa geli dengan kata-kata suami yang baru saja dipikirkan oleh dirinya.
" Hei kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya Feri.
" Oh tidak Fer, makanan ini ternyata enak." Kata William berbohong.
" Itu buah pisang Will, jika di negaramu buah tersebut hanya dimakan biasa, tapi jika disini digoreng terlebih dahulu."
" Ya ya ya..." Jawab William sambil menghabiskan makanannya.
Mereka kemudian melanjutkan obrolannya dengan tema yang lebih santai.
" Baiklah pak, saya rasa semua tujuan kami menemui bapak dan ibu telah kami sampaikan, untuk selanjutnya saya tunggu telfon dari bapak untuk kepastian waktunya."
" Ya nak, pasti dalam waktu dekat bapak akan menelfonmu, ibu sudah simpan nomor nak Feri kan?"
" Sudah yah, tadi sudah ibu catat di hp ayah ini." Katanya sambil menunjukkan hp di tangannya.
" Kalau begitu kami permisi dulu?"
" Ya nak, hati-hati di jalan ya." kata ayah Dhea.
Setelah bersalaman sebentar kemudian mereka berdua keluar, dan naik ke dalam kendaraan, lalu segera meluncur pulang ke rumah Feri kembali.