Something different

Something different
Bersama Daniel



Setelah makan malam, Dhea berkumpul di ruang keluarganya bersama kedua orang tuanya. Kebiasaan mengobrol bersama itu memang sudah dilakukan sejak Dhea masih kecil. Walaupun hanya mengobrol hal-hal ringan saja, namun itu membuat Dhea jadi terbiasa untuk bertukar pikiran dengan kedua orang tuanya.


" Nak ibu dan ayah tadi dengar obrolanmu saat menerima telfon di kamar. Apakah dia kekasihmu?"


" Ayah tau darimana?"


" Ayah juga pernah muda nak. Ceritakanlah seperti apa dia!!"


" Namanya William yah. Dia seorang pengusaha besar di negaranya sana."


" Jadi dia seorang bule?"


" Benar yah." Jawab Dhea sambil membolak balik majalah di tangannya.


" Apakah dia seorang muslim?" Tanya ayahnya lagi.


Dhea sudah menebak arah pembicaraan orang tuanya itu. Tidak lain dan tidak bukan, agamalah yang jadi pertanyaan penting ayahnya bagi setiap pria yang ingin dekat dengan Dhea.


Dhea kemudian menunduk.


" Dia nasrani yah."


Kedua orang tua Dhea langsung menarik nafas panjang.


" Nak, ayah tidak pernah melarangmu untuk berhubungan dengan laki-laki manapun, tapi kamu harus tau, agama itu lebih penting dibanding yang lsinnya. Harta itu bisa dicari, tapi suami yang sholeh dan bisa membimbingmu dengan baik itu yang harus jadi poin utama."


" Iya yah Dhea tau itu."


" Ayah dan ibu sangat percaya denganmu, kau bisa menentukan mana yang baik dan tidak buatmu. Pikirkanlah kembali, tujuan pernikahan itu untuk membangun keluarga yang diridhoi Alloh nak."


Kata ayahnya lagi.


" Iya yah, Dhea akan memikirkannya lagi." Jawab Dhea sambil menunduk.


Dari dulu kedua orang tua Dhea sangat demokratis, mereka selalu memberi kepercayaan kepada Dhea, dan itu membuat Dhea jadi tertuntut untuk bisa menjaga tanggung jawab akan semua konsekuensi keputusan yang dibuatnya sendiri.


Mereka mengobrol hingga malam hari, mulai dari kegiatan kampus Dhea, hingga kehidupan Dhea selama di negeri orang. Namun Dhea tidak menceritakan bagaimana awal dia bisa berpacaran dengan William, hal itu disimpannya rapat-rapat dari kedua orang tuanya.


Sementara itu William sedang berada di dalam kantornya. Namun pikirannya tidak sedikitpun bisa berkonsentrasi. Kemudian dia menelfon Daniel.


" Hallo bos, tumben kau menelfonku? Semenjak punya kekasih baru kau sedikit melupakanku."


" Hahaha...jangan begitu teman, maklumlah sahabatmu ini sedang dimabuk cinta."


" Yaaa...aku tau sekali itu. Ngomong-ngomong apa ada yang bisa kubantu untukmu? Apa ada masalah antara kau dengan Dhea?"


" Hubungan kami baik-baik saja Dan."


" Lalu?"


" Hatiku yang sedang tidak baik."


" Heii...ada apa rupanya?"


" Dhea sedang berlibur ke Indonesia selama 3 minggu Dan."


" Hemmm...aku tebak ya, kau pasti saat ini sedang merasa kesepian di tengah keramaian dan kehausan di tengah lautan. Benar kan?"


" Sialan kau tau saja."


" Hahaha...aku tau pasti, seorang pria yang sedang jatuh cinta, tiba tiba saja ditinggalkan oleh kekasihnya selama berhari hari, pasti sangat menyakitkan dan periiiihhhh..!!"


" Hehhhh...awas kau ya...!!"


" Hehehe kau butuh aku untuk menemanimu bukan?"


