Something different

Something different
Di depan kamar Deasy



Satu bulan lebih Dhea berada di London. Selama di sana mereka berdua benar-benar menghabiskan hari untuk bersenang-senang. William berusaha membuat Dhea untuk melupakan semua kejadian saat istrinya itu kehilangan bayinya. Sesekali mereka juga tinggal di rumah papanya, untuk menemani orang tua itu, dan tentunya saat berada di sana Mike dan istrinyapun berusaha hadir, dan tidak melewatkan moment kebersamaan mereka.


Sebenarnya hari-hari mereka setiap berada di rumah orang tua William sangat menyenangkan, namun tanpa sepengetahuan William dan Mike, Deasy terus-terusan menyudutkan Dhea setiap kali dia memiliki kesempatan. Ada saja acara dia untuk memperolok Dhea. Sebenarnya Dhea sudah sangat muak dengan sikap Deasy, namun dia tidak mau mengadu pada suaminya, ataupun pada orang-orang di rumah itu. Dhea lebih memilih diam, karena jika mereka semua tau dengan apa yang dilakukan Deasy padanya, sudah bisa dipastikan, Deasy akan menjadi sasaran kemarahan mereka, dan itu akan semakin membuat Deasy semakin terus membenci Dhea


Dhea terus mencari informasi mengenai ketidakberesan sikap Deasy padanya. Hingga pagi itu, tanpa sengaja dia mendengar obrolan Mike dan William, saat kebetulan dia sedang menginap di rumah papanya.


" Lalu kau sudah menjelaskan pada istrimu bahwa kalian itu sebenarnya tidak memiliki hubungan khusus?"


" Sudah Will, bahkan aku mengatakan, bahwa Dhea tidak pernah memiliki perasaan sedikitpun padaku. Tapi sebaliknya, akulah yang dulunya menyukai istrimu, dan aku sudah memintanya untuk tidak terus-terusan menyudutkannya."


" Lalu tanggapan istrimu bagaimana?"


" Bukannya mengerti, justru dia semakin merasa Dhea menjadi ancaman untuknya, karena menurut dia aku pasti akan terus merasa penasaran untuk mendapatkan istrimu."


" Hehhhh.....cemburu istrimu sangat berlebihan, kasihan istriku."


" Tapi kan dia sudah mulai menjaga sikap terhadap istrimu Will, tidak separah saat kalian baru saja datang?"


" Ya benar, tapi kan tidak bisa membuat Dhea dan Deasy menjadi dekat dan akrab. Buktinya selama di sini, istriku seolah menjaga jarak dan membatasi diri untuk berdua-duaan dengan istrimu?"


" Aku tidak terlalu memperhatikan itu Will, cuma yang aku lihat ada perubahan pada Deasy walaupun hanya sedikit. Yahhh harapanku kemudian mereka nanti bisa menjadi akrab, layaknya saudara sendiri."


" Mudah-mudahan saja Mike. Yang jelas aku sangat mengenal sifat istriku, dia lebih memilih diam daripada nantinya bisa menimbulkan perselisihan."


" Maksudmu?"


" Maksudku it sejauh yang aku tau, kau belum terlalu memahami karakter asli istrimu, pelajarilah Mike. Jika kau tidak memahaminya, itu sangat berbahaya untuk kelanjutan rumah tanggamu. Seperti sekarang ini, kau bahkan tidak tau apakah sikap Deasy terhadap Dhea benar-benar sudah berubah, atau hanya sekedar sandiwara. Aku sangat tau istriku, jika tidak ada masalah, sudah pasti dia akan terus berdua-duaan dengan Deasy selama kami tinggal di sini."


" Hehhhhh....iya Will, aku butuh proses untuk itu. Dan pelan-pelan aku pasti akan tau juga."


" Ya, akan lebih mudah untuk mengendalikan dan mengaturnya, jika kau sudah paham dia. Yang jelas mengaturnya untuk kebaikan dan bukan untuk keburukan."


" Iya Will terimakasih atas nasehatmu."


William dan Mike melanjutkan obrolan mereka. Sedangkan Dhea yang tadinya hendak ikut bergabung, jadi mengurungkan niatnya. Kalimat yang baru didengarnya sangat mengejutkan dia. Dia baru mengetahui sumber permasalahan Deasy yang selama ini terlihat begitu membencinya. Ternyata Deasy cemburu dengannya, karena dulu Mike sempat menyukainya.


" Ya Allah...!! jadi itu masalahnya? aku baru tau bahwa Deasy cemburu karena Mike dulu sempat menyukaiku juga. Tapi aku kan tidak menyukainya? kenapa Deasy malah membenciku?" Dhea bertanya-tanya dalam hati.


