
Feri terus menambah kecepatan kendaraannya, dia tidak ingin terlambat tiba di rumah orang tua Dhea sesuai jadwal yang telah disepakati bersama.
Selama di perjalanan William tidak terlalu banyak bicara seperti biasanya, namun bibirnya justru sibuk berkomat-kamit seperti membaca mantra.
" Hei kau sedang menghafalkan ajian apa Will? kau ingin menggunai-gunai orang tua Dhea agar saat di sana nanti bisa bertekuk lutut padamu ya?" tanya Feri menggoda William.
" Enak saja, aku sedang mengingat-ngingat hafalanku, kau bilang tadi jangan sampai mempermalukan dirimu di sana jika sampai aku lupa semua."
" Hahaha...tadi kau bilang dengan pedenya sudah hafal, kenapa sekarang sepertinya kau justru tidak siap?"
" Hehhhh...entah kenapa tiba-tiba jantungku tidak bisa berhenti berdetak Fer, sialan!!! padahal aku biasa menghadapi orang banyak, dan biasa berbicara di depan umum, tapi kenapa hanya untuk menghadapi ayah Dhea saja aku jadi segrogi ini!!" Gerutu William.
" Hahaha....karena kau menginginkan anaknya makanya jantungmu tidak bisa berhenti berdetak. Biasanya saat kau menghadapi orang-orang kan kau yang sedang menuntut hasil kerja mereka. Nah sekarang gantian, saat ini ayah Dhea sedang menanti hasil kerja kerasmu beberapa hari ini. Jika kau berhasil dan tidak mengecewakannya, maka dia akan rela melepas anak gadisnya untuk kau jadikan istrimu."
" Iya juga ya Fer, kalau begitu sekarang kau diamlah, aku akan konsentrasi menghafalkannya kembali. Jangan menggangguku ya?" kata William. Bibirnya kembali sibuk komat-kamit.
Feri hanya bisa meliriknya sambil tersenyum dalam hati.
" Gila nih bule, kemauannya keras benar. Dia belum tau bahwa orang tua Dhea nanti masih ingin memberikan PR padanya. Ahhh semoga dia bisa menjalaninya dengan lancar amiin." Kata Feri dalam hati.
Feri kali ini tidak mengganggu William, dia tetap membiarkan orang di sampingnya itu sibuk dengan hafalannya. Feri terus menambah kecepatannya, agar segera tiba di tempat tujuan.
Sementara itu di rumah orang tua Dhea, ayah dan ibu Dhea telah menanti mereka berdua. Meja makan telah penuh dengan masakan yang sengaja disiapkan untuk menyambut dua orang tamu spesial mereka.
" Yah, mudah-mudahan semua berjalan lancar ya. William bisa mengucap sahadatnya tanpa ada kendala apapun."
" Iya bu, ayahpun berharap yang sama dengan apa yang ibu harapkan."
" Ibu tidak menyangka Dhea akan dinikahi oleh pria asing yah. Ayah kan tau sendiri dia dulu adalah anak yang sangat kaku dengan prinsip hidupnya, bahkan ibu sedikit terkejut saat dia berhubungan dengan pria non muslim."
" Kita tidak tau yang namanya jodoh bu, kita juga tidak tau apa yang sedang Allah rahasiakan dengan anak kita. Yang penting kita sudah membekali Dhea dengan ajaran agama, dan doakan saja selama di negeri orang sikap dan gaya hidupnya tidak berubah."
" Iya yah. Ibu percaya dia bisa memilih mana yang baik dan yang tidak untuk dirinya sendiri."
" Ya bu, kita tidak tau bagaimana sebenarnya tingkah seorang anak saat di luran. Kita taunya Dhea selama ini baik, tapi belum tentu di luar. Yang penting kita jangan pernah putus berdoa untuk kebaikannya, dan semoga Alloh tetap melindunginya, terutama melindungi iman dan islamnya." Jawab ayah Dhea panjsng lebar.
" Amiin." Ibu Dhea mengiringi dengan mengusap kedua telapak tangan ke muka.
Tak lama kendaraan Feri terlihat sudah tiba di halaman depan rumah mereka.
" Yah, itu sepertinya mereka sudah datang."
" Iya bu. Ibu tolong buatkan minuman saja dulu ya."
" Baik yah." Jawab ibu Dhea sambil berjalan masuk ke dalam dapur yang letaknya ada di belakang.
