Something different

Something different
Telfon William



Setelah kabur dari mobil William tadi, Dhea langsung menghentikkan sebuah taksi yang lewat di hadapannya. Taksi itupun langsung membawa Dhea ke tempat tinggalnya.


Sesampainya di rumah, Dhea langsung mengobati luka yang ada di kepalanya, tidak terlalu parah tapi terasa pedih dan ada bekas memar di sana.


Tiba-tiba handphone Dhea berdering. Dilihatnya ada nama William yang memanggil. Dhea mendiamkannya dan tidak mengangkat telfon dari William. William terus menelfonnya hingga berkali-kali, Dhea tetap tidak bergeming. Dia benci sekali dengan laki-laki itu, apalagi mulut kotornya, dan entah dapat keberanian darimana, tiba-tiba tadi Dhea spontan menampar pipi lelaki itu. Handphone Dhea tak lagi berbunyi, namun tiba-tiba ada sms masuk.


Setelah dibuka, ternyata itu dari William.


" Kalau kamu tidak mau mengangkat telfonmu, sekarang juga aku akan naik, amat mudah bagiku untuk mendobrak pintu kamarmu!!"


" Kenapa pria itu semakin gila? Dia bahkan berani mengancamku terus terusan." Kata Dhea pada diri sendiri. Dilihatnya dari balik tirai jendela, ternyata benar William sedang berdiri di bawah sana sambil menatap ke kamar Dhea.


Tak berapa lama hp Dhea kembali berdering, lalu Dhea segera mengangkatnya.


" Kamu sudah sangat keterlaluan, kamu bukan hanya menggangguku, tapi bahkan berani mengancamku. Aku tidak mau berurusan denganmu, pria gila, psikopat, maniak ****, pergilah kamu jauh-jauh dari hidupku, aku benci kamu Williammmm!!! "


" Aku jamin, kau tidak akan mungkin bisa mendapatkan apa yang kamu mau, kamu pikir aku ini wanita murahan yang bisa kamu rayu dan terlena dengan semua tipu muslihatmu, jangan pernah berharap ya!!!" Dhea tidak berhenti berbicara di telfon seperti orang kesetanan.


William diam saja tidak mengucapkan sepatah katapun.


" Hallo...hallo William kau mendengarku?" Kata Dhea, karena sedari tadi Dhea berbicara William tidak bersuara sedikitpun.


" Hallloooo....William atau aku matikan telfonmu jika kamu tetap diam saja!!" Ancam Dhea.


" Kau sudah selesai bicara Dhe?"


" Belum, aku belum selesai..!!" Jawab Dhea ketus.


" Ya sudah selesaikan dulu, aku mendengarnya dari tadi ", kata William seperti orang yang tidak bersalah sama sekali.


" Kau ini.....heeehhhhhhh...!!!"


Dhea benar-benar dibuat meradang oleh tingkah laku William.


" Aku ini hanya ingin memastikan kau sudah tiba di kamarmu atau belum?" Kata William.


" Jika belum kenapa?"


" Jika belum aku akan mencarimu."


" Mencariku? Hehhhh kenapa?"


" Karena kau tadi bersamaku, jadi aku bertanggung jawab atas keselamatanmu."


" Hahaha....kau berbicara masalah tanggung jawab? Yang benar saja? Orang seperti dirimu memangnya memiliki rasa tanggung jawab?"


" Dhea Dhea...aku ini memang ********, tapi aku selalu memikirkan resiko terhadap semua perbuatanku, dan itu sudah menjadi tanggung jawabku."


" Lalu apakah dengan meninggalkan semua wanita yang telah puas kau tiduri itu bentuk tanggung jawab?"


" Hahaha...kau itu tidak tau apa-apa Dhea, kau itu terlalu polos dalam dunia asmara."


" Ya aku memang tidak tau apa-apa, tapi aku cukup paham bahwa kau ini memang seorang maniak!!"