" Ya Dan, aku jenuh sekali hari ini."


" Memang sudah berapa hari kekasihmu pergi?"


" Baru dua hari ini Dan."


" Hahhh...baru dua hari saja kau sudah seperti orang gila, bagaimana jika sampai 2 bulan Will?"


" Jika sampai dua bulan, mungkin aku bisa mati karena tersiksa oleh rindu Dan...!!"


" Cepatlah kemari! Aku menunggumu di ruanganku."


" Apa kau ingin mengajakku ke bar seperti biasanya?"


" Tidak Dan, aku sudah berjanji pada Dhea, no wanita, no alkohol."


" Wow...hebat sekali kekuatan cinta!! Sehingga bisa merubah pria brengsek sepertimu jadi berbalik 180°."


" Aahhh kau ini jangan banyak bicara!! Cepatlah kemari, atau kau mau gajimu kupotong 100%?"


" Itu namanya bukan dipotong tuan, tapi memang tidak digaji hahaha. Oke tunggu sebentar, aku pasti kesitu."


" Ya aku tunggu." Kata William, lalu menutup telfonnya.


William menunggu Daniel sambil berdiri di depan kaca besar di belakang kursinya. Dia menatap puluhan mobil yang berjalan di bawahnya. Rasanya hari begitu lama baginya, biasanya jam segini dia sudah bersiap siap hendak menjemput Dhea di kampusnya, sedangkan sekarang dia masih saja berkutat dengan pekerjaannya, dan itu sangat membosankan.


Tak lama kemudian Daniel tiba di dalam ruangannya.


" Hai teman, kenapa kau bengong di situ? Jangan bilang kau hendak menabrak kaca itu dan menjatuhkan dirimu ke bawah karena tidak bisa menahan rindu hahaha!!"


" Hehhh...awas kau ya."


" Ayo kau mau mengajakku kemana agar rasa gelisahmu itu bisa berkurang?"


" Kita makan siang saja di luar Dan, aku sedang malas berada di sini."


" Ya, aku tau biasanya kan jam segini kau sedang menjemput kekasihmu kan? Makanya kau merasa merana hahaha."


" Ahhhhh ayo...jangan banyak bicara!!" Kata William sambil mendorong tubuh Daniel.


" Kita makan dimana ini?"


" Kita makan seafood saja, Dhea biasanya suka sekali seafood."


" Hahaha kau pikir aku Dhea sayaaanggg....!!" Kata Daniel sambil membelai pipi William dan bergaya seperti wanita.


" Hoiiii...sadar brow..!! Kata William sambil mendorong tubuh Daniel.


" Hahaha...!!" Daniel terbahak bahak.


Kemudian Daniel menghentikan kendaraannya di sebuah restoran seafood.


William dan Daniel kemudian turun dan memilih tempat duduk, kemudian segera memesan makananan untuk mereka.


" Jadi setelah lulus nanti Dhea akan kembali ke Indonesia." Tanya Daniel sambil menikmati makanannya.


" Ya begitu katanya."


" Lalu bagaimana denganmu?"


" Hemmm...kita lihat saja nanti Dan."


" Apakah kau sudah menyusun rencana licik untuknya?" Selidik Daniel.


" Coba kau tebak?"


" Kau ingin membuatnya seperi Paula ya agar dia mau menikah denganmu?"


" Maksudmu?"


" Begini teman!" Kata Danil sambil memegang perutnya dengan kedua tangannya.


" Sialan....kau pikir aku setega itu padanya!"


" Siapa tau kau sudah tidak memiliki jalan keluar lagi."


" Tidak Dan, aku itu mencintainya, aku ingin memiliki hatinya, dan bukan hanya tubuhnya teman..!!"


" Ohhhh... so sweet...kau romantis sekali William...!!"


" Ahhhh sudah lanjutkan makanmu saja jangan menggodaku terus." Kata William dan Daniel hanya tertawa saja.