
William tidak dapat memejamkan matanya sepanjang malam Diliriknya arloji yang ada di tangannya, sudah pukul 02.30 namun matanya masih juga belum bisa diajak kompromi. Dia tidak menyangka, ternyata ayah Dhea jauh lebih tegas dari yang dia pikirkan sebelumnya. Sebenarnya dia amat salut dengan kegigihan keluarga itu untuk tetap bertahan dengan prinsip mereka, bahkan rela kehilangan anak gadis mereka satu-satunya demi agamanya. Namun di sisi lain, kegigihan mereka membuat William menjadi bingung dengan kelanjutan hubungannya dengan Dhea. Dia belum yakin dengan dirinya sendiri, apakah dia mampu mengikuti keyakinan keluarga kekasihnya itu atau tidak, sedangkan selama ini dia termasuk orang yang hidup dengan gaya yang bebas, namun tiba-tiba harus mengikuti cara hidup keluarga Dhea yang penuh dengan aturan dan larangan, pasti itu akan sulit sekali, walaupun sebenarnya saat inipun secara tidak sadar diapun pelan-pelan telah belajar untuk memperbaiki diri.
William berjalan pelan keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk mengambil air minum, rasanya tenggorokannya kering. Dia melewati ruang sholat yang ada di samping kamarnya. Terdengar seorang sedang terisak di dalam ruangan itu. Willam mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup sempurna, isakan itu seperti dikenalnya. Ternyata benar dugaannya, Dhea terlihat sedang menelungkupkan kedua tangannya di wajah, dan masih lengkap dengan memakai mukenanya.
" Ya Tuhan Dhea...!!! Pasti dia sedih sekali sehingga menangis seperti itu....Aku tau yang aku katakan saat bersama ayahnya tadi pasti sangat menyakitinya. Dhe maafkan aku, aku juga bingung dengan keputusanku sendiri, dan aku begitu berat untuk menentukannya." Bisik William.
Dia kemudian tidak jadi mengambil air minum, tiba-tiba saja rasa hausnya menjadi hilang, berganti rasa sakit yang amat sangat di dadanya melihat kekasihnya sedang bersimpuh seorang diri mengadu pada Tuhannya, sedangkan dia tidak bisa melakukan apa-apa."
Adzan subuh mulai berkumandang, ayah Dhea keluar dari kamarnya dan bersiap-siap pergi ke masjid. Namun alangkah terkejutnya dia saat tau William sedang duduk sendirian di teras depan sambil menikmati suasana pagi di rumah Dhea, serta diiringi adzan yang sahut menyahut.
Ayah Dhea kembali lagi ke dalam dan menuju kamar Dhea, tapi ternyata Dhea tidak ada. Dicarilah Dhea ke dapur, namun yang ditemui hanyalah istrinya.
" Lho bu Dhea mana? Kok ayah cari di kamarnya tidak ada?"
" Masak sih yah?"
" Iya bu, tapi itu William sudah ada di depan."
" Coba ayah cari di ruang sholat, kata ibunya."
Kemudian ayah Dhea segera menuju ruang sholat, dan benar saja, dilihatnya Dhea sedang tertidur dan masih lengkap menggunakan mukenanya. Ayahnya tersenyum lega menatap anak semata wayangnya itu. Lalu segera mendekati Dhea.
" Nak bangun, sudah subuh, ayo sholat dulu!!" Kata ayahnya sambil menepuk pelan pipi Dhea. Dheapun perlahan terbangun.
" Kau habis sholat malam nak sampai ketiduran di sini?" Tanya ayahnya.
" Iya yah."
" Ya sudah sana wudhu dulu, terus sholat. Itu William sudah di depan, setelah sholat buatkan dia minuman, jangan sampai dia merasa tidak nyaman berada di sini."
" Baik yah." Jawab Dhea lagi.
Kemudian ayah Dhea segera berangkat ke masjid, sedangkan Dhea langsung mengambil air wudhu.
Selesai sholat Dhea segera membuatkan teh hangat untuk William.
" Dhe, jika William biasa sarapan roti, tuh ada roti tawar sama selai coklat di lemari, ambilkan untuk dia ya!"