" Cukup Dhe, bukan hakmu untuk ikut campur urusanku, kalau kau memang tidak menyukaiku silahkan, tapi bukan berarti kau bisa terus-terusan menghinaku!!! Atau kau mau benar-benar kubuat seperti mereka???"


William tiba-tiba membentak Dhea, kesabarannya sepertinya mulai habis, dan emosinya terpancing karena sikap Dhea.


Dhea sangat terkejut, karena selama ini William belum pernah sekalipun membentak dirinya, ada rasa takut dalam hatinya.


" Apakah lukamu sudah kau obati?" Tanya William, suaranya melunak lagi.


" Sssu sudah...", jawab Dhea, masih ada nada ketakutan dalam kalimatnya, dan William tau itu.


" Tapi kepalamu tidak apa-apa kan? Maaf...tadi aku terkejut, jadi spontan kuinjak rem mobilku."


" Iya aku tau ", jawab Dhea pelan.


William sedikit menyesal karena sudah membentak Dhea, dan membuat gadis itu takut.


" Ya sudah Dhe, istirahatlah...maaf aku sudah membuatmu takut."


Lalu William segera menutup telfonnya, dan segera pergi meninggalkan halaman tempat tinggal Dhea.


" Gadis itu membuatku semakin gila saja, apa yang harus kulakukan lagi untuk mendapatkannya? Aku kali ini tidak akan melepaskanmu Dhea!!" bisik William sambil terus menginjak gas mobilnya.


Dhea perlahan membuka pintu kamarnya, dia ingin berkunjung ke rumah nyonya Christy.


" Semoga dia ada di dalam ", kata Dhea dalam hati sambil mengetuk pintu kamarnya. Tak lama kemudian Nyonya Christy membuka pintu kamarnya.


" Hai Dhe, masuklah kemari."


" Terimakasih nyonya."


Kemudian Dhea segera masuk. Dilihatnya sekeliling ruangan kamar Nyonya Christy, semua perabotan yang ada di kamarnya terlihat mahal, dibanding dengan perabotan yang ada di kamarnya.


Nyonya Christy mempersilahkan Dhea duduk.


" Sini sayang, duduk di sampingku."


" Iya Nyonya."


" Hei kenapa dahimu?"


" Tidak apa Nyonya, tadi hanya terbentur lemari kamarku ", kata Dhea berbohong.


" Kau tidak kerja hari ini?"


" Aku kerja nyonya, tapi nanti jam 4 sore."


" Kau ini apa tidak lelah? Sudah kuliah, masih juga diselingi dengan bekerja, pulang malam lagi, Kenapa? Kau kesulitan uang?"


" Tidak nyonya, sebenarnya orang tuaku sudah mengirimiku uang setiap bulannya, tapi aku kasihan dengan mereka, biaya hidup disini lebih besar dibanding dengan negaraku, aku tidak ingin terlalu membebani mereka ", kata Dhea lagi.


" Ya ya ya...kau anak yang berbakti Dhea, pasti orang tuamu sangat bangga memiliki anak sepintar dan sebaik kau ."


" Terimakasin nyonya. Lalu nyonya sendiri tinggal sendiri di sini?"


" Ya, aku tinggal sendiri...Aku mempunyai 3 anak , tapi mereka tinggal jauh dariku dan rutin mengirimiku uang."


" Lalu kenapa nyonya tidak ikut tinggal dengan mereka saja?"


" Tidak sayang, aku terbiasa tinggal sendirian semenjak suamiku meninggal 10 tahun yang lalu, biarlah anak anakku fokus dengan keluarganya saja, selagi aku masih mampu, aku akan tetap tinggal sendiri dan tidak ingin merepotkan mereka."


Dhea dan Nyonya Christy mengobrol hingga pukul 3 sore, dan setelah itu Dhea berpamitan pulang karena akan segera pergi kerja.