Tak lama Feri dan William terlihat berjalan beriringan menuju pintu masuk rumah Dhea.
" Assalamualaikum." Feri mengucapkan salam.
" Wa'alaikum salam. Masuk nak." Jawab ayah Dhea sambil berdiri menyambut dua orang tamunya.
" Maaf pak, sudah menunggu lama." Kata Feri sambil bersalaman, disusul William yang kemudian mencium jemari ayah wanita yang begitu diinginkannya itu.
" Ayo silahkan duduk." Kata ayah Dhea sambil membentangkan satu tangannya, mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk.
" Bagaimana William, proses khitanmu tidak menyulitkanmu kan?"
Feri lalu memberitahukan pada William pertanyaan ayah Dhea yang ditujukan padanya.
" Ohhh....semuanya lancar pak, dan tidak ada kendala apapun. Hanya bersabar sedikit agar lukanya benar-benar kering." Jawab William, dan tugas Feri kembali mengartikan kalimat William sebagai penerjemah antara mereka berdua.
" Syukurlah, tinggal selangkah lagi kau akan menjadi seorang muslim."
Ibu Dhea masuk sambil membawa 3 gelas minuman dan makanan kecil, untuk mereka bertiga.Dengan hati-hati diletakkanlah di atas meja.
" Ayo silahkan diminum nak."
" Iya bu terimakasih. Sedangkan William hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Walaupun dia tidak tau artinya, namun dia bisa paham dengan gerakan tangan yang dilakukan oleh ibu Dhea.
" Ibu masuk ke dalam dulu ya, silahkan lanjutkan mengobrolnya."
" Oh iya bu silahkan." Jawab Feri.
Sepeninggal ibu Dhea, ayah Dhea kembali membuka percakapannya.
" Bagaimana nak Feri, apakah William sudah melakukan tugas yang bapak berikan padanya?"
" Ohhh sudah pak. Hafalan yang bapak berikan padanya dipelajarinya dengan baik. Bahkan selama menuju kemari, mulutnya tidak berhenti menghafal pak. Sepertinya dia benar-benar mencintai Dhea, sehingga benar-benar berusaha menunjukkan kepada bapak, bahwa dia tidak main-main dengan niatnya itu."
" Harapan bapakpun demikian nak Feri. Yang penting dia melakukan ini semua bukan hanya karena Dhea saja, tapi memang benar-benar keinginan dari dalam dirinya sendiri."
" Semoga pak. Semoga ini awal yang baik untuk menjadikannya seorang muslim yang sebenarnya."
" Amiin." Ayah Dhea menimpali.
" Katakan pada William, bapak ingin mendengar sekarang hasil belajarnya selama beberapa hari ini nak Feri."
Feripun mengangguk.
" Will, kau sudah siap kan? ayah Dhea ingin mendengar hafalanmu. Ingat jangan permalukan aku ya. Ayah Dhea berkata jika hari ini kau tidak berhasil, maka kau boleh datang kembali 1 tahun lagi, dengan syarat memotong itumu kembali. Kau mau?" kata Feri menakut-nakuti William.
" Heiii...jangan begitu teman, aku tau kau sedang berbohong. Kau pikir aku punya isi ulangnya sehingga bisa dipotong lagi?" Gerutu William.
" Feri hanya bisa menahan senyumnya, karena tidak enak dilihat ayah Dhea."
Dasar ya, dua orang sahabat itu selalu saja saling menggoda, padahal saat ini nasib William seperti sedang ada di ujung tanduk.
" Ya sudah lakukan sekarang, tarik nafasmu yang panjang terlebih dahulu, tapi ingat untuk melepasnya ya hihihi." Kata Feri belum juga berhenti menggoda William.
" Hehhhh..." Wajah William begitu sebal karena tidak bisa membalas sahabatnya itu. Tatapan ayah Dhea yang sedari tadi sedang menanti William membuka mulutnya, sempat membuat nyalinya menciut. Bagaikan seekor anak kambing kecil yang tidak berdaya di depan seekor harimau buas. Padahal saat itu dia hanya sedang duduk sambil kemudian mengucapkan beberapa ayat saja, tapi kenapa rasanya seperti sedang berada di depan tiang gantungan.
Sebenarnya dada Feripun sedikit berdetak menunggu moment itu, namun wajahnya masih nampak lebih tenang dibandingkan sahabatnya itu, yang begitu panik dan tegang.