" Iya bu terimakasih." Kata Dhea sambil membawa teh juga roti tawar untuk kekasihnya di depan.
" Sayang, kamu sudah bangun?" Sapa Dhea sambil meletakkan minuman untuk William di meja.
" Terimakasih sayang." Kata William. Kemudian dia duduk di kursi samping Dhea yang di batasi oleh sebuah meja kecil.
" Aku belum tidur dari semalam Dhe." Kata William.
" Kenapa? Kau kepanasan?"
" Tidak Dhe."
" Lalu?"
" Ahhh tidak, aku tidur nyenyak dari semalam." Jawab Dhea berbohong.
" Hei kau jangan berdusta ya, kamu pikir aku tidak tau semalam kau menangis di dalam ruang ibadahmu."
" Kau tau darimana?"
" Aku mengintipmu semalam."
" Kau sengaja mengikutiku ya?" Tuduh Dhea.
" Enak saja!! Aku semalam tidak bisa tidur, lalu aku hendak ke dapur mengambil air minum, namun saat aku melewati ruang ibadah, aku dengar kau sedang menangis, hayooo...jangan bohong ya???"
Dhea hanya menunduk saja.
" Dhe, kau takut kehilanganku sayang?" Tanya William sambil manatap Dhea dari tempat duduknya.
Dhea mengangguk pelan.
William menarik nafas panjang, seolah ikut merasakan beban yang saat ini sedang dipikul oleh Dhea, walaupun sebenarnya diapun sama beratnya menghadapi itu semua.
" Will, padahal aku berharap jawabanmu bisa membuatku bernafas lega, namun ternyata justru itu membuat dadaku semakin sesak dan harapanku padamu sepertinya lenyap."
" Jangan begitu Dhe, bukankah kita masih memiliki waktu?"
" Waktu untuk apa Will? Waktu untuk memperpanjang masalah kita semakin tidak jelas? Kau siap untuk terus tersiksa? Kalau aku tidak siap Will!!" Jawab Dhea.
" Sepertinya waktu 2 bulan itu tidak penting untuk kita berdua." Kata Dhea lagi.
" Mungkin tidak bagimu, tapi itu penting bagiku Dhe."
" Penting untuk apa lagi Will? Kau sendiri sampai sekarang saja masih bingung untuk memberi keputusan, apa dua bulan ke depan itu cukup untukmu bisa merubah semuanya? Bagaimana kau bisa menjemput hidayah itu sedangkan hatimu saja tidak mau kau buka."
" Percuma selama ini kau mati matian mendekatiku, percuma selama ini kau berjuang untuk bisa bersamaku, kalau ternyata setelah di tengah jalan kau justru menyerah!!"
" Aku tidak menyerah Dhe, aku hanya ingin berpikir."
" Dan jika waktunya habis lalu kau belum bisa menentukan pilihanmu, kita tetap akan berpisah kan Will? Iya kan?"
" Mungkin Dhe." Jawab William pelan.
" Hehhhh....percuma Will kita bahas ini, jika akhirnya jawabannya sama." Kata Dhea sambil beranjak dari kursinya.
" Sayang kau mau kemana? Aku belum selesai berbicara denganmu!" Panggil William.
" Kau nikmatilah minumanmu dulu, aku akan membantu ibuku di dapur." Jawab Dhea. Padahal dia memang malas berdebat dengan William, karena semakin menambah sedih hatinya.
Mungkin benar Dhea egois, namun dia tidak bisa membohongi hati kecilnya sendiri, betapa dia sangat mencintai laki-laki itu, terlebih jika dia ingat semua perhatian yang diberikan William padanya. Namun usahanya untuk menarik William mengikuti keyakinannya ternyata amat sulit. Terlebih Dhea menuntutnya agar ikhlas secara lahir bathin bisa menerima ajaran agama yang dianut olehnya itu. Dan itulah yang jadi pertimbangan William, dia tidak ingin nantinya hal tersebut jadi boomerang dalam rumah tangganya kelak bersama Dhea. Memang semua itu tidak bisa untuk dipaksakan.