" Tidak, aku harus meluruskan masalah ini, aku tidak mau kesalahpahaman itu berlarut-larut dan menumbuhkan kebencian yang semakin dalam pada Deasy. Aku harus menemui Deasy sekarang!!" Dhea segera berbalik, mengurungkan niat bergabung bersama Mike dan William, lalu malah berjalan menuju kamar Deasy.


" Pasti dia masih ada di kamar. Karena biasanya dia dandan begitu lama, dan sering ditinggal oleh Mike yang turun terlebih dahulu, karena tidak sabar menunggunya."


Saat sudah sampai di depan kamar Deasy, Dhea berdiri sejenak, dia terlihat sedikit ragu untuk mengetuk pintu yang sudah berada tepat di depannya.


" Hemmmm....aku masuk atau tidak ya? tapi jika aku menjelaskan hal tersebut, kira-kira Deasy semakin marah padaku tidak ya?"


" Tapi jika aku tidak menjelaskannya langsung, dia bisa salah paham terus padaku, dan pasti dia tidak akan mungkin percaya jika hanya mendengar cerita itu dari Mike saja, dan dia tidak mendengarnya langsung dariku. Sedangkan apa yang ada di dalam pikirannya, tidak seburuk dengan kenyataan yang sesungguhnya." Dhea terus bergumul dengan perasaaannya, antara ingin menjelaskan permasalahan yang sebenarnya, dengan rasa khawatir jika Deasy tidak mau menerima penjelasannya itu.


Akhirnya Dhea hanya berjalan mondar mandir di depan kamar Deasy, sambil menimbang-nimbang antara masuk atau tidak. Namun tiba-tiba pintu kamar Deasy terbuka dari dalam. Deasy terlihat terkejut saat tau Dhea sedang berjalan mondar mandir di depan kamarnya. Mata merekapun saling beradu. Dhea terlihat gugub dengan tatapan Deasy yang seperti sedang mengintimidasinya.


" Kenapa kau di depan kamarku Dhe? apa yang kau lakukan? Bukankah letak kamarmu di sebelah sana?" sambil matanya menatap ke arah letak kamar Dhea dengan mimik muka yang terlihat tidak suka.


" Ohhh...iya ehm itu Deas, aku eghhh....!!!"


" Bisakah kau berbicara yang benar Dhe? kau ingin menemuiku atau Mike?"


" Ohhh pasti Mike ya? dia ada di bawah sedari tadi." jawab Deasy tanpa basa basi.


" Ehhh tidak Deas, aku sudah tau jika Mike berada di bawah, aku tadi melihatnya bersama suamiku. Mereka sedang mengobrol bersama."


" Lalu ada urusan apa kau kemari?"


" Ehh aku hanya ingin menjemputmu, karena tidak enak jika bergabung bersama mereka berdua, tapi kau tidak ada. Masak aku perempuan sendiri?" Dhea mengurungkan niatnya untuk mengatakan yang sebenarnya pada Deasy, karena melihat sikap Deasy yang tidak bersahabat itu.


" Hahaha...kau ini terlalu banyak basa basi Dhe, bukankah kau sudah terbiasa dengan mereka berdua? yang satunya suamimu, sedang yang satunya lagi??" sambil menatap Dhea tajam, tanpa melanjutkan kata-katanya, tapi kemudian justru membalikkan badan meninggalkan Dhea.


" Hei Deas, kau mau sarapan? biar aku temani ya?"


" Tidak, selera makanku sudah hilang..!!" jawabnya tanpa berhenti.


" Lalu kau mau kemana?" sambil terus mengikuti Deasy dari belakang.


" Aku mau jalan-jalan biar stresku hilang!!" Jawab Deasy menambah kecepatan langkahnya.


" Deasy, aku temani ya???"


Deasy berhenti dan membalikkan badannya.


" Terimakasih atas tawaran anda kakak iparku yang baik, tapi aku akan merasa lebih nyaman jika tanpa ada orang lain di sampingku." Katanya sambil kemudian berjalan kembali meninggalkan Dhea yang telihat bengong.


" Hahhh...orang lain? dia baru saja memanggilku kakak ipar, tapi kenapa kemudian lupa dan menyebutkan aku sebagai orang lain. Hehhh...ternyata cemburunya sudah mencapai stadium akhir." Gerutu Dhea dalam hati sambil berjalan menuruni tangga menuju lokasi suaminya dan Mike yang sedang mengobrol bersama