Something different

Something different
Kecemburuan Dhea



Sudah hampir 4 minggu William pergi, ada kerinduan di sudut hati Dhea. Entah kenapa dia begitu kesepian semenjak laki laki itu tidak ada. Biasanya William selalu mendampingi Dhea, walaupun terkadang dia sering memaksa Dhea sekehendak hatinya, namun entah kenapa semenjak William tidak ada, Dhea seperti kehilangan sebuah moment bersamanya.


Dhea tetap melakukan aktifitas seperti biasanya. Hari harinya cuma disibukkan dengan jadwal kuliahnya.


" Hei kok melamun nona Dhea?"


Tiba tiba Bram sudah ada di samping Dhea.


" Kau ini Bram, mengejutkanku saja." Gerutu Dhea.


" Sudah beberapa hari ini kulihat kau tidak diantar dengan William, kemana dia? Jangan bilang dia sudah mulai muak denganmu."


" Hahaha enak saja, tidak Bram dia sedang pergi untuk urusan pekerjaan. Setiap hari supirnyalah yang mengantar dan menjemputku ke kampus."


" Hhhmmm sepertinya dia begitu perduli dengan keselamatanmu, sehingga menyediakan supir khusus untukmu?"


" Begitulah ", sahut Dhea dengan tersenyum.


" Dia pergi kemana?"


" Aku juga tidak tahu Bram, dia tidak memberitahuku."


" Apakah cukup lama?"


" Ya dia bilang begitu, mungkin bisa jadi 1 bulanan."


" Pantas saja kau sering murung, kau merindukannya?"


" Ahh Bram aku biasa saja, aku juga tidak merindukannya."


Ada rona merah di wajah Dhea, dan Bram tahu itu.


Bram hanya menarik nafas panjang.


" Semoga ini pilihan yang terbaik buatmu Dhe." Kata Bram dalam hati.


Kemudian membenahi duduknya, karena dosen akan segera memulai mata kuliahnya


" Aku pulang dulu ya Bram, Hendrik sudah menjemputku." Kata Dhea.


" Ya Dhe hati hati ya?"


" Oke Bram dahhh...!" Dhea melambaikan tangannya ke arah Bram, Bram membalas lambaiannya, dan dia hanya memandangi tubuh Dhea hingga masuk ke dalam mobil.


" Kau benar benar pria yang beruntung William, semoga ini petualangan terakhirmu ", gumam Bram.


" Hallo William." Sapa Dhea saat menerima telfon dari William ketika sudah di dalam mobil.


" Hai sayang kau dimana?"


" Aku di dalam mobil Will, baru saja pulang dari kampus."


" Kau sendiri dimana?"


" Ohhh aku sedang berada di rumah rekan bisnisku."


Dhea mendengar suara seorang wanita memanggil William nyaring.


" William makanan sudah siap, ayo makanlah dulu!" Suara seorang wanita terdengar dari kejauhan.


" Iya nanti aku akan kesana." Jawab William singkat.


Tiba tiba ada perasaan marah di hati Dhea mendengar suara wanita itu.


" Ohhh jadi dia saat ini sedang bersama seorang wanita? pantas betah sekali dia di sana. Dasar cowok brengsek!!" Kata Dhea dalam hati.


" Hallo sayang??"


" Hei kenapa kau Dhe? Dia itu istri rekan bisnisku percayalah padaku!"


"Aku juga tidak akan tau dia itu istri temanmu ataukah justru teman tidurmu", kata Dhea sinis.


" Ayolah Dhe, kenapa kau begitu marah? Apakah kau cemburu? Sayangggg cuma kamu wanita satu satunya di hatiku, jangan takut aku tidak akan pernah menduakanmu."


" Tidak aku tidak cemburu, jangan terlalu percaya diri ya!! Aku hanya merasa kau permainkan itu saja!!"


" Ohhh sayangku aku jadi begitu rindu denganmu, aku merasa senang kau amat marah aku dekat dengan wanita lain, berarti kau perduli padaku sayang." Kata William lagi, wajahnya begitu riang.


" Terserah kaulah, aku tidak ingin mendengar ocehanmu lagi, lanjutkanlah berdua dua dengannya."


Dhea lalu mematikan telfonnya dan menonaktifkan tombol handphonennya.


" Ahhh kenapa aku begitu marah? Apakah aku benar benar cemburu padanya?" Kata Dhea dalam hati.


Tak terasa air mata Dhea menetes membasahi pipinya, entah kenapa dia tidak bisa mengontrol emosinya dan menyembunyikan rasa marah di hatinya.


Hendrik hanya memperhatikan Dhea dari balik spion di atasnya, dan dia tau Dhea sedang sibuk menghapus air matanya.


William terus menekan nomor hp Dhea, namun tetap tidak ada nada panggilnya, hanya suara operator saja yang terdengar.


" Ahhh Dhea kau benar benar membuatku jatuh cinta sayang!" Gumamnya sambil tersenyum.


" Hendrik tolong kau tambah kecepatan, aku ingin segera sampai di apartemenku!" Kata Dhea.


" Baik nona."


Hendrik kemudian menekan gas mobilnya sedikit kencang, Dhea benar benar ingin cepat sampai di kamarnya, rasanya dadanya begitu sesak.


Sesampainya di apartemen, Dhea langsung menumpahkan semua kekesalannya. Dia menangis, dan terus menangis, bahkan menjelang tidur malampun rasanya air matanya tidak bisa berhenti mengalir, Dhea benci William, benci karena dipermainkannya, padahal dia sudah mulai bisa percaya pada pria itu, hingga Dhea benar benar lelah dan kemudian tertidur.


Sementara itu William terlihat sedang menelfon Hendrik.


" Hallo Hendrik."


" Iya hallo tuan."


" Bagaimana? Apakah kekasihku sudah sampai di apartemennya? Soalnya dari tadi aku menelfonnya tapi handphonnya mati."


" Sudah tuan."


" Ya sudah." Jawab William singkat.


" Tapi tuan?"


" Iya tapi kenapa Hen?"


" Maaf tuan, tadi setelah mendapat telfon dari anda, kenapa Nona Dhea menangis tuan?"


" Benarkah?"


" Ya tuan, bahkan saat keluar dari mobil dia tidak mengucapkan apa apa dan langsung lari ke dalam. Biasanya dia tidak pernah lupa mengucapkan terimakasih padaku."


" Ohh itu, dia sedang cemburu padaku Hendrik, kau jangan khawatir."


" Syukurlah tuan, aku hanya takut jika terjadi apa apa padanya, aku juga ikut bertanggung jawab."


" Tidak Hendrik, kau pulanglah saja dan istirahatlah di rumah."


" Baik tuan."


Kemudian William menutup telfonnya.


" Dhea...kau pasti salah sangka padaku, aku harus melakukan sesuatu!" Kata William dalam hati.